Tatapan pekat Ryuu melayang ke seisi kamar yang terang. Pagi ini keadaannya membaik. Dia tidur cukup, tidak bermimpi buruk. Dan saat sadar, bola matanya membesar karena takjub. Mungkin Ryuu terkejut dan merasa belum bisa beradaptasi sepenuhnya dengan bau rumah sakit yang mencolok. Karena mau bagaimana pun, dia pernah terlibat dengan wewangian sama bertahun-tahun lalu. "Baunya tidak enak," singgungnya saat perawat mengantarkan senampan sarapan. Ryuu memencet hidungnya dengan gemas. Memandang si perawat dengan bibir maju. "Aku ingin bubur." Bianca yang mendengar rengekan itu hanya tersenyum. Ketika si perawat ramah meminta Ryuu menghabiskan sarapan premium sesuai kelas dengan ceria, Ryuu masih menekuk wajahnya masam. "Bibi Bianca," panggilnya lemah. "Aku mau bubur." Permintaannya masih sa

