10.

1616 Words
    Hari ini aku berniat kabur untuk menghidari tes DNA tersebut, aku membawa semua barang yang bisa kubawa untuk pulang kekampung halamanku, tapi sayangnya baru tiga langkah aku keluar dari rumah aku bisa melihat Oh Sehun yang berdiri menyender dimobil hitamnya, ia melihatku dengan tatapan remeh begitu tahu aku membawa barang bawaan. "Mau kabur?" remeh Sehun dan merebut tas ku yang lumayan besar itu. "Besok-besok kalo mau kabur lebih pagi lagi" ucapnya dengan senyuman menyindirnya. "Mau dibawa kemana tasnya?" teriakku begitu Sehun membawa pergi tasku "Sekalian pindah ke apartemen gue aja, nggak tega gue ngelihat anak gue tinggal dilingkungan kumuh kaya gini" katanya yang membuatku sakit hati, ini bukan lingkungan kumuh bahkan kosanku sangat rindang. "Kenapa kita harus tes DNA disaat sudah jelas-jelas Sean bukan anak lo!" kesalku pada akhirnya, bagaimanapun juga aku harus memepertahankan anakku walaupun dari Ayahnya sekalipun. "Namanya Sean?" senangnya dan bermain dengan tangan kiri Sean "Mau lo apa sebenernya?" tanyaku pada akhirnya "Mempertahankan anak gue" jawabnya mantap "Nggak ada bukti kalo dia anak lo" sarkasku "Makanya sekarang gue mau tes DNA buat cari bukti" entengnya yang membuatku geram "Kenapa lo yakin banget kalo Sean anak lo?" "Cuma feeling" "Sean anak gue bukan anak lo!" tekanku sekali lagi "Lebih tepatnya anak kita!" jawabnya tak kalah menekan "Ayo kita berangkat dokternya udah nunggu" ucapnya dan memasuki kursi kemudi mobilnya.     Selama perjalanan aku hanya bisa memeluk erat Sean, aku tidak bisa membayangkan tangan mungil ini ditusuk jarum dan diambil darahnya, itu terlalu kejam. "Bisa kita ambil cara lain? Sean masih terlalu kecil untuk diambil darahnya" kataku yang masih memperhatikan bagaimana asiknya Sean memainkan jari telunjukku. "gue jijik kalau pakai air liur, sedangkan kalau pakai rambut Sean belum ada rambutnya" jawab Sehun yang malah membuatku semakin geram. “tenang aja, dokternya berpengalaman kok” lanjut Sehun "Nggak ada Ibu yang nggak khawatir kalo anaknya bakal diambil darahnya" ketusku “ini kan juga salah lo, kalo aja lo nggak nyembunyiin anak gue, gue nggak akan sampai sejauh ini” cecar Sehun     Sesampainya dirumah sakit sudah ada dokter kenalan Sehun yang menunggu kita, bahkan Mama Sehunpun sudah berada disana. Dengan senyuman tulusnya beliau mulai memelukku erat. Sehun mulai menjulurkan lengan kirinya untuk diambil sampel darahnya, sedangkan Sean susah sekali untuk membujuknya, seakan mengerti bahwa ia akan disuntik bayi berusia tiga bulan ini tak henti-hentinya menangis dan menolak menjulurkan tangannya.     Dengan bantuan suster akhirnya Seanpun juga mulai diambil sampel darahnya, tangisannya kian mengencang begitu jarum suntik itu menancap dan menyedot sedikit darahnya aku bahkan tidak tega melihatnya, setelah selesai aku segera mengangkat tubuh Sean yang semakin menangis kejar. "Maafin bunda ya, nak"ucapku yang ikut menangis, jujur aku tidak tega melihat Sean menangis kesakitan. "Coba disusui, Bu biar bayinya tenang" saran suster yang tadi mengambil sampel darah Sean.     Akupun segera menuju ruangan asi sesuai arahan suster tadi dan secepatnya menyusui Sean. Sean mulai tenang walaupun masih sedikit terisak. Setelah Sean tertidur aku memutuskan keluar dari ruangan asi dan berniat untuk pulang tapi aku malah menemukan Sehun tengah menyender di pintu ruang asi. "Udah selesai?" tanyanya yang kuangguki "Hasilnya keluar seminggu lagi" ucap Sehun "Boleh gue pulang?" tanyaku tak mengindahkan pernyataan Sehun tadi "Ayo gue anter" ajaknya "Nggak usah" tolakku "Barang lo masih digue kalau lo lupa" katanya yang membuatku ingat "Ayo, nggak usah nolak" ajaknya dan menarik tanganku     Selama perjalanan pulang kita hanya saling diam, aku sibuk mengelus Sean yang tengah terlelap sedangkan Sehun fokus dengan menyetirnya. Sesampainya dirumah kosan aku segera mengambil barangku dan keluar dari mobil tapi Sehun mencekalku sebelum aku masuk kedalam kosan. "Ini obat kalo nanti Sean demam" ucapnya dan menyerahkan sebotol sirup penurun demam Aku menerimanya, "Makasih" ucapku dan masuk kedalam kosan     Aku bisa melihat Sehun yang masih terdiam didepan kosanku dengan pandangan menerawang, cukup lama dia berdiri terdiam disana sebelum akhirnya dia benar-benar pergi. *** "Abis ketemu anak kenapa muka ditekuk banget?" tanya Tao yang heran dengan air muka Sehun yang terlihat suram. "Gue udah bikin anak gue nangis" sesal Sehun "Abis lo apain anak lo?" tanya Kai heboh "Tes DNA, anak gue nangis waktu disuntik" curhat Sehun "Jangankan disuntik Hun, bayi kalo popoknya basah juga pasti nangis" enteng Chanyeol "Terus lo mau ngenalin ke kita kapan Hun?" goda Tao "Nanti aja deh, Ibunya aja masih keukeuh bilang kalo itu bukan anak gue" kesal Sehun "Segitu bencinya tuh cewek sama lo sampe nggak ngijinin lo tahu anak lo sendiri" kekeh Chanyeol "Terus cewek yang lo taksir itu gimana Yeol?" tanya Tao mengubah topik "Nggak ada harapan gue, sampe sekarang gue masih diblokir, kayanya suaminya yang ngeblokir" kesal Chanyeol "Lagian lo suka sama bini orang, nyadar bego" ledek Kai "Lo juga bego" balas Chanyeol tak terima "Gue emang bego tapi nggak sampe suka sama bini orang" balas Kai yang membuat Chanyeol tak berkutik. "Gue cabut dulu" pamit Sehun "Mau kemana lo?" tanya Tao "Jenguk anak gue, biasanya bayi kalo abis disuntik suka demam" jawab Sehun dan pergi dari perkumpulan sesatnya.     Sehun mengendarai mobilnya menuju tempat tinggal buah hatinya dengan perasaan waswas. Ini sudah jam 9 malam apakah Lentera masih bangun?     Lampu kosan Lentera masih menyala terang dan Sehun juga bisa mendengar tangisan nyaring Sean yang menggema, sepertinya anaknya sedang demam. Sehunpun memutuskan menghubungi Lentera melalui via telepon, deringan kelima Lentera baru mengangkatnya. "Ngapain telepon malem-malem?" suara dari sebrang sana membuat hati Sehun menghangat. "Belum tidur?" tanya Sehun mengabaikan pertanyaan Lentera "Belum" ketus Lentera dari sebrang sana "Kenapa?" basa-basi Sehun "Sean demam jadi agak rewel" jawab Lentera yang sepertinya agak kerepotan itu. "Udah ya kalo emang gak ada yang penting gue tutup" ucap Lentera dari sebrang sana dengan suara tangisan Sean yang semakin mengeras.     Setelah menutup panggilan Sehun segera keluar dari mobilnya dan mengetuk pintu kosan Lentera. "Siapa?" teriak Lentera dari dalam, bukannya menjawab Sehun malah mengetuk pintu kosan Lentera lagi. "Siapa?" tanya Lentera lagi dibarengi dengan terbukanya pintu kosan tersebut. "Ngapain kesini?" tanya Lentera kaget dengan kehadiran Sehun     Sehun hanya terdiam mengabaikan pertanyaan Lentera, pandangannya terfokus kepada Sean yang masih menangis digendongan Lentera. "Boleh gue gendong?" tanya Sehun meminta izin "Udah malem mending lo pulang" usir Lentera "Anak gue sakit gak mungkin gue bisa tidur nyenyak" balas Sehun "Sean belum pasti anak lo" keukeuh Lentera "Emang lo pernah ngelakuin sama siapa lagi selain sama gue?" cecar Sehun yang telak membuat Lentera terdiam     Sebenarnya bisa saja Lentera berbohong dan menjawab asal tapi entah kenapa dia malah diam membeku dan membiarkan Sehun merebut Sean dari gendongannya. Ajaibnya Sean mulai tenang dan tidak menangis lagi, Sean mulai bernafas teratur dan semakin mengeratkan pegangannya pada kaos Sehun. "Boleh gue masuk, Sean butuh tidur" ucap Sehun yang membuat Lentera menyingkir memberi ruang agar Sehun bisa masuk.     Dengan hati-hati Sehun membaringkan Sean keranjang ukuran sedang yang muat dua orang itu dan Sean tidak melepaskan pegangannya pada kaos Sehun. "Udah dikasih obat?" tanya Sehun yang masih fokus bermain dengan jari-jari mungil Sean. "Udah" jawab Lentera "Makasih udah nidurin Sean, lo bisa pergi sekarang" usir halus Lentera     Dengan helaan nafas berat Sehunpun mulai bangkit dari tidurnya, tapi Sean mulai menangis begitu kaos bagian d**a Sehun yang ia pegang terlepas, dengan sigap Sehun kembali keposisi awalnya dan menepuk-nepuk pelan p****t Sean agar anaknya tertidur kembali. "Anak gue nggak mau ditinggal" kata Sehun yang membuat Lentera sedikit tersulut "Berapa kali gue bilang kalo Sean itu--" "Bukan anak gue? Sean bahkan langsung tidur begitu gue gendong, gak mau gue tinggal dan wajahnya juga mirip banget sama gue, lo yakin dia bukan anak gue?" sela Sehun mengintimadasi Lentera. Mendengar perkataan Sehun Lentera hanya bisa terduduk lemas disofa dekat ranjannya. "Segitu bencinya ya lo sama gue sampe lo nggak ngizinin gue tahu tentang Sean?" tanya Sehun yang dijawabi helaan nafas lelah oleh Lentera. "Gue cuma takut lo ambil Sean dari gue" jawab Lentera lirih "Jadi akhirnya lo ngaku kalo Sean anak gue?" dengus Sehun "Jangan pisahin gue sama Sean" tangis Lentera memohon "Kenapa juga gue harus pisahin anak sama Ibunya, udah jangan nangis bulan depan kita nikah lo tenang aja gue yang bakalan urus semua" ucap Sehun yang membuat Lentera menganga tidak percaya. "Malam ini biarin gue tidur disini, gue nggak mungkin ninggalin Sean yang lagi sakit" ucap Sehun mengabaikan Lentera yang masih terbengong. “gue pernah kesini sekali nganter Ibu-ibu yang antusias cerita tentang cucunya, waktu itu gue nggak tahu kalau yang dimaksud ternyata anak gue” gumam Sehun mengenang masa singkat bersama ibu-ibu yang ternyata adalah calon mertuanya. “emmm… gue tahu” balas Lentera yang membuat Sehun sedikit membalikkan badannya yang membelakangi Lentera. “cih, dari awal kayanya emang lo nggak pernah ada niatan nemuin gue sama Sean” cibir Sehun kesal.     Suasana mulai hening, tidak ada yang memulai pembicaraan lagi, hanya ada suara angin malam yang berhembus sebagai latar suasana saat ini. Pandangan Lentera terpaku pada sosok berbahu lebar yang membelakanginya itu, Sehun dengan mata teduhnya mengelus-elus Sean yang tengah tertidur dan sesekali mengecup kening Sean lembut, hati Lentera menghangat melihat pemandangan seperti itu, tapi disudut hatinya sana ada rasa bersalah yang kian meluap. Apakah orang itu masih menunggunya?     Rasa kantuk mulai menjalari tubuh Lentera, badannya terasa lelah dan matanya juga mulai memberat minta dipejamkan hingga akhirnya ia benar-benar terlelap diatas sofa.     Menyadari Lentera yang mulai tertidur Sehunpun berniat memindahkan tubuh Lentera ke ranjang, dengan pelan Sehun membisiki Sean yang tengah mendekur kecil itu "Ayah mau pindahin Bunda ke ranjang dulu, nanti kita tidur bertiga" bisik Sehun yang sukses membuat pegangan Sean padanya merenggang.     Sehun mengangkat tubuh Lentera dan memindahkannya kesisi kanan ranjang kemudian Sehun membaringkan dirinya di sisi kiri ranjang, Sean yang menjadi pembatas mereka. "Bunda kamu ringan banget, nak. Kamu jangan sering-sering ngerepotin Bunda ya biar Bunda agak berisi" bisik Sehun pada Sean. "Selamat malam anakku, selamat malam calon istriku"     Lampu tidur yang temaram menjadi saksi bisu bahwa kedua orang dewasa dan satu bayi laki-laki itu akan menjadi keluarga kecil yang bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD