Pertengkaran

1221 Words
Renata sedang menuju ke Apartement Adrian, saat dirinya tak sengaja melihat Elena keluar dari pintu apartemen. Renata menatap penuh tanda tanya terhadap Elena, namun Elena yang sedang buru-buru tidak memperhatikan Renata yang berpapasan dengannya. Renata melihat jaket Adrian yang juga di kenakan oleh Elena, dia juga memperhatian pakaian Elena yang begitu sangat terbuka. Renata bertanya-tanya dalam hati, tentang siapa wanita yang keluar dari apartement Adrian dan ada urusan apa Adrian dengan wanita berpakaian tidak senonoh itu. Setelah Elena pergi, Renata langsung masuk ke dalam apartemet Adrian. Dia memang mengetahui kode apartement itu dan Adrian belum mengubah kodenya. Sesampainya dia langsung masuk kedalam kamar Adrian, di dalam dia melihat Adrian yang tampak tertidur dengan wajah yang pucat. Kaget melihatnya, Renata langsung menghampiri Adrian. “Apa yang terjadi padamu?” Tanya Renata. Tapi Adrian yang tertidur pulas tidak menyadari kehadiran Renata. Renata memegang dahi Adrian yang masih terasa hangat. Tidak bisa di pungkiri bahwa Adrian adalah laki-laki yang selama ini di cintainya, bahkan walau sebentar lagi dia akan menikah dengan pria lain, dirinya sadar masih sangat mencintai Adrian. Renata melirik kearah meja di samping tempat tidur, terdapat bubur dan sup yang masih hangat disana. Ada kertas yang di letakkan di sampingnya, Renata mengambil kertas itu dan membacanya. Aku membuatkanmu bubur dan sup hangat, makanlah dan semoga lekas sembuh Renata tau itu pasti dari wanita yang di lihatnya didepan apartement. Membaca itu, dirinya semakin dibuat penasaran. “Sebenarnya siapa wanita itu? Untuk apa dia datang ke apartement Adrian saat Adrian sedang sakit seperti ini.” Gumam Renata bertanya-tanya. Dia meremas kertas itu lalu mengambil bubur dan sup buatan Elena, lalu membuangnya ke tempat sampah. Dia berniat untuk membuatkan bubur yang baru untuk Adrian. Dia tau, kalau Adrian sangat menyukai masakannya. Saat sedang menyiapkan bubur, tiba-tiba Adrian terbangun. Dia keluar dari kamar dan melihat Renata yang sedang sibuk memasak di dapurnya. “Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Adrian dengan suara yang terdengar lemah. Renata terkejut melihat Adrian sudah berdiri di belakangnya. “Ahh, aku sedang membuatkanmu bubur dan sup macaroni kesukaanmu.” Jawab Renata sambil tersenyum seperti biasa. Seakan dirinya masihlah kekasih Adrian. Dia berjalan mendekati Adrian dan langsung menyentuh dahi Adrian, tapi Adrian menepisnya. “Bukankah kau harusnya sedang sibuk mempersiapkan pernikahanmu?” Tanya Adrian. Renata terdiam sesaat. “Aku datang untuk bertemu denganmu.” Wajah Renata kini terlihat sedih dan penuh penyesalan. “Maafkan aku Adrian.” Ucap Renata berusaha menyentuh tangan Adrian, tapi lagi-lagi di tepis oleh Adrian. “Bukankan sudah terlambat untuk meminta maaf?” Suara Adrian terdengar dingin dan menusuk, Renata hampir tidak pernah mendengar Adrian berkata sedingin itu padanya, bahkan saat Renata membuat kesalahan. Bagi Renata Adrian adalah sosok laki-laki yang ramah, penyayang dan penuh perhatian yang tidak pernah menunjukan kemarahan di depan Renata. Tapi hari ini dia tau, Adrian sangat marah padanya. “Adrian bukankah kau harusnya mengerti dengan keadaanku?” suara Renata bergetar. “Apa yang harus ku mengerti? Mengerti kau akan menikah dengan pria lain tanpa menyelesaikan masalahmu denganku?” Adrian berbicara setengah berteriak. Dia mengepalkan tangannya, berusaha menahan segenap emosi dan rasa sakit di hatinya. “Sebaiknya kau pergi! Dan menangislah di hari pernikahanmu, bukan di rumahku.” perintah Adrian dingin. Mendengar kata-kata Adrian yang menyakitkan, Renata langsung mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi. “Bahkan jika kau marah padaku, ku harap kau masih mau memakan bubur yang sudah ku buatkan untukmu. Semoga kau cepat sembuh.” Ucap Renata dengan suara bergetar dan langsung pergi meninggalkan Adrian. Kaki Adrian melemas, dia berusaha mencari kekuatan dengan berpegangan pada dinding. Di meja makan sudah tertata semangkuk bubur, dengan sup macaroni kesukaan Adrian. Dia masih mendengar ucapan Renata wanita yang amat sangat di cintainya yang sebentar lagi akan menjadi istri dari pria lain. Dia berjalan pelan mendekati makanan yang sudah Renata siapkan untuknya, dia mencoba memakan makanan itu karena Renata yang menyuruhnya, sebesar itulah cinta seorang Adrian pada Renata. Bahkan sampai akhir dia selalu melakukan apapun yang Renata katakan. Tak terasa ada air yang mengalir di pipi Adrian. Adrian menangis dengan suara tertahan sambil terus memakan bubur dan sup buatan Renata yang amat di sukainya dan mungkin tidak akan bisa di rasakannya lagi di masa depan. Mata Adrian menangkap lembaran uang yang tergeletak di samping TV, dia berdiri untuk melihat kertas yang terselip diantara uang itu. Maaf aku tidak bisa menerimanya, aku menjual tubuhku untuk mendapatkan uang. Jika kau tidak menginginkan tubuhku maka aku tidak bisa mengambil uang darimu. Terimakasih karena sudahh menolongku semalam. –Elena Adrian membaca tulisan itu dan terdiam. Sementara itu Elena berlari menuju bar, saat dilihatnya adiknya Lily juga ada disana. Lily duduk disamping madam Rose dengan beberapa pria menakutkan yang menatap penuh nafsu kearah Lily. Elena menggeretakkan giginya menahan emosi. “Apa yang kau lakukan di sini Lily?” Tanya Elena khawatir. Lily yang ketakutan langsung berlari memeluk Elena. “Oh, akhirnya Elena kita datang juga.” Sapa madam Rose dengan ramah. “Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak menyentuh Lily!” ucap Elena menatap tajam penuh keamarahan pada madam Rose. “Hoho, tenanglah sayangku. Dia hanya datang kesini karena sangat merindukanmu. Bukan begitu Lily?” Tanya madam Rose pada Lily yang ketakutan. “Ohh, bagaimana dengan Tuan Muda itu? Apakah dia puas dan ingin memanggilmu lagi?” Tanya madam Rose. Sepertinya madam Rose tertarik pada Adrian yang memiliki banyak uang, dia ingin Elena bisa terus memikat Adrian agar bisa datang kesini dan menyewa Elena. “Tentu saja.” Jawab Elena berbohong, dia tidak ingin membuat madam Rose marah karena ada Lily di sini. “Bagus sekali sayangkuu, harusnya kau bisa menjadi seperti ibumu yang cantik dan penurut seperti ini." ucapnya sambil membelai lembut rambut Elena. Elena tidak suka mendengar madam Rose mengungkit soal ibunnya. Bagi Elena ibunya adalah penyebab Elena juga terjebak di dunia hitam ini. “Bolehkah aku mengantar Lily pulang?” Tanya Elena. “Tentu saja, aku mengizinkanmu untuk pulang hari ini karena kau sudah menghasilkan banyak uang tadi malam.” Elena merasa jijik mendengar ucapannya. “Baiklah.” Kata Elena dan langsung mengajak adiknya pergi. “Tapi ingat Elena, besok kau harus kembali lagi kesini untuk bekerja dan melunasi utang ibumu yang sangat banyak itu.” Ucap madam Rose mengingatkannya. Elena hanya mengangguk, dia ingin segera membawa adiknya pergi dari tempat kotor dan menjijikan ini. “Apa kakak baik-baik saja?” Tanya Lily khawatir saat mereka sudah berada didalam bus. “Hmm, tentu saja. Kau tidak perlu khawatir Lilyku.” Elena berusaha tersenyum selebar mungkin di hadapan adiknya. “Tidak adakah yang bisa aku lakukan untuk membantu kakak?” ucap Lily polos. Elena langsung memeluk adiknya itu. “Tidak ada, kau cukup sekolah dengan benar dan dapat nilai yang tinggi.” Kata Elena lirih. “Baiklah, aku akan lebih giat lagi belajar.” Jawab Lily dan langsung membalas pelukan Elena. Lily adalah adik Elena satu-satunya, saat ini dia berumur 14 Tahun. Wajah Lily sama cantiknya dengan Elena, itu sebabnya madam Rose selalu berniat untuk mengusik Lily. Namun Elena selalu mencoba untuk melindungi adiknya itu, dia berharap bisa segera melunasi utang-utang mendiang ibunya pada madam Rose sebelum Lily semakin beranjak dewasa. Dia tidak ingin adiknya merasakan kepahitan yang sama dengan yang dirasakannya saat ini, dia ingin adiknya memiliki masa depan yang cerah, kehidupan yang normal, dan menikah dengan laki-laki baik yang akan selalu menyayanginya. Bus itu terus melaju mengantarkan kedua kakak beradik yang bernasib malang ini menuju kerumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD