06.

1032 Words
    Perutku sudah sangat besar dan sulit untuk beraktifitas, dibulan ke-6 dan ke-7 aku masih bisa melakukan olahraga kecil setiap pagi seperti jogging atau hanya sekedar pemanasan, tapi begitu memasuki bulan ke-8 aku sudah mulai keberatan, setiap malam aku tidak pernah bisa tertidur dengan benar-benar lelap karena posisi yang kurang nyaman.     Diusia kandunganku yang sudah sembilan bulan ini kegiatanku hanya tiduran dan berleha-leha di depan tv, bukannya aku bermalas-malasan tapi memang aku sekarang mudah lelah, bahkan hanya mengambil air minum didapur saja aku sudah banyak berpeluh, jika aku tahu jadi Ibu seberat ini aku tidak akan pernah melawan Ibuku bahkan sampai kabur seperti ini, ah aku benar-benar putri yang nakal.     Jika sesuai perhitungan, lusa adalah jadwalku melahirkan, yah akhirnya anakku yang lucu akan melihat dunia, tapi ada satu hal yang selalu mengganggu pikiranku dan itu juga salah satu alasan aku tidak bisa tidur. Bagaimana caranya aku memberi tahu orang tuaku tentang bayi ini? Pikiranku benar-benar mampet. "Ayo makan malam" ajak Bu Miran setelah menyelesaikan masakannya. "Minum s**u aja ya, Tera nggak nafsu makan" pintaku yang malah mendapat pelototan maut. "Siapa juga yang mau ngasih makan kamu, Ibu mau ngasih makan cucu Ibu" Bu Miran memang kadang pedas mulutnya.     Dengan malas akupun memakan masakan Bu Miran yang sebenarnya terasa enak tapi entah kenapa aku tidak bernafsu seperti biasanya. "Makan yang bener, kamu harus ngumpulin tenaga bentar lagi kamu lahiran" tegur Bu Miran yang membuatku melahap makananku. "Ini susunya minum habis itu tidur" ucap Bu Miran sembari memberiku s**u Ibu hamil rasa stroberi itu. "Ini masih jam 8" jawabku cuek "Jangan bantah" tegur Bu Miran lagi. "Bu, perut Tera kok mules ya" aduku setelah meminum s**u. "Kamu habis makan apa emang? Sana kekamar mandi" omel Bu Miran.     Sudah 15 menit aku berdiam diri di kamar mandi tapi tidak ada yang keluar dan anehnya perutku malah semakin terasa mulesnya bahkan sampai sakit. "Bu perut Tera makin lama kok makin sakit" aduku setelah keluar dari kamar mandi dengan keringat dingin. "Yaampun Tera, muka kamu pucet banget" panik Bu Miran dan segera menghampiriku "Sakit" erangku, nafasku terasa berat dan juga keringat dingin semakin deras bercucuran didahiku. "Jangan-jangan bayi kamu mau lahir! Ayo kerumah sakit!" panik Bu Miran. *** "Kok gue deg degan ya" ucap Sehun yang sedang memegang d**a kirinya yang tiba-tiba bertalu sangat kencang. "Deg degan kenapa? Jatuh cinta lo?" celetuk Kai yang selalu ngawur. "Nggak ada cewek disini" sahut Tao melanjutkan kengawuran Kai, mereka saat ini tengah berada di caffe yang memang pelanggannya malam ini sedikit dan hanya berisikan laki-laki saja. "Deg degannya kaya gimana emang?" tanya Chanyeol setelah menyeruput kopi hitamnya. "Nggak tahu" jawab Sehun dengan muka pucatnya. "Lo sakit Hun?" tanya Kai memastikan, pasalnya Sehun mengeluarkan keringat dingin saat Kai menyentuh keningnya. "Nggak" jawab Sehun yang semakin panik tanpa alasan. "Ayo pulang, kayanya lo nggak enak badan" khawatir Tao "Kalian temenin gue diapartemen, gue takut" perkataan Sehun membuat mereka membelalak tak percaya, seorang Oh Sehun bisa ketakutan tanpa alasan? "Lo... Takut?" Tao memastikan pendengarannya, siapa tahu ada setan budek yang menutupi kupingnya sehingga ia salah dengar. "Wah kayanya Sehun ketempelan" omongan Kai memang tidak pernah bermutu.     Sesampainya diapartemen rasa gugup Sehun semakin menjadi sampai tenggorokannya terasa kering. Sehun segera mengambil botol air berukuran satu litter setengah dari dalam kulkasnya dan hebatnya Sehun menghabiskannya dalam sekali teguk.     Chanyeol, Kai, dan Tao hanya bisa tertegun melihat aksi temannya yang diluar nalar itu, mereka semakin panic melihat keadaan Sehun. "Lo kenapa sih Hun?" tanya Chanyeol yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya itu.     Tangan dan kaki Sehun mulai bergetar pikirannya melayang kepada wanita yang ia tiduri beberapa bulan yang lalu, adakah hubungannya dengan wanita itu? Entahlah yang jelas Sehun kini merasa frustasi dengan rasa gugup yang baru pertama kali ia rasakan ini bahkan ia tidak tahu alasannya apa. "Kayanya lo butuh istirahat" ucap Tao dan mengantar Sehun kekamarnya. "Jangan kemana-mana, malam ini nginep disini" kata Sehun memperingati teman-temannya sebelum memasuki kamarnya.     Sebenarnya ini cukup membingungkan, Sehun bersikap tidak sewajarnya dia, dan sekarang dia malah menyuruh teman-temannya untuk menginap padahal dulu dia selalu mengusir teman-temannya dari apartemennya.     Ketiga orang yang berada diruang tengah apartemen Sehun itu semakin bingung dengan perilaku Sehun, bahkan saking bingungnya Kai sudah memperbarui akun instgramnya dengan hashtag #adaapadengansehun. "Kamar tamu Sehun cuma satu, yakin mau numpuk tidur disini?" tanya Tao menatap Chanyeol dan Kai "Sehun temen kita dan sekarang dia lagi nggak waras masa mau lo tinggal" jawab Kai yang asik menscroll ponselnya "Terpaksa malam ini kita tidur disini demi Sehun" sahut Chanyeol. "Yaudah gue tidur dulu kalo gitu" ucap Tao dan menuju kamar tamu Sehun, Chanyeol dan Kai pun akhirnya memilih mengikuti jejak Tao.     Sementara didalam kamarnya Sehun tak henti-hentinya mondar mandir, dia tidak bisa diam rasa gugup yang ia alami membuatnya tidak bisa duduk tenang. Sehun sudah mencoba mandi air dingin untuk menyegarkan pikirannya agar rasa gugup yang aneh itu hilang tapi hasilnya nihil.     Sehun tidak bisa berbuat apa-apa, dia bahkan menggigit jari jempolnya saking gugupnya sembari ia mondar-mandir.     Tepat jam 4 subuh Sehun merasa dirinya mulai tenang, sudah empat jam lebih dia menangis karena rasa gugup bercampur takutnya itu, Sehun akhirnya bisa mendudukkan dirinya dikasur empuknya.     Sedikit demi sedikit perasaannya mulai membaik bahkan sekarang ia bisa tersenyum nafasnya pun mulai berhembus dengan tenang tidak memburu seperti tadi, dan keanehan pun terjadi lagi Sehun merasa sangat senang sampai ia meneteskan air mataya lagi, entahlah dia juga bingung dengan perubahan moodnya yang sangat drastis, sampai akhirnya Sehun bisa terlelap dengan nafas teratur, dia terlihat sangat damai. ***     Tepat pukul 4 subuh terdengar suara tangisan bayi yang sangat nyaring dipenjuru rumah sakit, aku ingin melihat anakku tapi aku sangat lemah, tenagaku terkuras habis untuk manyambutnya.     Sembari menunggu anakku yang dibersihkan oleh suster aku beristirahat dan mengumpulkan tenagaku, air mataku meleleh aku sangat bahagia aku tidak sabar menunggu anakku, dokter Minseok bilang anakku laki-laki, semoga dia bisa menjadi laki-laki yang hebat dan bertanggung jawab suatu hari nanti.     Pintu tempatku dirawat terbuka, sepertinya itu anakku, tapi senyumanku luntur begitu mendapati orang lain yang membukanya. "Ibu... Kenapa bisa disini?" tanyaku dengan nada suara bergetar, aku belum siap bertemu Ibuku, aku malu. "Kenapa kamu nyembunyiin cucu Ibu?" tuntut Ibuku yang sudah bersimbah airmata. "Maafin Tera, Bu" tangisku yang kemudian mendapat pelukan hangat dari Ibuku, aku sangat rindu dengan aroma Ibuku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD