Kematian Pertama

2900 Words
**Bab 004: Kematian Pertama** Beberapa saat kemudian, satu lagi korek gas berhasil ditemukan. Rafandra segera menyalakannya, titik cahaya redup itu menari-nari, membelah kegelapan. Dengan cahaya kecil itu, dia mulai memantau keadaan di sekeliling bus. Bus masih miring, tapi beruntung bagi anak-anak yang berpegangan erat pada bangku mereka masing-masing; tubuh mereka tertahan, meski napas masih tercekat dan tangan gemetar. Di lantai bus, pemandangan yang terbuka dalam cahaya korek itu membuat jantung Rafandra hampir tercekik. Kekacauan. Tubuh-tubuh anak-anak terluka, beberapa saling tertindih, posisi mereka kacau karena hantaman dan kemiringan bus. Beberapa luka terlihat serius; darah, lebam, dan kaki atau lengan yang tampak tidak pada posisi normal membuat Rafandra menahan napas. “Sial!” gumamnya di dalam hati, nadanya begitu keras hingga seolah menembus kegelapan. “Ini buruk… sangat buruk.” “Bang?” panggil Rezvan, nadanya ragu, hampir tak terdengar di antara desah napas dan kegelapan bus. “Tetap tenang!” seru Rafandra, langkahnya mantap meski tubuhnya terasa sakit. Wajah serius Rafandra seketika membuat alarm di dalam diri Rezvan berbunyi; sesuatu yang serius memang terjadi. Rafandra menarik tubuh Rezvan pelan, menuntunnya ke arah bagian bawah bus mantap tak bergerak. Nyala api korek gas di tangan Rafandra menari, memantul di lantai miring, menerangi sekilas tubuh-tubuh yang terluka di bawah. Cahaya itu sangat remang. Bentuk-bentuk yang terlihat samar, bayangan yang menakutkan, hampir mustahil untuk menangkap detailnya. Rezvan masih belum sepenuhnya menyadari betapa buruk keadaannya. ‘’Pak, bisa bergerak?’’ tanya Rafandra pada Pak Marta. Pak Marta masih terlihat linglung tapi dia mencoba keluar dari bangkunya di posisi pengemudi. Rafandra membantunya agar tidak terjatuh karena bus miring tajam. ‘’Sepertinya bisa…’’ ucap Pak Marta kemudian setelah merasa tubuhnya tidak bermasalah. ‘’Pak, tolong bantu…’’ kata Rafandra kemudian. Suaranya pelan tapi tekanan udara disekitarnya, berat. Pak Marta terkesiap sejenak tapi dia segera tenang. Mempercayai Rafandra lalu mengikutinya. “Stabilkan langkah kalian, atau kalian akan meluncur ke bawah dan memperburuk keadaan…” perintah Rafandra, setiap kata tegas namun terkendali, sementara mereka melangkah hati-hati di lantai bus yang miring. Saat mereka sudah lebih dekat, pemandangan itu menghentak Rezvan dan Pak Marta seperti pukulan dingin. Otot mereka menegang, air mata mengalir tanpa disadari. Napasnya tercekat, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tubuhnya bergetar, menahan jerit tangis yang berontak ingin terlepas. Mata mereka menatap sekilas, menyadari luka, kepanikan, dan kekacauan di bawah—realitas yang begitu brutal hingga membuat jantung nyaris berhenti. Rafandra menatap Rezvan yang terdiam, tubuhnya gemetar, air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Sekilas ia menyadari betapa kuatnya rasa takut dan ketegangan yang menguasai guru muda itu. Pak Marta terlihat lebih tegar. Mungkin karena Rezvan lebih memiliki kedekatan emosi dengan anak-anak itu. Namun mereka tidak punya waktu untuk berduka. Dalam sekejap, Rafandra menarik napas panjang, menahan rasa sakit di tubuhnya sendiri. Dia menatap Rezvan dengan ketegaran. “Pak guru, dengar saya… Kita bisa atasi ini,” katanya, suaranya tenang namun tegas, penuh kendali. Tangan Rafandra menepuk bahu Rezvan, memberi pegangan, menegaskan stabilitas di lantai bus yang miring. “Jangan tumbang sekarang, atau yang selamat akan kehilangan harapan.” Mata Rafandra tajam, menembus remang cahaya korek gas. Di tengah kepanikan Rezvan, ada satu kesadaran yang perlahan muncul: ketakutan tidak akan membantu, tapi tindakan yang terencana bisa menyelamatkan mereka semua. “Hati-hati melangkah…” Rafandra memperingatkan, menyerahkan satu korek gas ke tangan Rezvan. Cahaya kecil itu menari, memberi mereka sekilas pandangan tentang tubuh-tubuh yang terluka di bawah. “Jangan pikirkan yang terburuk. Kita periksa satu per satu. Mungkin masih ada yang bisa kita lakukan,” tambah Rafandra, nada suaranya tetap stabil, menenangkan Rezvan sekaligus menjaga agar anak-anak tetap tenang di bangku mereka. “Terutama… jika ada yang masih bisa ditolong,” lanjutnya, suaranya lebih pelan, penuh perhatian. Ia tahu kepanikan sekecil apa pun bisa menular. “Cepat tapi teliti. Jika masih hidup, dan ada tulang yang patah, bergerak sembarangan bisa berbahaya.” Rafandra menahan napas, memastikan langkahnya stabil di lantai bus yang hampir tegak miring, mata tetap menembus kegelapan di bawah. Satu demi satu gerakan mereka harus tepat—hidup dan keselamatan anak-anak tergantung pada setiap detik yang mereka ambil. Rafandra, Rezvan, dan Pak Marta mulai bergerak perlahan di atas lantai bus yang miring. Di beberapa bagian tubuh lecet dan berdarah, tangan gemetar, napas berat dan terengah. Setiap gerakan terasa seperti menahan badai kecil di dalam tubuh. Di tumpukan teratas, Pratama dan Kemal menggeliat, wajah mereka menahan rasa sakit. “Tama… Kemal… ayo bergerak perlahan… Bapak bantu,” panggil Rezvan lembut, suaranya nyaris tertelan deru napas dan retakan badan bus. Dibantu Rafandra dan Pak Marta, mereka berusaha memindahkan anak-anak satu per satu, berhati-hati agar tidak menginjak teman yang terperangkap di bawah. Bus diam, tapi terdengar suara mencicit logam yang bergesekan—melengking, menusuk telinga, membuat setiap detik semakin mencekam. “Pak Rezvan… biar saya yang pegang koreknya,” suara Damar terdengar dari kursi yang dekat pintu. Nada kecilnya bergetar, tetapi ada keberanian yang memaksa keluar. Rafandra dan Rezvan saling lirik, Pak Marta menahan napas. Sesaat hening—kemudian Rafandra mengambil keputusan cepat. “Pegang,” ujarnya sambil menyerahkan korek gas ke Damar. “Tetap di situ. Terlalu banyak orang malah akan membuat kita sulit bergerak… kamu perhatikan saja arah kami bergerak, dan sebisa mungkin arahkan cahayanya menyinari apa yang kami tuju.” “Ya…” Damar menjawab, wajahnya masih takut, bibir bergetar, tetapi dia mencoba menegakkan diri, menggenggam korek gas, memperhatikan dengan seksama di tengah kegelapan. Satu per satu, anak-anak yang saling bertumpuk dipindahkan dengan hati-hati. Beberapa mulai sadar, mata mereka berkaca-kaca, beberapa menangis pelan. Nafas mereka terdengar berat, tapi ada sedikit senyum lega di wajah Rafandra, Rezvan, dan Pak Marta. Kepanikan yang mereka rasakan sebelumnya tampak mereda—untuk sesaat. Namun, kelegaan itu hanya semu. Di sudut tumpukan, terlihat dua tubuh yang diam tak bergerak, posisi mereka mengerikan. Pak Marta cepat tanggap, menutup pandangan Damar dengan lengannya, memberi ruang agar anak itu tidak melihat pemandangan mengerikan itu. Rezvan membeku. Tubuhnya gemetar, rasa bersalah menyelimuti pikirannya. Setiap detik terasa seperti tusukan di hati, sementara Damar hanya menatap, kebingungan, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, dan tetap memfokuskan cahaya korek ke arah yang diminta Rafandra sebelumnya. “Nak! Berikan padaku koreknya!” perintah Rafandra tegas, suara memotong gemuruh napas dan detak jantung yang panik. “Ha?! Maaf, tapi Pak Supir yang ngalangin… bukan saya sengaja, Om!” Damar menjawab cepat, wajahnya pucat, bibirnya gemetar. Dia salah paham dengan tindakan para orang dewasa dihadapannya. Rafandra menatap Damar sekejap, napasnya berat. ‘’Tugasmu selesai dulu. Tunggu disini dan berpegangan…’’ katanya lalu menarik korek gas dari tangan anak itu. Damar mengangguk pelan, matanya menatap Rafandra, berusaha menahan gemetar. Pak Marta langsung merangkak cepat ke arah korban. Keduanya tergencet di antara rangka kursi dan jendela pecah. Tubuhnya terbenam di antara kursi, kepala terkulai dengan posisi aneh. Yang lain, diam tak berdaya dengan tubuh terkapar di atas sandaran kursi seperti jungkat jungkit. Tangannya menepuk pelan bahu siswa pertama. Tidak ada respons. d**a tak bergerak. Ia cek denyut. Urat di leher. Nadi. Tidak ada. Ia beralih ke satu lagi. Tidak ada respon. Tidak ada nafas. Keduanya diam. Pak Marta menoleh pada Rezvan, kepalanya menggeleng dengan ekspresi wajah sedih. Telah di konfirmasi, kedua anak itu telah meninggal. Bau darah pekat menghantam hidung mereka. Logam, asin, dan tajam — seperti menembus sampai ke dasar tenggorokan. Rafandra menahan napas, sementara Pak Marta memalingkan wajah sesaat sebelum kembali menunduk. Mereka berdua bergerak pelan, dengan sisa tenaga yang tersisa, merapikan dua tubuh yang terbujur diam di bawah cahaya korek gas yang bergetar. Tanpa banyak kata, Rafandra meraih kain gorden yang terlepas dari jendela — sobek, berdebu, namun cukup untuk menutup wajah mereka. Ia menatap sesaat sebelum menurunkannya perlahan, seolah menidurkan keduanya untuk terakhir kalinya. Pak Marta membantu, tangannya bergetar halus saat menyelimuti tubuh Adit yang ringkih. Tidak ada kalimat pengantar duka, hanya doa yang terucap senyap di dalam hati. Suara nafas berat dan dentingan kecil logam bus yang masih bergoyang di kejauhan. Bagas dan Adit. Jasad mereka tidak dalam keadaan baik tapi sebisa mungkin Pak Marta melakukan yang terbaik untuk mereka berdua. Rezvan berdiri kaku di tempat. Tatapannya kosong. Ia memandangi dua siswanya—anak yang tadi pagi masih bercanda di bangku belakang. Air matanya tak kunjung jatuh, meski dadanya terasa sesak seperti terhimpit batu besar. “Pak…” suara Rafandra serak, pelan. Ia tidak melanjutkan. Tidak ada kalimat yang pantas. Pak Marta menatap Rezvan, iba. Ia tahu pandangan kosong itu—pandangan orang yang sedang diseret antara kenyataan dan penyangkalan. Di dalam bus yang nyaris remuk, hanya suara napas tertahan yang tersisa. Cahaya korek gas bergetar, menari di wajah mereka bertiga. Kematian telah menyapa, dan untuk pertama kalinya malam itu, keheningan terasa jauh lebih menakutkan daripada kegelapan itu sendiri. Rezvan terduduk. Diam. Tangannya mencengkeram lengan dingin anak itu—begitu dingin, seolah semua kehidupan telah disedot keluar dari dunia ini. Darahnya berdesir naik ke kepala, lalu turun mendadak. Perutnya mual. Adit dan Bagas. Pakaian mereka kotor, sobek, berlumur darah dan serpihan kaca. Hampir dua tahun kedua anak itu berada di bawah bimbingannya. Dua tahun penuh tawa, ujian, dan keluhan remaja yang kini tinggal kenangan. Muridnya. Tanggung jawabnya. “...Saya gagal.” Suara itu nyaris tak terdengar. “Saya tidak bisa melindungi mereka...” Matanya menatap kosong, menembus ruang. “...Apa yang harus saya katakan pada orang tuanya?” Rasa ingin muntah naik ke tenggorokan, menyesak seperti duri. Tapi dia tahan. Tangannya mengepal di lantai logam yang dingin, menggores kulitnya sendiri. Rafandra dan Pak Marta menatap iba. Mereka ikut menunduk, menatap dua tubuh itu di lantai bus yang miring. Tak ada satu pun kata yang terucap. Hanya keheningan yang begitu tebal, hingga suara napas sendiri terasa mengganggu. Keduanya saling bertatapan sesaat—seolah saling menguatkan tanpa perlu bicara. “Mereka…” suara Rezvan pecah, lirih nyaris tak terdengar. “Murid-muridku…” Rafandra menatapnya lama. Pak Marta menelan ludah, lalu perlahan menepuk bahu Rezvan. “Kami mengerti…” katanya pelan, suaranya bergetar tapi tegas. “Bersabarlah, dan tetap tegar. Murid-muridmu yang lain masih menanti.” “...Jangan biarkan anak-anak lain lihat dulu,” kata Rafandra akhirnya, suaranya rendah, penuh pertimbangan. Rezvan mengangguk perlahan. Rahangnya mengeras. Matanya memerah, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Bukan karena ia kuat—justru karena tubuhnya sedang sibuk menahan segalanya: marah, takut, hancur, syok. Duka belum lagi usai, tiba-tiba dari arah belakang terdengar teriakan bertubi-tubi: “Pak! Danang pingsan!” “Pak, Rama nggak bangun!” “Pak… ada darah di kaki Gilang!” Rafandra langsung bangkit, menoleh cepat. Suara-suara itu menusuk, memaksa tubuhnya bergerak tanpa pikir panjang. Ia berlari kecil di atas lantai bus yang miring dan licin, darah dan serpihan kaca menempel di telapak tangannya. Tiga siswa tergeletak tak sadar. Tubuh mereka berlumur darah, napas berat dan tersengal. Tapi masih hidup. Rafandra berlutut, memeriksa satu per satu dengan cepat, sementara anak-anak lain menatap cemas dari segala arah. “Danang masih ada nadi... Rama juga...,” gumamnya cepat, “Gilang—” “Pak! Pak!” jerit Kirana, suaranya nyaris pecah, “Tulang... tulang Gilang, Pak!” Rafandra menoleh. Matanya membelalak. Kaki Gilang bengkok tak wajar, tulangnya menembus keluar, menyalurkan darah segar yang menetes ke lantai logam. “Tahan kakinya, jangan banyak gerak!” serunya cepat. “Cari apa pun untuk membebat—kain, sabuk, apa saja!” Beberapa siswa yang masih bisa berpikir cepat langsung bergerak, membongkar tas, menarik potongan jaket, bahkan tirai jendela yang robek. Tapi yang lain hanya terpaku. Mereka menatap, gemetar, mulut terbuka tanpa suara. “Kenapa kalian bengong?!” bentak Rafandra, nadanya meninggi, setengah karena panik, setengah karena takut kehilangan kendali. Anak-anak itu memandangnya dengan mata basah. Ada yang menutup mulut, ada yang bergetar menahan tangis. Mereka syok. Trauma. Dunia yang mereka kenal barusan runtuh, dan tubuh mereka belum sanggup menyesuaikan diri dengan mimpi buruk ini. Adrenalin menguasai Rafandra. Ia tak sadar seberapa keras suaranya, hanya tahu waktu tidak boleh terbuang. “Sobek lengan baju kalian!” katanya lantang, tegas, menusuk kesunyian. “Cepat! Yang sadar bantu yang lemah. Jangan nangis—fokus!” Terdengar bunyi kain disobek paksa, napas terengah, dan isak tertahan. Di tengah darah dan kegelapan, Rafandra berusaha membuat mereka bergerak, sekecil apa pun. Karena jika berhenti, semuanya bisa saja berakhir di sini. Sementara itu, Rezvan perlahan berdiri. Punggungnya menempel pada dinding bus yang dingin, bergetar halus setiap kali logam berderak di luar. Ia memandangi satu per satu siswanya — wajah-wajah muda yang kini tampak asing di bawah cahaya redup korek gas. Beberapa sudah sadar, tapi syok. Beberapa masih terkulai, tertidur paksa di antara serpihan kaca dan darah kering. Yang lain duduk memeluk lutut, menatap kosong ke arah kaca berembun yang kini gelap total. “Anak-anak ketakutan…” ucap Rezvan pelan, suaranya parau. Ia menunduk, mengambil kain gorden yang tadi dilepaskan dari jendela, lalu menyerahkannya pada Rafandra. “Ini… kotor, tapi lebih baik daripada tidak.” Rafandra menerima, matanya beralih sebentar pada wajah Rezvan. Rahangnya mengeras. Dalam hatinya, ada rasa sesal yang pelan-pelan merayap — ia mulai sadar kalau tadi suaranya terlalu keras, emosinya terlalu menekan. Tidak ada yang siap dengan keadaan seperti ini. Bahkan dirinya. Apalagi anak-anak belasan tahun yang baru saja mengalami tragedi mengerikan seumur hidup mereka. Bus terasa semakin pengap. Kabut putih lembut mulai merembes dari sela-sela kaca, menyusup ke udara yang sudah berat oleh bau darah dan debu. Lalu, dari tengah-tengah kerumunan itu, suara lirih terdengar — patah, pelan, dan penuh gentar: “...Kita di mana, sih?” “Ini... mimpi, ya?” “Kenapa... kenapa kita nggak diselametin?” “Pak... kita bisa pulang, kan?” Setiap pertanyaan terdengar seperti pisau kecil yang menembus d**a. Rafandra menahan napas panjang, lalu menatap Rezvan. Tatapan mereka bertemu — keduanya tahu, tak ada jawaban pasti yang bisa menenangkan ketakutan itu. Hanya diam. Dan di balik diam itu, dunia yang mereka kenal terasa semakin jauh. Beberapa waktu telah berlalu. Sejauh ini, belum ada gangguan dari entah makhluk apa di luar sana. Keheningan terasa mencekam. Putus asa merayap perlahan ke relung hati. Pikiran dipenuhi pertanyaan tanpa jawaban, di mana bantuan untuk mereka? Waktu telah lama berlalu, tapi tidak ada satu pun tanda-tanda pertolongan. “Kita harus bawa mereka keluar… kita… tidak bisa terus di sini…” ujar Rafandra kepada Rezvan, suaranya datar tapi tegas. “Keluar?!” Pekik Damar, wajahnya pucat, mata membulat. “Om, di luar sana… ada makhluk buas yang kita enggak tahu apa!” “Anak itu benar,” sahut Pak Marta, masih duduk lemas di dek depan. “Lebih aman kalau kita tetap di dalam. Bantuan akan segera datang dengan kekacauan sebesar ini.” Rafandra menatap Pak Marta sekejap, lalu menimpali, nada suaranya datar tapi gamang bercampur kesal terasa jelas. “Kita tidak tahu kapan bantuan akan tiba… tapi kalau terus menunggu, kita hanya terjebak tanpa kepastian.” “Setidaknya… kita masih bisa menunggu. Di dalam sini lebih baik daripada keluar ke luar sana, menghadapi makhluk yang tidak jelas, yang telah membuat kita semua seperti ini,” tambah Pak Marta. Dovi mengangguk cepat, diikuti anak-anak lain yang mulai meniru gerakan itu. Rafandra menarik napas panjang. “Kita tidak tahu bagaimana situasi di luar… itu betul. Kita aman di dalam sini, untuk saat ini mungkin… tapi berapa lama?!” sorot matanya tajam, kontras dengan nada tenang yang ia gunakan. “Ndra, kamu jangan nakut-nakutin gitu, dong!” suara Pak Marta terdengar tegas, tapi ada nada prihatin. “Kita semua ketakutan. Tidak usah ditambah-tambah lagi…” “Pak, sudah kita di dalam saja, ya…” pinta Nendra, wajahnya memelas, diikuti anak-anak lain yang mulai menunduk. “Om, sudah kita bersabar saja… sampai bantuan tiba,” ujar Pratama, menenangkan Nendra dengan lembut. Pak Marta menepuk bahu Rafandra. “Ndra, dengar itu. Kamu tidak kasihan pada anak-anak? Mereka ketakutan. Sudah kita di dalam saja, sampai bantuan datang.” Perlahan, anak-anak yang tadinya hanya diam menatap satu sama lain, mulai berbisik pelan. Suara gemetar mereka terdengar, mengungkapkan ketakutan dan kerisauan, diiringi keluh sakit yang merayap di seluruh tubuh muda mereka. Bus yang semula sunyi kini dipenuhi dengungan lembut, bisikan takut, dan napas tertahan yang menandai ketegangan hidup yang belum reda. Rezvan menimbang dan memilah, matanya menyapu setiap sudut bus yang remang. Ia bingung, karena situasi di luar maupun di dalam sama-sama tidak jelas, tak seorang pun punya jawaban pasti. Sejak awal, tanpa sepatah kata mufakat, dia, Pak Marta, dan anak-anak seolah sudah setuju. Aura dominan Rafandra begitu kuat, itu membuatnya mengambil peran kepemimpinan tanpa ada yang menolak. Sejak awal, hampir selalu dia yang pertama ambil tindakan, memimpin langkah ketika semuanya masih gemetar. “Apakah kalian tidak merasakannya?” tanya Rafandra di tengah kasak-kusuk perdebatan dan bisikan cemas. Beberapa siswa menunduk, menyimak. Beberapa menoleh ke arah siapapun yang terdekat, mencari petunjuk. Beberapa lainnya hanya bergumam, suara mereka serak, berbisik menanggapi pertanyaan Rafandra. “Apa maksudmu, Ndra?” Pak Marta akhirnya bertanya, nada suaranya datar tapi menyimpan rasa penasaran. “Bis ini, bergoyang… Tidak stabil,” jawab Rafandra, datar tapi setiap kata dipenuhi ketegangan yang hampir tak terlihat. “Lantas kenapa?” balas Pak Marta, nada kesalnya mulai muncul, frustrasi karena situasi yang tak terkontrol. “Kita berada di dalam bus… tapi kita tidak tahu di mana bis ini berada,” ucap Rafandra, menatap ke arah kabut di jendela, meski gelap. Pernyataan itu seperti lemparan batu ke kolam tenang. Semua yang mendengar mulai membayangkan sejak awal kejadian—gemuruh, hantaman, kemiringan bus, tumpukan anak-anak—dan mencoba memetakan. Di mana sebenarnya mereka berada? Suasana semakin hening. Hanya terdengar napas terengah dan desah kecil anak-anak yang mulai menyadari ketidakpastian yang kini menggantung di udara. Bus yang miring, kabut di luar, dan kegelapan yang menelan semuanya membuat setiap detik terasa berat, mencekam, dan tak pasti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD