“Tunggu, sepertinya jika aku pakai kata lain akan lebih cocok,” ucap Clara, wanita pemilik toko bunga yang kini tampak menawan dengan kacamata baca yang menghiasi wajah manisnya. Netra birunya terlihat asyik menyisir satu per satu kata yang baru saja ia rangkai pada layar laptopnya. Saat Clara masih asik dengan kegiatan menulisnya dan membuat toko bunganya yang harum itu dipenuhi oleh suara ketikan keyboard, seorang wanita memasuki toko tersebut dan berdecak saat melihat Clara. Wanita itu beranjak dan duduk di hadapan meja Clara dan mengetuk meja sebelum bertanya, “Halo? Apa kau akan terus sibuk menulis cerita erotis, alih-alih menjaga tokomu?” Clara berdecak. Ia pun menatap wanita di hadapannya dan bertanya, “Kenapa jam segini sudah ada di sini? Kau tidak bekerja?” Anita—sahabat Clara—

