Bianca terbangun saat samar-samar merasakan sentuhan tangan di rambutnya. Bukan, itu bukan sentuhan Chayim, kekasihnya. Sentuhan asing, sentuhan aneh yang membuat benaknya dipenuhi pertanyaan. Ketika kelopak matanya membuka, pemandangan yang kafe lantas membuat dadanya berdebar hebat. Bianca terbangun, bingung karena mendapati Ryuu masih pulas dengan mantel seseorang sebagai bantalan. Mantel? "Ya Tuhan." Napasnya berembus kasar. Begitu terkejut saat melihat siapa yang duduk, bersidekap dengan raut angkuh. Abe sama sekali tidak bereaksi apa pun atas sikap berlebihannya barusan. "Sejak kapan?" "Satu jam yang lalu." "Kau tidak membangunkanku?" "Tidak. Untuk apa?" Suaranya seperti ditarik serak dan kasar. "Aku tertidur. Ryuu, dia—apa itu mantelmu?" "Ya." Karena seingat Bianca, anak it

