Diluar Zona Nyaman

1715 Words
**Bab 010: Diluar Zona Nyaman** Criiik... criiik... criiik... Bersuara dari segala arah. Tak beraturan. Tak seragam. Tapi saling bersahutan dalam harmoni aneh yang membuat d**a terasa sesak. Tyiiit! Tyiit! Kriiik! Pekik nyaring seperti burung kecil terdengar dari balik tajuk pepohonan. Tapi tak ada yang bisa dipastikan bentuknya. Tak satu pun terlihat. Shaaah... ssshhhrrrhhh... Angin menyapu dedaunan lebat, membuat suara gesekan yang panjang dan merambat, seperti bisikan dari sesuatu yang tak tampak. Brrr... Rezvan dan Rafandra menggigil bersamaan. Meski jaket telah menutupi tubuh mereka, hawa dingin tetap menembus lapisan kain dan kulit. Rezvan mengatupkan mulut lalu menyentak pelan bahunya, “Gelap… sulit melihat situasi.’’ Rafandra dan Rezvan mencondongkan tubuh ke depan, tangan menahan korek gas rokok kecil yang berderak saat dinyalakan. Nyala api mini itu memuntahkan titik oranye hangat, tapi seketika lenyap begitu ia menunduk sedikit. Di sekelilingnya, hutan rimbun menyerap cahaya, daun dan batang pohon menelan kilatan nyala, meninggalkan bayangan hitam pekat. Rafandra menarik napas pelan. Uap tipis keluar dari mulutnya. “Ini hutan, Pak. Gelap bukan hal baru.’’ Rezvan melirik, bibirnya mengulas senyum terpaksa. “Sangat terbatas… hanya segini jarak pandangnya,” bisik Rezvan, sambil memutar korek untuk mencoba menyorot semak di depannya. Cahaya kecil itu menerangi tanah setengah meter di depannya—akar yang menjulur, daun basah yang mengkilap, ranting patah yang bisa tersandung. Setiap tarikan nafas membuat nyala api bergoyang, menciptakan kedipan oranye kecil yang menari di batang pohon. Rafandra mengulurkan tangan, berusaha mengikuti bayangan yang bergerak, tapi hutan seolah menelan segalanya. Di jarak lebih dari dua meter, kegelapan total menelan segala bentuk dan suara. Mereka bisa mendengar rintihan serangga, gemerisik dedaunan, tapi tidak ada satu pun yang bisa dilihat jelas selain area yang sangat dekat dengan korek. ‘’Nyala api korek gas ini cukup untuk memastikan kaki tidak tersandung, tapi sama sekali tidak cukup untuk melihat ke mana mereka harus melangkah. Dalam gelap gulita ini, perhatikan baik-baik setiap langkah.’’ ujar Rafandra mengingatkan Rezvan. Setiap kedipan nyala api terasa seperti kilatan harapan kecil—sementara hutan terasa seperti menelan mereka tak kenal ampun. Mereka berdua berdiri di atas tanah lembab, berpijak dengan hati-hati. Pohon-pohon menjulang, batang-batangnya besar dan lurus, menjelma seperti tiang penyangga langit. Rezvan memandangi sekeliling dengan kening mengernyit. “Kalau dari bandara ke IKN, kita mestinya lewat jalan besar, kan? Jalur aspal... pinggirannya setahu saya udah dibuka jadi kawasan pembangunan.” Rafandra mengangguk pelan. “Betul. Tapi bisa jadi... pas kita terguling, bus masuk ke wilayah yang lebih dalam. Masih banyak hutan di Kalimantan. Tapi... pemandangannya begini? Rimbun banget. Bersih. Nggak ada jejak pembukaan lahan.” Rezvan bergumam, “Kalau ini masih hutan ‘kan, ya... kenapa terasa asing, ya?” Rafandra tak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke kejauhan—meski kejauhan itu tak benar-benar bisa dilihat. Hanya kabut dan siluet pepohonan yang terasa terlalu besar. Beberapa bergerak pelan diterpa angin, menciptakan suara shhhkkkrrr berat seperti batang bambu kering bergesekan. Rezvan menambahkan, lebih pelan, “Kalau bukan karena udara, dan suara-suara itu...” Ia berhenti, ragu melanjutkan. “...saya bisa mengira kita lagi jalan-jalan ke taman nasional.” Rafandra menyipitkan mata. “Tapi taman nasional? Ini? Entahlah… saya tidak yakin.’’ Kabut di sekeliling mereka masih menggantung rendah, menutupi hampir seluruh permukaan tanah, hanya menyisakan siluet gelap pepohonan rimbun yang berdiri rapat seperti barisan tiang alami. Akar-akar besar merayap di permukaan, bersilang-silang seperti penjaga diam yang siap menjegal langkah siapa pun. Langkah Rezvan terhenti. “Bang, lihat itu...” bisiknya sambil menunjuk ke arah kiri, di mana batang pohon berukuran luar biasa membentang ke samping, menciptakan dinding hidup yang membuat area di belakangnya gelap total. Rafandra melirik cepat, lalu kembali menunduk memperhatikan tanah di bawah kaki mereka. Lembab, tapi padat. Tidak licin, tidak pula terlalu becek. Ia melangkah perlahan, ujung kakinya merasakan tanah dan akar tersembunyi. Tangan Rafandra menuntun korek ke arah depan, berharap menemukan jalur yang aman, tapi semua tampak sama: rapat, gelap, dan tak beraturan. Tiba-tiba, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang berbeda—tebing tanah yang curam. Instingnya berteriak: mereka mungkin sedang berdiri di tepi jurang. “Sepertinya... kita berdiri di tanah yang miring,” gumamnya, “semacam lereng curam... tapi masih bisa dipijak dengan aman asal hati-hati.” Rezvan mengangguk, meski jelas ia masih merasa tidak nyaman. Rafandra membeku sejenak, menyorot korek ke arah bawah. Nyala kecil itu terlalu lemah; hanya bayangan gelap yang membentuk kontur samar tebing di depannya. Napasnya tercekat. “Sepertinya, sudah tidak bisa bergerak lebih jauh lagi,” ujar Rafandra akhirnya, suaranya pelan tapi tegas. “Kenapa?” tanya Rezvan, matanya menatap bayangan yang hampir tidak terlihat. Rafandra menunduk, menahan napas sejenak. “Pak guru, hati-hati. Di kegelapan ini sulit melihat lokasi, tapi saya merasa hanya bisa sampai di sini. Berbahaya jika dilanjutkan lagi. Sebaiknya kita kembali. Tunggu jika sudah terang saja.’’ Rezvan menatap Rafandra, menyadari keseriusan nada suaranya. Suara dedaunan kembali bergetar. Shhhrrkkk... sshhaa... Angin bergerak pelan, tapi konstan. Ia menyapu puncak-puncak pohon yang menjulang tinggi, menggugurkan tetesan embun dari sela-sela daun, jatuh pelan ke tanah lembap. “Abang dengar suara itu?” tanya Rezvan pelan, matanya masih menyapu sekeliling. “Serangga,” jawab Rafandra cepat. “Burung juga. Suasananya memang aneh… tapi inilah ekosistem hutan.” Rezvan mendengus kecil. “Hutan yang terlalu... hutan.” Rafandra menoleh. Alisnya sedikit terangkat mendengar celotehan itu. Dalam hati, ia mengakui: Rezvan cukup tenang untuk ukuran orang kota dalam situasi seperti ini. “Ya, ini hutan,” sahutnya tegas tapi santai. “Kalau benar ini masih wilayah sekitar jalan raya menuju IKN... maka itu masalah.” Rezvan menoleh cepat. “Maksud kamu, Bang?” Rafandra tak langsung menjawab. Ia menatap jauh ke balik kabut, lalu kembali menunduk, seolah memilih kata-kata. “Semoga saja saya hanya berspekulasi terlalu cepat... mengingat kita belum berjalan terlalu jauh.” “Hei,” potong Rezvan, suaranya meninggi sedikit, “saya tanya. Maksud omongan Abang tadi apa?” Rafandra menghela napas. “Seperti saya bilang tadi... saya berharap ini cuma asumsi. Dan saya belum mau menarik kesimpulan sebelum menelusuri lebih jauh. Jangan sampai kita buat kesimpulan prematur.” Rezvan diam. Keningnya mengernyit, wajahnya menunjukkan ketidaksabaran sekaligus keresahan. Ucapan Rafandra yang terpotong-potong justru membuat pikirannya semakin tak tenang. Naluri yang sejak tadi menekan dadanya terasa semakin jelas... dan ia takut, karena dalam diamnya, ia tahu: jika Rafandra benar, maka apa yang mereka hadapi bukan sekadar tersesat di hutan Kalimantan. “Tidak ada sampah atau sisa apa-apa. Tidak ada bekas jejak kaki atau tanda-tanda...” gumam Rafandra, matanya menyapu tanah dan sekeliling pohon. “Kita baru saja terguling, tapi seolah-olah kita dilempar ke tempat yang belum pernah dijamah manusia.” Ia menghela napas. Nada suaranya menurun. “Pak, apa Bapak merasa... ada yang aneh?” “Mengenai apa?” tanya Rezvan. Ia memeluk tubuh sendiri, sambil menggosok lengan yang mulai terasa kebas. “Saya sudah pakai jaket, tapi dinginnya tetap tembus.” “Hmm... benar. Ujung jari-jari saya juga mulai kebas.” Rafandra mengangkat tangan sejenak, memperhatikan kulitnya. “Dingin ini... terlalu menusuk. Bukan dingin biasa.” “Kalau itu, dari masih di dalam bus juga sudah terasa.” Rezvan mengangguk pelan. Rafandra melanjutkan dengan nada lebih serius. “Tapi suhu seperti ini... mustahil terjadi secara alami di Kalimantan, Pak. Kita ini berada di daratan rendah, dekat garis khatulistiwa. Ini harusnya hutan tropis lembap. Suhunya jarang turun drastis, bahkan di malam hari.” Ia menghentikan ucapannya. Sorot matanya berubah tajam. Wajahnya menegang. Rezvan langsung menangkap perubahan itu. “Kenapa? Ada apa?” “Kita harus kembali,” ujar Rafandra cepat, matanya tetap menatap jauh ke arah bus. “Anak-anak... mereka dalam bahaya.” “Bang! Jelaskan. Ada apa sebenarnya?” “Saya belum tahu pasti. Tapi satu hal jelas—suhu ini tidak wajar. Kalau tubuh terus-terusan terpapar dingin seperti ini, terutama anak-anak yang sedang tak sadar, mereka bisa mengalami hipotermia. Dan itu... sangat berbahaya.” Rezvan mematung sejenak. Ucapan Rafandra mengenai hipotermia seperti membangunkan kesadarannya. Ia ingat betul pelajaran dari masa lalu—saat aktif di PMR sekolah. Tubuh yang menggigil hebat, jari-jemari yang membiru, dan kulit yang perlahan kehilangan warna bisa mengarah pada kondisi darurat medis. “Hipotermia ringan bisa cepat berubah jadi berat…” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri. Lalu ia menatap Rafandra, nada suaranya berubah jadi lebih tegas, “Ayo. Kita harus kembali sekarang.” Tanpa perlu aba-aba lebih jauh, keduanya mulai bergerak. Langkah mereka cepat, namun tetap terkontrol. Jalur sempit yang menurun curam dan dipenuhi akar pohon serta semak-semak tidak memungkinkan mereka berlari. Tapi urgency sudah terasa. d**a mereka dihantam kekhawatiran—bukan oleh makhluk asing, tapi oleh sesuatu yang sangat manusiawi: nyawa anak-anak. Rezvan tergelincir sebentar, namun kali ini bisa menahan dengan cepat. Rafandra membantunya bangkit tanpa berkata apa-apa. Tak perlu kalimat. Waktu adalah musuh mereka. Ketika bayangan badan bus mulai terlihat di balik kabut yang perlahan menipis, mereka hampir bisa bernapas lega. Tapi hanya sesaat. Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar raungan berat gajah. Bunyi rendah itu bergema, bergetar di tanah, dan menembus pepohonan tebal. Rafandra berhenti, menahan napas. Rezvan menatap ke arah gelap, wajahnya tegang. “Gajah?!” suara Rezvan tercekat, nyaris tak terdengar. “Kedengerannya begitu…” Rafandra menekuk tubuh, tangan menggenggam korek gas rokok kecil yang menyala sebentar. Tak lama, dari arah berbeda, muncul raungan balasan, lebih tinggi, lebih cepat—seolah gajah lain merespons panggilan pertama. Gelombang suara itu membuat daun-daun bergetar, ranting patah, dan angin seolah ikut bergerak. Suara hewan lain mulai bergabung: Burung hutan berteriak dan terbang berhamburan dari kanopi, sayapnya memecah kesunyian. Seekor kera terdengar menjerit, melompat dari cabang ke cabang. Di tanah, dedaunan dan ranting bergerak-gerak; hewan kecil berlari menjauh, mungkin rusa atau babi hutan. Hutan tiba-tiba terasa hidup dan mengancam, setiap suara menambah ketegangan. Rafandra menunduk, menekan korek ke sakunya. “Tetap tenang… jangan buat suara keras,” bisiknya pelan. Nafas mereka terdengar keras, selaras dengan gema raungan yang datang silih berganti. Bus bergetar ringan. Suara dari dalam terdengar—teriakan pelan tertahan, seperti beberapa murid mendengar raungan itu juga. Rafandra langsung menarik lengan Rezvan, “Ayo! Kita harus naik sebelum mereka panik!” Mereka menaiki badan bus dengan lincah—keberuntungan latihan fisik masa lalu. Rezvan hampir selalu dibantu Rafandra menyusul tak lama kemudian. Di dalam bus, beberapa anak mulai bangun dengan wajah panik. Beberapa yang sadar sejak tadi memandang mereka dengan tatapan tegang. Rezvan menarik napas panjang, mencoba menenangkan. Tapi matanya masih menatap ke arah luar… ke kabut… ke arah suara yang belum selesai menggetarkan jantungnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD