Adrian mendekatkan wajahnya ke leher Elena, ada aroma sabun yang bercampur dengan wangi tubuh Elena disana. Di kecupnya leher itu perlahan membuat Elena hanya bisa memejam pasrah, Adrian saat itu seperti kehilangan kesadarannya. Wajah Elena bahkan terlihat seperti Renata di matanya. Saat Adrian hendak mendekatkan bibirnya ke arah bibir Elena, tiba-tiba dirinya tersadar dan langsung bangkit meninggalkan Elena yang sepertinya sempat terbawa suasana dan menikmati sentuhan yang diberikan oleh Adrian. Elena kaget melihat Adrian yang tiba-tiba berhenti menyentuhnya.
“Tidurlah, kau boleh pergi saat pagi hari.” Ucap Adrian berbalik pergi.
Diambilnya baju dilemarinya dan langsung keluar dari kamar. Elena hanya menatap punggung Adrian yang berjalan keluar kamar. Entah kenapa ada perasaan campur aduk didalam hatinya. Dia bingung mengapa Adrian tidak menyentuhnya sementara dia sudah membayar mahal untuk membawanya, tapi di sisi lain Elena merasa lega. Tubuhnya terasa sakit karena perlakuan kasar pria tua itu, hal itu membuatnya hanya ingin beristirahat dan melupakan kejadian hari ini.
Adrian terduduk di sofa, dia mengingat apa yang baru saja hampir di lakukannya. Dia hampir meniduri wanita yang baru di temuinya hari ini, wanita itu bahkan adalah wanita penghibur yang entah sudah berapa kali tidur dengan laki-laki yang berbeda. Yang lebih tidak masuk akal lagi, Adrian bahkan sempat membayangkannya sebagai Renata. Ingatannya kembali kepada Renata, beberapa hari lagi Renata akan menjadi milik orang lain, dia tidak bisa membayangkan ada pria lain yang akan berdiri disamping Renata di altar pernikahan. ingatan itu membuat kepalanya pusing. Adrian berbaring di sofa dengan perasaan berkecamuk hingga akhirnya dia pun tertidur.
Keesokan paginya Elena terbangun di tempat tidur Adrian, Elena baru sadar dirinya tertidur sangat lelap hingga membuatnya terlambat untuk bangun, dia sepertinya lupa entah kapan terakhir kali dirinya bisa tidur senyenyak itu. Dia bangkit dan keluar dari kamar untuk menemui Adrian, namun pria itu sudah tidak ada di Apartement. Elena hanya melihat semangkuk sereal dan s**u yang diletakkan di meja makan, serta terdapat kertas kecil dengan beberapa lembar uang diatasnya.
Sarapanlah dulu sebelum pergi dan ambillah sedikit uang itu untuk ongkosmu pulang.
Tulisan itu dari Adrian, Elena tersenyum. Baru kali ini dia bertemu dengan laki-laki seperti Adrian dan mendapatkan perlakuan manis seperti ini. Seringkali dia hanya bertemu dengan pria kasar yang selalu membuatnya merasa kesakitan di pagi hari. Dia duduk dan menikmati sereal yang disediakan Adrian untuknya.
Adrian tiba di kantor, wajahnya terlihat sangat murung dan pucat tidak bersemangat. Saat tiba di kantor, Nyonya Lucy ibunda Adrian sudah menunggunya di ruangan.
“Untuk apa ibu datang sepagi ini?” Tanya Adrian pura-pura polos, sebenarnya dia yakin ibunya sudah mengetahui soal pernikahan Renata dan pasti ibunya datang ke sini bermaksud untuk memprovakasinya lagi seperti yang biasanya terjadi.
“Apa kau mendapatkan undangannya Adrian?” Tanya Nyonya Lucy dengan nada kesal.
Adrian tidak menjawab, dia berusaha fokus pada berkas yang ada di mejanya. Dengan Adrian tidak menjawab apapun pertanyaannya, Nyonya Lucy tau bahwa putranya sudah mendapatkan undangan itu.
“Dasar wanita itu, bagaimana bisa dia menikah dengan pria lain bahkan setelah putus darimu 1 bulan yang lalu?” Nyonya Lucy melampiaskan amarahnya.
“Kau pun sudah ibu peringatkan untuk segera menikah, tapi kau selalu menolaknya dengan alasan yang tidak jelas. Ibu hanya menginginkan cucu darimu Adrian, bahkan jika harus dari Rahim wanita itu.” Nyonya Lucy berbicara panjang lebar.
“Bisakah ibu berhenti mengomel? Aku sedang banyak pekerjaan!” ucap Adrian sedikit membentak.
Nyonya Lucy kaget mendengar putranya yang selalu berkata lembut padanya dan tidak pernah membantahnya kini berbicara dengan nada membentak. Nyonya Lucy kemudian terdiam, dia tau anaknya sedang tidak dalam suasana hati yang baik saat ini.
“Lupakan wanita itu dan lekas cari wanita lain untuk di nikahi Adrian atau ibu akan menjodohkanmu dengan putri Nyonya Whizly” Pesan Nyonya Lucy sebelum pergi.
Adrian menarik napas dalam, bebannya terus bertambah saja. Sejak awal ibunya tidak menyukai Renata, menurutnya Renata bukan wanita yang baik untuk putranya karena Renata datang dari keluarga yang biasa saja, berbeda dengan Adrian yang merupakan anak keluarga konglomerat. Beberapa kali ibunya bahkan mencoba menjodohkan Adrian dengan anak rekan bisnisnya, namun Adrian menolak dan tetap memilih Renata, hingga akhirnya dirinya tetap harus kehilangan Renata kali ini karena kelemahannya.
Disisi lain Apartement Adrian, Elena baru saja selesai mandi. Dirinya memang berniat untuk membersihkan diri sebelum pergi. Selesai mandi, dia menggunakan pakaian yang dikenakannya semalam di tambah dengan jaket pemberian Adrian. Bajunya yang sobek mengharuskannya memakai jaket itu untuk menutupinya. Namun dia berniat mengembalikan jaket Adrian nantinya. Saat akan mengambil jaket di kursi samping tempat tidur, matanya menangkap sebuah kertas lusuh berbentuk seperti undangan. Rasa penasaran membuat Elena mengambil kertas itu dan membacanya.
“Renata dan Fian.” Elena membaca nama di kartu undangan itu.
“Siapa Renata?” Tanya Elena penasaran, dia melihat foto yang menjadi latar undangan itu. Wajahnya seperti pernah dilihatnya. Tiba-tiba dia teringat foto yang ada di samping tempat tidur dan langsung mencocokkannya.
“Benarkan, ini wanita yang sama dengan yang ada di foto ini. Tapi kenapa wajah pria yang ada di kartu ini berbeda? Siapa wanita ini sebenarnya?” Tanya Elena semakin penasaran. Saat sedang hanyut dalam rasa penasarannya, sebuah suara mengagetkan Elena.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Adrian yang tiba-tiba muncul dari arah pintu kamar.
Wajah Adrian terlihat pucat, ternyata Adrian yang baru tiba dikantor itu memutuskan untuk kembali ke Apatemerntnya lagi setelah ibunya pergi, dirinya merasa pusing dan tubuhnya terasa panas. Elena terkejut dan langsung melempar kertas itu kembali ke tempatnya. Wajah Adrian juga memerah, Elena mengira Adrian pasti marah melihatnya yang sudah lancang dirumahnya.
“Kenapa kau belum pergi?” Tanya Adrian, dia melangkah pelan kearah Elena. Elena yang gugup bingung harus menjawab apa.
“Maafkan aku Tuan, aku baru saja akan pergi.” Jawab Elena yang sejujurnya, karena memang dirinya sudah berniat untuk pergi tadinya.
Adrian terus mendekati Elena, Elena berpikir pria ini sedang marah dan akan berbuat sesuatu kepadanya, namun tiba-tiba.
Bruuukkkk.
Adrian jatuh tepat ke pelukan Elena. Elena terkejut melihat Adrian yang pingsan dan langsung menangkapnya, di pegangnya tubuh Adrian yang terasa panas.
“Ohh, tidak. Panas sekali tubuhnya.” Pekik Elena panik.
Elena berusaha membaringkan Adrian di tempat tidur walau dengan susah payah. Perbedaan tubuh Adrian yang tinggi besar dengan Elena yang mungil membuat Elena jelas kesulitan menyeretnya ke tempat tidur. Setelah itu Elena mencoba untuk merawat Adrian sebisanya, dirinya bahkan membuatkan bubur untuk Adrian. Tubuh Adrian berkeringat, Elena dengan sigap mengelap keringatnya yang mengalir deras. Sesaat kemudian mata Adrian terbuka perlahan, dia melihat ke arah Elenan. Adrian mengangkat tangannya dengan gemetar lalu membelai lembut pipi Elena.
“Renata..” Panggil Adrian lirih.
Wajah Elena memerah malu saat Adrian membelai lembut pipinya, namun dia tau Adrian belum sepenuhnya sadar. Sepertinya dia mengira Elena sebagai Renata.
“Namaku Elena, bukan Renata.” Ucap Elena seakan memperkenalkan dirinya, namun Adrian tidak mendengar karena kembali tertidur setelahnya.
“Sebenarnya siapa Renata dan apa hubungan mereka berdua?” Tanya Elena yang kembali mengingat nama wanita yang tertulis di kertas undangan yang tadi dilihatnya.
Ddrrttt.. Ddrrttt..
Tiba-tiba ponsel Elena bergetar, Lily adiknya menelfon.
“Iya hallo Lily.” Sapa Elena.
“Apa kau tidak berniat masuk kerja hari ini?” suara madam Rose terdengar dari balik telpon.
“Apa yang madam lakukan di rumahku?” Elena terkejut dan panik, dia takut wanita jahat itu akan berbuat buruk pada adiknya Lily.
“Aku sedang mencarimu tapi kau sepertinya belum pulang, apa kau masih bersama Tuan Muda itu?” madam Rose berusaha menebak, Elena melirik ke arah Adrian yang masih tertidur.
“Aku akan segera ke bar, jadi tolong pergi dari rumahku.” Pinta Elena dengan nada marah. Dirinya langsung mematikan telponnya.
“Dasar wanita Siall.” Maki Elena.
Dia bangkit hendak pergi, sebelum pergi dia mengecek suhu tubuh Adrian yang mulai mendekati normal, lalu meletakkan bubur dan air minum dimeja kamar Adrian. Setelah itu Elena bergegas untuk pergi.
“Terimakasih sudah menolongku semalam Tuan.” Ucap Elena sebelum pergi.