Sebuah Firasat

1362 Words

Natla : Sebuah Firasat Setelah Raja memberitahu mamanya kalau gue memberi kesempatan satu kali lagi dan mau mempertimbangkan lamaran dia—padahal itu cuma bisa-bisanya dia doang. Bodohnya gue nih, gue cuma bengong kebangetan. Lidah gue kayak kaku, nggak bisa digerakkan saking shock-nya gue. Pada hari itu juga, malam itu juga kepulangan gue ke rumah—tentunya diantar sama Raja—Mami menyambut gue dengan wajah berseri-seri. Yakin deh, mamanya Raja langsung telepon kedua orang gue deh. Jangan kira gue iya-iya aja nih. Gue marah, jelas aja! Siapa yang nggak bakal marah kalau ada orang dengan seenak jidatnya mengambil keputusan sendiri tanpa tanya dulu ke gue? Kapan gue bilang akan mempertimbangkan? Kapan gue bilang mau pacaran sama dia? Dia ngomong suka aja nggak pernah! Gue malah mengira dia

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD