CHAPTER 9

1189 Words
Flashback on Beberapa tahun yang lalu Falea Aruni Zalfahri memang gadis yang ceria dan sangat pembangkang, Lea menghabiskan banyak waktunya hanya bersama Kaffa Reondra pria yang selalu ada untuknya tanpa status. Sebuah taman yang berada di tengah Kota Bandung. Lea menghela napas dengan pelan, ia mendaratkan bongkongnya di bangku sebuah taman menunggu seorang yang biasa di sebutnya Friendzone. Kaffa tiba dengan pakaian casualnya, "sudah lama menungguku." Ujar kaffa dengan nyengiran memukaunya. "Kaffa, lama banget. Jadi cari buku bareng." Sungut Lea seraya bibirnya maju ke depan. Kaffa terkekeh pada gadis yang di sebutnya Friendzone. "Iihh.. gemes deh." Kaffa mencubit kedua pipi Lea. "Ya udah yuk, pulang traktir es cream ya." Pinta Lea sambil berjalan mengandeng Kaffa dengan manja. Lea dan kaffa masuk ke dalam mobil pergi ke arah sebuah mall. "Iya, tenang aja. Tapi habis itu pulang ya." Lea menggeleng tegas, "enggak ah." Ucap Lea pelan. "Nanti kena marah lagi sama kakak kamu." Kata Kaffa dengan intonasi yang lembut. Bibir Lea terkatup rapat, bibirnya memanyun. "Le, besok aku jemput. Jangan ngambek." Kaffa mencium sekilas bibir Lea. Lea tersenyum di dalam mobil Kaffa yang telah terparkir di sebuah mall. Lea mempererat lingkaran tangan kanannya di lengan Kaffa. Mereka berjalan selayak sepasang kekasih. Setelah mendapatkan buku, seperti janji kaffa, mereka makan es cream. "Le, kamu nyaman dengan hubungan seperti ini." Tanya Kaffa. "Menurut kamu." Jawab Kaffa singkat. "Aku nyaman dekat kamu itu udah cukup." Lirih Kaffa. Lea tersipu malu, ia kemudian meletakkan kepalanya di d**a Kaffa, dan kaffa membalas dengan merangkul erat pundak Lea. Sudah lama mereka berada di sebuah mall, mereka memutuskan untuk pulang. Mereka di hantam hujan sangat lebat. Kaffa memutuskan untuk singgah ke apartemennya yang tak jauh dari mall. Akan bahaya jika mereka tetap memaksa melanjutkan perjalanan. Hujan sangat lebat, jalan pasti sangat licin. Kaffa mengantar Lea setelah hujan berhenti. Di apartemen Kaffa. Kaffa meletakkan tubuhnya di ranjang besarnya. Lea menduduki sofa besar yang tak jauh dari ranjang Kaffa. Tubuh Lea gemetar kedinginan. Mereka harus terkena basah karena jarak parkiran ke apartemen lumayan jauh. Keduanya harus berlari cepat hingga tubuh mereka basah. Gigi Lea bergemeletuk menahan tubuhnya yang sudah basah kedinginan. Kaffa mendekati Lea lalu duduk di sampingnya. Kaffa memeluk Lea agar terasa hangat, sekujur Lea mendadak kaku, dadanya berdegup kencang dengan hebat. Kaffa menyesap bibir Lea lembut hingga ke bagian leher Lea. Kaffa sejenak berhenti, "Le, kita lakukan itu. Kita belum pernah kan." Kaffa melanjutkan aksi hingga terjadi, ia menabur benih di Rahim Lea. Saat itu hal terbodoh yang pernah Lea lakukan, menyerahkan segala pada pria yang bukan siapanya. Flashback off Lea di larut dalam kesedihan menatap hujan deras dari jendela kamar. Airmata menetes, Lea tak kuat menahan isak tangisannya. Seseorang pria telah menyentuhnya di malam hujan saat itu. Hujan telah menjadi saksi kesalahan di masalalu. Beberapa hari berlalu, Kaffa sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Dengan setelan jas hitam dan kacamata menutupi mata tajamnya. Rindu Itulah yang Kaffa rasakan pada sosok Lea. Tak bertemu untuk beberapa hari merasakan gelisah yang hebat. Lea..Lea..Lea.. Hanya nama itu yang mampu menelusuri benak di hatinya Kaffa. Ia memasuki ruangannya, seperti biasa Lea sudah di tempatnya. "Lea, masukin ke ruangan." Kaffa berucap tegas. Lea menoleh menatap Kaffa yang di depannya. Ia bergegas ke ruangan Kaffa. "Maaf, Pak. Ada apa." "Hari ini temani saya meeting ke perusahaan besar." "Baik, Pak." Ucap singkat Lea. Lea mengayun langkah keluar ruangan Kaffa. Menghela napas panjang dengan terpaksa Lea harus menuruti perintah Kaffa yang sudah menjadi tugasnya sebagai sekretaris kaffa. Setelah mempersiapkan dokumen yang harus di bawa, memastikan semua lengkap. Waktu menunjukan pukul dua siang, Lea sudah berada di dalam mobil Kaffa. Hening itu yang terjadi keduanya, sesekali Kaffa melirik wajah Lea yang gelisah. Mengerjapkan matanya sekejap, ini pertama kali. setelah empat tahun yang lalu mereka bersama dengan satu Mobil. Tak satu kata pun keluar dari mulut mereka. Hanya kecanggungan yang terjadi. Tak berapa lama mereka sampai di sebuah gedung besar, Zalfahri group. Lea terbelalakan matanya melihat perusahaan tersebut. Bodohnya Lea tak mengecek agenda Kaffa, seharusnya Lea tau kemana tujuan mereka. Perusahaan besar milik ayahnya yang telah di berpindah tangan milik alzio, Aldio, dan Lea. "Kita meeting disini." Akhirnya Lea membuka suaranya dari keheningan. "Kenapa?? Ada yang salah." Tanya Kaffa. Lea menggeleng pelan lalu menghela napasnya pasrah. Bagaimana jika Kaffa bertemu kedua kakaknya. Apa yang harus Lea lakukan. Pikir Lea. Ia mengidik ngeri, tubuhnya gemetar saat melangkah turun menuju ke gedung besar. Padahal dia memiliki dua puluh persen saham di perusahaan tersebut, namun Lea tak pernah sekali pun menginjak kakinya disana. "Ayo, Le. Cepat." Ucap Kaffa yang sudah terlebih dahulu jalan depan. Lea melangkah pelan, ia merasa sangat takut. Tidak kah Ada suatu yang menyelamatkannya. Diruangan besar yang sudah terdapat kolega kolega besar disana. "Pak, Saya tunggu disini ajah." Ucap Lea dengan tubuh gemetar. "Masuk." Singkat tegas Kaffa. "Tap---" "Ini tugas kamu kan, jangan coba bantah." Ucap Kaffa sedikit tekanan. Lea merunduk sedih, Kaffa seolah melihat Lea empat tahun yang lalu. "Mana berkasnya." Pinta Kaffa seraya tangan kanannya menadah. Wajah sangat tak bersahabat, "ini." Lea memberi berkasnya. "Sana, tunggu dimana kek." Cerca Kaffa. Lea tersenyum, bisa jadi ini senyum pertama setelah empat tahun berlalu. Kaffa memasuki ruangan tersebut, sedangkan Lea berkeliling di perusahaannya. Selama ini Lea tak tahu menahu tentang perusahaannya. "Lea." Panggil dio yang menjadi wakil direktur di perusahaan tersebut. "Kak Dio." Sahut Lea. "Ngapain kamu disini." Tanya dio dengan antusias. "Temani bos aku meeting, kak." "Terus kok enggak keruang meeting." "Gak ah, malas. Ntar kak Dio banyak nanya lagi. "Aku ajak keliling kantor aja." Dio menarik tangan adik. Semua karyawan melihat ke arah mereka. Bahkan mungkin sangat penasaran seorang wanita di gandeng oleh dio tak lain adiknya sendiri. Dio mengajak Lea ke ruangan milik zio. Lea masuk untuk pertama kali ruangan besar yang terdapat foto Alzio, Della dan diffa. Sedangkan sisi kikinya terdapat foto Alzio, Aldio dan Falea. Lea menangis terharu. Begitu besar cinta zio pada keluarganya. "Le, kok kamu nangis." Aldio memeluk Lea. "Kak, aku terharu lihat foto bersamaan kita bertiga." Lirih Lea dengan tetesan air matanya "Zio memang galak, tapi Aku tau dia Sayang banget sama kita terutama kamu. Udah jangan nangis lagi, malu udah punya anak masih nangis." Lea terkekeh geli ulah Dio. Sepertinya Lea lupa kapan terakhir dirinya tertawa bersama kakaknya yang super djahil ini. "Kak Dio, maafin Lea telah kecewain kalian." Ucap Lea dengan suara paraunya. Dio tersenyum, bahkan dirinya mulai berkaca mendapat Lea seperti empat tahun yang lalu. Ternyata Luka Lea begitu dalam, hingga ia menutupi semua keceriaan di dalam dirinya. Lea meratap jendela. Entah kenapa Lea begitu haus pada siang ini. Ingin sekali rasanya menyesap yang segar. "Kak, beli es cream yuk." Ajak Lea. "Hah?? Enggak ah, malas aku turun ke bawah." Tolak Dio. "Yaelah, kan pakai lift. Ayolah kak dio, beli es cream." Rengek Lea seraya memohon pada Dio. Dio tersenyum senang mendapatkan Lea seperti itu, sudah lama baginya, Lea tak merengek meminta suatu padanya. Semuanya menghilang menerpa kehidupan mereka kehilangan sosok adik yang ceria. Bahkan di saat Lea hamil, ia berusaha sendiri tanpa merepotkan zio dan dirinya. Lea harus menanggung beban begitu sulit saat itu. Bayangan seorang gadis berumur beranjak 18 tahun harus hamil menderita tanpa seorang suami. Untung ada kedua kakaknya yang selalu mendukung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD