"Oke, kalau begitu untuk mempersingkat waktu kita langsung saja mulai sekarang."
"Tunggu dulu, Pak penghulu ...," ucap Toby secara tiba-tiba.
Semua orang menatapnya bingung.
Nilam menghampiri Toby kemudian bertanya, "Kenapa?"
"Oby lupa, Bunda." Toby menyengir lebar menunjukkan deretan giginya.
Semua yang menyaksikannya menggelengkan kepala seraya menahan tawa, sedangkan Audrey memutarkan bola matanya dengan malas. Belum apa-apa ia sudah merasa malu dengan tingkah pria yang akan menjadi suaminya itu, bukan karena Toby lupa yang membuatnya malu, tetapi karena wajah polos pria itu yang membuatnya muak.
Bagi kebanyakan orang mungkin saat ini Toby terlihat menggemaskan karena ekspresi polosnya. Namun, bagi Audrey itu sangatlah memuakkan. Akan tetapi lagi-lagi ia hanya bisa pasrah, dengan berat hati ia harus menerima semuanya ketika detik demi detik menunjukkan bahwa penderitaannya akan segera dimulai.
***
Seorang gadis berusia sekitar 22 tahun berjalan seorang diri menyusuri jalanan yang sepi, ia baru pulang dari supermarket yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Ia sengaja berjalan kaki untuk menikmati suasana sejuk di sekitaran sana.
Sebenarnya ia merupakan anak dari orang kaya, hanya saja ia ingin hidup mandiri dan lebih memilih tinggal di kontrakan yang terletak di tempat yang cukup jauh dari rumah kedua orangtuanya dari pada harus tinggal di apartemen milik keluarganya. Walaupun ia harus kerepotan karena jarak ke kampus memakan waktu yang lama, tetapi ia merasa sangat senang karena tempat ini masih sangat sejuk dan nyaman, aman dari polusi udara dan semacamnya.
Namanya adalah Fakhira Jane, ia seorang selebgram yang terkenal dikalangan remaja, berparas cantik serta memiliki bakat dalam dunia musik terutama dalam tarik suara membuatnya dengan mudah dikenali banyak orang.
Suaranya yang merdu membuat candu setiap telinga yang mendengarkan nyanyiannya. Belum lagi ia memiliki citra yang baik karena keramahannya.
Ketika di perempatan jalan menuju kontrakan ia melihat mobil yang terparkir di tepi jalan, tampaknya ia tidak asing dengan mobil itu. Ia menyipitkan mata untuk memastikan bahwa pemilik mobil itu adalah orang yang ia kenal, dan ternyata memang benar jika pria yang berdiri di samping mobil itu memang orang yang cukup akrab dengannya.
Akan tetapi, sepertinya orang itu sedang tidak baik-baik saja, akhirnya Fakhira memutuskan untuk menghampirinya.
"Astaga Faisal! Lo kenapa?" tanya Fakhira panik ketika melihat Faisal sedang memuntahkan cairan dari mulutnya. Ia menjatuhkan barang belanjaannya begitu saja dan dengan sigap membantu temannya.
Pria yang bernama Faisal itu menoleh ketika mendengar suara seseorang dan usapan lembut di punggungnya, Faisal menatap Fakhira dengan tatapan sayu, ia menduga sepertinya Faisal sedang mabuk akibat terlalu banyak minum, ia menyadari itu saat temannya malah tersenyum aneh juga aroma alkohol yang menyengat dari mulut pria itu.
Faisal menangkup wajah Fakhira dengan kedua tangannya, kemudian tanpa aba-aba membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
"Sayang, kamu kemana aja? Aku kangen." Faisal berkata lirih tepat di telinga Fakhira.
Seketika bulu tengkuknya meremang merasakan sensasi geli, "Sal ... l-lo k-kenapa?" tanya Fakhira gugup seraya mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Faisal. Namun, bukannya terlepas justru Faisal kian mengeratkan pelukannya.
Ia takut jika ada seseorang yang tiba-tiba melihatnya sedang berpelukan dengan pria, hal itu akan membuat nama baiknya sebagai selebgram tercoreng, apalagi saat ini keduanya sedang berada di tepi jalanan yang sepi, membuat siapapun yang melihatnya akan memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Sayang maaf, seharusnya aku gak bentak kamu waktu itu, aku juga gak bisa jauh dari kamu. Maafin aku ya, Sayang."
Fakhira semakin bingung mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Faisal, sejak kapan dirinya dipanggil sayang oleh Faisal? Mereka memang cukup akrab tapi sepertinya tidak sedekat itu juga sehingga menggunakan panggilan sayang. Namun, tak apa ia justru merasa senang.
"Sal, lo gak papa 'kan?" tanya Fakhira.
Perlahan Faisal melepaskan pelukannya kemudian ia mundur selangkah dan memalingkan wajahnya, ia kembali memuntahkan isi di dalam perutnya tepat dimana tempat Fakhira menjatuhkan barang belanjaannya.
Baru saja Fakhira akan memekik kesal, tetapi semuanya tertahan ketika melihat Faisal yang hampir saja ambruk di aspal, untungnya Fakhira bergerak cepat dan sekuat tenaga menahan tubuh Faisal yang jauh lebih besar darinya.
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru jalan berharap ada seseorang yang lewat dan bisa dimintai pertolongan. Fakhira panik karena Faisal jatuh tak sadarkan diri.
"Ya ampun Sal, bangun!"
Entah apa yang harus ia lakukan saat ini, karena tidak ada satupun orang yang lewat sehingga dengan susah payah ia mencoba untuk memasukkan Faisal ke dalam mobil.
Bobot tubuh Faisal sungguh berat membuat Fakhira kewalahan sehingga mengeluarkan keringat, ia mengusap peluh yang membasahi pelipisnya dan memutuskan untuk membawa Faisal ke kontrakannya karena ia tidak tahu harus membawa Faisal kemana, apalagi ia juga tidak tahu pria itu tinggal dimana. Fakhira berjalan mengitari mobil kemudian masuk dan duduk di kursi pengemudi, ia menyalakan mobil milik Faisal dan segera menjalankannya menuju kontrakan, ia pergi meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan barang belanjaannya yang tergeletak di jalanan.
Tidak membutuhkan waktu lama, kurang dari 10 menit mereka telah sampai.
"Sayang, jangan tinggalin aku, ya." Faisal terbangun dan bergumam tidak jelas.
"Ayok keluar," ajak Fakhira tapi Faisal tidak melakukan pergerakan apa pun selain mengoceh dan terus meminta maaf.
Rumah kontrakan yang ditempati Fakhira terletak di perumahan yang cukup elite, sehingga jarak antar rumah lainnya cukup jauh. Di sana juga terlihat sepi tidak ada satupun orang yang melihat mereka. Awalnya Fakhira memilih tinggal di tempat sepi seperti ini karena tidak ingin jika fansnya mengetahui keberadaan dia, tetapi ternyata sekarang ia baru merasakan repot ketika sekarang ia butuh bantuan justru tidak ada siapapun yang bisa dimintai pertolongan.
Akhirnya ia kembali memapah Faisal untuk masuk ke dalam kontrakannya yang cukup besar dan luas, walaupun tinggal sendirian ia tetap mengutamakan kenyamanan dan memilih untuk tinggal di rumah yang terlihat terlalu besar untuk ditempati seorang diri.
"Astaga lo berat banget sih, Sal!" gerutunya, ia heran mengapa bobot tubuh Faisal bisa seberat itu padahal jika dilihat-lihat tubuhnya tidak besar hanya saja pria itu memang memiliki tubuh yang atletis, mungkin otot-otot yang dimilikinya yang membuat tubuh itu terasa berat atau mungkin juga karena tubuh Fakhira yang terlalu kecil? Entahlah.
Fakhira menjatuhkan tubuh Faisal di sofa ruang tengah, ia mengatur napasnya yang menderu tak beraturan.
"Gila ya, lo! Nyusahin aja!" omelnya seraya menatap wajah polos Faisal yang tertidur pulas.
Ia tersenyum manis seraya menggeser duduknya mendekati Faisal, ia merapikan rambut Faisal yang terlihat berantakan.
"Ganteng banget sih," ucapnya seraya senyum-senyum tidak jelas.
Ia menatap lekat wajah tampan Faisal dan menyusuri setiap pahatan indah di wajah itu menggunakan telunjuknya.
Faisal mengerutkan keningnya karena merasa tidurnya terganggu, Fakhira yang menyadari itu segera menghentikan aksinya dan menarik tangannya menjauh.
