Tanah Merah

1321 Words

Semburat jingga menghiasi langit. Rumput hijau, pohon-pohon rindang dan kesunyian melengkapi kekosongan hati Tania. Dia menatap gundukkan tanah merah di depannya. Angin berdesis mendinginkan tubuh dan membuat hatinya semakin membeku. Tanah merah itu telah menguburmu beserta semua mimpi yang ingin kamu rajut bersamaku. Tuhan benar-benar telah menghukumku. Aku memang selalu minta untuk menghilang darimu, tapi nyatanya malah aku yang kehilangan kamu, kepergianmu meninggalkan goresan luka dan penyesalan mendalam di hati ini, ternyata apa yang aku katakan dulu menimpa diriku sendiri. Apa setelah ini aku pantas bahagia? Kenapa di saat aku siap menerimamu dan membuka kembali hatiku untukmu, kamu malah pergi? Apa ini cara kamu mengabulkan keinginanku. Sekeras apapun aku lari, nyatanya bayanganmu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD