Kabut
**Bab 001: Kabut**
Di Dalam Bus Pariwisata
Hari itu, rombongan 320 murid kelas XI dari SMKN Tehnik di Kota Tangerang beserta sepuluh guru pembimbing untuk masing-masing kelas di setiap bus pariwisata melaju di jalan raya menuju IKN dari bandara Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan (BPN) di Balikpapan.
Di tengah perjalanan, supir bus pariwisata tampak kebingungan saat mesin kendaraan mendadak mati. Kabut tebal muncul tiba-tiba, seolah meledak dan menghempas seketika, menyelubungi bus dan segala yang ada di sekitarnya.
HEUK!!!
Kegelapan datang begitu cepat, menyelimuti bus dalam sekejap. Semua penumpang terkejut, merasa seolah gravitasi berubah—terasa berat dan tubuh mereka menjadi kaku. Nafas terasa semakin sulit, seolah-olah mereka berada dalam ruangan tertutup dengan oksigen yang terbatas.
Kondisi yang tiba-tiba ini membuat mereka semua terperangah, dalam kebingungan ada rasa takut akan bahaya yang hanya bisa dirasakan oleh naluri.
Wajah mereka terlihat mereka pucat, keringat dingin mulai membasahi dahi. Tapi diantara mereka, ada juga yang berusaha mengalihkan perhatiannya, berusaha menyingkirkan teror yang perlahan merayap mulai mengganggu perasaan nyaman.
CTEK CTEK CTEK!
Supir bus, yang semakin bingung, terus menekan tombol di panel kontrol, berusaha menyalakan mesin yang tiba-tiba mati.
"Apaan ini?!"
"Kita dimana ini?!"
"Pak supir, kita dibawa kemana?!"
Keluhan dan kekesalan mulai meluncur dari para murid yang duduk di dalam bus. Mereka yang mulai terbiasa dengan keadaan aneh dan tidak biasa ini, melampiaskan perasaan tidak nyaman mereka sendiri dengan marah kepada pengemudi bus.
"M-m-ma-af... s-saya juga nggak tahu kenapa bisa begini..." jawab pengemudi yang tampak kebingungan. Merasa kesal karena disalahkan, ia merasa tak adil jika ia dijadikan sasaran kemarahan atas sesuatu yang bukan kuasanya.
"Dasar... apa mereka nggak mikir kalau saya juga nggak mau ada di sini?" keluh pengemudi di dalam hati.
"Gimana sih, pak? Masa’ bis rusak masih dipake?!"
"Tauk nih. Bayar mahal, malah gelap-gelapan begini..."
"Pak, nyalain lampunya, dong! Gelap ‘bet!"
"Iya, cepet, buruan!"
Para murid berteriak dengan suara yang semakin meninggi, menghardik supir bus yang masih kebingungan.
"Anak-anak, tenang!" suaranya tegas.
Rezvan, Guru Bahasa Indonesia merangkap mengajar Seni dan Budaya. Dia yang bertanggung jawab atas tiga puluh enam murid di dalam bus itu.
"Kalian semua sudah diberikan pendidikan untuk berperilaku beradab. Pak supir juga orang yang lebih tua dari kalian. Jaga tata krama. Mengeluh dan marah tidak akan menyelesaikan masalah."
Murid-murid langsung diam, sebagian tertunduk, sebagian pura-pura tidak tahu.
"Terima kasih, pak guru..." ujar Pak Marta, pengemudi bus, dengan senyum haru. Ia merasa terhormat dengan sikap Rezvan.
"Tidak apa-apa, pak. Coba, tolong diusahakan supaya mesin kendaraan bisa nyala lagi." jawab Rezvan sambil menenangkan suasana.
Pak Marta mengangguk dan berusaha sekuat tenaga untuk menghidupkan kembali mesin kendaraan.
"Pak guru, apa hape bapak mati?" tanya Rafandra, kernet bus dengan nada menyelidik.
"Hm?!’’ Rezvan menanggapi dengan bingung tapi dia segera mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celananya.
‘’Eh, iya…’’ Pekik Rezvan kemudian, ‘’hape saya kok mati…?"
"Hape Pak Marta… mati juga…?" Rafandra bicara lagi pada pengemudi.
"I-i-ya... kamu tahu, Ndra?!" tanya Marta, supir bus yang kebingungan.
"Kalau hape bapak hidup, saya rasa bapak nggak repot-repot pakai korek gas buat ngecek panel bus..." jawab Rafandra dengan tegas.
"I-i-ya..." Pak Marta hanya bisa terdiam, menyadari kebenaran dalam ucapan Rafandra.
"Aneh... kok hape kita semua bisa mati barengan?" ujar Rezvan, semakin cemas.
"Saya rasa bukan cuma hape kita yang mati... Atau lebih tepatnya, rusak..." jawab Rafandra dengan nada serius, semakin merasakan ada yang tidak beres.
KRASAK KRUSUK KRESEK
Suasana dalam bis semakin mencekam. Keheningan yang disertai suara gesekan dan keluhan mulai terdengar dari seluruh penumpang yang semakin kebingungan.
"Hape gue mati..."
"Sama, hape gue juga..."
"Bagaimana ini?! Punya gua juga mati..."
Keluhan tersebut semakin menguatkan kecurigaan Rafandra. Dia mulai merasa ada yang tidak beres.
"Ada yang pakai arloji?" tanya Rafandra, sambil mengacungkan korek gas yang nyala apinya sedikit membantu menerangi suasana.
Satu per satu, murid-murid dalam bus menggelengkan kepala, saling lirik untuk memastikan jawabannya.
‘’Saya pakai," jawab Rezvan, sambil menyingsingkan lengan kemeja yang menutupi jam tangannya.
Rafandra mendekat dan mendekatkan korek gas untuk memastikan apakah jam tangan Rezvan masih berfungsi.
"Ternyata benar..." ujar Rafandra setelah memeriksa jam tersebut.
"Ada apa, Bang?" tanya Rezvan bingung. "Kok, jam tangan saya ikut-ikutan mati?!"
"Pak Marta, tidak usah dikutak-katik lagi... bis ini sudah tidak bisa nyala lagi, sudah rusak..." ujar Rafandra dengan nada serius.
"Maksud kamu, Ndra?!" Pak supir menjawab dengan nada sedikit kesal. "Kenapa?"
"Kemungkinan besar ini EMP..." sahut Rafandra, sambil melirik ke arah Rezvan. "Bapak guru di sekolah teknik, tentu tahu apa maksudnya..."
"EMP?! Kenapa? Ada apa? Apakah natural atau...?" ucapan Rezvan terhenti.
Ia sadar kalau ucapan tersebut bisa menambah panik di antara para murid, jadi ia menahan kalimat itu di benaknya.
"Belum tahu, apakah ada sebab alami atau yang lain..." Rafandra melanjutkan, mencoba menahan diri agar tidak memicu kepanikan lebih lanjut.
Di dalam bis, kerumunan siswa mulai terdengar saling bertanya.
Beberapa di antaranya merasa takut dan bingung dengan situasi yang aneh ini.
"Pak guru, ada apa ini?"
"Kok gelap, bukannya masih siang?"
"Apa kita masuk terowongan?"
"Kenapa kita berhenti di sini?"
"Kok suasananya enggak enak?"
Para siswa mulai berkerumun, saling bertanya dan saling mengeluh. Kegelisahan semakin terasa.
"Anak-anak, tenang!" seru Rezvan, mencoba menenangkan mereka.
Lalu dari anak-anak, dia berbalik. Bicara pada Pak Marta dan Rafandra.
"Saya, Pak supir, dan juga Abang kenek... kita sama-sama ada di depan. Kita bertiga sama-sama lihat apa yang ada dihadapan kita, sebelum kita terjebak di dalam kegelapan ini. Apa ada bayangan kita masuk ke tempat apa?" tanya Rezvan dengan nada serius.
Degup jantung Rezvan semakin cepat. Cemas mulai menghantui pikirannya.
Beberapa murid yang memperhatikan kejadian ini juga mulai merasakan hal yang sama.
"Maaf pak, saya juga bingung, kok tiba-tiba ada di sini? Saya yakin barusan ada di jalan raya," jawab Pak Marta dengan wajah pucat.
"Pak, apa jangan-jangan kita masuk SARANJANA?"
Arka, murid yang duduk tepat di belakang kursi pengemudi, bertanya dengan wajah yang sama pucatnya.
"Dek, kamu ngaco ah, masa di jalan raya ada SARANJANA?!" seru Pak Marta, meski kalimat itu terucap, lebih karena melampiaskan kebingungannya sendiri.
"Saranjana masih belum jelas ada atau tidaknya, untuk saat ini kita anggap saja itu hanya legenda, Arka..." jawab Rezvan, mencoba tetap tenang. Namun, di dalam hatinya, ia merasa ada yang tidak beres.
Dina, yang duduk di samping Arka, ikut menanggapi.
"Tapi, Pak Rezvan, kita sama-sama tahu kalau kita barusan ada di jalan raya... gimana ceritanya kita tiba-tiba ada di tempat kek gini?"
"Itu bener, Pak... kalaupun tiba-tiba ada kabut... posisi kita ada di jalan raya yang ramai kendaraan. Bus berenti ngedadak di tengah jalan, kemungkinan ketabrak kendaraan lain sangat besar. Tapi, dari tadi, kita... anteng-anteng aja..." sahut Kirana, yang juga merasa heran dengan situasi ini.
Rezvan mencoba tetap tegar, meski di dalam hatinya, keraguan semakin menggerogoti. Sebagai seorang guru, ia tentu saja kesulitan menerima hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Namun, apa yang sedang mereka alami kini, terasa semakin sulit untuk dipahami.
"Anak-anak, kalian harus tenang. Coba cari apa pun yang bisa dijadikan penerangan..." ujar Rezvan, berusaha menenangkan suasana.
"Pendapat kamu ada benernya Kirana, tapi kalau benar seperti kata Abang kenek... ini ulah EMP, maka itu mungkin terjadi."
Sebagian besar murid mulai memeriksa barang-barang mereka, meraba dan merasakan, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk penerangan.
Beberapa dari mereka tidak tahu apa itu EMP, namun rasa malas untuk bertanya membuat mereka memilih untuk diam.
Setelah beberapa waktu, wajah-wajah kecewa mulai terlihat karena mereka tidak menemukan barang yang bisa digunakan untuk menerangi keadaan darurat ini.
Masih dalam kegelapan.
Tidak bisa melihat wajah satu sama lain.
"Huft..." dengus Rezvan.
"Ayolah, untuk saat ini keadaan darurat... Bapak tidak akan melaporkan kalian. Saya tahu beberapa di antara kalian menyimpan korek gas untuk merokok... keluarkan itu! Kita butuh untuk melihat keadaan di sekeliling..."
Hampir separuh siswa mengangkat tangan mereka, menunjukkan bahwa mereka membawa korek gas.
Rezvan menghela napas, tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis melihat kelakuan anak-anak didiknya. Terlebih, dialah wali kelas mereka.
Pak Marta dan Rafandra pun menahan senyum, teringat akan masa remaja mereka yang sama sekali tidak berbeda dari kelakuan anak-anak ini.
—
''Pak, pak...'' panggil Ardi salah satu murid Rezvan yang duduk di tengah barisan kursi.
''Pak, Pak Rezvan, tolong pak...'' pekik Damar yang duduk disebelah Danang sambil melambaikan tangan.
''Ardi, Damar, itu kalian?… Ada apa?'' tanya Rezvan yang segera menghampiri arah suara yang terdengar panik.
Damar dan Ardi saling memegangi kawan sebangku mereka yang gemetaran karena kesulitan bernafas.
''Enggak tahu, pak, Danang aneh...'' jawab Damar dengan nada suara cemas. Ekspresinya tidak jelas terlihat karena gelap.
''Danang...'' panggil Rezvan sambil setengah berjongkok sambil berusaha melihat wajah Ardi yang tertunduk sambil memegang dadanya.
Tapi sulit karena ruangan terlalu gelap.
''Saya sulit bernafas pak...'' jawab Danang sambil mencoba menghirup udara sekuat-kuatnya, ''Pak, d**a saya sakit...'' tambah Danang dengan suara lirih.
''Kamu punya asma?!'' tanya Rezvan dengan nada cemas.
Rafandra menghampiri, dia segera mendekatkan korek gas ke arah Danang untuk melihat kondisinya dengan lebih jelas.
Danang menggelengkan kepalanya sambil terus menahan rasa sakit di dadanya.
Dahi Rafandra mengernyit.
Dalam remang cahaya terbatas dari api korek gas dia melihat betapa pucatnya wajah Danang. Wajah yang memperlihatkan betapa dia sedang menahan rasa sakit.
Rafandra menoleh ke arah Rezvan dengan ekspresi wajah gusar menjelaskan pada Rezvan bahwa keadaan Danang sangat buruk.
Rezvan sebetulnya juga telah menyadari hal itu tapi dia seolah ingin mencari harapan bahwa keadaan masih aman terkendali. Sayangnya, melihat ekspresi Rafandra membuatnya sadar kalau hal itu tidak benar.
''Pak...'' panggil Damar dengan nada suara sedikit bergetar, ''Saya juga ngerasa kedinginan… Sama kayak Danang, dari tadi kayaknya mau ngambil nafas susah banget...''
Selang beberapa detik, keluhan dan rintihan mulai terdengar, bersahutan di sepanjang kabin bus.
Suara batuk yang tersengal, desahan tercekik, dan bisikan panik menciptakan simfoni ketakutan yang menusuk.
Ternyata, Danang tidak sendirian.
Rasa mencekik di dadanya juga mulai dirasakan oleh murid-murid lain.
"Apa kalian punya asma?" tanya Rezvan, nadanya setengah putus asa, seolah mencari jawaban dari sesuatu yang tidak bisa ia pahami.
Ia menatap satu per satu muridnya, panik karena tidak tahu lagi harus mulai dari mana.
Satu per satu, murid-murid itu mulai tergolek di bangku penumpang.
Wajah mereka memerah, napas tersengal-sengal, tubuh mereka lemah tak berdaya.
Suasana berubah menjadi kacau dan menakutkan, suara rintihan menggema di ruang sempit itu.
"Tunggu di sini. Bapak akan keluar mencari bantuan…" kata Rezvan, suaranya tegas namun gemetar di ujung kata, sambil bergegas menuju pintu bus.
Namun, tiba-tiba, tangan Rafandra menahan lengannya.
Rezvan menoleh, menatap Rafandra dengan mata membulat, mencari penjelasan.
Rafandra sendiri terkejut dengan gerakannya sendiri, namun nalurinya membisikkan: Jangan keluar.
Dan dia, mempercayai insting itu, walau rasa takutnya samar. Ia hanya menggelengkan kepala, jawaban tanpa kata untuk Rezvan.
"Ada apa?" tanya Rezvan, bingung, alisnya berkedut.
"Jangan keluar!" seru Rafandra, suaranya pelan namun tegas, membawa aura yang mencekam meski tanpa berteriak.
"Bang, anak-anak dalam masalah. Bis ini mati, dan enggak ada hape yang nyala. Saya harus keluar untuk cari bantuan…" balas Rezvan, nada setengah kesal bercampur cemas.
Dia frustrasi dengan situasi yang tidak bisa dikendalikannya.
"Jangan!’’ seru Rafandra tegas.
‘’Saya merasa… kita tidak boleh keluar dari bis ini," katanya lagi.
Sikapnya tenang tapi dengan ketegasan yang membuat udara di sekitarnya terasa berat, seolah memperingatkan bahaya yang tak terlihat.
Alis Rezvan berkedut, dadanya berdebar kencang.
Ada keraguan sesaat di matanya, sebelum ia akhirnya menarik napas panjang.
"Permisi, Bang," ujarnya, sambil melepaskan tangan Rafandra.
Suaranya sedikit lebih lembut, tapi tetap bergetar. "Saya harus keluar… anak-anak ini butuh bantuan."
Bus itu kini sunyi, hanya terdengar napas terengah dan detak jantung yang serasa menggema di kabin. Di luar, kegelapan menelan cahaya, hitam yang pekat seakan menunggu setiap langkah yang diambil.
Rezvan menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri sebentar, lalu melangkah cepat menuju pintu bus.
Matanya menatap kegelapan malam di luar, menembus jendela yang penuh kabut.
Jantungnya berdebar kencang, adrenalin mulai menguasai tubuhnya.
Ia merasakan dorongan logis—anak-anak butuh bantuan, dan ia harus bertindak.
Namun, saat ia menekan tuas pintu, pintu bus tetap diam. Kunci mekanis seolah menahan kerasnya baja, menolak gerakan tangan Rezvan. Seketika, rasa panik yang samar di dasar pikirannya melonjak menjadi ketakutan yang nyata.
“Tidak mungkin…” gumamnya, suaranya bergetar.
Otak reptilnya—bagian otak yang bereaksi terhadap bahaya—seketika mengambil alih: jantungnya berdetak lebih cepat, otot-otot menegang, pikiran mulai mencari ancaman tersembunyi.
Rafandra, yang masih berdiri beberapa langkah di belakang, menatap Rezvan dengan mata yang tajam.
Ia mengamati reaksi fisik guru itu: alis yang berkedut, tangan yang gemetar, napas yang tersengal.
Tanpa perlu kata, ia memahami: logika Rezvan sedang berperang dengan ketakutan bawah sadarnya.
Naluri bertahan hidup mengirim sinyal kuat: jangan keluar.
Rezvan mencoba menekan rasa frustrasi, menarik napas panjang lagi, dan mencoba pintu itu dengan tenaga lebih keras.
Tangan kurusnya menekuk tuas, namun pintu tetap tidak bergerak.
Suasana hening sesaat, hanya diiringi suara napas dan detak jantung yang menggema di telinga.
“Bang… ini…pintunya tidak mau terbuka,” kata Rezvan akhirnya, suaranya tercekat antara cemas dan putus asa.
‘’Bisnya mati Pak guru, makanya pintu tidak mau terbuka…’’ jawab Pak Marta, sebelum Rafandra mengatakan sesuatu.
Meski gelap dan sulit untuk melihat tapi dia bisa mendengar dan merasakan hal yang terjadi di dalam bis.
Rafandra mendekat, menepuk bahu Rezvan dengan tenang tapi penuh otoritas.
‘’Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi ada sesuatu di luar sana… yang… tidak bisa kita prediksi,” ucapnya, nada suara rendah, seraya menatap gelap di luar jendela.
Rezvan menelan ludah, adrenalin masih mengalir deras.
Psikologinya campur aduk: logika menuntut tindakan, tapi entah kenapa dia juga menyadari jika batinnya mewaspadai peringatan Rafandra.
Ia merasakan ketegangan otot di leher dan pundak, kepala berdenyut, pikiran berputar mencari solusi.
Dalam dirinya, terjadi konflik antara: fakta dan sesuatu yang masih samar
Sementara itu, Rafandra terlihat tetap tenang.
Bus itu kini terasa seperti kapsul yang menahan mereka dari sesuatu yang lebih besar, gelap, dan tak terlihat di luar.
Catatan penulis:
Istilah “otak reptil” berasal dari teori Triune Brain yang diperkenalkan Paul MacLean. Dalam teori ini, otak manusia dibagi menjadi tiga bagian yang berkembang secara evolusi:
Otak reptil (reptilian brain / brainstem)
Bagian paling tua secara evolusi.
Bertanggung jawab atas insting dasar: bertahan hidup, refleks, agresi, pertahanan diri, dan perilaku teritorial.
Mengontrol fungsi otomatis tubuh: detak jantung, pernapasan, tekanan darah, respons “fight-or-flight”.
Tidak rasional, bekerja sangat cepat ketika menghadapi bahaya, biasanya sebelum sadar atau logika berpikir sadar ikut masuk.
Otak limbik (limbic system)
Berkaitan dengan emosi, motivasi, dan memori.
Bagian ini yang membuat kita merasa takut, cemas, atau marah, dan juga memberi motivasi untuk melindungi diri dan orang yang kita sayangi.
Otak neokorteks (neocortex)
Bagian paling baru secara evolusi.
Bertanggung jawab atas logika, analisis, bahasa, kreativitas, dan pemikiran abstrak.