Ia beranjak dari sofa memutuskan untuk pergi ke kamar dan membersihkan diri. Namun, belum sempat ia melangkah, Faisal telah menahan pergelangan tangan Fakhira dan menariknya tanpa aba-aba, membuat dirinya terjatuh di atas tubuh Faisal karena tidak dapat menahan keseimbangan.
Fakhira membelakakkan matanya ketika merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirnya, ia terkejut dengan apa yang terjadi saat ini.
'Astaga! Faisal cium gue?' pekiknya dalam hati.
***
Hari ini ia merasa begitu lelah setelah semua kegiatannya selesai.
Semuanya berjalan begitu cepat, kini hari sudah menunjukkan pukul 22.30, ia mengedarkan pandangannya menatap kamar yang kini telah dihias layaknya kamar pengantin pada umumnya, dengan taburan mawar merah yang membentuk lambang hati di atas kasurnya.
"Ribet banget pake ditaburi bunga segala macem, dikiranya gue mati kali, ya!" gerutunya kesal.
Tidak tahukah jika saat ini ia sangat lelah, ia ingin istirahat dan tidur dengan nyenyak malam ini tapi apa sekarang? Jika kasurnya saja penuh dengan bunga bagaimana caranya ia bisa tidur. Jika ia harus membersihkannya terlebih dahulu sudah pasti akan memakan banyak waktu, masa iya dia harus tidur dengan bunga-bunga itu? Yang benar saja! Bukannya nyenyak yang ada nanti ia malah gatal-gatal.
"Argghh! Kenapa sih nasib gue sial banget!" pekiknya.
Audrey berharap kejadian hari ini hanyalah mimpi. Namun, sayangnya ini semua memang nyata dan benar-benar terjadi di kehidupannya.
Suara ketukan membuat Audrey menoleh, kemudian ia berjalan untuk membukakan pintu.
"Kenapa, Bu?" tanyanya ketika melihat ibu dan calon suaminya. Ah, ralat maksudnya suaminya. Karena hari ini mereka sudah resmi menikah dan sah secara hukum maupun agama sebagai suami-istri, yang artinya kini Audrey telah menjadi seorang istri untuk Toby. Pria yang sama sekali tidak diharapkan oleh Audrey untuk menjadi suaminya. Pernikahannya berjalan lancar walaupun tadi ada sedikit masalah tapi semuanya masih dapat diatasi.
"Gak papa, Ibu hanya mengantarkan Nak Toby, kalian istirahat ya, jangan lupa bersih-bersih dulu biar pules tidurnya." Ibunya berkata diiringi senyuman yang ah, entahlah. Audrey tidak begitu mempedulikannya.
Audrey justru menatap Toby dengan heran, mata pria itu terlihat sembab seperti orang yang baru saja menangis. Ia dapat menduga sepertinya pria itu menangis karena orangtuanya yang sudah pulang ke rumah mereka.
'Hadeh! dasar bocah,' gumam Audrey dalam hati.
"Ya udah, kalo begitu Ibu ke kamar sekarang mau istirahat juga, kalian baik-baik, ya? Jangan ribut." Setelah mengatakan itu ibunya pergi dari kamar Audrey.
Toby mengangkat kepalanya dan menatap Audrey dengan hati-hati.
"Tante, Oby bobok di mana?" tanyanya dengan kedua mata yang mengerjap polos.
"Di kamar mandi!" ujar Audrey ketus, ia membalikkan badannya dan meninggalkan Toby begitu saja yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Mata Toby kembali berkaca-kaca, tetapi ia segera mengusapnya sebelum lelehan air mata itu terjatuh dan membasahi pipinya.
"Ngapain sih masih di sana? Masuk!" bentak Audrey.
Toby menurut, ia berjalan masuk dan tak lupa menutup pintu, kemudian ia melangkah menuju kamar mandi yang terletak di sana.
Audrey membiarkannya, ia pikir mungkin pria itu ingin membersihkan diri, tetapi sudah hampir setengah jam tidak terdengar ada suara air atau pun keran yang menyala. Entah apa yang Toby lakukan di dalam sana.
Akan tetapi, seketika ia membelakakkan matanya. Apakah pria i***t itu melakukan apa yang dikatakan oleh Audrey beberapa saat yang lalu?
"Astaga Toby ...." Audrey berjalan menuju kamar mandi seraya menghentakkan kakinya dengan kesal.
Belum juga 24 jam ia menjadi istri dari pria itu, tetapi kesabarannya sudah diuji.