Tangan Tania menjelajahi kasur, sementara matanya tetap terpejam. Dia terpaksa membuka mata, saat apa yang dicarinya tidak ada. Seperti biasa Cahaya mentari sudah masuk melalui jendela kamarnya. Dia hanya bisa menunggu seseorang untuk membantunya bersia-siap. Kini dia merasa lebih baik, semua belenggu yang menyiksa perlahan terbebas dari hatinya. Hanya saja ada rasa tidak ingin jauh dari Reza. Setelah kejadian di makam mereka memang menjadi semakin dekat. Tania juga menjadi lebih baik dari sebelumnya, dia lebih terbuka dan lebih ikhlas menjalani hidupnya Tania duduk di tepi ranjang, menatap pintu dan berharap Reza akan segera datang. Namun, terlalu lama baginya untuk tetap menunggu tanpa ada kepastian. Sedih, Tania mulai sedih, dia menjadi sosok yang manja. Dia tidak ingin dibantu oleh si

