Pria itu langsung duduk dengan santai disofa ruang tamu. Ia bahkan tidak merasa canggung sama sekali, seakan berada dirumahnya sendiri. Adrian hanya mendengus sebal menatap tingkahnya. Pria ini adalah Sandy, dia adalah sahabat Adrian sejak kecil. Mereka berdua sama-sama berasal dari keluarga pengusaha sukses, sama halnya seperti Adrian, sandi juga memiliki perusahaannya sendiri.
“Bukankah kau seharusnya menyuguhkan minuman untuk tamumu?” Katanya setengah mengejek.
“Kau bahkan bisa mengambilnya sendiri dikulkas.” Jawab Adrian.
“Hahahah..” Sandi tertawa dengan keras.
“Aku menerima undangan dari Renata beberapa waktu yang lalu. Tapi kenapa bukan namamu yanh tertulis disana Adrian?” Sandi membuka pembicaraan dengan tanpa basa-basi.
“Sudahlah, kau tak perlu menanyakan hal itu. Bukankah sudah jelas dengan siapa dia akan menikah?”
“Yah, aku sudah menduganya. Itu sebabnya kau seharusnya segera menikahinya Kemaren.” Kata sandi.
“Aku belum ingin menikah dan dia yang tidak sabar menunggu.”
“Heyyyy, 8 tahun bukan waktu yanh sebentar Adrian.” Ucap Sandi.
Adrian terdiam, dia tau betul bahwa 8 tahun bukanlah waktu yang singkat tapi belum adanya keinginan untuk menikah membuat Adrian harus kehilangan wanita yang dicintainya.
“Apa kau belum bisa menghilangkan rasa traumamu?” Tanya Sandi, kali ini wajah Sandi menunjukan ke khawatiran terhadap sahabatnya itu.
“Entahlah.”
“Hmmm, bagaimana kalau kita pergi mencari hiburan hari ini?” Ajak Sandi.
“Tidak, aku lebih baik dirumah saja.”
“Ayolah, kita bahkan sudah lama tidak berjumpa karena kesibukan masing-masing. Aku menyempatkan datang karena khawatir denganmu Ian.”
“Memangnya mau kemana?” Tanya Adrian.
“Sebaiknya kau bersiap-siap. Malam ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Kata Sandi sebelum ia bangkit dan pergi meninggalkan apartement Adrian.
Adrian menarik nafas dalam, ia tahu bahwa sahabatnya itu sangat peduli padanya. Ia datang mengajaknya pergi untuk menghiburnya ditengah kesibukannya juga sebagai Presdir perusahaan.
Setelah sandi pergi, Adrian kembali memperhatikan ponselnya.
“Bagaimana aku mengatakan permintaan ibu padanya?” Gumam Adrian bingung.
Setelah beberapa lama mempertimbangkan semuanya. Akhirnya Adrian memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan Elena besok saat ia datang bekerja. Adrian pun segera bersiap-siap untuk pergi bersama dengan Sandi malam ini.
Adrian sudah menunggu didepan apartement, namun ternyata Sandi baru tiba setengah jam kemudian. Saat Sandi tiba Adrian langsung mengomelinya.
“Dasar tukang ngaret.”
“Sory bro, ada sesuatu yang mendesak tadi dan harus segera diselesaikan.”
“Jadi kemana kita malam ini? Jangan coba-coba membawaku ke tempat aneh yah.” Tegas Adrian.
“Tenang saja, aku akan mengajakmu ke ulang tahun sepupuku Brian di hotel Andara.” Kata Sandi.
“Okeh baiklah.”
Sandi melajukan mobilnya, tidak butuh waktu lama untuk tiba disana. Saat tiba di ruangan pesta Adrian sedikit terkejut melihat ada banyak pria dan wanita dengan pakaian seksi, dia harusnya sadar bahwa sepupu Brian yang juga lahir dari keluarga metropolitan itu tentu membuat pesta dengan sangat megah. Ayah dari Brian adalah pengusaha tambang besar diluar kota.
“Sepertinya aku tidak nyaman berada disini Sandi.” kata Adrian.
Sandi dan Adrian walau bersahabat mereka memiliki perbedaan dalam hal pergaulan, Adrian lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja sedangkan Sandi sangat menyukai dunia malam. Hampir semua bar dikota ini pernah dimasukinya.
“Ayolah Ian, kita nikmati saja pestanya.” Bujuk Sandi.
Tapi Adrian adalah orang yang sangat keras.
“Tidak, aku ingin kembali saja.” Kata Adrian dan langsung beranjak pergi.
“Iiaaannnn... heeyyy...” panggil Sandi, namun Adrian mengabaikan panggilannya.
Ia berjalan keluar dari ruang pesta, saat tiba di lobby hotel pandangannya menangkap sosok yang familiar. Dia melihat Elena dan beberapa gadis dengan pakaian minim dan terbuka, tak lupa Madam Rose juga ada disana.
Adrian mencoba melihat dari kejauhan, namun karena penasaran ia berusaha melihat lebih dekat. Saat Madam Rose bertanya dengan resepsionis, Adrian bisa mendengar dengan jelas.
“Nona, dimanakah ruangan pesta Tuan Brian?”
“Ohh, anda bisa langsung naik ke lantai 3 nyonya...” resepsionis itu menjelaskan ruangan yang baru saja Adrian tinggalkan.
“Sedang apa mereka disini? dipesta Brian?” Batin Adrian.
Saat mereka akan berpapasan Adrian spontan membalikan badan dan menutupi sebagian wajahnya, agar Elena dan Madam Rose tidak mengenalinya.
Adrian yang awalnya berniat meninggalkan tempat itu akhirnya mengurungkan niatnya, entah mengapa hati kecilnya menyuruhnya untuk mengikuti Elena. Saat tiba diruangan pesta, Adrian terlihat celingukan. Ia mencari keberadaan Elena yang sepintas dilihatnya masuk kedalam ruangan. Namun sekeras apapun ia mencari, tak ada bayangan Elena didalam ruangan itu.
“Kemana perginya mereka?” Gumam Adrian.
“Heyyy Ian? Kupikir kau sudah pergi.” ucap Sandi saat melihat Adrian, tapi Adrian tampak acuh.
“Apa yang sedang kau cari?” tanya Sandi.
“Air minum, aku mencari air minum karena kehausan.” Kata Adrian dan langsung beranjak menuju ke meja tempat minuman tertata disana.
Saat akan mengambil minuman sebuah percakapan menarik perhatian Adrian.
“Apa kau mendengarnya? Brian menyiapkan ladies night untuk semua teman-teman dekatnya dari Amrik.” Kata laki-laki yang berdiri tak jauh dari Adrian.
“Ohh yah? Waaahh andai saja kita bisa ikut menikmati wanita-wanita itu.” Jawab pria yang lain.
“Mana mungkin, Brian hanya akan membiarkan teman dekatnya untuk menghabiskan malam bersama wanita yang ia sewa.”
Mendengar hal itu Adrian langsung berlari mencari Sandi. Dia mencoba mencari keberadaan sahabatnya itu. Tidak sulit untuk menemukannya, di berada di tengah-tengah tamu wanita. Dia pasti menghabiskan banyak kata rayuan untuk wanita-wanita itu.
“Sandi!” Panggil Adrian setengah berteriak.
“Iya Ian, bagaimana pestanya? Menyenangkan bukan?”
“Aku butuh bantuanmu.” Adrian langsung menarik Sandi. Sandi yang bingung hanya bisa pasrah ditarik oleh sahabatnya itu.
“Ada apa?”
“Dimana Brian sekarang?” tanya Adrian.
“Entahlah, aku hanya bertemu dengannya sebentar saat baru tiba.”
“Telepon dia.” Kata Adrian.
“Untuk apa?”
“Kalau ku bilang telepon yah telepon saja Sandi.” Jawab Adrian kesal.
“Baiklah.”
Sandi mengambil ponselnya, terlihat ia sedang berbicara dengan sepupunya itu ditelepon. Setelah selesai barulah ia mengatakan keberadaan Brian pada Adrian.
“Dia ada dikamarnya, sepertinya dia sedang ada urusan dengan banyak wanita.” Kata Sandi yang mendengar suara wanita samar-samar di teleponnya.
“Antar aku kesana.”
“Apa?”
“Ayo cepat!” Kata Adrian sedikit membentak.
“Okeh.”
Mereka bergegas menuju ke kamar Brian, didepan pintu sudah ada penjaga yang berjaga didepan pintu. Sandi langsung mengatakan sesuatu kepada penjaga itu, mereka pun akhirnya masuk kedalam.
Setibanya mereka didalam, Adrian dan Sandi terkejut melihat ada banyak gadis dengan pakaian seksi didalam dengan beberapa teman Brian yang notabene adalah bule.
“Ada apa Sandi? Kenapa kau mencari ku?” tanya Brian kepada Sandi.
Adrian mencari sosok Elena disana, matanya menangkap Elena yang sedang duduk dengan tidak nyaman disamping pria bule. Pria itu terlihat menatap Elena dengan buas. Tanpa pikir panjang Adrian langsung pergi menuju ketempat Elena.
“Ian kau mau kemana?” Panggil Sandi yang sedikit berlari mengikuti Adrian.
Adrian langsung menarik tangan Elena. Elena terlihat sangat kaget.
“Tuan?”
“Heyyy, apa yang sedang kau lakukan? Dia milikku!” Teriak pria itu.
“Sepertinya kau harus mencari wanita lain.” Jawab Adrian.
“Ada apa sebenarnya Ian? Jelaskan padaku.” Pinta Sandi.
“Kenapa Tuan ada disini?” tanya Elena. Tapi Adrian tidak menjawabnya.
“Ada apa ini Sandi? Siapa pria ini?” tanya Brian.
“Dia sahabatku Ian, anak Tanye Lucy.”
“Lalu apa yang dia lakukan dengan wanita yang sudah ku sewa?”
“Aku akan membayar mu untuk wanita ini.” kata Adrian. Sandi terkejut mendengar Adrian sahabatnya yang polos ini tiba-tiba menginginkan wanita panggilan.
“Aku serahkan padamu Sandi. Mohon bantuannya.” kata Adrian dan langsung menarik Elena untuk pergi meninggalkan ruangan itu.
“Kita mau kemana Tuan?” tanya Elena kebingungan, Adrian tidak menjawab. Dia hanya menarik Elena untuk pergi. Sementara Sandi tampak masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya hari ini.