CHAPTER 7

1005 Words
Seminggu berlalu, Kaffa hari ini sudah mulai masuk sekolah. Seperti biasa Lea sudah membantu Kaffa bersiap sekolahnya. "Mommy, taffa tak sabar mau cepat ke sekolah. Taffa kangen sama teman taffa." Celoteh Kaffa yang sedang dibantu Lea mengenakan pakaiannya. "Mommy, nanti pulang jemput ya." Punta Kaffa pada Lea. "Hmmmmm.. nanti mommy usahain ya. Soal kan bos mommy bukan kakek reo lagi, bosnya tegas." Ucap Lea berharap putranya mengerti. "Nanti biar papa Dio yang jemput." Ucap Dio yang berada di ambang pintu kamar Lea. "Gak usah, kak. Nanti aku akan usahakan keluar kantor bentar." Tolak Lea. Dio hanya menghela napasnya dengan sikap Lea yang keras kepala. Lea pasti selalu menolak bantuan dari siapa pun kecuali dalam keadaan genting. Setelah bersiap dan sarapan. Lea pergi mengantar Kaffa ke sekolahnya dengan menumpang kak zio yang juga mengantar Dilla. Hari ini kak Della sedang tak enak badannya maka hanya kak zio yang mengantar. "Jangan nakal ya, sayang. jangan terlalu capek nanti sakit lagi." Kata Lea yang berada di sekolah lea. "Dilla, juga jangan nakal. Nanti mommy jemput kalian." Ucap Lea lagi. "Bu, tolong titip anak dan keponakan saya ya." Ucap Lea pada guru Kaffa dan Dilla Lea pergi ke kantor dengan menggunakan taxi, seperti biasa Lea tak mau merepotkan zio. Padahal zio menawarkan untuk mengantarnya tapi tetap saja Lea menolak. Lea sudah hampir telat, ia berlari menuju pintu lift yang masih terbuka. Lea cepat berlari dengan napas terjengah. "Telat." Suara pria membuat Lea berbalik menoleh arahnya. Lea terbelalakan, ia berada hanya berdua dengan Kaffa di lift. Kali ini Kaffa berharap lift ini mati, agar dia bisa lebih lama dengan wanita yang cintainya. Lea terkesiap, saat Kaffa memeluknya dari belakang. Deg. "Pak, tolong lepaskan." Ucap Lea berusaha memberontak. "Le, aku kangen. Aku kebersamaan kita." Bisik Kaffa di daun telinga Lea. Lea merasa mengelitir tubuhnya, "Semuanya sudah berakhir, kaf." Ucap tegas Lea. "Apa kamu sudah melupakan semuanya." Tanya Kaffa. "Iya." Singkat Lea. "Tolong, lepaskan." Lea berusaha melepaskan tangan Kaffa yang melingkar di pinggangnya. "Le, kenapa kamu berubah." Ucap Kaffa tergesa. Dada Lea menggebu, rasa sakit di hati Lea sangat dalam. "KARNA KAMU, KAF. SEMUA KARNA KAMU HIDUP AKU BERUBAH. AKU SEPERTI INI HANYA KESALAHAN KAMU. AKU BENCI KAMU" Bentak Lea. Kaffa tersentak, ia melepaskan tangannya dari tubuh Lea. Lift terbuka, Lea berlari dengan terisak tangisan di pipinya. Kaffa berjalan menuju arah ruangannya. Kaffa merasa sesak di dadanya, hatinya hancur. Dia tak bisa membayangkan kenapa Lea berubah karenanya. Banyak menjalar di otak Kaffa. Ia melihat sisi tempat meja Lea. "Siska, dimana Lea." Tanya Kaffa dengan suara begitu pelan. "Belum datang, Pak." Jawab Siska. "Tolong, jangan biarkan siapa pun masuk ke ruangan saya. Termasuk Lea sekretaris saya. Jangan ada yang menganggu Saya." Pinta Kaffa tegas. Kaffa menghempaskan tubuhnya di sofa besar yang tersedia di ruangannya. Ia terus berpikir apa yang membuat Lea menyalahkan dirinya. "Le, kenapa. Kenapa kamu benci Aku. Kenapa semua salah Aku." Kaffa membaringkan tubuhnya di sofa tersebut, ia tak perduli berada dimana. Kafaa tenggelam dengan rasa sesak di dadanya. Ia meneteskan airmatanya. "Apa yang terjadi sama kamu empat tahun ini, le." Napas Kaffa semakin sesak, ia sulit untuk bernapas. *** Lea berlari menuju toilet, tidak mungkin Lea langsung ke mejanya dengan keadaan tangis seperti ini. Pasti siska bisa banyak tanya padanya. Lea menghela napas, lalu menghapus air matanya. Dia melangkah ke arah mejanya. Ia terduduk, "sis, big boss udah datang." Tanya lea pura pura tak tau. "Udah tu, mukanya kusut banget. Dia kayaknya lagi ada masalah gitu. Dia enggak mau di ganggu, enggak Ada yang boleh masuk keruangannya termasuk kamu. Gitu pesannya tadi." Siska berkata panjang lebar. Lea mengangguk mengerti. Ia tahu betul apa yang terjadi pada Kaffa saat ini. BRUK Sebuah benda terjatuh dari ruangan Kaffa. Lea khawatir, ia beranjak dari duduknya. "Le, jangan masuk. Ingat pesan bos." "Tapi, sis. Tadi Ada suara dari ruangannya." Ucap Lea terlihat panik. "Paling juga dia lagi ngamuk. Kamu mau jadi imbasnya." Sarkas Siska. Lea pun kembali duduk, hatinya sangat khawatir. "Sis, masuk aja. Kita lihat keadaan Pak Kaffa." Pinta Lea. "Ogah, mau kena marah sama big boss." Sungut Siska. CEKLEK Pintu ruangan Kaffa terbuka, Lea melihat arah pintu yang terbuka. Tak lama Kaffa keluar dengan napas terjengah. "Tolong.." ucap kaffa dengan suara terdengar sangat pelan. "Pak Kaffa." Ucap Siska kaget. "Kaf." Ucap Lea dengan suara yang parau. BRUK Kaffa terjatuh pingsan. "Astaga, pak kaffa. Le, ini orang kenapa. Kok dia pingsan. Jangan jangan dia minum racun." Ucap panik Siska. "Sssttt.. Siska diam." Lea mengeraskan suara. "Kita bawa ke rumah sakit kayaknya dia lagi Asma." "Kok kamu tahu dia punya Asma." "Ehmm.. itu. Pak reo bilang." Lea memutar bola matanya seperti berpikir. "Oh." Mereka membawa kaffa ke rumah sakit yang tak jauh dari kantornya. Kaffa sudah di tangani dokter. Sedangkan Lea terlihat mondar mandir khawatir. "Le, duduk kenapa. Udah kayak tunggu suami aja tau." Lea tersentak mendengar perkataan Siska yang begitu saja. Siska memang terkesan suka asal bicara, bahkan tidak pikir panjang dulu. Akhirnya Lea duduk, "Dokternya lama banget sih." Ucap Lea. "Ya ampun. Benaran kayak istri Pak Kaffa aja. Kamu mau jadi calonnya." Lea menggeleng cepat."makanya diam." Siska hampir kesal di buat Lea. Tak lama dokter pun keluar dari ruangan yang tertutup rapat. "Dok, Gimana keadaan pasien." Tanya Lea yang tak sabar menunggu dari dokter. "Apa anda keluarga pasien." Tanya dokter balik. "Dia istrinya, dok." Siska terkekeh geli dengan ucapannya sendiri. Lea mencubit Siska, "aaawwwhhh. Sakit." Ringis Siska. "Keadaan suami anda tidak parah, dia hanya sulit bernapas. Ini sudah biasa untuk penderita penyakit Asma. Pasien hanya perlu istirahat yang cukup." Jelas dokter. Astaga..!!! Dokter ini benaran mengira aku istrinya Kaffa. Pikir Lea. "Kalian sudah boleh melihat pasien." Lanjut dokter lalu pergi meninggalkan mereka berdua yang hendak masuk. Siska tersenyum geli. "Le, dokter itu benaran mikir kamu istri Pak Kaffa." "Iya gara ulah kamu." Celetuk Lea. Mereka masuk ke ruangan Kaffa yang masih belum sadar. Lea dan Siska duduk di sofa menunggu Kaffa sadar. Kaffa pun tersadar, "Lea." Ucap Kaffa terdengar suara paraunya. Lea pun mendekati Kaffa, "air." Lea membantu Kaffa meminum air. Tatapan mereka bertemu, Lea merasa takut terlalu lama berdekatan dengan Kaffa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD