Zen menepuk-nepuk dadanya yang terus berdebar-debar tidak karuan, nafasnya memburu seakan habis berlari jauh, wajahnya memerah dan terasa panas. Ditutupinya wajahnya dengan kedua tangannya. “Ahhh, apa yang baru saja aku lakukan.” teriak Zen frustasi, saat ini dirinya benar-benar merasa malu. Tapi satu hal yang disadari oleh Zen, dia sudah jatuh cinta pada Lyra sejak pertemuan pertamanya. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ke penginapan, disana teman-temannya sudah menunggu kedatangan Zen. Hari ini mereka berencana untuk menghabiskan waktu bermain dipantai. Melihat kedatangan Zen, Wina sudah lebih dulu berlari menghampirinya. “Kamu dari mana saja Zen? Kenapa lama sekali? Kami semua menunggumu untuk ke pantai.” kata Wina dengan nada suara yang dibuat semanis mungkin, lagi-lagi ia b

