Pagi ini Elena bergitu bersemangat, ia bahkan membuatkan makanan kesukaan untuk bekal Lily. Elena sesekali bernyanyi kecil, tergambar kebahagiaan di wajah cantiknya.
“Sepertinya Kakak sedang merasa sangat senang.” Kata Lily sembari menikmati sarapannya.
“Hmm, tentu saja kakak merasa sangat senang. Kakak baru saja mendapatkan pekerjaan baru.”
“Oh yaa, jadi kakak sudah tidak perlu pergi ke Bar milik Madam Rose?” tanya Lily polos.
Elena yang tadinya bersemangat sontak terdiam, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Lily. Lalu beberapa saat kemudian ia pun mengangguk menjawab pertanyaan adiknya.
“Mmm, tentu saja. Jika pekerjaan ini cukup suatu saat kakak pasti akan berhenti bekerja disana.”
“Syukurlah, Lily tidak ingin kakak terus bekerja disana. Banyak laki-laki yang selalu menatap aneh ke arah kak Elena.” Lily kemudian terdiam.
“Lily benar-benar tidak suka kakak bekerja disana.” Sambungnya lirih, ada perasaan sedih dibalik ucapan adiknya tersebut. Elena langsung menghampiri Lily dan memeluknya erat.
“Iya, Kakak janji akan secepatnya berhenti bekerja di tempat itu.” Kata Elena dengan suara penuh keyakinan, walau ia tau kemungkinan itu sangat kecil tapi Elena tetap berusaha untuk meyakinkan adiknya.
Adrian menatap ke arah jendela kamarnya yang masih tertutup rapat. Sudah hampir 3 hari dirinya tidak keluar rumah, ia bahkan membatalkan hampir semua jadwal meeting dengan cliennya. Adrian masih mengingat jelas wajah Renata yang pergi sambil menangis.
“Apakah ucapanku terlalu kasar dan berlebihan padanya?” pertanyaan itu selalu membayanginya setiap waktu, bahkan setelah sakit hati yang diberikan Renata padanya Adrian masih terus peduli dan memikirkan perasaan wanita itu. Sepertinya rasa cintanya terhadap Renata membuat Adrian menjadi bodoh dan buta akan semua yang telah di lakukan Renata.
Drrrtttt…Drrrttt… Hanphone Adrian berdering.
Nama kontak Ibu tertera di layar handphone, Adrian mendengus sebal. Sejak kemarin ia memang tidak menjawab panggilan dari ibunya itu. Ia bahkan mengganti sandi apartement miliknya agar ibunya tidak perlu datang hanya untuk sekedar mengomel kepadanya, juga mencegah kehadiran Renata yang mengetahui sandi apartementnya seperti kemaren. Adrian lagi-lagi mengabaikan panggilan itu, ia yang sejak pagi tadi tidak beranjak dari kasurnya akhirnya memilih untuk bangun. Namun saat akan berdiri tiba-tiba handphonenya kembali bordering. Kali ini Sarah Sekretarisnya menelfon.
“Ya Sarah.” Jawab Adrian dengan suara masih terdengar parau.
“Selamat pagi Pak Adrian. Saya ingin mengabari bahwa hari ini akan ada asisten rumah tangga yang datang ke apartement Bapak.” Ucap Sarah dari seberang telepon.
“Oh ya, okeh. Beri tau dia untuk datang 1 jam lagi.” Pesan Adrian.
“Baik Pak.”
Adrian beranjak menuju ke kamar mandi, ia sudah mencium aroma tidak segar dari tubuhnya. Sejak kemarin ia benar-benar hanya berbaring di atas ranjang. jangankan untuk mandi, sekedar buang air kecil ke kamar mandi rasanya enggan. Adrian harus membersihkan diri sebelum asisten rumah tangga itu datang. Sebenarnya Adrian sudah memiliki asisten rumah tangga bernama Cici, namun karena sebentar lagi ia akan menikah dengan kekasihnya di kampong, ia pun memutuskan untuk berhenti bekerja sejak beberapa hari lalu.
Setelah membersihkan diri, Adrian mengisi waktu luang untuk menyelesaikan pekerjaannya di laptop. Perutnya yang keroncongan sebenarnya sudah sangat mengganggu, namun ia berniat untuk menyuruh asisten baru itu untuk memasak, sekalian menguji kepandaiannya dalam memasak. Adrian adalah tipe orang yang sangat pemilih dalam banyak hal termasuk soal makanan. Ia bahkan tidak menyukai masakan Nyonya Lucy ibunya. Ia hanya menyukai masakan Cici asistennya yang lama, masakan Mbok Nem asisten rumah tangga dirumah ibunya dan tentu saja masakan Renata mantan kekasihnya.
Saat sedang fokus menyelesaikan pekerjaan tiba-tiba saja bel pintu apartementnya berbunyi. Adrian melirik kearah jam dinding yang menunjukan pukul 10.30. Setengah jam lebih cepat dari waktu yang di perintahkannya.
“Cepat sekali datangnya.” Gumam Adrian dan langsung bangkit beranjak untuk membuka pintu apartement.
Adrian tidak melihat terlebih dahulu siapa yang datang, ia hanya berpikir bahwa itu adalah asistent rumah tangga yang berjanji akan datang hari ini. Saat ia membuka pintu, Nyonya Lucy sudah berdiri dengan mata yang tajam sambil berkacak pinggang. Adrian yang terkejut meihat ibunya sudah berdiri disana, sontak langsung mencoba menutup kembali pintu, Namun nyonya Lucy lebih sigap dan langsung menahan pintu. Ia langsung menyerbu masuk ke dalam rumah putra semata wayangnya itu.
“Ibuu..” Seru Adrian dengan pasrah.
Nyonya Lucy langsung duduk dikursi tempat Adrian duduk sebelumnya. Ia menatap kesal kepada Putra semata wayangnya itu.
“Apa kamu anak kecil yang masih harus bersembunyi di saat seperti ini Adrian?” Bentak Nyonya Lucy kesal.
“Ibu, Aku hanya beristirahat sejenak dirumah.” Jawab Adrian malas.
“Apa kamu berharap ibu akan percaya ucapanmu?”
“Bersiaplah, kita akan bertemu dengan Tita putri Nyonya Whizly.” Tambah nyonya lucy di akhir ucapannya.
“Apa!?” ucap Adrian setengah berteriak.
“Ibu tidak akan membiarkanmu bersedih karena wanita jahat itu Adrian.” Ucap Nyonya Lucy kesal.
“Tidak ibu, aku tidak ingin bertemu dengan siapapun.” Tolak Adrian tegas.
“Adrian, kamu tidak pada tempatnya untuk menolak perintah ibu!” Jawab Nyonya Lucy sama tegasnya.
“Tidak akan!”
“Ibu sudah membuat janji Adrian, jangan coba-coba mempermalukan ibu!” Kata Nyonya Lucy
Ditengah perdebatan ibu dan anak itu, di balik pintu Elena tengah sibuk memastikan alamat yang diberikan oleh Silva.
“Benar ini kan?” gumam Elena. Dirinya sebenarnya ragu, mengingat apartement ini ternyata adalah apartement yang sama dengan tempat tinggal pria yang menolongnya beberapa hari lalu. Namun Elena benar-benar tidak ingat nomor dan lantai apartement Adrian, sehingga ia berspekulasi bahwa tidak mungkin pria yang dimaksud oleh Silva adalah laki-laki yang sama.
“Bukankan Apartement ini sangat besar? Tentu saja aku tidak akan bertemu dengan pria itu lagi.” Gumam Elena meyakinkan dirinya sendiri. Elena merasa dirinya tidak pada tempatnya untuk mempertimbangkan banyk hal, apalagi hal yang tidak pasti seperti itu.
Dengan keberanian tinggi Elena menekan bel Apartement bernomor 230 itu. Saat akan menekan bel untuk kedua kalinya tiba-tiba pintu terbuka. Elena yang gugup memilih menundukan kepalanya.
“Selamat siang Tuan.” Sapa Elena ramah, ia perlahan mengangkat kepalanya. Elena tercekat, matanya terbelalak kaget. Ekspresi yang sama juga tergambar di wajah Adrian.
“Tuan..” kata Elena lirih dengan pupil mata yang membesar karena kaget.
“Siapa itu Adrian? Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan kita yah.” Seru nyonya Lucy dari dalam rumah. Adrian dan Elena sama mematung, sampai suara nyonya Lucy yang kini sudah berdiri dibelakang Adrian mengagetkan keduanya.
“Siapa wanita ini?” tanya nyonya Lucy.
Elena yang kaget spontan gelagapan menjawab pertanyaan nyonya Lucy.
“Emm, saya…” belum sempat Elena menjawab Adrian justru memotong ucapan Elena.
“Diaa..” Adrian langsung merangkul Elena pelan, tangannya yang besar kini melingkar di pinggang kecil Elena.
“Dia adalah teman dekatku ibu, itu sebabnya aku menolak ajakan ibu untuk bertemu dengan si Tita itu. Dan selama beberapa hari dirumah dia yang selalu merawat ku saat sakit..” Kata Adrian cepat.
Nyonya Lucy tercengang sama halnya dengan Elena, Elena memandang tidak percaya pada Adrian. Ia bahkan tidak paham apa yang sebenarnya sedang terjadi. Nyonya Lucy menatap Elena tajam. Tatapannya penuh selidik, Elena bisa merasakan tatapan tajam itu menusuk hingga ke dalam hatinya.
“Apa maksudanya?” Elena mencoba mempertanyakan apa yang baru saja di dengarnya, ia bahkan berusaha melepas rangkulan erat Adrian, namun rangkulan itu justru semakin erat saja.
“Maafkan aku, ibuku tiba-tiba datang bertepatan dengan hari janjian kita.” Ucap Adrian pelan dan lembut. Pupil matanya sedikit membesar mencoba memberi kode kepada Elena untuk diam dan mengikuti apa yang dikatakan Adrian.
“Siapa kamu?” tanya Nyonya Lucy dingin.
“Mmm, saya..” Elena melirik Adrian ragu, Adrian tersenyum dan mengangguk pelan.
“Saya teman Tu.. aahh, teman Adrian nyonya.” Jawab Elena pasrah.
“Mmm maksud saya tante.” Sambung Elena lagi.
“Biarkan dia masuk dulu bu.” ucap Adrian. Nyonya Lucy seakan masih tidak percaya dengan pengakuan Elena dan Adrian, ia pun langsung menyuruh Elena untuk masuk kedalam.
Elena terduduk kaku di atas sofa tepat di samping Adrian, sedangkan Nyonya Lucy duduk di hadapan mereka berdua lagi-lagi dengan tatapan dingin dan penuh selidik.
“Apa kamu kekasih Adrian?” tanya Nyonya Lucy.
Elena melirik kearah Adrian sebelum akhirnya menggeleng.
“Kami, baru saja dekat Bu.” Adrian mencoba membantu menjawab pertanyaan.
“Dimana kamu tinggal?” tanya Nyonya Lucy lagi.
Deg.. Elena tertegun mendengar pertanyaan itu, tidak mungkin ia mengatakan tempat tinggalnya yang sesungguhnya.
“Saya…”
Melihat Elena ragu untuk menjawab, lagi-lagi Adrianlah yang menjawab pertanyaan ibunya itu.
“Dia tinggal disebuah Apartement, dia hanya tinggal bersama..” Adrian terdiam, mencoba meminta Elena membantunya untuk menjawab.
“Saya tinggal bersama adik saya.” Sahut Elena.
“Orang tua kamu?”
Elena terdiam, tatapan sedih menyeruak dari pelupuk matanya. Ia menggeleng pelan, membuat Nyonya Lucy merasa bersalah mempertanyakan hal tersebut.
“Jadi siapa namamu?” tanya Nyonya Lucy, kali ini dengan nada yang lebih lirih dan lembut.
“Nama saya Elena Tante.” Jawab Elena dengan senyum kecil di bibirnya.
Nyonya Lucy termenung sesaat, entah apa yang dipikirkannya. Namun Adrian terlihat was-was mendengar apa yang akan dikatakan oleh ibunya setelah ini. Adrian takut jika ibunya tidak percaya dan tetap berkeras membawanya menemui anak Nyonya Whizly. Adrian tau betul, nyonya Whizly adalah wanita yang sangat cerewet, itu sebabnya banyak laki-laki yang tidak betah bersama dengan anaknya termasuk Adrian.
“Hmm, Kalau begitu ibu akan membatalkan pertemuan dengan anak Nyonya Whizly.” ucap Nyonya Lucy. Adrian sontak menghela nafas lega.
“Sebaiknya kamu tidak sedang membohongi ibu Adrian, Ibu tidak akan membiarkanmu menderita karena wanita jahat itu.” Kata Nyonya Lucy. Elena dan Adrian saling berpandangan.
Nyonya Lucy akhirnya pergi meninggalkan Adrian dan Elena berdua, sebelum pergi ia sempat berpesan kepada Adrian untuk masuk kantor esok hari karena banyaknya pekerjaan yang tertumpuk karena ketidakhadirannya selama tiga hari.
“Haahhh..” Adrian menarik nafas lega, ia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa setelah ibunya pergi. Sedangkan Elena hanya berdiri mematung di samping sofa. Adrian melirik kearah Elena, ia menepuk-nepuk sofa disampingnya. Memberikan kode kepada Elena untuk duduk.
“Jadi ada apa kau kesini? Apa ada barangmu yang tertinggal?” tanya Adrian.
Elena terdiam, ia ragu mengatakan maksud dan tujuan kedatangannya. Ia bahkan berniat mengurungkan niatnya untuk bekerja dirumah Adrian dengan tidak mengatakan bahwa ia adalah pekerja yang di utus untuk menjadi asisten rumah tangga.
“Saya..” belum sempat Elena menjawab, Handphone Arian bordering.
“Ya Hallo Sarah.” Jawab Adrian, ia mendengarkan ucapan seseorang dibalik telepon. Sesaat kemudian ia menatap kearah Elena. Setelah pembicaraan di telepon selesai Adrian langsung menatap Elena.
“Jadi kamu asisten rumah tangga yang akan bekerja disini?” tanya Adrian.
Elena kaget mendengar pertanyaan Adrian, akhirnya Adrian mengetahui maksud kedatangannya.
“Sepertinya saya tidak bisa bekerja di sini Tuan, maafkan saya.” Kata Elena dan bergegas berdiri hendak pergi.
Namun Adrian menarik tangan Elena, ia menatap Elena dalam. Membuat Elena bingung dengan perlakuan Adrian.
“Tunggu dulu.”
“Kenapa tiba-tiba kau membatalkannya?” tanya Adrian lagi.
“Jadi kamu berniat untuk batal bekerja disini?”
Elena menjawab dengan anggukan pelan, jawaban Elena tidak membuat Adrian berhenti menggenggam pergelangan tangan Elena.
“Maafkan aku Elena, tapi sepertinya kau harus tetap bekerja disini.” Kata Adrian pelan.
“Maksud Tuan?” tanya Elena.
“Aku tidak tau alasanmu sebenarnya mau bekerja sebagai asisten rumah tangga bahkan dengan pekerjaanmu yang lain sebagai….” Adrian tidak melanjutkan ucapannya.
“Tapi itu tidak penting bagiku, kau sudah lihat ibuku mengenalmu sebagai teman dekatku. Aku tidak mungkin harus mencarimu ke bar itu setiap kali butuh bantuanmu.”
Elena terdiam seakan mencoba mencerna setiap ucapan Adrian.
“Jadi tetaplah bekerja disini.” Kata Adrian. Barulah kemudian ia melepas tangan Elena.
“Maafkan saya Tuan, sepertinya saya tidak bisa.”
“Aku akan membayarmu 3 kali lipat.” Bujuk Adrian.
Mendengar kalimat 3 kali lipat, membuat Elena goyah. Elena paham betul saat ini dirinya sangat membutuhkan pekerjaan ini, apalagi dengan gaji segitu ia jelas akan bisa mencukupi kebutuhan sekolah Lucy. Ia sempat terdiam mencoba mempertimbangkan tawaran Adrian.
“Bagaimana dengan 5 kali lipat gajimu?” tanya Adrian lagi dengan tawaran yang lebih mengiurkan.
“Tidak Tuan, itu terlalu banyak.” Jawab Elena menolak, meskipun ia sangat susah dan membutuhkan uang ia tidak ingin memanfaatkan keadaan untuk memeras orang lain.
“Baiklah kalau begitu 3 kali lipat dari gajimu.” Ucap Adrian.
Elena yang terdiam akhirnya mengangguk setuju dengan tawaran Adrian.
“Jadi apa yang bisa saya kerjakan pertama kali Tuan?” tanya Elena.
“Hmmm, kau bisa memulai dengan membuatkan makan siang untukku.” Jawab Adrian.
Elena mengangguk dan bergergas menuju ke dapur. Ruang tamu Apartement tersebut berada bersebelahan dengan dapur dan ruanng makan, hanya ada meja dapur yang menjadi pembatas dengan ruang makan. Adrian terlihat fokus di depan Laptop, sementara Elena mulai memasak. Awalnya Elena bingung harus membuat apa untuk Adrian, akhirnya ia membuatkan makanan yang biasa di masaknya dirumah, walau awalnya dia ragu apakah orang kaya seperti Adrian mau memakan masakan sederhana seperti ini, namun akhirnya ia memutuskan untuk memasak sesuai yang ia ketahui.
Untung saja Elena yang sudah biasa menyelesaikan pekerjaan dapur, jadi ia tidak mengalami kesulitan jika di perintahkan untuk memasak, mengingat ibunya pun sangat pandai memasak, tentu saja Elena juga pandai dalam memasak sama seperti ibunya. Setelah semua makanan tersedia, Elena berniat memanggil Adrian untuk makan namun ternyata Adrian yang memang tidak bisa tidur sejak pertemuan terakhirnya dengan Renata itu justru tertidur lelap di depan laptop, ia duduk di lantai dengan kapala menempel diatas Keyboard Laptop.
“ Tuan, makanannya sudah siap.” Kata Elena, ia kaget melihat Adrian tertidur
Dengan pelan ia mencoba menggeser laptop tersebut, namun karena kesulitan akhirnya ia mencoba mengangkat kepala Adrian pelan, saat akan menyandarkan Adrian ke dudukan sofa, Adrian mengigau dengan memanggil nama Renata.
“Renataaa.” Panggilnya dengan suara pelan dan menyayat hati, bahkan kepalanya langsung mendarat pelan kepundak Elena. Elena tertegun, ia seperti kebingungan harus berbuat apa.
“Aah seharunya aku membiarkannya saja.” Gerutu Elena pelan.
Saat akan menyingkirkan kepala Adrian dari pundaknya, tiba-tiba Elena tersadar, ada air mata yang mengalir pelan dari pelupuk mata Adrian.
“Renata kembalilah padaku..” Panggil Adrian lagi, Elena hanya tertegun menyaksikan kejadian tersebut, perlahan ia mengusap air mata Adrian.