**Bab 002: Di Balik Kabut**
Rezvan berdiri di dekat pintu, menatap gelap pekat yang menutupi pintu kaca. Kabut di luar sana seperti menyedot cahaya, meninggalkan kegelapan tebal yang menekan. Kepanikan menjalar perlahan ke seluruh tubuhnya—napasnya terasa berat, jantung berdebar, otot-ototnya menegang.
Di belakangnya, Rafandra tetap tenang, menunggu.
Matanya meneliti setiap gerakan, membaca situasi dengan naluri yang terasah. Ketakutan bukan sekadar reaksi emosional; itu indikator valid adanya ancaman.
Rafandra tahu satu hal: tetap di dalam bus, tetap mengendalikan area, jangan terpancing keluar tanpa informasi jelas.
Aura ketenangannya sedikit menular ke Rezvan, meski tetap membawa ketegangan yang membekas di udara.
Rezvan menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Sebagian rasa kesalnya pada Rafandra masih ada, tapi ia mengalah; tidak ingin memperpanjang konflik.
Dengan langkah pelan, ia kembali ke murid-muridnya.
Mereka telah memberikan informasi yang kurang lebih mirip satu sama lain.
Dimana gejala itu pun dirasakan olehnya.
Gejala yang hampir sama satu sama lain.
"Kalian masih bisa tahan?" tanya Rezvan, mencoba menyalurkan ketenangan ke murid-muridnya.
Satu per satu murid mengangguk, meski napas mereka tersengal dan wajah pucat menahan sesak.
Mereka adalah murid sekolah tehnik, 95 persen isinya remaja laki-laki.
Sudah jadi sifat alamiah mereka, memaksakan diri agar terlihat kuat. Apa lagi, dari 36 murid, hanya ada tiga murid perempuan.
Tidak mau kalah.
Ego remaja, dibalut rasa ingin terlihat tangguh, tetap memaksa mereka menahan nyeri di badan.
"Semuanya masih oke, ya?" tanya Rezvan lagi, menegaskan agar yakin akan kondisi mereka.
Mereka mengangguk hampir bersamaan, meski ekspresi pucat dan napas berat tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.
Rezvan menghela napas panjang, matanya menelusuri kegelapan pekat di luar.
‘’Kabut tebal, udara pekat, suhu dingin… lalu… ada yang aneh… seolah ada yang mengamati…’’Gumamnya di dalam hati.
Dia mencoba memetakan perasaan yang menekan.
‘’Untung sebagian besar murid cowok, mungkin mereka masih bisa menahan diri. Kalau sebagian besar cewek, mungkin situasinya akan berbeda…’’
"Pak guru merasa tidak, seolah kita lagi ada di puncak gunung?!" tanya Rafandra, mencoba membaca apa yang ada di pikiran Rezvan.
Rezvan mengangguk pasrah, wajahnya menegaskan kelelahan dan tekanan.
Ia tahu, meski murid-muridnya terlihat tenang, kenyataannya mereka tidak baik-baik saja. Situasi ini jauh melampaui apa yang bisa ia kendalikan.
Bus itu kini seperti kapsul di tengah dunia yang asing dan menakutkan, kabut tebal di luar seperti menahan mereka, membungkam suara, dan menekan kesadaran—membuat setiap detik terasa lebih panjang, lebih berat, dan lebih menakutkan.
''Seperti anak-anak, saya juga merasakan hal yang sama. Langkah terasa berat, d**a seolah diremas, nyeri di tubuh…'' ujar Rafandra kembali melanjutkan kalimatnya setelah melihat respon Rezvan, ''Itu bukan akibat EMP.''
‘’Abang benar, EMP tidak berdampak pada tubuh. Dan kalau ini karena lingkungan yang berbeda, seharusnya sejak di bandara kami merasakannya.’’ sahut Rezvan.
‘’Kalau itu karena lingkungan, saya seharusnya tidak merasakannya. Sudah berbulan-bulan saya ada di kalimantan. Tapi tebakan saya, ini bermula tepat saat ledakan kabut tadi, entah kenapa, saya merasa seperti itu...'' sahut Rafandra menanggapi Rezvan.
''Sepertinya kita semua... Pak Marta juga saya lihat mengurut d**a sesaat tadi, dia juga merasakan hal yang sama,'' tambah Rafandra.
‘’Eum,’’ angguk Rezvan.
''Karena saya juga sedang menahan diri untuk tidak mengeluh bagaimana tersiksanya tubuh saya sekarang. Suhu dingin yang terasa aneh, tubuh terasa nyeri, langkah kaki berat seperti berjalan di lumpur, d**a terasa sesak, udara tipis di paru-paru. Kita seolah berada di puncak gunung tinggi.''
Rafandra mengangguk pelan, menyetujui ucapan Rezvan.
Ia juga merasakannya—perasaan menyesakkan yang sama, udara dingin yang seolah menyelinap ke dalam paru-paru dan membuat napas terasa seperti menelan kabut.
Mereka bertiga—Rafandra, Rezvan, dan Pak Marta—berdiri dalam diam. Masing-masing tahu, mereka tidak boleh kehilangan kendali. Puluhan pasang mata muda di dalam bus kini bergantung pada mereka. Sekali saja mereka panik, suasana akan pecah.
“Bagaimana ini, Pak?” suara Pak Marta akhirnya memecah keheningan.
Wajahnya tegang, garis-garis usia di pelipisnya tampak jelas di bawah cahaya redup darurat dari lampu interior bus.
Pertanyaannya menggantung, membuat Rezvan dan Rafandra saling berpandangan, sama-sama mencari jawaban yang tak mereka miliki.
“Kurang tahu, Pak, tapi—”
BRAK!
Suara hantaman keras membuat seluruh tubuh mereka menegang.
Bus bergetar hebat, kaca jendela berderak seperti hendak pecah.
Beberapa murid menjerit tertahan, sebagian menunduk refleks menutup kepala.
Belum sempat mereka pulih dari keterkejutan itu, raungan mengerikan terdengar dari luar.
Dalam, berat, menggema—mirip suara gajah… tapi ada sesuatu yang aneh di nada suaranya.
Terlalu panjang.
Terlalu… marah.
Jeritan histeris langsung menyebar di dalam bus.
“A-a-apaaan itu…” suara Ardi tercekat.
“Apa itu… ke-ke-kecelakaan, bukan, sih?!” Indah menggigil, matanya melirik ke jendela yang hanya menampilkan kabut.
“Jangan-jangan ada yang ketabrak?!” seru Dina, suaranya bergetar di antara ketakutan dan kebingungan.
“Tapi… yang barusan itu. Gajah, bukan sih?!” tanya Damar, menatap ke arah depan bus.
“Eum… gajah… aku juga denger…” sahut Kirana pelan, hampir seperti berbisik agar suaranya tidak mengundang sesuatu dari luar.
“Iya, kan, Pak? Yang barusan itu gajah?!” tanya Bima dengan napas memburu.
Pertanyaan demi pertanyaan saling bersahutan, tetapi tidak ada satu pun yang berani berdiri.
Mereka hanya saling menatap dalam ketegangan yang mematikan.
Sejak memasuki wilayah berkabut ini, sesuatu yang tak terlihat seolah menekan d**a mereka, menumpuk rasa takut di bawah kulit. Semakin lama, semakin sulit bernapas. Tubuh kedinginan, namun keringat dingin mengalir di punggung.
ARRGGHHH!!
Jeritan keras tiba-tiba meledak lagi.
Kali ini lebih dekat.
Sangat dekat.
Suara itu seperti datang tepat dari sisi luar bus.
Serentak, anak-anak menjerit, beberapa meringkuk di kursinya, sebagian lain memegang tangan teman di sebelahnya tanpa sadar.
Lalu—
BRAK! KRAK! KREK! GUBRAK!
Suara logam diremukkan terdengar dari arah belakang.
Bus bergetar.
Suara dentuman itu terlalu nyata untuk dianggap halusinasi.
Rezvan menoleh cepat, pupilnya melebar, sementara Rafandra sudah bersiaga. Tapi kini, hanya udara dingin dan ketakberdayaan yang ia rasakan di sana.
“Semua tetap di tempat!” seru Rafandra dengan nada rendah tapi tegas, mencoba menjaga ketertiban di tengah kekacauan.
Belum selesai mereka terkejut oleh suara jeritan itu, teror kembali menggulung seluruh bus.
BRAAAKK!
Suara hantaman keras datang lagi, kali ini diikuti getaran kuat yang membuat seluruh badan bus berguncang hebat seolah dilanda gempa bumi.
Dari bawah, lantai bergetar, kursi bergeser sedikit, dan dinding logam mengerang seperti sedang diremas sesuatu yang jauh lebih besar.
KREEEKKK… KRAAAANG!
Derit logam mencabik udara—nyaring, ngilu, dan dalam—disusul rentetan dentuman kecil yang membuat bus berguncang tidak beraturan.
Semua penumpang membeku.
Hanya mata mereka yang bergerak, saling berpandangan panik dalam kegelapan kabin.
Tidak ada yang berani berteriak keras; hanya desisan napas yang tercekat, tangisan kecil yang tertahan di tenggorokan.
Naluri purba dalam diri mereka—naluri bertahan hidup—memerintahkan untuk diam.
“Pa… pak… a-a-apa i-it-tu, Pak…?” suara itu keluar dari salah satu dari tiga murid perempuan, pelan, serak, dan bergetar. Tangannya mencengkeram sandaran kursi di depannya begitu kuat sampai buku jarinya memutih.
Rezvan segera menoleh.
“Din, kamu tenang dulu…” katanya cepat, berusaha menahan getar di suaranya sendiri.
Ia menelan ludah, menatap seluruh muridnya yang kini menunduk di kursi, sebagian menutup telinga, sebagian menggigit bibir menahan tangis.
“Bapak enggak tahu apa itu… tapi kalian harus tenang. Coba diam, jangan bersuara!”
Suara berderak kembali terdengar di luar, seperti logam beradu dengan batu besar.
“Pak…” Dovi menelan ludah, suaranya kecil tapi jelas terdengar di antara hening mencekam. “S-su-suuara itu… mengerikanl…”
Yang lain menimpali dengan nada gemetar, “Pak, itu kayak… kayak ada perang… masa’ kita lagi diserang?!”
“Sudah!” seru Rezvan tiba-tiba, lebih keras dari yang ia maksudkan.
Nada suaranya memotong kepanikan seketika.
Ia menatap murid-muridnya satu per satu, matanya tegas tapi sorotnya getir. “Jangan aneh-aneh kalian! Diam dulu. Kita harus tenang. Kita… cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi.”
Kata-katanya terdengar seperti perintah, tapi di dalam dirinya sendiri, ia tahu—itu juga semacam harapan.
Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Sebagian dirinya ingin berlari, ingin menyeret semua anak keluar dan kabur sejauh mungkin dari tempat ini. Namun, ia tahu itu tidak mungkin.
Puluhan remaja di depannya, berusia tujuh belas sampai delapan belas tahun, kini menggantungkan hidup mereka padanya. Dan itu… lebih menakutkan daripada apapun yang sedang menggedor bus di luar sana.
Rezvan menatap Rafandra dan Pak Marta, mencari pegangan pada dua wajah yang sama-sama tegang di tengah badai kepanikan. Namun tak satu pun dari mereka berbicara.
Hanya diam— dan suara—
KRAK… KREEEK… GUBRAK!
…kembali mengguncang dinding bus, membuat udara di dalam seolah berhenti bergerak.
DEG. DEG. DEG.
Degup jantung terdengar serempak di antara napas terengah, seolah bergema dari dinding logam yang dingin.
Semua mata kini tertuju pada Rezvan—guru muda yang berusaha keras menahan ketakutannya sendiri demi terlihat tegar.
Ia menelan ludah, memaksa kakinya melangkah maju ke arah pintu.
Tangannya bergetar saat menyentuh gagang logam.
Ia tahu, langkah ini bisa jadi bodoh, tapi logika dan naluri bertarung hebat di dalam dirinya. Aku harus tahu apa yang terjadi di luar.
Suara raungan samar masih terdengar di kejauhan.
Dalam kegelapan kabut, suara itu seperti datang dari segala arah sekaligus—berat, serak, dan anehnya… hidup.
BRAK!
Belum sempat ia menarik tuas pintu, hentakan keras kembali terdengar.
Seluruh isi bus terlonjak kaget.
Badan bus bergetar, menimbulkan bayangan bergerak di wajah-wajah pucat para murid.
Keringat dingin mulai menetes deras dari pelipis.
Setiap napas terdengar jelas.
Tanpa sadar, tangan-tangan saling mencari—menggenggam siapa pun yang paling dekat.
Tubuh-tubuh muda itu gemetar, mata mereka membulat menatap ke arah depan bus.
GUBRAK!
Bus terguncang keras.
Suara gesekan logam beradu membuat lantai bergetar kasar.
Bus bergeser beberapa meter ke samping—bukan karena gempa, melainkan dorongan dari luar.
Dari kaca depan yang retak sebagian, samar-samar terlihat siluet besar sesuatu… sesuatu yang besar bergerak cepat sebelum mereka bisa memastikan—
BRAK!
Sesuatu menabrak sisi depan bus.
Lalu—
DOK! DOK! DOK!
Rezvan terpaku.
Di balik kaca pintu, seorang manusia muncul—tubuhnya bersimbah darah, wajahnya pucat, matanya membelalak penuh teror.
Orang itu menubruk kaca, menempelkan kedua tangannya yang berlumuran darah. Darahnya menetes, meninggalkan noda merah yang mengalir lambat ke bawah permukaan kaca.
“Astaga…” desis Rezvan, langkahnya mundur spontan hingga hampir terjerembab.
DOK! DOK! DOK!
Orang itu kembali menghantam kaca dengan panik.
Setiap ketukan berat, tumpul, penuh keputusasaan.
Suara napasnya kasar, seperti paru-parunya tersayat dari dalam.
Mulutnya terbuka lebar, berteriak tanpa suara jelas—hanya desisan dan gemericik darah yang menetes dari dagunya.
Rafandra berdiri tegak.
Tatapannya tajam, pupilnya mengecil seperti predator yang mencium bahaya. “Menjauh dari pintu,” ucapnya pelan tapi menekan.
Nada suaranya bukan saran—itu perintah.
Rezvan menoleh sekilas.
Wajah Rafandra pucat, tapi sorot matanya jernih dan terfokus, khas seseorang yang sudah pernah melihat sesuatu yang tak bisa dijelaskan namun tahu betapa cepatnya semuanya bisa berubah jadi maut.
Darah Rezvan serasa surut. Dingin menjalar dari tengkuk hingga ujung jarinya. Namun hanya sepersekian detik ia tertegun—akalnya mencoba menolak apa yang dilihat mata.
Ia sadar, ada orang di luar sana yang sedang sekarat… manusia! Ia tak bisa diam.
Ia bergerak cepat ke arah pintu. “Kita harus—”
SYUUTTT—GRABB!
Suara itu datang dari luar. Cepat. Berat. Seolah udara terbelah lalu menutup kembali dengan benturan keras.
Seketika, sosok di balik kaca menghilang.
Tak sempat berteriak. Hanya darahnya yang tersisa—menyiprat di kaca, menetes perlahan dari bekas tangan yang tadi menempel di sana.
Tubuh Rezvan terhenti, matanya membulat.
Ia sempat melihat sesuatu sekilas: bayangan hitam besar yang bergerak dalam kabut—tanpa bentuk yang bisa didefinisikan, tapi nyata.
Terlalu nyata.
Rafandra, yang berdiri persis di belakangnya, langsung menarik bahunya keras-keras.
“Tenang!” suaranya pecah, lebih tinggi dari biasanya.
Tangannya mencengkeram kuat lengan Rezvan, gemetar, tapi mantap.
Rezvan terdiam, masih menatap kaca yang kini penuh goresan dan darah segar yang perlahan mengalir ke bawah.
“Ap—apa tadi itu…?” bisiknya nyaris tak bersuara.
Rafandra tidak menjawab.
Ia hanya menatap ke luar— Di balik sana, samar-samar terdengar suara sesuatu yang menyeret.
Berat… basah… dan berirama.
Srak… srak… srak…
Tubuh Rezvan masih ditahan oleh Rafandra, yang berdiri persis di belakangnya.
Tangannya gemetar, namun genggamannya mantap, menahan Rezvan agar tidak melanjutkan apa pun aksi heroik yang hendak dilakukannya.
Rafandra menggeleng berkali-kali, gestur sederhana yang jelas berarti: jangan lakukan itu. Tapi di matanya, tetap terpancar ketegangan—panik yang dijinakkan demi menjaga kendali.
“Kita harus tahu apa itu!” seru Rezvan setengah berbisik, sorot matanya menyala menatap Rafandra.
“Saya juga penasaran, Pak… tapi lihat situasinya!”
Rafandra menatap balik dengan tatapan yang tak kalah tajam, menahan ketegangan dirinya sendiri.
Rezvan merasa kesal—baru saja ada seseorang yang jelas membutuhkan pertolongan, tapi sekarang mereka terpaksa mundur. Namun di lubuk hatinya, ada rasa lega—Rafandra menahan langkahnya.
Ia tahu sesuatu yang menyerang orang itu tadi bukan hal biasa. Berbahaya. Sangat berbahaya.
“Abang juga bisa lihat kan? Kalau dia terluka… dia butuh bantuan…” suara Rezvan terdengar tegas, bergetar sedikit tapi berusaha meyakinkan.
“Kita bisa bantu dia, tapi hanya jika kita juga aman,” jawab Rafandra.
“Kita berdua lihat apa yang baru saja terjadi… itu bukan sesuatu yang biasa. Pak guru… saya yakin kita bisa merasakannya—itu bahaya.”
Rezvan menelan ludah. Setetes keringat dingin menetes di pelipisnya, meski napasnya mulai berusaha stabil.
“Lalu… apa kita harus diam saja?!” tegasnya, suara sedikit meninggi.
Keberaniannya mulai terkumpul kembali, naluri seorang guru yang ingin melindungi nyawa manusia lain mulai memaksa ia bergerak.
Rafandra menepuk bahu Rezvan perlahan, menenangkan.
“Jangan lupa, Pak… tanggung jawab utama bapak adalah mereka yang ada di dalam bus—murid-murid bapak.”
Rezvan terdiam. Kata-kata Rafandra menembus jauh ke hatinya.
Ia menoleh perlahan, mencoba membaca wajah murid-muridnya dalam kegelapan yang pekat.
Mata yang membesar.
Ekspresi ketakutan.
Tangan yang saling menggenggam.
Semua itu nampak, tapi napas tersengal dan tubuh yang gemetar menahan takut, Rezvan bisa merasakannya tanpa perlu melihat.
Beberapa saat kemudian, Rezvan akhirnya mengalah. Ia mengikuti saran Rafandra—kenek bis yang, entah bagaimana, tampak bisa mengintimidasi dengan ketegasan yang tak biasa.
Rezvan mengalihkan pandangan ke pria itu.
Sejak bus memasuki kabut, Rafandra terus memindai sekeliling dengan seksama, seolah membaca sesuatu yang tak terlihat oleh mata orang biasa.
Sejak awal, firasat Rezvan mengatakan: pria ini tak biasa.
“Bang, nama saya Rezvan. Abang?” tanya Rezvan perlahan.
“Rafandra,” jawab pria itu singkat, datar, tanpa menoleh.
Rezvan merasa kesal dengan sikapnya, tapi sadar harus mengalah. Ia menoleh pada sopir paruh baya di kursi kemudi.
“Pak supir?”
“S-sa-saya… Marta…” Suara sopir terdengar gugup, bergetar di antara napasnya yang tersendat.
“Lalu kita harus gimana sekarang? Nggak mungkin kita cuma duduk nunggu kayak—”
Belum selesai Rezvan berbicara, mata Rafandra tiba-tiba melebar. Wajahnya menegang, otot rahang mengeras.
“Semua merunduk di bangku sekarang!!” pekik Rafandra, lalu berlari ke arah murid-murid yang masih terdiam, kebingungan tidak cepat tanggap.
Hanya dalam hitungan detik…
GRAK!! GUBRAK!!
Sesuatu menghantam bus dengan keras, mengguncang kendaraan besar itu sampai nyaris terbalik.
SREEEKKK!!
Gesekan logam yang tajam mengoyak badan bus—seperti ada sesuatu yang sangat kuat sedang mengirisnya.