Sudah seminggu semenjak aku melahirkan, Ayahku sudah pulang setelah tiga hari disini, padahal aku masih kangen.
Selama seminggu ini aku tidak bisa tidur dengan pulas karena Sean terus-terusan menangis dimalam hari, entah itu karena ngompol atau lapar dia langsung menangis, lingkaran hitam dimataku menjadi bukti bahwa aku memang selalu terjaga setiap malam.
“Sean udah tidur lagi?” Tanya Ibu disela keributannya yang hendak pergi ke pasar
“iya” jawabku lemas kemudian menguap lebar.
"Kamu ikut tidur anak kamu aja, Ibu sama Bu Miran mau belanja dulu" kata Ibu sebelum menutup pintu kamarku.
Mataku memang sangat berat tapi ini baru jam 9 pagi apa tidak apa-apa aku tidur lagi, kata orang tua jaman dulu itu tidak baik, ah mungkin lebih kearah tidak pantas, tapi mataku benar-benar sudah sangat berat bahkan mataku sudah agak kemerahan menahan kantuk.
***
Weekend memang waktu yang pas untuk olahraga kecil seperti jogging, baru saja ia akan pulang tapi panggilan maut membuatnya jengkel. Entahlah Sehun juga heran kenapa teman-temannya itu selalu menjadikan apartemennya sebagai markas kumpul mereka.
Kali ini mereka ingin mencoba membuat resep turunan dari nenek Kai, dan sekarang Sehun dipaksa berbelanja dipasar swalayan sebelum pulang, seharusnya Sehun bisa saja menolak permintaan teman-temannya dan mengusir mereka tapi jiwa ke-setia kawanannya sudah mendarah daging makanya Sehun iya iya saja saat dimintai temannya walaupun sedikit kesal.
Sehun sudah membeli semua bahan yang ada didaftar belanja yang Kai kirimkan, hanya satu yang belum, daging ayam bagian d**a, entahlah mereka mau membuat apa yang jelas kalau dapurnya sampai berantakan dan rasa makanan yang akan mereka ciptakan nanti amburadul Sehun akan meminta uang denda lima kali lipat.
Setelah mengantri cukup lama hanya untuk mendapatkan daging ayam bagian d**a Sehunpun mulai keluar dari desakan Ibu-ibu yang cukup ganas itu. Dengan langkah cepat Sehun mengarah ke mobilnya dan memasukan semua belanjaannya kedalam bagasi. Pandangan Sehun teralihkan kepada seorang Ibu yang tergopoh-gopoh menenteng belanjaannya yang banyak, Sehun jadi teringat Mamanya yang cerewet itu.
"Sini Bu biar saya bantu" tawar Sehun yang sudah mendekat kearah Ibu tersebut.
Sedangkan yang ditawari pertolongan malah menatap kearah Sehun dengan pandangan curiga.
"Saya bukan orang jahat kok Bu, mari saya bantu" jelas Sehun dan menawarkan bantuannya lagi.
“maaf ya nak, Ibu juga nggak bermaksud berburuk sangka, tapi kata anak Ibu, Ibu kota itu bahaya jadi Ibu Cuma waspada aja” terang Ibu-ibu tersebut yang membuat Sehun tersenyum maklum
“nggak papa kok Bu, Ibu kota emang bahaya tapi tenang aja saya nggak ada niatan jahat kok, saya nolong Ibu murni karena inget Mamah saya dirumah”
Setelah mendapat persetujuan dari Ibu tersebut Sehun berjalan disamping Ibu itu dan membawakan semua belanjaannya.
"Ibu sendirian?" tanya Sehun sekedar berbasa-basi
"Iya, temen Ibu tadi harus buru-buru pergi ada urusan mendadak" jawab Ibu itu.
"Ibu naik apa pulangnya?" tanya Sehun lagi.
"Palingan naik taksi, makasih ya, Nak udah bantuin Ibu"
"Kalo gitu saya anterin aja Bu, itu mobil saya disana" ucap Sehun menawarkan tumpangan.
"Nggak usah, Nak nanti ngerepotin kamu" tolak Ibu tersebut.
"Nggak papa kok, Bu" kata Sehun dengan senyuman hangatnya.
"Aduh kamu udah baik ganteng juga, kalo anak Ibu belum punya anak udah Ibu nikahin kamu sama anak
Ibu" gemas Ibu itu yang membuat Sehun tersenyum malu.
Berbeda dengan Mamanya yang cerewet dan kental akan gaya sosialitanya, Ibu ini sangat kalem dan tenang, sebenarnya Sehun menginginkan sosok Ibu yang seperti ini bukan biang ricuh seperti Mamanya, tapi mau bagaimana lagi ia harus terima lagipula walaupun Mamanya sangat cerewet Sehun sangat manyayangi Mamanya.
Sepanjang perjalanan Ibu-ibu tersebut tak henti-hentinya bercerita tentang cucunya yang baru berusia seminggu itu, dan itu sukses membuat Sehun merasa bersalah dengan Mamanya, hal yang paling diinginkan Mamanya adalah seorang cucu tapi Sehun tak pernah mengindahkan keinginan Mamanya tersebut bahkan dia sering kali marah setiap kali Mamahnya mendesaknya untuk menikah, Sehun kini sadar kalau dia bukanlah anak berbakti.
15 menit berlalu, Sehun kemudian menepikan mobilnya disebuah kos-kosan yang Ibu itu tunjukkan tadi dan membantu Ibu tersebut membawakan belanjaannya sampai teras depan.
...
Mendengar deru mesin mobil yang mendekat akupun mengintip sedikit dari jendela ruang tamu, diluar sana terdapat mobil mewah berwarna hitam menepikan mobilnya didepan kos-kosanku dan tak lama kemudian Ibuku keluar dari dalam sana.
Siapa? Kenapa bisa bareng Ibu? Hanya pertanyaan kecil itu yang berkutat diotakku, aku hanya bisa melihat punggung lebar seorang laki-laki yang membawakan barang belanjaan Ibu.
Dan betapa terkejutnya aku setelah laki-laki itu berbalik, dia adalah Oh Sehun ayah dari bayi yang kulahirkan seminggu yang lalu, aku hanya bisa membekap mulutku sendiri agar tidak mengeluarkan suara.
Bagaimana bisa Ibu bersama dia? Bagaimana kalau dia tahu tentang Sean dan berniat mengambilnya dariku?
Berbagai buruk dan absurd terus berputar dikepalaku, aku tidak tahu harus bagaimana ini sangat mendadak dan mengejutkan. Untungnya Sehun hanya membawakan belanjaan Ibuku sampai teras depan, aku bisa mendengar sayup-sayup percakapan mereka sebelum Sehun pergi.
"Maaf ya, Ibu nggak bisa ngajak kamu masuk, disini isinya perempuan semua, nggak enak sama omongan tetangga" ucap Ibuku dengan nada menyesalnya.
"Nggak papa kok, saya ngerti" jawab Sehun sopan
"Sebenernya Ibu mau kenalin kamu ke anak Ibu tapi kayanya dia ikutan tidur anaknya" sesal Ibu lagi
"Kalo gitu saya permisi ya, Bu" pamit Sehun dan pergi melesat dengan mobil mewahnya.
Setelah kepulangan Sehun Ibu segera masuk kedalam dan terkaget kala melihatku mengamping dibalik jendela "Kamu ngapain disini? Kalo udah bangun kenapa nggak keluar tadi kan ada tamu?"
"Ibu kenapa mau dianterin sama orang nggak dikenal?!" marahku
"Dia orang baik kok buktinya Ibu pulang dengan selamat" jawab Ibu santai
"Ini Ibu Kota, Bu, nggak ada orang baik" marahku lagi.
"Udah, Ra, Ibu tahu kamu khawatir tapi Ibu baik-baik aja. Toh sekarang Ibu bisa pulang dengan keadaan baik" kata Ibu
"Terserah Ibu, deh" ambek ku.
"Ra, tapi setelah Ibu lihat- lihat, Sean mirip lho sama laki-laki tadi, yah semoga aja anak kamu nanti bisa sebaik dan seganteng laki-laki tadi, siapa namanya tadi Sehun?" perkataan Ibu sukses membuatku menegang.
***
"Lama banget lo beli ginian doang juga" omel Kai yang melihat Sehun pulang sangat terlambat.
"Nggak usah cerewet, kalo mau masak, masak aja sana. Jangan rusuhin dapur gue!" peringat Sehun
"Mau kemana lo?" tanya Chanyeol yang melihat Sehun beranjak.
"Mau mandi" jawab Sehun yang sedang berjalan memasuki kamarnya.
Setelah Sehun selesai mandi ia berniat menengok hasil karya temannya tapi Sehun tidak mendapati apa-apa, ia hanya menangkap pemandang ketiga temannya tengah melahap mie instan sepanci dengan pandangan fokus kearah televisi.
Menguapkan rasa kesalnya Sehun pun ikut duduk dilantai bersama teman-temannya dan berniat bercerita tentang Ibu-Ibu yang ia temui tadi.
"Gue tadi ketemu sama Ibu-Ibu" awal cerita Sehun.
"Lo sukanya sekarang sama Ibu-Ibu?" celetuk Kai yang mendapat getokan sendok dari Tao
"Gue salah apa sih sampe lo getok?! Sakit bego!" marah Kai
Mengabaikan masalah Kai, Sehunpun mulai bercerita lagi.
"Kalian semua tahukan kalo gue pengen punya Ibu kalem bukannya Mamah ricuh gue?"
"Sayangnya tadi gue nggak bisa lama-lama gara-gara belanjaan yang lo titipin malah nggak lo masak itu" sindir Sehun
"Susah Hun bikinnya ternyata, jadi gue nyerah padahal gue udah yakin bisa masaknya" kata Kai membela diri.
"Lain kali lo coba dulu dirumah lo baru lo praktekin disini" tegur Sehun yang membuat Kai semakin cemberut. Tapi tidak apa-apa Kai tetap tampan.