Nara termangu saat mendengar sapaan itu dari suaminya. "Sekertaris?" tanya Nara yang spontan saja menjadi gemetaran. Kaget bercampur sedih, panggilan manis yang seharusnya dia dengar bukan panggilan resmi seperti itu. "Ayok, Kai!" tangan wanita licik itu kembali melingkar di lengan kekarnya, lantas dia menarik lelaki beristri itu dari hadapan istrinya. "Tunggu, Tuan!" cegah Nara. Langkah Kaizar yang nyaris mengayun kembali terhent. "Anda baik-baik saja? Tidak merasakan sakit yang serius?" tanya Nara, berusaha keras menahan getar di suaranya, padahal tenggorokannya sudah tercekat, dan air mata nyaris meluap. "Emh, pikirkan saja dirimu sendiri!" sahut Kaizar, lalu berbalik dan pergi dari hadapan Nara. Sandiwaranya sungguh luar biasa, tidak ada yang mengira, jika apa yang dilakukan K

