**Bab 008: Kekacauan Di Rumah Sakit**
RUANG OPERASI
Lampu meja operasi berpendar putih terang, menyorot tubuh pasien yang terbujur di atas meja. Di sekelilingnya, enam ahli medis bergerak tenang namun cepat, memeriksa instrumen dan memastikan semua siap.
Monitor jantung berdetak dengan ritme stabil, bip… bip… bip…, menandai kehidupan pasien. Alat pengukur tekanan darah dan oksimeter bersinergi, layar-layarnya berwarna hijau dan biru, memberi informasi visual setiap denyut dan napas pasien.
Dokter bedah utama, berdiri di samping pasien, tangannya siap memegang pisau bedah steril. Matanya fokus pada perut pasien yang terluka, bibirnya bergerak memberikan instruksi singkat kepada tim.
“Instrumen sudah siap?” tanyanya, suaranya tenang tapi tegas.
“Siap, Dok,” jawab perawat bedah, mengulurkan penjepit dan gunting bedah.
“Ventilasi dan anestesi stabil?” Dokter bedah menoleh pada dokter anestesi.
“Stabil, Dok,” jawabnya, mata tetap menempel pada monitor yang masih berdetak teratur.
Dokter menarik napas panjang, menatap perut pasien, dan dengan gerakan hati-hati, menyentuh kulit dengan ujung pisau bedah, memulai sayatan pertama.
Bunyi “skriiit” halus terdengar saat pisau menembus lapisan kulit, aroma antiseptik dan logam tipis memenuhi udara. Lampu sorot meja operasi menyorot setiap gerakan, bayangan tangan dokter menari di dinding putih steril.
Tim medis mengikuti dengan disiplin: perawat menahan tepi sayatan dengan penjepit, dokter anestesi memantau napas pasien, dan asisten dokter menyiapkan alat-alat cadangan.
Dokter mengangkat sebagian jaringan dengan hati-hati, matanya meneliti organ dalam pasien. Napasnya teratur, gerakan tangannya mantap. Ia mulai memeriksa organ yang cedera, melakukan observasi cepat untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Monitor jantung tetap berdetak, menjadi satu-satunya tanda kehidupan yang mengingatkan semua orang: setiap detik penting, setiap gerakan harus tepat, setiap keputusan bisa menentukan hidup atau mati pasien.
Tiba-tiba,
PET
Hitam pekat seketika.
Mata membesar, jantung berdegup kencang, bulu kuduk meremang. Mata yang baru saja nyaman dengan cahaya terang meja operasi dipaksa beradaptasi dengan kegelapan gulita.
Di meja operasi masih terbujur, pasien yang perutnya baru saja dibelah untuk melihat kondisi ginjal yang pecah akibat kecelakaan.
Kegelapan total membuat enam ahli medis di ruang operasi tertegun seketika.
“PASIEN!” teriak dokter bedah, suaranya memecah keheningan, membangunkan semua yang terpaku dalam gelap.
“L-La… lampu!” seru dokter junior, suaranya bergetar.
BRRANNGGG—bunyi nyaring dari peralatan medis yang jatuh berserakan, tertabrak oleh tangan yang tidak terlihat di kegelapan.
“Apa tidak ada seorang pun yang bisa menyalakan penerangan?!” teriak dokter bedah, marah dan putus asa.
“Saya… saya tidak bisa melihat apa-apa,” jawab perawat, suaranya hampir berbisik, penuh panik.
“Apa yang dilakukan teknisi rumah sakit? Apa mereka gila?!” teriak dokter bedah, napasnya berat. “Aku baru saja merobek perut pasien… sialan! Berikan penerangan sekarang juga!”
“T-tidak bisa melihat apa pun…” perawat lain menambahkan, tangannya gemetar saat mencoba meraih instrumen.
“Dokter!” panggil dokter anestesi, yang sejak awal meraba-raba kepala pasien. Dalam kegelapan, ia memegang pasien, merasakan setiap gerakan. “Pasien drop! Pasien drop!”
“Apa?! Kau bisa melihatnya?’’
‘’Tidak… tapi aku merasakannya… pasien drop!” balas dokter bedah.
“Sialan! Suster, cepat keluar, cari apa pun yang bisa digunakan untuk penerangan!” perintah dokter bedah, suaranya memecah kepanikan yang menyesakkan ruang operasi.
Detik-detik itu terasa abadi. Setiap gerakan, setiap sentuhan, menjadi pertaruhan hidup-mati. Kegelapan total bukan hanya fisik, tapi juga menjadi musuh psikologis, memaksa para ahli medis mengandalkan insting dan refleks murni mereka.
Selasar Antar Ruang Operasi
Perawat dari ruang operasi pertama keluar tergopoh-gopoh. Napasnya tercekat, tangan menggenggam instrumen seadanya.
BRAK
Pintu di ruang operasi sebelah terbuka, perawat dari ruang operasi lain, yang keadaan dan ekspresinya nyaris sama—mata membesar, keringat di dahi, langkah tergesa-gesa.
Mereka saling lirik, panik tersembunyi di balik profesionalisme yang tersisa. Selasar itu nyaris gelap total, hanya sesekali cahaya alami menembus dari jendela tinggi di ujung lorong, membentuk garis tipis yang memantul di lantai steril.
“Gelap…” ujar salah satu, suaranya nyaris bergetar.
“Mati… semuanya mati…” balas yang lain, terdengar nyaris berbisik tapi gemetar.
“Senter… ada senter!” seru mereka hampir bersamaan, suara mereka bercampur dalam keheningan yang menekan.
Mereka berhenti sejenak, saling menatap, tubuh menegang. Langkah mereka terhenti di selasar yang sempit, jantung berdegup cepat. Setiap suara—napas sendiri, gesekan sepatu di lantai, bunyi tabung atau meja—terasa membesar dalam kegelapan.
Kebingungan menyelimuti. Mereka tahu pasien di ruang operasi masih bergantung pada mereka, tapi tidak ada lampu, tidak ada monitor, tidak ada sinyal, hanya gelap pekat dan ketidakpastian.
Mereka mulai bergerak perlahan, meraba dinding dan pegangan, mencari sumber cahaya atau alat yang bisa digunakan, sambil sesekali saling berbisik arahan singkat:
Meski panik, insting profesional masih bekerja. Tangan bergerak otomatis, otak memikirkan prosedur, walau mata tidak melihat apa-apa.
Ruang ICU
Di lorong sempit di dalam ruang ICU, meja perawat berada di pusat pengawasan, dikelilingi layar monitor hijau dan biru yang menampilkan denyut jantung, tekanan darah, dan oksigen tiap pasien. Di atas meja, telepon interkom, komputer jaga, dan tombol panggil perawat tersusun rapi.
Dua perawat sedang berbicara ringan, satu menegur dengan senyum, yang lain membalas dengan tawa kecil. Instruksi singkat terdengar, “Pastikan infus pasien 204 stabil sebelum shift selesai,” kata yang satu, sementara yang lain memeriksa catatan elektronik.
Tiba-tiba—PET.
Gelap gulita menelan seluruh ruangan. Layar monitor mati, lampu plafon padam, interkom dan telepon diam. Cahaya alami tidak bisa menembus, karena ICU memang berada jauh di dalam gedung, dikelilingi dinding tebal.
Perawat yang semula tertawa tersentak, matanya membesar, jantung berdegup kencang. “Apa… apa yang terjadi?!” teriak salah satu, suaranya pecah, langkahnya tercekat.
Di bangsal rawat ICU, kepanikan meledak lebih dahsyat. Perawat jaga melihat pasien ventilator mati, pompa infus berhenti, monitor mati.
Gelap gulita menyelimuti seluruh ruang ICU. Lampu mati, monitor padam, alarm tidak berbunyi. Nyaris tidak ada cahaya membuat perawat kesulitan memantau keadaan.
Perawat jaga segera menyentuh pasien, mengambil stetoskop, merasakan denyut nadi dan napas.
“Ambu!” teriak salah satu perawat, sambil segera memegang ambu bag untuk pasien yang bergantung ventilator. Tangannya menekan kantong karet, memberikan napas buatan manual.
Perawat kedua menempelkan tangan di d**a pasien, mulai melakukan kompresi jantung eksternal (CPR) sesuai protokol Advanced Cardiac Life Support (ACLS).
“Infus manual, cepat!” perintah salah satu perawat lain, meraih syringe atau drip manual, memastikan cairan dan obat tetap masuk ke pasien.
“Tensi manual! Ambil tensimeter!” perintah perawat senior, memeriksa tekanan darah pasien secara mekanis.
“Pasien 204, jaga airway!” kata perawat anestesi, memeriksa jalan napas pasien dan menyesuaikan posisi untuk ventilasi ambu.
Setiap gerakan cepat, koordinasi berjalan otomatis:
Satu perawat memompa ambu bag
Satu perawat melakukan kompresi jantung
Satu perawat mengatur cairan/obat manual
Satu perawat memantau tanda vital dengan stetoskop dan tensimeter
Mereka tetap melakukan yang terbaik, terlatih dan terkoordinasi meski canggung karena selama pendidikan tidak pernah ada skenario di dalam kegelapan. Gelap gulita dan sepi hanya suara manusia, bunyi kantong ambu bag, dan detak tangan CPR yang terdengar. Tidak ada monitor, tidak ada alarm — semua bergantung pada keterampilan manual dan refleks profesional.
Lobi rumah sakit yang biasanya terang dan riuh kini nyaris senyap, diselimuti gelap total. Lampu mati, layar informasi tidak menyala, pintu otomatis diam, dan mesin check-in tak berfungsi.
Pengunjung berdiri terpaku, gadget di tangan tidak berfungsi sama sekali. Ada yang menekan layar ponsel berkali-kali, ada yang mengusap layar tablet dengan putus asa.
“Kenapa mati semua…?” gumam seorang ibu sambil menatap sekeliling.
“Apakah listriknya padam?” bisik seorang pria muda pada temannya, menengok kanan-kiri mencari jawaban.
Beberapa pengunjung saling berbisik, suara mereka nyaris bergumam, menanyakan apakah yang terjadi sama di seluruh rumah sakit. Mereka memegang tangan anak-anak, menenangkan diri, atau hanya berdiri kaku di tengah lobi yang hening meski ramai.
Di sisi lain, perawat dan sekuriti berlarian, masing-masing dengan masalahnya sendiri:
Perawat mengarah ke bangsal, memastikan pasien tetap aman.
Sekuriti mencoba mengatur arus pengunjung yang mulai berkumpul di depan pintu darurat.
Staf administrasi dan kantor mulai berdiskusi secara cepat, saling berbisik di dekat meja tugas mereka masing-masing.
“Apakah semua sistem mati?” tanya salah satu staf, matanya menatap layar komputer yang gelap.
“Hei… genset? Tidak ada yang menyalakannya?” sahut yang lain, wajahnya tegang.
“Instruksi… dari atasan, ada?” tanya staf ketiga, suaranya cepat tapi terkontrol.
“Tidak tahu. Sambungan telekomunikasi putus total,” jawab yang lain, matanya menelusuri kabel-kabel yang tak berfungsi.
“Ini sih mati… Rusak... Alat-alat tidak berfungsi sama sekali,” gumam seorang staf, suaranya rendah tapi jelas.
“Hape? Pakai ponsel saja,” usul seseorang, cepat mengambil ponselnya.
“Tidak bisa! Mati juga!” sahut rekan di sebelahnya.
“Ponselku juga,” tambah yang lain, jari-jari gemetar menatap layar kosong.
“Kok begini… gimana ini bisa terjadi?” seorang staf menunduk sejenak, lalu menatap rekan-rekannya.
“Ada apa sebenarnya ini?!” tanya yang lain, tetap berbisik tapi tegas.
“Ini rumah sakit… gimana bisa semua mati? Kenapa tidak ada yang berfungsi sama sekali…” gumam seorang staf, terdengar hampir putus asa.
Di tengah lobi, suara langkah kaki, gumaman panik, dan bisik-bisik berbaur menjadi simfoni kebingungan yang hening namun tegang. Tidak ada sirine, alarm, atau pemberitahuan otomatis—hanya manusia yang mencoba menafsirkan situasi yang tiba-tiba kacau ini.