Dimas Ternoda

1159 Words

Saat sada, Nara terkejut mendengar tangisan seseorang tepat di sampingnya. Suara isakan itu tidak asing, tetapi Nara masih mengira itu mimpi. “Kai,” lirih Nara lalu mengusap kepala Kaizar yang menunduk di tepi brankar. Pria itu terusik dan mendongak, lalu menoleh ke arah Nara. Senyumnya terukir, walau tipis saja. Nara pun membalas senyuman itu dengan lembut. “Kaizar, itu kamu?” tanya Nara, menpertegas keraguannya. “Iya, Ra,” jawab Kaizar, lirih. Lantas, mengusap air mata, dan meraih tangan Nara. “Kamu mengingatku?” selidik Nara, “kamu tidak hilang ingatan, bukan? Apa maksud kamu sebenarnya?” Rasa penasaran dan juga marah dirasakan oleh Nara, dia merasa telah dibercandai oleh suaminya. “Aku akan jelasin semuanya, Nara, kamu tenang dulu, ya,” tahan Kaizar. “Beri aku waktu untuk membal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD