**Bab 016: Api Unggun** Rezvan tersenyum. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya—bangga. Dalam waktu singkat, dalam situasi segenting ini, murid-muridnya telah bertindak begitu dewasa. Tak jauh darinya, Rafandra menyunggingkan senyum kecil. "Anak-anak sekarang pun ternyata bisa dewasa," gumamnya, pelan, sambil menepuk bahu Rezvan. "Maaf, saya sempat berpikir kalian cuma generasi manja yang ketergantungan gadget." Pak Marta menimpali dari balik bahu mereka. "Kesopanannya mungkin masih perlu ditingkatkan, tapi sejak tadi mereka berusaha keras untuk tidak jadi beban satu sama lain. Waktu kalian berdua keluar tadi, mereka sempat panik... tapi bisa mengatasinya sendiri. Saya kira itu luar biasa." Rezvan menoleh ke dua rekan dewasanya, senyum di wajahnya tak surut. "Ya," katanya lembut. "

