07.

1121 Words
"Ayah mana, Bu?" tanyaku pada Ibu setelah berpelukan cukup lama. "Ayahmu diluar" jawab Ibu yang membuatku kembali terisak, sepertinya Ayah sangat marah padaku sampai tidak sudi untuk masuk keruang perawatanku. "Sejak kapan Ibu tahu kalau Tera hamil?" tanyaku lagi "Setelah Bu Miran nganterin kamu periksa dia langsung ngasih tahu Ibu" jawab Ibu sembari mengelus kepalaku. "Terus kenapa Ibu nggak marahin Tera?!" marahku, jujur aku sangat malu "Kamu sendiri kenapa nggak ngasih tahu Ibu? Ibu nunggu kamu ngomong sendiri ke Ibu sama Ayah" perkataan Ibu membuatku merasa sangat bersalah. "Tera malu Bu" lirihku "Bu, kalau nanti Tera udah dibolehin pulang, Ibu harus mukul Tera" lanjutku "Ibu memang kecewa sama kamu tapi bukan berarti Ibu akan langsung ringan tangan buat mukul kamu, kenapa juga Ibu harus nyakitin anak Ibu sendiri" kalimat yang Ibu lontarkan membuatku tertohok, aku sudah gagal menjadi anak berbakti.     Pintu kembali terbuka menampilkan seorang suster dengan bayi digendongannya, "Anak kamu udah dateng, sana susuin" ucap Ibu     Akupun mengambil alih gendongan atas anakku, mukanya sangat merah. Ini pertama kali aku menyusui dan rasanya sangat aneh. Menyadari gelagatku Ibupun tersenyum dan bertanya "geli ya?" yang hanya bisa ku angguki. "Ibu nggak nyangka bakalan jadi nenek secepat ini" gumam Ibu yang masih menatap anakku lembut. "Tera juga nggak nyangka bisa jadi Ibu secepet ini" balasku yang mendapat kekehan dari Ibu. "Kamu udah siapin nama?" tanya Ibu yang kuangguki antusias. "udah Bu, namanya Sean, dalam bahasa Irlandia artinya Hadiah dari Tuhan" jawabku sembari mengelus rambut tipis anakku. "Bu, Ayah marah banget ya sama Tera?" tanyaku memberanikan diri "Enggak kok" jawab Ibu tenang "Terus kenapa Ayah nggak mau masuk kesini?" tanyaku lagi sedikit merajuk. "Sejak kamu ngelahirin tadi Ayah kamu nangis terus, dan sekarang dia nggak mau masuk karena mukanya merah matanya juga bengkak" jawab Ibu yang membuatku tidak percaya, selama aku menjadi anak Ayah aku tidak pernah melihat Ayahku menangis. "Ibu bohong" ucapku tak percaya "Kamu nggak percaya sama Ibu?" "Ya nggak mungkinlah Ayah nangis" kataku. "Yaudah kalo kamu nggak percaya" jawab Ibu tak peduli dan menyenandungkan tembang untuk Sean. "Kamu ikut pulang Ibu kan, ke rumah?" tanya Ibu yang membuatku bingung mau menjawab apa. "Kayanya nggak sekarang deh Bu, kalo Tera pulang sekarang keluarga kita malah dapet gunjingan dari orang-orang, lagian Sean juga baru lahir Tera nggak tega bawa dia perjalanan jauh" jawabku "Yaudah kalo itu keputusan kamu, tapi Ibu nggak bisa lama-lama disini palingan cuma sebulan" balas Ibu "Ngga papa kok Bu, Ayah juga kan?" "Nggak, ayahmu harus kerja, tiga hari lagi Ayahmu pulang" jawaban Ibu membuatku mengerucutkan bibir. "Kok cepet banget, kan Tera masih kangen" rajukku "Makanya pulang" sindir Ibu "Iya iya, nanti kalo Sean udah kuat diajak perjalanan jauh Tera bakal pulang" janjiku "Tabungan kamu masih kan?" tanya Ibu sedikit khawatir. "Masih banyak kok Bu, selama Tera hamil Bu Miran nggak narik uang kosan katanya hadiah buat anak aku" cengirku "Kamu yang baik ya sama Bu Miran dia udah baik banget sama kamu" pesan Ibu yang kuangguki. "Cucuku mana?" tanya Bu Miran yang dengan hebohnya masuk ruang rawatku. "Lagi nyusu" jawab Ibu "Aduh lucunya" gemas Bu Miran. "Bu Miran habis dari mana kok baru kelihatan?" tanyaku pada Bu Miran. "Abis ngurus administrasi" jawab Bu Miran yang membuat mataku membulat sempurna. "Bu Miran bayarin biaya lahiran Tera?" tanyaku untuk memastikan. "Ibu bayarin anak kamu bukan kamu" elak Bu Miran "Tetep aja--" "Kalo kamu merasa hutang budi besarin anak kamu dengan baik" sela Bu Miran. *** "Sejak kapan Sehun bisa tidur nyenyak kaya gitu?" heran Tao yang melihat sahabatnya meringkuk dengan nyamannya, bahkan mereka bisa mendengar dengkura halus yang mengalun dari Sehun. "Lo yakin dia nggak mati?" timpal Kai "Kai, sekali-kali lo kalo ngomong dipikir dulu dong" kesal Chanyeol "Gimana mau mikir otak aja nggak punya, mendingan patrick kemana-mana daripada Kai walaupun Patrick otaknya suka pindah kemana-mana seenggaknya dia punya otak" sindir Tao yang amat sangat kesal. "Ini udah jam 12 siang, dan Sehun belum bangun juga ya kemungkinannya cuma satu dia mati" jawab Kai dengan muka begonya. "Punya temen gini amat ya" keluh Tao. "Udah ayo balik jam makan siang udah mau abis" ajak Chanyeol "Bisa ngamuk abis-abisan tuh anak kalo tahu dia bolos kerja" kekeh Tao "Gue disini aja ya takut Sehun bangun" kata Kai yang dengan santainya duduk disofa ruang tengah Sehun. "Eh tai ayam gimana perusahaan lo mau maju kalo lo males-malesan kaya gini!" maki Tao "Lo mau balik apa gue cariin banci?" ancam Chanyeol, ya Kai memang agak jijik dengan banci karena waktu SMA ia pernah digodain banci sampai dikejar-kejar. "Sadis lo bawa-bawa banci" ambek Kai dan berjalan mendahului Tao dan Chanyeol yang tengah tergelak di belakang. ...     Sehun bangun dari tidur nyenyaknya tepat pukul 1 siang, ini sudah kali kedua Sehun bisa tidur dengan nyenyak sejak 5 tahun yang lalu.     Pertama kali Sehun bisa tidur nyenyak yaitu setelah ia menghabiskan malam panas dengan wanita itu dan yang kedua adalah sekarang.     Sehun bangun dengan mood yang sangat bagus, bahkan ia tidak peduli akan fakta bahwa ia tidak bekerja hari ini, padahal Sehun termasuk salah satu orang penggila kerja.     Sehun segera beranjak dari ranjangnya dan membersihkan diri, setelahnya ia berjalan-jalan sembari mencari makan, setelah tidur dengan waktu yang cukup lama Sehun merasa perutnya keroncongan.     Panas matahari sangat terik tapi itu tidak mampu menyurutkan senyuman merekah Sehun, disepanjang jalan ia selalu tersenyum tak heran banyak pelintas jalan yang berjenis kelamin betina memekik senang mendapat ukiran senyum dari laki-laki setampan Sehun.     Setelah menemukan restoran yang sesuai dengan seleranya Sehun segera duduk disalah satu meja kosong dan segera menghubungkan panggilan ke Kai. Baru saja 2 kali nada sambung berdengung Kai sudah mengangkatnya. "Lo udah bangun?" antusias Kai dari sebrang sana yang dibalas deheman oleh Sehun. "Kalo lo nggak sibuk temenin gue makan, gue kirim lokasinya" ucap Sehun dan memutuskan panggilan. 30 menit setelah Sehun mengirimkan lokasinya Kai sudah datang dengan setelan rapihnya sehingga banyak pelanggan yang memusatkan pandangan ke Kai dengan tatapan kagum. "Lo yang traktir kan?" tanya Kai begitu duduk didepan Sehun. "Terserah lo mau makan apa juga" jawab Sehun. "Ada angin apa lo mau traktir gue?" heran Kai. "Pesen sana mumpung gue lagi seneng" kata Sehun "Seneng kenapa?" heran Kai lagi "Nggak tahu" jawaban yang tidak memuaskan. "Tadi malem lo deg-degan sampe katakutan sekarang lo seneng kaya orang gila, sebenernya lo kenapa sih Hun?" tanya Kai yang semakin bingung "Makan aja nggak usah banyak omong" tukas Sehun "Wah kayanya lo beneran ketempelan" perkataan Kai hanya bisa membuat Sehun memutar mata bosan. “Nyesel gue manggil lo” kesal Sehun "Gue tinggal lo kalo ngomong terus" peringat Sehun pada akhirnya. "Nggak bisa Hun, ayo gue anter lo ke psikiater" Kai memang minta di tampol Sehun hanya bisa memelotot kearah Kai yang sudah berdiri "Iya gue makan, nggak bakalan ngomong lagi" takut Kai dan kembali mendudukkan diri. Aura Sehun memang menakutkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD