Keluar dari Bus

1450 Words
**Bab 005: Keluar dari Bus** Pernyataan Rafandra mulai menggoyahkan pikiran yang sebelumnya percaya berada dalam zona aman. Kriet... kriet... kriet... Suara logam mencicit. Menyusup ke dalam tulang, menyiksa saraf siapa pun yang mendengar. Bus bergoyang. Perlahan, tapi jelas. Getaran itu kini tak bisa diabaikan lagi. Medan di luar sana tidak stabil. Tapi tidak ada yang tahu sebenarnya apa. Otak mereka—yang terbiasa dengan navigasi logis dunia modern—kini seperti kehilangan peta. Di mana mereka? Kenapa bisa sampai ke tempat ini? Tak satu pun bisa menebak. Sayup, jauh di luar, lolongan dan raungan masih terdengar. Samar, tapi tetap mengancam. “Apa yang harus dilakukan sekarang?” Pertanyaan itu diam-diam menghuni benak semua yang masih hidup dalam bus itu. Meski dua di antara mereka sudah tak bernyawa. Rezvan angkat bicara. “Anak-anak... Pak Marta... Rafandra benar. Kalian juga benar. Saat ini, kita tampaknya aman di dalam bus. Tapi di luar sana... kita tidak tahu. Kita hanya mendengar—suara dan getaran—tapi sebenarnya... kita semua tidak mengerti apa yang terjadi.” Suaranya berat tapi terjaga, seperti berusaha melindungi dengan nada. Sebagaimana kebiasaan murid ketika guru bicara—mereka menyimak. Bukan karena tenang. Tapi karena naluri terlatih dari ruang kelas. Kini, mereka mencoba mencari tempat berpijak dalam logika yang runtuh. “Bantuan… ya, kita semua mengharapkannya. Tapi sampai kapan? Dan sementara itu... teman kalian, Gilang, butuh tindakan nyata. Dia tidak bisa terus seperti itu…” Damar mencengkeram tubuh Gilang erat, seolah pegangan itu bisa menahan hidup. Dina, yang duduk tak jauh, mulai menggigit bibirnya. Air mata jatuh satu per satu tanpa suara. Bau amis darah terus menguar. Menebal. Menempel. Membusuk di hidung. Hik... hik... hik... Isak tangis mulai pecah. Pelan. Teredam. Tapi menyebar seperti api dalam sekam. Dari satu, menjadi banyak. Suara yang mereka tahan sejak tadi akhirnya menyeruak. “Pulang… aku ingin pulang…” ucap Dina, suaranya parau, nyaris tak terdengar. Tapi emosi yang ditahannya akhirnya meledak. “Pulang! Aku nggak seharusnya ada di sini! Ini... bukan tempatku!” “Apa kamu pikir cuma kamu yang mikir begitu?!” bentak Ardi, kesal. “Dasar perempuan! Bisanya cuma nyalahin orang lain!” “Apa hubungan perempuan sama ini semua?!’’ Dina menyahut marah. ‘’Aku cuma jujur sama perasaanku! Emangnya kamu mau terus di sini?! Kalau gitu keluar sana! Ngobrol tuh sama makhluk entah apa yang bikin kita semua kayak gini!” “Ardi, kenapa kamu bawa-bawa gender?” Kirana ikut angkat suara, nadanya tajam. “Apa cuma kami yang nangis? Kalian juga! Kalian semua juga takut!” “Kami nangis... tapi nggak merengek kayak kalian!” Bentak Ardi tapi langsung di balas. “TERUS KENAPA?!” Suara Kirana langsung naik tinggi. Diantara tiga murid perempuan, dialah yang paling keras karakternya. “CUKUP!!” Suara Rezvan membelah perdebatan itu. Suaranya meledak. Bukan karena marah—tapi karena keputusasaan dan rasa tanggung jawab yang tak bisa ditanggung satu orang saja. Mereka semua tersentak dan segera terdiam sambil menatap Rezvan dengan wajah memelas tanpa suara. “Kalian ini remaja yang beranjak dewasa. Bukan anak TK. Hentikan debat nggak penting ini!’’ Rezvan menambahkan wejangan ketika melihat anak-anak telah kembali siap mendengarkan. “Perhatikan di sekitar kalian! Pikirkan dulu kegentingan yang ada di depan mata... Gilang, Danang, Rama, mereka bertiga tidak sadarkan diri. Kita tidak tahu bagaimana keadaan mereka sebenarnya. Bahkan Gilang, lihat, darah terus merembes dari kakinya. Apakah mereka harus menunggu kita yang terus debat kusir tak berkesudahan…’’ Bus kembali sunyi. Tapi bukan tenang. Melainkan padat oleh tekanan. Pak Marta bicara pelan dari dek depan. "Tapi, Pak… Kalau kita keluar sekarang… meski kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar sana. Tapi, makhluk yang mempermainkan sebuah bis bukan khayalan kita berjamaah. Itu nyata...'' Beberapa siswa mengangguk pelan. Beberapa hanya menatap kosong. Rafandra mengepalkan tangan. ''Saya tahu. Saya mengerti. Kita semua merasakannya. Darah di tubuh kita, rasa sakitnya, itu nyata. Tapi, setidaknya... kita harus mencoba. Diam menunggu bantuan yang tidak jelas bukan solusi paten. Kita juga harus berusaha.'' Mereka diam. Tapi bukan setuju. Bukan juga penolakan. Rezvan bicara lagi. "Bagaimana kalau kita cek dulu keadaan di luar?'' Mereka tetap diam. Setelah usulan Rezvan, tidak ada yang langsung menyahut. Hanya suara napas berat, gesekan pelan kain terhadap logam, dan suara mencicit samar dari luar. Kriet... Kriet... Bus masih bergoyang pelan. Miring. Tidak stabil. “Cek ke luar?” bisik Ardi, setengah tak percaya. “Itu... beneran, Pak?” “Lihat mereka!” Rafandra menunjuk Gilang, Danang, dan Rama yang masih tak sadarkan diri. “Kalau tidak sekarang, bisa terlambat. Kita tidak tahu berapa banyak waktu yang mereka punya.” “Kalau kita buka pintu dan ada makhluk itu—terus?” Suara Nendra memotong. Nada keras, tapi tangan di pangkuan bergetar. “Mau mati semua?” Rezvan menahan diri. Ia tahu kalimat seperti itu bukan untuk menyerang—tapi untuk bertahan. “Lalu kalian mau apa?’’ ‘’Diam di sini? Sampai berapa lama?’’ ‘’Apa kalian yakin bis ini akan tetap bertahan?!” Rafandra mulai kehilangan kendali. “Jangan bentak-bentak kami!” teriak Damar. “Kami bukan pengecut, tapi kami juga bukan bodoh! Di luar sana nggak jelas, Om!” Suasana makin panas. “Hei, hentikan...” Suara lirih Indah memotong. Pelan, tapi terdengar karena ruang itu sunyi oleh ketegangan. “Saya tahu kita semua takut... tapi... kalau kita diam, kita juga nunggu mati.” Beberapa menoleh. Tak menyangka kalimat seperti itu keluar dari Indah—salah satu dari sedikit siswi perempuan di bus itu. Tapi nada bicaranya tidak dramatis. Justru paling realistis sejauh ini. “Saya bukan ngajak keluar,” lanjutnya pelan. “Tapi... kalau semua nunggu orang lain yang ambil risiko, lalu siapa yang akan gerak?” Tak ada yang langsung menjawab. Pak Marta, yang sejak tadi hanya duduk di dek depan, akhirnya bicara. “Kalau memang harus ada yang keluar... saya usul, jangan sendiri. Minimal dua orang. Saling jaga punggung.” Rafandra mengangguk pelan. “Kita tidak harus keluar semua…” Terkesiap mereka semua. Terlihat jelas raut wajah yang menunjukkan kalau bukan hal yang mereka inginkan dan sebisa mungkin mereka ingin melempar tanggung jawab kalau sampai di tunjuk. Rafandra melihat ekspresi yang jelas adalah penolakan. Dia maklum, ‘’Cukup satu atau dua orang. Yang paling bisa bertahan. Yang lain tetap di sini, jaga kondisi teman-teman yang luka. Rezvan menyela. “Aku yang akan menemanimu.” Dalam diam mereka seolah bersyukur karena ada yang mengajukan diri meski tidak ditunjuk. Muncul gumaman setuju tapi saling tunjuk. Lalu keheningan lagi. Rezvan berdiri pelan. Ia menatap satu per satu murid yang masih sadar. Lalu menatap Pak Marta, sorot matanya seolah mengatakan, aku titip murid-muridku. “Bapak akan keluar...” katanya kemudian. Beberapa murid langsung menoleh. Beberapa reflek ingin bicara, tapi tak satupun benar-benar bersuara. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menyimak kalimat berikutnya. “Pak Guru, kita keluar sama-sama. Kita nggak akan jauh. Hanya cari tempat tinggi atau terbuka, pastikan lokasi, lalu balik. Dua puluh menit. Kalau kami nggak balik dalam waktu itu… jangan ada yang keluar nyusul. Bertahan. Tunggu.” “Pak... yakin...?” suara Damar parau, tercekat di tenggorokan. “Bukan soal yakin atau tidak,” jawab Rezvan. “Indah benar, harus ada yang bergerak, atau kita semua akan terjebak.” Ia menatap lagi anak-anak itu. Mereka masih gemetar. Wajah-wajah muda yang baru semalam tertawa di dalam bus ini, kini penuh luka, debu, darah, dan air mata. “Kalian bukan anak kecil. Kalian sudah cukup dewasa untuk tahu kapan harus berani, dan kapan harus jaga satu sama lain. Sekarang tugas kalian... bertahan. Jaga satu sama lain. Jangan diam. Jangan berantem lagi. Kalau bapak dan Om kenek tidak kembali... tetap tenang, bertindak bijaksana.” Sunyi. Bus seperti menahan napas. Rezvan dan Rafandra menyiapkan diri. Tak banyak yang bisa dibawa. Hanya korek gas, sisa air mineral, dan patahan besi dari pegangan kursi. “Pak...,” suara Indah memanggil pelan. Ia berdiri, mendekat sebisanya, lalu melepas syal dari lehernya. “Ini... biar enggak terlalu anyep. Hawanya... dingin banget.” Rezvan tersenyum kecil. “Terima kasih, Indah.” Lalu Damar juga berdiri. Tangannya gemetar saat menyerahkan Cutter yang terpental entah dari mana dan ditemukan olehnya. “Buat jaga-jaga, Om.” Alis Rafandra terangkat naik, dia terkejut tapi tetap mengambilnya. “Dari mana ini?” “Enggak tahu Om, nemu…” jawab Damar cepat, ‘’Sumpah.’’ tambahnya mencoba meyakinkan. ‘’Iya, saya percaya…’’ ujar Rafandra setengah nyinyir. ‘’Damar!’’ seru Rezvan dengan mata menyidik curiga. “Beneran Pak, nemu saya, Pak!’’ pekik Damar serius. ‘’Cutter bis, kok Pak. Tenang, murid Bapak nggak main yang aneh-aneh saya cuma bercanda…’’ ujar Rafandra menenangkan. ‘’Om, jangan gitu dong. Nih kalau enggak lagi begini, Pak Rezvan bisa langsung telfon orang tua saya…’’ ‘’Iya, sory, sory…’’ Huuu Sorakan ramai segera mengiringi meski hanya setengah berbisik karena mereka masih takut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD