Tugas Pertama

2079 Words
Adrian perlahan membuka matanya, rasanya ia tertidur untuk waktu yang cukup lama. Seketika tubuhnya yang lelah terasa jauh lebih baik. Namun tiba-tiba ia terperanjat kaget saat menyadari dirinya tertidur dipundak Elena. Saat ia mengangkat kepalanya, dia tak sengaja menatap wajah Elena yang juga ikut tertidur dengan bersandar pada dudukan sofa. Cukup lama Adrian menatap wajah cantik Elena, dalam hati Adrian bertanya-tanya alasan wanita ini mau bekerja sebagai asisten rumah tangga, padahal ia tau bahwa wanita ini juga merupakan wanita panggilan disebuah bar. Saat tengah sibuk menatap wajah Elena, tiba-tiba Elena terbangun. Seketika itu juga Adrian gugup dan langsung mencoba mengalihkan pandangannya. Saat sadar Elena sontak panik. “Aaahh, maafkan saya tuan. Saya tidak bermaksud apa-apa. Tadi saat berusaha memperbaiki posisi tidur Tuan saya...” Elena bangkit dari duduknya dan mencoba menjelaskan. Kkkrruukkk.. kruuukkk.. Elena terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya, suara perut Adrian membuatnya yang tadinya ketakutan jadi berubah menahan tawa. Adrian terlihat malu di depan Elena, maklum saja, Adrian terakhir kali makan saat Renata datang kesini. Tentu perut lapar Adrian tidak dapat menahannya lagi. “Ehhhmmm, jadi apa kau sudah selesai memasak?” tanya Adrian mencoba mengalihkan pembicaraan. Dengan sedikit menahan tawa Elena mengangguk. “Aku akan memanaskan makanannya untuk Tuan.” Dengan sigap Elena berlalu menuju dapur, ia menghangatkan semua makanan yang sudah dingin. Mereka tertidur hampir 2 jam lamanya. Setelah semua hidangan selesai ia hangatkan dan tersaji di meja makan barulah Elena memanggil Adrian. “Makanannya sudah siap Tuan.” kata Elena. Adrian langsung menuju ke meja makan, disana sudah terhidang makanan yang siap memanjakan lidahnya. Ada ayam goreng, sambal pedas, dan juga sayur sup disana. Perut Adrian semakin berontak melihatnya. Adrian segera duduk di kursi meja makan. “Semoga saja rasanya sesuai dengan tampilannya.” Batin Adrian. Adrian tidak langsung mengambil makanan, ia justru menatap ke arah Elena yang hanya berdiri disebelahnya. Seakan sadar dengan pandangan Adrian, Elena langsung berbalik bersiap untuk pergi meninggalkan Adrian. “Heyy, kau mau kemana?” Tanya Adrian. “Aahh, saya tidak ingin mengganggu waktu makan Tuan.” Jawab Elena polos, dia berpikir tatapan Adrian tadi mengisyaratkan padanya untuk pergi dari sana. “Aku menyuruhmu untuk duduk.” “Iyaahh??” Elena seakan tidak percaya. “Ayo duduk dan makan denganku, aku tidak mungkin makan semua ini sendirian.” “Aahh tidak Tuan, saya tidak seharusnya makan dimeja yang sama dengan Tuan.” Elena menolak. “Aku adalah bosmu, seharusnya tugasmu adalah menuruti perintahku.” Kata Adrian. Elena terdiam, sebenarnya Elena pun sama laparnya. Tapi apakah tidak masalah jika ia duduk makan bersama bos yang mempekerjakannya. Melihat Adrian yang terus menatapnya dan tidak berniat menyentuh makanan sebelum Elena duduk akhirnya menuruti perintah Adrian. Elena duduk tepat disampingnya. Saat Adrian akan mengambil nasi, dengan sigap Elena mengambil piring Adrian, ia menuangkan nasi di piring Adrian dengan tambahan lauk pauk. Adrian menatap ke arah Elena, dia baru sadar melihat pakaian Elena yang sangat jauh berbeda dengan pakaiannya malam itu. Kali ini pakaiannya terlihat sangat sopan dan tertutup. “Tuan..” panggil Elena membuyarkan lamunan Adrian. “Apa ada yang salah dengan penampilan saya Tuan?” tanya Elena, ia sadar akan pandangan Adrian yang tertuju pada pakaiannya. “Tidak, pakaianmu saat ini jauh lebih baik dari malam itu.” Kata Adrian jujur. Elena terdiam, memang benar. Malam itu pakaiannya sangatlah terbuka dan tidak sopan, namun itulah tuntutan pekerjaannya di bar. Jika boleh memilih, Elena lebih senang berpakaian yang rapi dan sopan. “Ayo kita makan.” Kata Adrian. Saat menyantap makanan itu pertama kali Adrian sempat berdiam sejenak. Entah apa yang dirasakannya saat itu. Elena yang takut mengecewakan Adrian dengan masakannnya langsung bertanya. “Apakah makanannya tidak enak Tuan?” tanya Elena. Adrian tidak menjawab, ia langsung memakan makanan itu dengan lahap. Perutnya yang belum terisi dalam beberapa waktu membuatnya benar-benar menikmati makanan itu. “Rasa masakannya sama dengan masakan Renata.” Kata Adrian membatin. Melihat Adrian yang makan dengan lahap, Elena tersenyum. Ia bahkan langsung meletakkan air minum disamping piring Adrian. “Makanlah dengan pelan Tuan.” Kata Elena tersenyum. Sementara Adrian melanjutkan makannya dengan lahap. Saat pulang Elena berjalan menyusuri lorong kecil, disana banyak sekali anak-anak dengan pakaian yang kumuh bermain bersama. Lorong ini adalah jalan menuju kerumah Elena, pemukiman yang jauh dari kata bersih dan layak. Hampir sebagian yang tinggal disana adalah mereka yang bekerja sebagai wanita penghibur laki-laki sama seperti dirinya. Elena baru saja pulang dari apartemen Adrian, dia bahkan menenteng bungkusan makanan yang dibawanya dari rumah Adrian. Dia masih teringat dengan kata-kata Adrian saat ia akan pulang. “Kau boleh bawa makanan itu untuk adikmu. Bukankah kau bilang, kau tinggal bersama adikmu?” Kata Adrian. Elena tersenyum, dia bersyukur ternyata bosnya adalah orang yang sangat baik. Dia bahkan tidak harus pusing lagi saat Lyra nanti meminta uang untuk biaya sekolah, karena penghasilan dari bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan bayaran tiga kali lipat sudah sangat cukup baginya. Walau pun itu tidak membuat dia bisa melunasi utang ibunya dan berhenti bekerja di bar Madam Rose, tapi Elena bersyukur setidaknya penghasilannya akan cukup membantu kestabilan keuangannya. Saat tiba dirumah, Elena terkejut melihat Silva sahabatnya ada disana bersama Lily. “Silva.” Sapa Elena. “Hallo Elena, bagaimana hari pertamamu bekerja dirumah Presdir?” Tanya Silva. “Tidak buruk, dia adalah orang yang sangat baik.” Kata Elena menjelaskan penilaiannya terhadap Adrian. “Waaahhh, benarkah? Dia terkenal dingin dan cuek dikantor. Sepertinya memang mungkin seseorang menunjukan kepribadian yang berbeda di tempat yang berbeda juga.” Silva asyik mengoceh sendiri. “Apa yang kakak bawa itu?” Tanya Lily yang fokus melihat kantongan yang dibawa oleh Elena. “Ohh ini, makanan pemberian Tuan Adrian. Ayo kalian makan.” “Dia memberikanmu makanan?” Silva terlihat antusias. “Iya, ini sisa masakan yang ku buat disana. Dia menyuruhku membawanya karena masih sisa banyak.” Jawab Elena sembari menyiapkan makanan yang dibawa diatas meja makan kecil. “Makanlah Silva.” Perinta Elena. “Ahh, kebetulan aku juga belum makan.” Jawab Silva tanpa ada penolakan. “Aku baru tau Pak Adrian sebaik itu orangnya.” Silva terus mengoceh sambil melahap makanan diatas meja bersama dengan Lyra. “Iya, dia adalah bos yang sangat baik.” “Apa kau tidak makan Elena?” “Aku sudah makan disana. Makan dan habiskan lah bersama Lily.” Jawab Elena, Silva mengangguk mendengar jawaban Elena. “Apa kau pernah bertemu ibunya Pak Adrian?” tanya Elena tiba-tiba. “Hmmm, pernah beberapa kali. Saat aku membawakan teh untuknya.” Elena mengangguk mendengar jawaban Silva. “Ada apa memang?” tanya Silva penasaran. “Tidak, saat aku kesana aku bertemu dengan ibunya.” “Nyonya Lucy terkenal sangat dingin, tapi semua orang tau dia adalah orang yang baik dan sangat peduli pada putranya.” Jelas Silva. Elena terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Silva. “Apa kau tau, ada gosip yang mengatakan bahwa Pak Andrian akan ditinggal menikah oleh mantannya yang dipacarinya sejak lama.” Silva terus mengoceh dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah dan melahap makanan. “Ohh yah?” Kata Elena merasa iba. Ia teringat Adrian yang sakit beberapa waktu lalu dan saat Adrian meneteskan air mata dalam tidurnya dengan terus memanggil nama Renata. “Entah apa alasannya sampe ia di tinggal. Namun beredar gosip kalau Pak Adrian tidak ingin menikah.” “Kenapa?” tanya Elena antusias. “Entahlah. Kenapa kamu jadi penasaran dengan Pak Adrian? Jangan bilang kamu menyukainya Elena.” Kata Silva menebak-nebak. Elena terlihat malu dituduh seperti itu oleh sahabatnya Silva. “Ahh mana mungkin, aku cukup tau diri dengan posisiku Silva. Mana mungkin aku menyukai laki-laki sehebat itu.” “Yah, kamu harus tau tempat kita Elena. Bertemu dengan laki-laki baik saja untuk orang-orang seperti kita sudah sangat bersyukur. Mengharapkan laki-laki sempurna seperti Pak Adrian hanya akan menyakiti kita.” Celoteh Silva. “Apa kakak tidak lelah harus bekerja di dua tempat?” tanya Lily tiba-tiba. “Tidak, kakak masih sangat kuat bahkan untuk 3 sampai 4 pekerjaan lagi Lily.” Jawab Elena lembut. “Kamu harus belajar betul-betul Lily, lihatlah perjuangan kakakmu untuk menyekolahkan mu. Jangan sampai kamu mengecewakannya yah.” Pesan Silva yang dibalas anggukan oleh Lily . “Baiklah, aku akan istirahat sebentar sebelum bersiap-siap ke bar.” Kata Elena beranjak menuju kamar kecil mereka. Saat tengah membaringkan tubuhnya yang penat di kasur kamarnya, Elena kembali teringat perkataan Silva mengenai Adrian. “Betapa beruntungnya wanita ketika bisa dicintai sebegitu besar oleh seorang laki-laki.” Batin Elena. Ia bisa menilai seberapa besar rasa cinta Adrian pada wanita bernama Renata itu, pastinya mendengar wanita yang dicintainya akan menikah dengan pria lain akan membuat Adrian sangat terpukul dan kecewa. “Tapi kalau dia begitu mencintai wanita itu, kenapa dia menolak untuk menikahinya?” Gumam Elena pelan. Banyak pertanyaan yang berkecamuk dipikirkannya. Tapi pada akhirnya ia sadar itu bukanlah menjadi urusannya. Sehingga akhirnya Elena pun mencoba menepis semua pertanyaan tentang Adrian di hatinya. Saat akan memejamkan matanya tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah nomor baru terlihat memanggil dilayar ponsel. “Nomor siapa ini?” Tanya Elena dalam hati. “Hallo.” “Hallo Elena.” Sebuah suara yang familiar terdengar dibalik telepon. “Iya ini dengan siapa?” tanya Elena. “Apa kau tidak mengenali suara bosmu sendiri?” Mendengar kata bos Elena langsung bangun dari tempat tidurnya. “Tuan Adrian? Ada yang bisa saya bantu Tuan” tanya Elena panik, tidak menyangka Adrian menelfonnya. “Aku meminta nomormu dari HRD kantor yang mengutusmu menjadi asisten dirumahku.” “Iya Tuan.” “Simpan nomor ini yah, aku harap aku bisa menghubungimu saat aku butuh bantuanku terkait ibuku.” Jelas Adrian dibalik telepon. “Tapi Tuan, apakah tidak masalah berbohong seperti itu?” Elena tampak ragu. “Tenang saja, aku sudah mempertimbangkan semuanya. Aku hanya butuh sedikit bantuanmu, jika ibuku tau aku sudah punya pasangan, dia tidak akan ribut soal menjodohkan ku.” “Mmm, baiklah Tuan.” Jawab Elena pasrah. “Baiklah, aku hanya ingin memberitahukan mu soal itu.” Kata Adrian sebelum menutup teleponnya. Elena terdiam, dirinya tidak menyangka Adrian akan sampe menghubunginya seperti ini. Hal ini membuat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Sementara itu di kediaman Adrian, ia terlihat menarik nafas dalam. “Untuk pertama kalinya aku harus melakukan hal konyol seperti ini. Seandainya saja ibu tidak mencoba menjodohkanku, maka hal ini tidak perlu terjadi.” Gerutu Adrian. Adrian menggenggam ponselnya, ia lalu mengetik nama Elena untuk nomor yang barusan diteleponnya. Dia bersyukur Elena datang disaat yang tepat, jika tidak mungkin dia tidak akan bisa berbuat banyak mencegah kemauan keras ibunya untuk mempertemukannya dengan anak nyonya Whizly. Tapi disisi lain Adrian merasa iba pada Elena, Elena tidak seperti wanita yang berkepribadian yang nakal. Dia bahkan cukup polos untuk ukuran wanita yang bekerja di dunia malam. Mungkin memang faktor ekonomi yang mengharuskannya bekerja seperti itu, tapi bukankan dia cukup cantik dan menarik untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Ddrrrttt.. ddrrtttt.. Dering ponsel membuyarkan lamunannya. “Iya halo ma.” Jawab Adrian dengan malas. “Ibu ingin bertemu dengan wanita itu lagi besok.” Kata Nyonya Lucy tanpa basa-basi. “Aduhhh ibu, belum waktunya.” kata Adrian menolak. “Tidak, ibu harus bertemu dan menilai setiap wanita yang dekat denganmu Adrian. Jangan sampai perempuan seperti Renata yang datang mendekatimu.” “Pasti akan ada saatnya ibu bisa menilai dia bu, jangan dalam waktu dekat ini. Itu akan membuatnya menjadi tidak nyaman.” “Pokoknya ibu ingin bertemu dia lusa. Ibu tunggu kedatanganmu dirumah bersama dengan wanita itu.” Kata nyonya Lucy dan langsung menutup teleponnya. “Aaarrggghh..” Adrian berteriak kesal sembari menggaruk kepalanya. Rambutnya yang berantakan jelas menandakan kekesalannya kepada ibunya itu. “Kenapa semua jadi kacau begini?” Gerutu Adrian. “Bagaimana aku harus mengajak wanita itu kerumah? Seharusnya aku tidak gegabah seperti ini.” Sesal Adrian. Ting tong. Suara bel membuat Adrian segera memperbaiki rambutnya yang acak-acakan dan segera menuju ke pintu. Kali ini dia mengintip terlebih dahulu siapa tamu yang datang. Didepan pintu sudah berdiri seorang pria dengan pakaian jas yang modis, tentu saja Adrian kenal siapa orang itu. Dengan malas dia membuka pintu apartemennya. “Hallooo yang sedang galau.” Sapa pria itu saat Adrian sudah membuka pintu. Pria berwajah oriental itu terlihat tersenyum ramah pada Adrian, Adrian yang merasa enggan menyambutnya hanya menatap tajam ke arahnya. “Mau apa kau kesini?” tanya Adrian. “Bukankan kau harusnya mempersilahkan ku masuk terlebih dahulu Ian.” Ucapnya masih dengan wajah ramah. Adrian mendengus sebal dan menggeser tubuhnya dari depan pintu, tanda bahwa ia menyuruh pria itu untuk masuk ke dalam. Pria itu tersenyum senang sebelum akhirnya ia masuk ke dalam apartemen milik Adrian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD