"Gak nyangka ya, Yah? Anak kita sekarang udah nikah." Saat ini Nilam dan suaminya sedang berada di kamar anaknya.
"Iya, Ayah bahagia, Bund. Karena anak kita mendapatkan wanita yang tepat, Ayah percaya bahwa Audrey akan menjaga Toby dengan baik," ujar Ibrahim seraya tersenyum.
Kini keduanya sama-sama memandangi sebuah pigura berukuran besar yang berada di sana, menunjukkan sosok Toby yang sedang tersenyum bahagia di foto itu.
"Semoga setelah menikah, anak kita akan selalu bahagia dan ada perkembangan baik untuk menjadikannya lebih dewasa. Tumbuh dan berkembang dengan seharusnya, sama seperti pria seusianya," ujar Nilam, setetes air mata mengalir di pipinya.
Ia terharu, rasanya sulit diartikan, ia bahagia karena putra semata wayangnya telah menemukan tambatan hati. Namun, ia juga sedih karena tidak bisa lagi tinggal bersama Toby, belum lagi ia takut jika Audrey tidak memperlakukan putranya itu dengan baik.
Walau bagaimanapun hanya dirinyalah yang selama ini mengurus semua keperluan Toby, selama 22 tahun lamanya ialah yang telah menjadi sayap pelindung bagi putranya. Sedari kecil Toby selalu dibully oleh semua orang, tetapi anaknya itu tidak pernah merasa sedih. Akan tetapi, Nilam sebagai ibunya tahu betul bagaimana perasaan putranya.
Toby memang tidak pernah menumpahkan air mata untuk hal yang membuat dirinya sakit hati. Namun, Nilam tahu dari lubuk hatinya yang terdalam pasti Toby merasakan sakit yang luar biasa, ia dapat merasakan kesedihan itu walaupun Toby tidak pernah mengatakannya.
Toby adalah satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidup Nilam, awalnya ia kecewa mengapa Tuhan menciptakan anaknya sebagai penyandang Autisme tapi dengan seiringnya waktu ia dapat menerima semuanya dengan ikhlas, itu semua juga karena kehebatan yang dimiliki oleh Toby, selalu tegar dan tetap tersenyum menghadapi apa pun yang terjadi.
Banyak orang yang mengatakan bahwa Toby itu aneh, sakit jiwa, tidak berguna, beban keluarga dan banyak lagi perkataan-perkataan lainnya yang tidak menyenangkan, tetapi mereka tidak tahu bahwa Toby adalah anak yang sangat luar biasa.
Bukan dirinya atau suaminya yang telah mendidik Toby menjadi seorang yang luar biasa seperti saat ini. Namun, Toby 'lah yang telah mengajarkan banyak hal untuk keduanya, terutama tentang arti hidup yang sesungguhnya. Sehingga keduanya bisa menyikapi hal ini dengan baik.
Ibrahim mengulurkan tangan dan membawa istrinya itu ke dalam dekapannya, ia juga dapat merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya saat ini.
"Anak kita hebat. Dia selalu bisa menghadapi apa pun yang terjadi di hidupnya, ini sudah saatnya Toby belajar hidup tanpa kita orangtuanya. Dia sudah dewasa, Bund, dia bukan Toby kecil lagi, dia berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Semoga keputusan Ayah untuk menjodohkan mereka adalah pilihan yang tepat." Ibrahim berkata parau, ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, sebagai seorang ayah ia ingin yang terbaik untuk anaknya. Kini ia hanya bisa berharap bahwa putri dari sahabatnya itu bisa membantu Toby untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Walaupun mereka bisa menemui Toby kapanpun, tetapi keduanya pasti akan sangat merindukan kehadiran Toby di rumah ini.
***
Ternyata dugaannya salah, ia pikir pria itu mengikuti ucapannya untuk tidur di dalam kamar mandi, tetapi setelah Audrey membuka pintu yang pertama kali dilihatnya adalah Toby yang sedang terduduk di lantai seraya menyembunyikan wajahnya di antara lututnya yang tertekuk.
Awalnya Audrey bingung, apa yang sedang dilakukan oleh pria itu, apakah ia tertidur? Atau justru—
Sebelum Audrey selesai menerka-nerka apa yang terjadi, ia justru melihat bahu Toby yang bergetar, apa dia menangis?
Apa kesabaran Audrey memang harus diuji hari ini juga, ya?
Apa sekarang ia sedang diperlihatkan dengan sosok anak kecil yang bersemayam di dalam tubuh pria dewasa di depannya itu. Anak cengeng? Merepotkan? Ah, sungguh penderitaannya kali ini sudah berada di depan matanya.
"Dasar pria i***t," geram Audrey dengan gigi yang bergemelatuk kesal.
Ia berjalan dengan susah payah menyeret gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya. Ia menarik bahu Toby dengan kasar.
"Lo, ngapain sih! Bukannya mandi malah duduk-duduk di sini! Dasar i***t!" sentak Audrey.
Toby menoleh terkejut dengan kedua matanya yang sembab. Tubuhnya bergetar ketakutan karena Audrey menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Ta-tante, Oby—"
"Diem, lo! Udah berapa kali gue bilang jangan panggil gue Tante! Emang lo pikir gue setua itu apa sampe lo mikir kalo gue ini tante-tante!" potong Audrey, ia bahkan tidak mengijinkan Toby untuk mengucapkan apa pun.
"Keluar lo sana, gue mau mandi!"
Toby menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel dikedua pipinya, kemudian ia berdiri dan menuruti perintah Audrey. Ia keluar dari kamar mandi dan melewati Audrey dengan kepala tertunduk, dirinya bingung apa salahnya? Mengapa Audrey selalu membentaknya, ia tidak tahu apa-apa, rasanya ia ingin cepat-cepat pulang dan tidur dalam dekapan hangat bundanya.
"Bu-bunda ...," cicit Toby pelan tapi ternyata Audrey mendengar ucapannya barusan.
"Manja banget sih, lo! Apa-apa panggil bunda!" Audrey mendorong Toby untuk segera keluar dari sana, tetapi karena tidak dapat menahan keseimbangan akhirnya Toby pun terjatuh dan tanpa sengaja membuat Audrey ikut terjatuh di atas punggungnya.
"Aduh ...." Toby meringis ketika merasakan sakit karena tubuhnya menghantam lantai dengan keras, belum lagi ditambah berat tubuh Audrey yang menimpa tubuhnya.
"Arrghh, sakit!" Audrey dengan cepat mengubah posisinya jadi terduduk di samping Toby.
"Lo sengaja, ya, nendang kaki gue!" cecar Audrey, justru ia yang mendorong Toby hingga terjatuh, tetapi malah Toby yang disalahkan.
"Nggak, Oby gak sengaja Tan—" belum selesai Toby menyelesaikan ucapannya, Audrey sudah menatap tajam ke arahnya.
Toby menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya tersenyum canggung. "Ma-maaf, Oby gak tau nama kamu siapa," ujarnya polos.
Seketika Audrey menepuk jidat dan kembali menatap Toby dengan murka.
"Lo itu emang bener-bener ngeselin, ya! Bahkan lo gak inget nama cewek yang jadi istri lo sendiri? Astaga ...." Audrey tak habis pikir dengan pria itu, dia bukan cuma i***t tapi juga—. Ah, kesabarannya mulai habis, ia tidak tahan lagi rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya dan mengumpat kasar pada pria itu!
Namun, sebelum semuanya terjadi Audrey dengan susah payah menahan amarahnya agar tidak semakin meluap, mengingat bahwa pria i***t itu sangat manja dan mudah menangis, mungkin saja dia malah mengadu pada orangtuanya dan nanti yang ada malah dirinya yang terkena masalah.
Beberapa menit kemudian, Audrey sudah selesai membersihkan diri dan mengganti gaun pengantin yang ia kenakan dengan baju tidur berwarna maroon, ia keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambut dengan handuk.
Ia melirik sekilas ke arah Toby yang tertidur di sofa yang ada di kamarnya, ia melangkah mendekat dan menepuk-nepuk pipi pria itu cukup kasar.
Toby yang merasa tidurnya terganggu akhirnya membuka matanya perlahan, "Ke-kenapa?" tanyanya gugup.
"Mandi dulu sana," titahnya dan langsung diangguki oleh Toby.
Audrey melangkah menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana, sebelumnya tadi ia sudah membuang semua bunga yang ada di kasurnya ke tempat sampah dan mengganti seprainya dengan yang baru ketika menunggu Toby yang berada di kamar mandi.
Ia mencoba memejamkan matanya dan tertidur membelakangi pintu kamar mandi dimana tempat Toby berada saat ini, tak lama kemudian ia mendengar suara pintu terbuka. Namun, ia tidak menoleh sedikitpun, ia tidak peduli dengan keberadaan Toby dan entah dimana pria itu akan tidur malam ini.
Dengan susah payah Audrey berusaha tertidur tapi tiba-tiba rasa kantuk yang sedari tadi menderanya kian menghilang, entah mengapa ia tertarik untuk mengubah posisi tidurnya.
Akhirnya ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah dimana Toby berada, matanya sedikit terbuka lalu setelahnya kedua matanya membulat sempurna ketika melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Apa-apaan ini! Toby berdiri di samping ranjang dengan tubuhnya yang hanya dibalut oleh handuk sebatas lutut.
Astaga! Astaga! Ya ampun matanya ternodai!
Namun, bukannya memalingkan wajah atau kembali memejamkan mata justru Audrey malah menatap tubuh atletis milik Toby tanpa berkedip.
Ia menatap wajah Toby yang tampak lebih segar, tetesan air dari rambutnya membuat pria i***t itu terlihat lebih tampan dan gagah dari sebelumnya, apalagi itu ... anu, astaga!
Audrey tidak tahan melihatnya.
"Aaaaa ...," teriaknya kencang seraya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, untuk menghalangi pandangan agar pikirannya tidak berkelana kemana-mana, sedangkan Toby terlonjat kaget mendengar teriakkan itu, dia tidak menyadari bahwa sedari tadi Audrey terus menatapnya.
Audrey menetralkan detak jantungnya yang bertalu-talu hebat, kemudian ia teringat bahwa seharusnya malam ini adalah malam pertama bagi mereka.
Astaga semakin lama pikiran Audrey semakin liar saja!