Ibuku sudah pulang ke kampung halaman dua bulan yang lalu dan sekarang aku sudah cukup telaten untuk merawat Sean sendiri walaupun masih agak keteteran, Bu Miran pun tidak tinggal diam, beliau membibingku untuk merawat Sean dengan lebih baik.
Sudah 3 bulan usia Sean, kini dia sudah bisa tengkurap dan bermain dengan mainan pemberian Jinyoung pemilik Caffe tempatku bekerja dulu, Sean sangat senang bila diajak berbicara tak jarang ia menanggapi dengan ocehan-ocehannya yang menggemaskan itu. Aku merasa bangga dengan anakku, sepulangnya Ibu ke kampung Sean tidak pernah rewel dimalam hari lagi sehingga aku tidak perlu repot-repot begadang dan bisa menjaga pola tidurku.
Menjadi Ibu tunggal ternyata tidak semudah yang aku kira tapi tidak juga semenyedihkan yang banyak orang pikirkan dan Sean menjadi kekuatanku untuk bertahan, susah memang bahkan sangat melelahkan tapi senyuman tak berdosa Sean membuat rasa lelahku menguap begitu saja.
"Ra, hari ini pegawai Ibu ada yang gak bisa masuk, kamu ikut ke butik ya" kata Bu Miran setelah masuk kedalam kosku.
"Terus Sean?" tidak mungkinkan aku meninggalkan Sean dikosan.
"Bawa aja, nanti Ibu yang momong kamu yang kerja" cengir Bu Miran.
"Ya ya, terserah Ibu Ra Miran yang terhormat" pasrahku
"Cepet ganti baju" titah Bu Miran dan keluar untuk memanasi mesin mobilnya.
Setelah mengganti bajuku dan juga Sean aku keluar dan mengunci pintu kosanku, terlihat Bu Miran yang mengoleskan lipstick merah ke bibirnya yang membuat jiwa isengku keluar.
"Kurang tebel, Bu" tegurku sedikit berteriak yang membuatnya kaget
"Kamu ini hampir aja belepotan kan" omelnya yang membuatku terkekeh geli.
"Tumben dandan mau ketemu siapa?" godaku yang malah mendapat pitakan dan Sean malah terkekeh geli melihat Ibunya dianiaya.
"Nanti temen SMA Ibu mau kebutik, Ibu nggak mau keliatan tua" ceritannya
"Udah ayo berangkat" lanjutnya dan mulai menjalankan mobil.
Sesampainya dibutik sudah ada beberapa pekerja yang datang dan merapihkan butik, Bu Miran menyuruhku duduk diam sedangkan dia mengecek pakaian-pakaian yang baru dikirim.
"Temen Bu Miran dateng jam berapa?" tanyaku sedikit bosan, pasalnya Sean juga sudah tertidur di mobil tadi
"Jam 10 kenapa?" jawabnya yang masih sibuk
"Nggak kenapa-kenapa" helaku
"Kamu bosen?" tanya Bu Miran yang kuangguki
"Yaudah kalo gitu Sean siniin kamu yang kerja aja" ucap Bu Miran
"Jangan dibangunin ya" peringatku karena Bu Miran seringkali gemas dan malah membangunkan Sean dari tidurnya.
"Iya iya, udah sana kerja" kata Bu Miran yang membuatku menyerahkan Sean ke gendongan Bu Miran.
Dengan teliti aku melanjutkan pekerjaan Bu Miran dan menyusun baju-baju edisi terbaru yang baru saja datang, melelahkan memang tapi ini lebih baik ketimbang duduk diam.
"Udah selesai semua kan?" tanyaku pada salah satu pegawai Bu Miran yang dijawabi 'sudah' itu.
"Bu, ini udah jam 10 kok belum dateng?" tanyaku kepada Bu Miran sedikit berbisik agar Sean tidak bangun.
"Katanya masih nunggu anak cowoknya. Sebenernya Ibu ngajak kamu juga mau ngenalin kamu sama anaknya" perkataan Bu Miran membuatku mendengus geli.
"Ibu mau nyoba jodohin Tera? Yang ada cowoknya kabur duluan begitu tahu Tera udah punya buntut"
"Ya kan dicoba dulu Ra, emang kamu mau terus-terusan sendiri? Sean juga butuh sosok Ayah" nasihat Bu Miran
"Tera bisa jadi sosok Ibu sekaligus Ayah buat Sean” kataku sedikit sarkas
“ada waktunya nanti Sean akan nanya siapa Ayahnya, dimana Ayahnya. Apa kamu bisa jawab?” cecar Bu Miran
“udahlah Tera mau ke kamar mandi" kesalku. Memang benar apa yang dikatakan Bu Miran, tapi jujur aku tidak mau memikirkannya, orang tua Sean hanya aku seorang, tidak ada yang lain.
Aku menghabiskan waktu cukup lama dikamar mandi hanya untuk menenangkan pikir, aku masih tidak habis pikir bagaimana bisa Bu Miran mempunyai niatan seperti itu. Aku tahu beliau khawatir tapi tetap saja rasanya ini bukanlah tindakan yang benar. Setelah benar-benar tenang aku kembali menyusul Bu Miran yang ternyata sudah berbincang dengan wanita cantik seusia Bu Miran, dandanannya sangat glamour pantas saja Bu Miran tidak mau kalah.
"Bu, Sean udah bangun?" tanyaku menyela obrolan mereka
"Iya, ini dia nyariin kamu" jawab Bu Miran sembari menyerahkan Sean kepadaku.
"Ini namanya Lentera yang tadi aku ceritain" ucap Bu Miran memperkenalkanku.
"Oh…. cantik ya kamu, jadi inget jaman masih muda dulu” guraunya dan mencubit gemas kedua pipiku.
“Sean juga lucu banget. Kamu hebat bisa jadi Ibu tunggal diusia semuda ini" imbuhnya dengan senyuman tulusnya, sepertinya Bu Miran sudah cerita yang tidak-tidak selama aku dikamar mandi tadi.
"Anak kamu mana?" tanya Bu Miran ke wanita itu
"Aku suruh dia bawa donat yang tadi aku beli buat kamu nggak tahu kenapa lama banget, padahal cuma dimobil" jawab wanita itu sedikit kesal
"Nah itu dia" seru teman Bu Miran yang melihat anaknya memasuki butik.
Tubuhku menegang seketika begitupun juga Bu Miran.
"Bukannya dia pewaris tunggal Oh Company?" tanya Bu Miran memastikan
"Kan aku udah bilang dulu kalo aku nikah sama pemilik Oh Company" jawab wanita itu sedikit terkekeh
"Jadi kamu gak bohong waktu itu?" kaget Bu Miran yang baru mengetahui kenyataan.
"Ya enggaklah ngapain bohong juga kalo masalah kaya gituan" jawab teman Bu Miran yang membuatku semakin panik
"Kenapa lama banget sih kan Mamah nungguin" omel wanita itu
"Kenalin ini anakku namanya Oh Sehun" ucap teman Bu Miran memperkenalkan anaknya itu.
Laki-laki bernama Oh Sehun itu terus menatapku dengan pandangan menyelidik. Semoga saja dia tidak mengingatku.
"Bu, Tera pulang dulu ya" pamitku buru-buru.
"Iya, cepetan kamu pulang sana, hati-hati" jawab Bu Miran panik
Aku melangkah dengan cepat dan memeluk erat Sean, sampai sebuah tangan menghentikan langkahku.
"Bisa bicara sebentar?" tanyanya serius, aku hanya bisa semakin menunduk agar dia tidak mengenaliku.
"Maaf saya buru-buru" alasanku, waktu itu dia mabuk tidak mungkinkan dia mengingatku?
"Tapi ini penting" ucapnya sekali lagi yang semakin membuatku panik.
"Kalian udah kenal?" tanya Ibu Sehun itu dengan senyuman sumringahnya.
"Yaudah Sehun daripada kamu bosen kamu ngobrol aja sama Lentera yang cantik ini" kata beliau dan menggandeng Bu Miran untuk menjauh
"Tapi--" Bu Miranpun berusaha menyela
"Udah biarin yang muda ngobrol" sayangnya Ibu dari Oh Sehun ini tidak bisa disela.
"Ayo" ajaknya dan mengeratkan pegangannya kelenganku, masalah apalagi ini?
Sehun menyuruhku memasuki mobilnya dengan sedikit memaksa, entah dia akan membawaku kemana yang jelas kini ia mulai menjalankan mobilnya dan jangan lupakan air mukanya yang menakutkan itu.
Setelah berada dikawasan yang lumayan jauh dari butik Sehun pun menghentikan mobilnya, tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya ia hanya menatap lurus kedepan dengan nafas memburu seperti sedang menahan amarah.
"Ngapain kita kesini?" tanyaku sedikit bergetar, jujur aku takut.
"Nggak mungkinkan kita ngomong didepan dua wanita tua itu" jawabnya enteng
"Kalo ada yang perlu diomongin cepetan saya nggak punya waktu" ucapku sembari mengeratkan pelukanku ke Sean
"Dia anakku kan?" tanyanya yang semakin membuatku gugup
"Bukan!" jawabku tegas
"Kalo pembicaraan ini tidak penting lebih baik saya permisi" imbuhku dan berniat keluar dari sini, tapi sialnya Sehun lebih dulu mengunci pintu mobilnya yang membuatku tidak bisa kabur.
"Kalo gitu ayo kita tes DNA" keukeuhnya.
"Saya tidak kenal siapa anda, dan ini anak saya bukan anak anda!" bentakku
"Lebih tepatnya anak kita" sela Sehun yang membuat dadaku sesak, apa maunya sebenarnya.
Baru saja aku akan melontarkan protesanku kembali tapi ponsel Sehun berbunyi adanya panggilan masuk.
"Ayo kita balik kebutik" putusnya dan kembali mengemudikan mobilnya.
Aku semakin takut, badanku terus-terusan bergetar, pelukanku ke Sean semakin kueratkan aku berusaha untuk tidak menangis. Aku benar-benar takut kehilangan Sean.
Sesampainya dibutik Sehun menggenggam tanganku dan membawaku kehadapan Ibunya.
"Kamu habis bawa anak orang kemana?" omel Ibunya
"Mah, besok Sehun mau tes DNA"