Berguling

2541 Words
**Bab 003: Berguling** Rezvan menahan napas, menatap Rafandra yang tetap waspada, matanya menyapu kabut di luar. ‘’Ini bukan sekadar binatang… sesuatu yang lebih besar, lebih berbahaya, ada di sana.’’ Rafandra bergumam di dalam hati sambil melindungi dua murid perempuan yang duduk bersama dan satu yang duduk di depannya. Udara di dalam bus semakin pekat, panas dingin berbaur. Detak jantung Rezvan terdengar keras di telinga sendiri. Dan dalam sekejap, ia sadar: mereka benar-benar terjebak di tengah sesuatu yang tidak mereka kenali. BRAG! BRAG! BRAG! Langkah berat mengguncang tanah. Gema suaranya begitu nyata, terasa menembus d**a. Setiap hentakan menggetarkan bus, seolah gempa kecil merambat melalui lantai dan kursi. Napas kasar—dalam, berat, serak—mengiringi derap itu, diselingi geraman rendah yang membuat bulu kuduk berdiri tegak. Murid-murid tidak bisa melihat wujud makhluk itu. Kabut tebal menelan pandangan. Rafandra berulang kali memerintahkan mereka menunduk dan tetap diam, tapi suara yang memekakkan telinga itu sudah cukup untuk menebarkan teror. Beberapa murid mulai menangis diam-diam, menahan isak agar tidak terdengar. Yang lain menggigit lengan baju, mencoba menahan napas, menahan rasa takut yang menjalar hingga ke tulang. DUG! BRAK! DUG! GUBRAK! Makhluk itu menghantam bus berulang kali—entah karena penasaran, entah karena sedang mencari sesuatu yang mereka bawa di dalam. DEG. DEG. DEG. Degup jantung bergema di seluruh bus, bersahutan dengan napas tertahan, menciptakan ketegangan yang menebal seperti udara menjadi padat. Setiap guncangan membuat jeritan tertahan nyaris terdengar. Secara naluri mereka mengetahuinya, satu suara saja bisa menjadi undangan maut. Setiap detik terasa lebih lama, lebih berat. Air mata menetes deras. Keringat dingin mengalir deras di pelipis dan leher. Tubuh gemetar hebat, seolah seluruh otot menolak menahan ketakutan. Wajah-wajah muda membeku dalam ekspresi penuh teror. Imajinasi mereka liar, memutar-mutar bayangan kekacauan—darah, tragedi, kegelapan yang menelan, tak ada yang bisa menolong. “I-i-ibuu…” “A-a-a-yahhh…” “Aku takut… ngeri…” “Harusnya gue nggak ikut… harusnya gue di rumah aja…” “Kenapa darmawisatanya ke sini? Kenapa nggak ke Borobudur kek, atau ke mana gitu…” “Prank… ini pasti cuma prank…” “Gua mau pulang…” “Ini cuma mimpi. Ini cuma mimpi…” “Bego! Harusnya gue masuk SMA! Kenapa malah ke SMK Teknik—isinya cowok semua! Coba masuk SMA, paling nggak bisa ngerasain pacaran!” Penyesalan, keluhan, doa lirih… semuanya bergema di kegelapan yang hampir menelan mereka seluruhnya. Di sisi lain, Rafandra bersandar di pintu bus, tubuh tegap, matanya tajam, memindai setiap gerakan dengan insting predator. Rezvan berjongkok di antara bangku, rahangnya mengeras, setiap otot menegang menahan panik sendiri sambil memantau murid-muridnya. GRRHH… HURRFF… GRRHH… HURRFF… Hembusan napas kasar terdengar lagi. Berat, panjang, mengendap-endap. Makhluk itu belum pergi. Dan tidak seorangpun tahu… apa yang sebenarnya terjadi di luar sana. KRANGG!! Benturan tiba-tiba menghantam sisi bus dengan kekuatan luar biasa. Tubuh-tubuh terpental. Jeritan meledak bersamaan dengan dentuman logam yang melengking. Bus terguncang hebat. Lalu… KREEEEKKKKKK… …bus mulai terguling perlahan, menghantam tanah yang tidak rata. “AAAKKKHHHH!!” “PEGANGAN!!” “KITA MUTER!! KITA MUTER!!” BRAKK!! GRUKK!! Kaca-kaca pecah, serpihannya beterbangan di udara. Badan bus menghantam pohon, batu, tanah. Setiap benturan terasa seperti pukulan palu menumbuk tulang mereka. Tubuh-tubuh muda tersentak, menempel pada kursi, saling bergandengan, jeritan mereka saling bertumpuk dalam kegelapan yang bergemuruh. Setiap detik adalah pertaruhan. Setiap hentakan langkah di luar sana bisa jadi fatal. Dan satu hal jelas: mereka belum lepas dari ancaman. Bus terguling, berguling perlahan di tanah yang tidak rata. Suara logam berderit, kaca pecah, dan benturan keras mengguncang telinga, membuat kepala berdenyut. Debu beterbangan, menutupi wajah-wajah muda yang kini terlempar ke mana-mana. Murid-murid menjerit, beberapa menabrak kursi, yang lain menempel satu sama lain untuk menahan jatuh. Air mata dan keringat bercampur, napas tersengal, tubuh gemetar hebat. Beberapa menutup mata, berharap semua ini hanya mimpi buruk. Rezvan, meski tubuhnya ikut terhantam, berhasil meraih tangan seorang murid yang terpental ke lorong. “Pegang ini! Jangan lepas!” teriaknya sambil menahan tubuhnya sendiri Jantungnya berdetak kencang, tapi logikanya tetap bekerja, mencari cara untuk melindungi anak-anak. Rafandra, tegap di tengah kekacauan, menahan beberapa murid agar tidak terlempar terlalu jauh. Tubuhnya menahan hentakan keras bus saat berguling, setiap langkah luar biasa berat dan terkontrol. Matanya tetap menyapu kabut di luar, waspada terhadap makhluk yang masih mengintai mereka. BRAAAKK!! GRUUUK!! Bus menghantam batu besar. Tubuh-badan terlempar lagi. Beberapa murid menjerit histeris. Rafandra menutup kepala salah satu murid dengan badannya, menahan agar tidak terbentur dinding logam. “Tetap tenang! Berpegang pada apapun yang kokoh!” teriak Rafandra di atas suara benturan. Rezvan mengangguk, meski napasnya tercekat. Ia memimpin murid-murid untuk merunduk, menempel di sisi bus, memanfaatkan kursi dan pegangan seadanya untuk menahan guncangan. Ia bisa merasakan ketakutan mereka, tapi juga harus menyalurkan keberaniannya agar tidak panik. Di luar kabut, bayangan makhluk itu bergerak pelan, seolah menunggu kesempatan. Setiap hentakan bus terasa seperti memanggilnya, tetapi belum terlihat jelas—hanya suara langkah berat, napas kasar, dan geraman rendah yang menyelimuti semua. KRRRANGG!! Bus berhenti berguling, tapi kini miring tajam. Suara di luar masih terdengar—berat, bergema, seperti sesuatu yang sangat besar mendorong mereka perlahan. DUUG!! GRUUUKKK!! DUGGHH!! Tanah bergetar setiap kali makhluk di luar menyentuh badan bus. HHRRRGHHHH!! Hembusan napas kasar menggema di balik kabut, merayap ke dalam setiap celah. Kulit semua orang meremang. Tak ada yang berani mengintip keluar jendela, apalagi mendekati pintu. Sunyi. Tidak ada hantaman, tidak ada raungan. Hanya desis—napas tergesa, embusan angin lembab, atau mungkin… kabut itu sendiri menyusup perlahan melalui celah kaca pecah. Gelap. Bus miring hampir terbalik, tersangkut di antara tunggul pohon dan tanah tak rata. Gravitasi terasa berbalik: lantai jadi dinding, kursi jadi penghalang. Kaca-kaca di sisi kiri pecah, serpihan menebar di udara. Logam berderit pelan setiap kali ada yang bergerak di dalam. Rezvan tersadar. Tubuhnya terhempas ke sisi bangku yang kini berada di atasnya. Bahunya terasa remuk. Kacamata hilang entah ke mana. Darah hangat mengalir dari pelipis kanannya. “…Aah…” Ia menggeram pelan, setiap tarikan napas menimbulkan rasa sakit yang menusuk. Perutnya terasa ditendang keras, setiap gerakan seperti memutar seluruh tulang dan organ. Di dalam, suasana semakin buruk. Darah, isak tangis, erangan, jeritan anak-anak yang kesakitan, dan ketakutan yang membeku. “Tolong…” “Saya nggak bisa gerak, kakiku…!” “Hape mati semua…! Gelap banget… tolong!” “Pak… Pak Guru… tolong…” Rezvan mendengar semuanya, tapi nyaris tak bisa merespons. Dunia berputar. Darah mengalir deras di dahi. Bahunya terasa nyaris lepas. Ia berusaha bicara, tapi yang keluar hanya suara parau, tersendat, serak. Di dekatnya, Rafandra setengah bangkit, napas terengah-engah. Satu sisi wajahnya berdarah, tapi matanya tetap waspada, menyapu setiap sudut bus. Insting lamanya berteriak: harus bangkit, harus menghitung korban, harus melindungi yang masih bisa diselamatkan. Tapi ini bukan zona tempur biasa. Bukan operasi militer. Ini neraka asing. Dunia yang bahkan tidak dikenalnya. “Pak… Marta…?” Suara Rafandra rendah, berat, hampir bergema di antara gemuruh logam bus. Ia merayap ke kabin sopir. Pak Marta tampak setengah sadar, tubuhnya menggigil hebat, darah menetes dari dahinya. Tapi ia masih hidup. GGRRRUUUHHHHHH… Makhluk itu—atau apapun yang di luar—masih ada. Tidak menyerang, tapi jelas sedang mendorong, menggeser sesuatu di luar sana. Tak seorang pun bisa memastikan maksudnya. Yang terasa di dalam hanya satu hal: mereka didorong, dijatuhkan, diusir keluar. Rafandra menggertakkan gigi. Tubuhnya tegang, otot-otot wajah menahan kemarahan sekaligus panik. Lalu ia berteriak: “SEMUA! YANG MASIH BISA GERAK, BANTU YANG LUKA!! DUDUK DI TEMPAT PALING RENDAH, JANGAN BANGKIT! TUNGGU INSTRUKSI!!” Suara itu membelah ketakutan. Menembus jeritan, darah, dan logam berderit. Beberapa siswa yang masih sadar mulai bergerak—lutut gemetar, tangan bergetar, menahan rasa ingin muntah. Mereka merangkak, menunduk, menahan diri agar tidak terlempar lagi. Rezvan akhirnya duduk, bersandar pada bangku yang miring. Nafasnya berat, setiap tarikan napas menusuk bahu dan perutnya. Ia menutup mata sesaat, mencoba mengumpulkan sedikit keberanian. Ia sadar: meski nyaris lumpuh oleh rasa sakit dan kepanikan, tanggung jawabnya sekarang adalah murid-murid yang masih bisa diselamatkan. Di luar kabut, bayangan makhluk itu bergerak perlahan, sabar, mengintai. Setiap gerakannya terasa seperti ancaman langsung, meski tak satupun terlihat jelas. Bus yang sudah tidak lagi sesuai bentuknya, murid-murid yang panik. Dan satu hal jelas bagi Rezvan: ini bukan lagi sekadar perjalanan darmawisata. Ini adalah perjuangan untuk bertahan hidup. Suara Rafandra membelah kengerian, menembus relung hati setiap murid yang masih sadar. Beberapa mulai bergerak—lutut gemetar, tangan bergetar, menahan rasa ingin muntah, menahan jeritan yang nyaris lepas. Rezvan akhirnya duduk, bersandar pada bangku yang miring. Nafasnya berat, setiap tarikan terasa menusuk bahu dan perutnya yang luka. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri, mencoba mengumpulkan kepingan logika di tengah kekacauan. “Apa… kita diserang?” suara lirih terdengar dari kursi belakang. Kirana, salah satu murid perempuan, hampir berbisik, tapi napasnya tersendat karena takut. “Entahlah…” gumam Rezvan, suaranya serak. “Entah… Bapak tidak tahu. Yang jelas sekarang… kita bertahan dulu.” KREEEK. GRUUUK. DUG. KRAAANG. Suara dari luar terdengar lagi. Tidak jelas, seolah menjauh, tapi mungkin… mereka sedang menunggu. Menunggu dalam diam, seperti teror yang menelan perlahan, tanpa jejak. Tidak ada yang bisa memastikan. Tidak ada yang mengerti. Apa yang terjadi? Makhluk apa itu di luar sana? Apakah itu… hidup? Apakah itu… sadar terhadap mereka? Suara rintihan mulai menyusul. Dari arah lain, Damar, Ardi, dan beberapa murid lain mulai bergerak—atau mencoba bergerak. Seseorang menangis tertahan, yang lain memanggil nama temannya dengan suara serak, napas tercekat oleh ketakutan. “Pak… Pak Rezvan…” “Tenang… diam dulu… jangan gerak sembarangan,” desis Rezvan, suaranya parau, napas terbata-bata. Kabut tipis menyusup dari pecahan kaca. Dingin menggigit kulit yang basah oleh keringat. Bau logam darah, karet terbakar, dan besi panas memenuhi udara, menusuk hidung dan paru-paru. Ciiik… krrkk… Suara logam bergesekan terdengar ketika Rafandra menarik tubuhnya dari sela bangku. Satu lututnya berdarah, tangan kirinya mencengkeram tiang yang kini menghadap miring ke bawah. Napasnya terengah, tapi matanya tetap fokus, menembus kegelapan kabut. “Semua yang bisa dengar suara saya… jangan panik!” serunya setengah berbisik, tegas, suara menekan namun terkontrol. “Cek tubuh kalian sendiri… ada yang luka parah?!” Tak ada jawaban langsung. Tapi satu per satu reaksi mulai muncul, teredam tapi nyata. “Kaki saya kejepit…” “Tangan saya berdarah…” “Sakit… d**a saya…” “Pak… saya nggak bisa gerak…” Tangisan terdengar lagi. Kali ini lebih lirih, lebih teredam. Suara-suara itu berasal dari tubuh-tubuh yang mulai menyadari: mereka hidup tapi terluka, terperangkap, dan rapuh. Rezvan menelan ludah, menahan rasa sakit di bahu dan perutnya, matanya menatap murid-murid yang mulai bergerak dengan gemetar. Setiap gerakan mereka adalah tarian rapuh antara hidup dan cedera. Nafas yang terengah, keringat yang mengalir, dan darah yang mengalir menjadi musik kesakitan yang menyelimuti bus. Rafandra tetap tegar di tengah kekacauan, menahan beberapa tubuh agar tidak tergelincir, matanya menyapu kabut di luar. Bus terasa sedikit miring, tapi seolah menahan napas bersamanya. Di dalam, penumpang saling menatap, bisu, seolah setiap detik bisa mengubah nasib mereka. Kriet Kriet Kriet Bunyi logam bergerak beradu memekakan telinga. Bus terasa bergoyang lembut. KREEEEK. Satu sisi bus bergeser perlahan, tapi detik berikutnya tubuh-tubuh seketika merosot, berguncang hebat. Dentuman kayu dan bunyi retak terdengar di bawah, jelas sesuatu yang menahan berat bus telah amblas. Udara di dalam bus bergetar, napas tertahan, dan rasa panik merayap perlahan ke setiap penumpang. Satu sisi ujung bus turun menghujam sesuatu yang padat dan keras di bawahnya. Hentakannya datang tiba-tiba, keras, seperti palu raksasa menumbuk lantai bus. Kursi bergeser, tas terlempar, tubuh penumpang terseret ke arah hentakan, ulu hati mereka tersentak, kepala terbentur ringan. Sebagian menjerit, sebagian menahan napas, merasakan organ-organ mereka bergetar seperti diguncang tangan raksasa. Sisi atas bus masih tersangkut, menahan sebagian beratnya, tapi momen torsi dari hantaman itu membuat seluruh badan bus miring hampir 70°, seperti monster yang terjebak. Debu dan serpihan kayu beterbangan, kaca jendela bergetar, retakan halus muncul di permukaannya. Di dalam bus, ketegangan membeku. Penumpang tak berani bergerak. Napas mereka terdengar keras di antara suara hantaman dan retakan kayu. Mereka tahu, bus itu bisa bergerak lebih jauh kapan saja, dan setiap detik bisa menjadi batas tipis antara selamat dan celaka. Bus yang tadinya bergoyang terasa mantap di posisinya sekarang. Tapi sayangnya kemiringan ekstrim menyulitkan pergerakan. Para penumpang bus sebagian besar sudah menahan posisi. Tubuh-tubuh yang mencengkeram kursi, tas, atau tiang penyangga tampak kaku, napas tercekat di antara detak jantung yang keras. Kabut di luar menelan seluruh pemandangan, membuat dunia luar seolah tidak nyata—hanya bayangan dan suara samar yang menembus kesunyian. HHRRRUFFFF… Suara itu kembali, pelan, parau, bergema di kabut. Penumpang menahan napas, beberapa menutup mata, seakan dengan menutup mata mereka bisa membuat makhluk itu lenyap. Rezvan menunduk sebentar, memutar matanya ke Rafandra. Kernet itu berdiri tegap, tangan masih menempel pada tiang penyangga, mata menatap kabut seolah bisa menembusnya. “Jangan gerak,” bisiknya, lebih pelan kali ini, tapi penuh tegas. ‘’Tetap tenang di posisimu.’’ Seorang siswa menekuk lutut, tangan gemetar di atas bangku, matanya membulat menatap ke arah suara. Yang lain saling menggenggam tangan, saling menenangkan, tapi tidak ada kata yang terucap. Suara napas, desahan, dan detak jantung mereka sendiri terdengar seperti guntur kecil di tengah kesunyian dunia yang tertelan kabut. Rafandra perlahan melangkah ke arah pintu yang sedikit terbuka, matanya mengintip ke kabut, tapi tidak berani menunduk terlalu lama. Bus yang miring terasa seperti perahu yang bisa terguling kapan saja, dan di luar, kabut menyembunyikan sesuatu yang tidak bisa mereka pahami, tapi terasa mengancam. Hening. Tenang. Detik yang terasa sangat lambat perlahan berubah menjadi menit. Masih tidak ada pergerakan. “Bang, kamu mendengarku?” bisik Rezvan, matanya berputar di kegelapan, menelisik bayangan samar di dalam bus. “Ya,” jawab Rafandra, langsung fokus pada arah suara. “Mereka… sudah tenang?” tanya Rezvan ragu. “Yang mana?” sahut Rafandra, nada datarnya menahan ketegangan. Rezvan mengernyit, hampir saja mengumpat. “Makhluk itu, tentu saja!” serunya, nada kesal masih terdengar meski berbisik. “Mana saya tahu, saya tidak bisa melihat apa pun saat ini,” jawab Rafandra datar. “Hei, siapapun di sini, coba raba apapun di sekitar kalian. Cari korek gas yang sudah terpental entah kemana. Kita butuh cahaya untuk memantau situasi…” tambahnya, suaranya menembus kegelapan yang menyesakkan. “Jangan bergerak lebih jauh dari posisi kalian. Asal ada satu saja yang menyala, itu sudah cukup,” Rafandra memperingatkan, matanya tetap menatap bayangan di sekeliling bus. Dalam gelap, mata mereka seolah buta secara massal. Tubuh yang menahan sakit dan kelelahan meraba-raba, mencoba meraih apapun yang mungkin menjadi sumber cahaya. Korek atau sekadar kilatan api kecil di tangan seseorang—cukup untuk memberi sedikit kendali di tengah kegelapan yang menelan mereka. Ctik… Ctik… Ctik… Bunyi pemantik memecah keheningan, dan seketika, cahaya kecil menyala. Titik oranye redup menari di udara, memantul di lantai bus yang miring. “Om Kenek, ini, ketemu…” suara Damar terdengar lega, meski masih gemetar. “Gunakan itu untuk melihat sekelilingmu. Cari, apakah ada lagi…” sahut Rafandra, matanya menatap gelap di luar cahaya kecil, penuh waspada. Dia mengangkat tubuhnya perlahan, merasakan sakit yang menjalar di setiap otot dan persendian. “bakalan item biru deh,” keluhnya pelan, napas tersengal. Tangannya menyentuh satu per satu bagian tubuhnya, mengecek apakah ada yang lebih serius. “Bagus… kayaknya bonyok doang. Enggak ada yang patah…” gumam Rafandra, setengah lega, setengah masih waspada. Cahaya pemantik itu kini menjadi jangkar kecil di tengah kegelapan, memberi mereka sedikit kendali atas dunia yang terasa hancur di sekeliling mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD