Elena duduk termenung memandangi lampu-lampu gedung pencakar langit yang terlihat dari rumahnya, dirinya yang tinggal dan menyewa sebuah ruangan kecil di atap sebuah gedung memudahkannya untuk bisa melihat sekeliling dari balik jendelanya. Letak rumahnya pun tak jauh dari pusat kota, sehingga dari jauh bisa terlihat jelas gedung-gedung besar dengan lampu-lampunya yang terang. Sungguh pemandangan indah di malam hari yang bisa membuat hati siapapun yang melihatnya menjadi tenang.
Di pandanginya adiknya Lily yang sudah lebih dahulu menuju kealam mimpi. Bagi Elena waktu seperti ini sangatlah berarti baginya, karena seringkali dia menghabiskan waktu malam hari di Bar atau di kamar hotel. Elena lahir dalam lingkungan yang keras. Ibunya yang bernama Lyra adalah seorang wanita penghibur. Sedangkan ayahnya, sejak kecil Elena dan Lily tidak pernah mengetahui siapa dan dimana keberadaannya, yang Elena tau ibunya selalu bersama dengan pria yang berbeda setiap harinya.
Pernah dirinya bertanya tentang keberadaan ayahnya, namun ibunya hanya menjawab “Ayahmu sedang pergi mencari uang Elena, entah kapan pulangnya. Berdoalah semoga ayahmu segera pulang.” Kata ibunya waktu itu pada Elena kecil yang selalu percaya dengan kata-kata ibunya, namun sampai dirinya dewasa ayah yang di maksud oleh ibunya itu tidak kunjung datang menemui mereka.
Tidak ada yang tidak mengetahui siapa ibunya, Lyra adalah wanita paling cantik di Bar milik madam Rose. Kecantikannya bahkan mampu menggaet para pengusaha besar dengan kantong tebal datang ke bar hanya untuk menemui Lyra dan bahkan memilikinya malam itu. Konon madam Rose memasang tarif sangat mahal untuk para pria yang ingin menghabiskan malam bersama Lyra.
Saat kecil Elena tidak mengerti apa yang ibunya lakukan dengan para pria yang berbeda setiap malamnya, ibunya akan pergi dengan pria itu malam hari dan pulang di pagi hari, sampai akhirnya saat dirinya perlahan tumbuh dewasa. Beberapa teman sekolahnya mengatakan pada Elena “Ibumu seorang wanita menjijikkan seharunya kau suruh ibumu bertobat dan pergi mencari ayahmu.”
Bahkan masih terekam jelas dalam ingatannya tentang para wanita yang datang kerumahnya saat ibunya tidak dirumah, mereka sering kali berkata “Bilang pada ibumu untuk berhenti menggoda suamiku! Dasar wanita pengganggu!” Kata-kata itu mungkin terlalu kasar untuk didengar oleh seorang anak kecil sepertinya, namun bagi Elena itu adalah hal yang lumrah. Perlahan dirinya mulai mengerti pekerjaan seperti apa yang di lakukan ibunya.
Walau ibunya seorang wanita penghibur bagi para pria di luar sana, tapi ibunya adalah sosok ibu yang baik bagi dirinya dan Lily. Ibunya selalu menyayangi mereka, tutur katanya yang lembut sama sekali tak menggambarkan pekerjaannya selama ini. Elena tau, ibunya terjerumus kedalam dunia itu karena mungkin takdir baik belum berpihak padanya.
Ibu selalu berkata
“Elena putriku yang cantik, Suatu saat nanti pergilah dari tempat ini, tumbuhlah sebagai wanita yang bebas dan temukan seorang pria yang akan terus mencintaimu, bukan hanya sekedar menginginkan dirimu (tubuhmu). Hiduplah bahagia dengan cinta dari pria itu sampai akhir dan perlahan lupakanlah segala hal tentang tempat ini.”
Elena tau ibunya tidak ingin putri-putrinya ikut terjerumus dalam lubang kotor yang dirinya sendiri hampir tidak mampu untuk keluar dari dalamnya. Namun, pada akhinya saat ibunya meninggal madam Rose datang membawa tumpukan kertas catatan yang katanya berisi hutang-hutang ibunya semasa hidup.
Tujuan madam Rose jelas ingin menjebak Elena yang mewarisi kecantikan ibunya itu sebagai salah satu asetnya yang berharga sama hal seperti yang di lakukan madam Rose pada Lyra ibunya Elena. Walau dirinya ragu apakah benar itu adalah hutang-hutang ibunya, namun pada akhirnya Elena harus melunasinya saat itu juga atau memilih untuk menggantikan tempat ibunya guna melunasi hutang itu.
Elena tidak punya pilihan lain karena dirinya tidak memiliki uang sebanyak itu, keadaan yang sulit dan dirinya yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi tidak menempatkannya pada pilihan untuk mencari pekerjaan lain. Dan di sinilah dirinya sekarang, Elena wanita yang melanjutkan pekerjaan ibunya menjadi wanita pemuas nafsu para laki-laki hidung belang di luar sana.
Elena selalu berharap, suatu saat akan bisa hidup bahagia dengan seorang pria yang mencintainya seperti pesan ibunya, namun mana ada laki-laki baik yang menginginkan wanita kotor sepertinya. Sepertinya Elena tidak lagi bisa mewujudkan apa keinginan ibunya sampai akhir, mungkin saja sama halnya seperti ibunya, bahkan nasib baik pun sampai detik ini belum berpihak padanya.
“Kenapa kakak belum tidur?” tanya Lily yang tiba-tiba terbangun. Sepintas ada air mata yang membasahi wajah Elena, segera dia menyekanya dengan tangannya.
“Aku baru saja akan tidur, kembalilah tidur Lilyku. Bukankan kau besok harus sekolah.” Kata Elena lembut. Lily kembali memejamkan matanya.
Elena selalu berpikir, jika pesan ibunya itu tidaklah terwujud padanya, maka biarlah pesan itu terwujud pada adiknya Lily. Elena akan berusaha keras menjauhkan Lily dari dunia yang sudah terlanjur di masuki olehnya, biarlah ini menjadi warisan ibu untuknya. Elena bahkan bertekad untuk menyekolahkan Lily jauh dari tempat ini, itu sebabnya Elena berniat mencari pekerjaan tambahan di luar sana untuk menyekolahkan Lily.
Pagi ini Elena sibuk membuatkan bekal untuk Lily yang akan berangkat kesekolah. Baginya sekarang, dirinya lah ibu bagi adiknya Lily.
“Apa kau sudah menghabiskan sarapanmu?” tanya Elena.
“Sudah kak.”
“Baiklah, bekalmu sudah selesai kau boleh berangkat sekarang.” Perintah Elena. Adiknya yang penurut langsung bersiap-siap untuk berangkat.
Drrrttt… Drrrttttt… ponsel Elena bordering.
“Ya hallo Silva” jawab Elena, Silva adalah sahabat Elena sejak kecil.
“Apa kau serius? Baiklah aku akan segera menemuimu.” Kata Elena sebelu mematikan telponnya.
Elena pun langsung bersiap-siap, dia menggunakan pakaian yang jauh berbeda dengan yang biasa dikenakannya di Bar. Kali ini Elena menggunakan kaos T-shirt dan celana jins. Segera dia bergegas menemui sahabatnya itu. sesampainya di sebuah gedung perusahaan besar tempat sahabatnya itu bekerja, Elena segera menghubungi Silva dan mengatakan bahwa dirinya sudah sampai. Setelah menunggu beberapa saat Silva akhirnya keluar dari perusahaan itu, dia menggunakan seragam Cleaning Service.
“Maaf aku mengganggumu Silva.” Kata Elena.
“Ohh, tidak papa. Justru aku yang memang menyuruhmu untuk datang. Ayo kita ngobrol di sana.” Kata Silva menunjuk sebuah bangku yang ada di taman depan gedung itu.
“Jadi apa yang harus kukerjakan?” tanya Elena.
“Aku memberikanmu pekerjaan ini karena aku tau kau tidak bisa bekerja secara full sepertiku.” Kata Silva.
“Yah begitulah, karena jam 5 sore aku sudah harus ke bar.”
“Baiklah akan aku jelasksan, jadi Presdir perusahaan ini sedang mencari seorang petugas kebersihan untuk membersihkan apartementnya, kepala Cleaning Service menawarkannya padaku, tapi aku pikir kau lebih membutuhkannya Elena. Kau hanya perlu datang setiap hari dari jam 7 pagi dan pulang setelah selesai membersihkan rumah dan menyiapkan makan siang untuknya.” Silva menjelaskan
“Jadi semakin cepat kerjaanmu selesai semakin cepat pula kau akan pulang, gajinya sangat lumayan makanya aku memberitahukannya padamu jika kau berminat Elena.” Kata Silva lagi.
“Tentu saja aku berminat Silva, kau kan tau keadaanku seperti apa.” Jawab Elena senang.
“Baiklah, jika kau menginginkannya kau bisa datang besok ke alamat ini, kebetulan beliau sejak kemarin sakit, mungkin saja rumahnya sudah sangat butuh untuk dibersihkan.” Silva menyerahkan kertas berisi alamat.
“Ohh, terimakasih banyak Silva.” Kata Elena langsung memeluknya.
“Bekerjalah dengan baik mulai besok. Aku akan memberi tahukan kepada kepala kebersihan dikantorku bahwa kau bersedia menerima pekerjaan ini.” Kata Silva tersenyum sambil membalas pelukan sahabantnya itu.
Saat di jalan pulang, Elena yang duduk di dalam bus merogoh kantong celananya dan mengambil kertas berisi alamat yang diberikan oleh Silva. Dia membaca alamat yang tertulis didalamnya.
“Semoga saja kali ini nasib baik berpihak padaku.” Gumam Elena.
Elena tesenyum puas, akhirnya dia mendapatkan pekerjaan tambahan untuk biaya sekolah Lily, sepertinya dia tidak menyadari rumah siapa yang akan di datanginya besok.