Thirteen

2334 Words
"Barry, Tante bisa kok bayarin uang masuk universitas. Barry ini kan laki-laki, jadi harus punya pendidikan tinggi jadi nanti kelak bisa jadi pria mapan." "Hehe, maunya sih begitu Tante. Cuma kalau keadaan enggak memungkinkan, ya Barry lebih memilih kerja dibandingkan kuliah tapi nyusahin orang tua Barry. "Gini aja, besok biar Tante bayarin ya ke administrasi kampus." "Eh jangan Tante!" "Lho, kok masih saja sungkan sama Tante?" "Emh." Barry pura-pura berpikir padahal dia tidak punya pikiran. "Mau kan? Besok Tante ke bagian administrasi deh, sekalian tanya apa lagi yang perlu dibayarkan." "Ja-jangan, Tante. Kalau boleh biar Barry saja yang bayar. Masa udah Tante yang nalangin, Tante juga yang harus susah ke ruang administrasi." "Gitu?" "Iya, hehe. Biar Barry sendiri yang bayar uang masuknya." "Yaudah, Barry ada rekening bank kan?" "Ada kok, Tante. Waktu kelas dua sudah sempat buat rekening bank anu." "Bank Anu?" "Emang boleh sebut merk, Tan?" Cherry terkekeh, dia gemas sekali pada pria muda yang mukanya lucu ini. Cherry mencubit paha Barry. "Kamu ini!" Dia masih tertawa. Perasaan Barry mencelos, wanita dewasa di depannya sangat cantik. Barry suka sekali ketika Cherry mulai tertawa. Benar-benar bak keajaiban dunia baginya. Barry masih menganggumi pesona Cherry saat kemudian dia sadar dan berusaha mengingatkan dirinya lagi. 'Eh, astaga! Barry eling! Dia cuma target! Jangan pandang dia sebagai seory wanita. Dia hanya mainan kamu!' Barry menggelengkan kepala, mengusir rasa kagum pada Cherry. "Nanti Barry kirimkan nomor rekening Barry ya. Sekalian sebutkan jumlahnya." "Sekarang, Tante?" "Nomor rekeningnya ada sekarang?" "Ada, Barry pakai mbanking Tante." "Oia, boleh-boleh kirim sekarang aja ya." "Iya."Barry merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya yang sudah usang dengan layar retak. "Barry kirim ya Tante, atas nama Barry Febriza." ujarnya. Cherry menopang dagu, melihat wajah Barry kemudian memperhatikan layar ponsel Barry. Dia merasa iba, sangat iba. Bagaimana bisa Barry memakai ponsel itu ke kampus, pasti dia malu sekali. Mahasiswa lain memakai ponsel yang mahal dan tak jarang gerak cepat membeli ponsel keluaran terbaru. Tapi, Mahasiswanya yang satu ini nampak terlalu sederhana. "Barry makan malam di sini saja ya." "Enggak apa-apa, Tan?" "Malah Tante seneng, soalnya Tante suka kesepian kalau makan sendiri." "Ke-kesepian?" Barry bergidik, apakah setelah ini Cherry akan melakukan sesuatu yang tak senonoh padanya. Masalahnya, jika itu benar-benar terjadi maka kemungkinan besar Barry tak akan sanggup menolaknya. Bagaimana bisa dia menolak pesona wanita bak tokoh webtoon ini? Terlalu cantik, terlampau sempurna. Kemudian Barry mengecek saldo rekeningnya, dia melotot karena Cherry mentransfer jumlah yang lumayan banyak. Dia benar-benar tidak main-main. Cherry pasti sangat kaya. Uangnya pasti tidak terpakai. 'Buset!' Barry tercengang melihat layar ponselnya. "Udah masuk kan?" "U-udah, Tante." "Besok langsung bayarin ya! Jangan sampai ditegur sama orang administrasi. Nanti Barry malu." "Siap, Tante." 'Tante Cherry jangan-jangan kalau cebok enggak pake tisu tapi pake duit! Duitnya banyak banget kayaknya." Sebenarnya sudah sering dia mendapatkan uang dari target lainnya, tapi selalu saja dia tercengang melihat jumlah dalam layar ponselnya. Sesuai permintaan Cherry. Mereka makan malam bersama. Si Mbak yang ada di sana sibuk memotong buah sebagai hidangan penutup. "Bi, masakannya enak!" puji Barry yang pipi kanannya penuh dengan makanan. "Ah, Aden ini. Kadang panggil Mbak, kadang panggil Bibi. Sama saja kaya non Cherry." "Mbak juga, kadang panggil aku Non kadang panggil aku Bu." Si Mbak tertawa. "Kalau Non lagi pakai pakaian mengajar. Saya jadi spontan manggil Bu. Bu dosen Cherry!" "Bisa aja si Mbak!" Cherry nampaknya sangat dekat dengan sang asisten rumah tangga itu. Asistennya sudah ada, tinggal rumah tangganya saja yang belum. "Tapi, sejujurnya Barry kaget banget pas tahu kalau Tante ini dosen Barry." "Masa? Sama, Tante juga agak terkejut saat lihat Barry di kelas." "Iya kan? Sebuah kebetulan macam apa ya, Tan?" "Entah juga. Tapi, Tante senang Barry masuk ke universitas itu." "Senang kenapa, Tante?" "Ya, Tante jadi bisa liat Barry setiap hari." Cherry mulai bercanda lagi. "Uhuk!" Barry tersedak, selalu saja dia terpedaya saat Cherry mulai menggodanya. Dia sendiri tak habis pikir. "Minum, Bar!" Cherry memberikan gelas Barry. Barry minum dan masih terus terbatuk. Lagi-lagi dia berpikir harus segera mencari target baru, sebelum dia benar-benar jatuh dalam pesona Cherry. * Siang hari pukul sebelas, Cherry mendatangi ruang administrasi. Dia ingin mengecek apakah semua biaya kuliah Barry sudah dibayarkan atau masih ada yang belum dibayar. Dia sebetulnya tidak tahu pasti berapa total biaya masuk universitas ini. Dia cemas kalau-kalau uang yang dia transfer kemarin kurang jumlahnya. Cherry menghampiri seorang petugas administrasi. Bertanya padanya tentang riwayat biaya kuliah Barry. "Bu, boleh bantu cek administrasi atas nama Barry Febriza." "Fakultas apa, Bu Cherry?" "FKIP prody Bahasa Inggris." jawab Cherry yang berdiri di sisi sang petugas administrasi. "Sebentar." "Coba bantu cek apa dia sudah melunasi semua biaya kuliah dia." "Oh, sudah Bu." ujarnya setelah beberapa saat. "Sudah ya?" Cherry lega. "Iya, sudah. Orang tuanya sudah membayar semua biaya lima hari yang lalu." "Orang tua?" "Iya, saya ingat karena mereka berdua datang bersama." "Ibu enggak salah ingat?" "Enggak, Bu. Nah ini juga tercatat tanggalnya." Cherry melongok ke layar komputer yang ada di meja. Benar, yang tertera di sana adalah tanggal lima hari yang lalu. Biaya masuk dibayar lima hari yang lalu, bukan hari ini? Cherry mengerutkan keningnya. Bingung. "Ini data sudah diperbaharui? Sudah benar?" Cherry masih tak mengerti. "Sudah benar, saya sendiri yang selalu menginput semua data pembayaran dengan teliti, Bu Cherry." "Gitu ya!" Cherry menggigit bibirnya. "Ada lagi, Bu?" "Sudah, makasih banyak ya Bu." Cherry pamit dan keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. Masih sibuk berpikir kenapa uang masuk Barry sudah dibayar lunas lima hari yang lalu? "Oke, soal orang tua yang datang ke ruang administrasi. Bisa saja dia salah ingat, menyangka itu adalah orang tua Barry padahal ternyata bukan. Itu masih bisa dipatahkan. Tapi, fakta soal tanggal pelunasan itu yang aneh. Tidak mungkin kan dia menulis tanggal lima hari yang lalu sementara Barry baru bayar hari ini. Kalaupun salah tanggal karena dia lupa pasti hanya selisih satu hari, tidak sampai lima hari." Cherry memikirkan itu dengan perlahan. "Atau Barry enggak tahu kalau orang tuanya udah bayar? Coba nanti kalau ketemu Barry. Apa dia mau cerita sesuatu.. Seperti misalnya ternyata semua biaya sudah lunas tanpa dia ketahui." Cherry agak cemas, karena yang dia transfer kemarin itu cukup banyak. Lima belas juta. Dia sengaja datang ke ruang administrasi untuk memastikan uang itu cukup atau tidak. Karena setahunya,. universitas tempatnya mengajar ini memang cukup tinggi biaya masuknya. Namun, bisa dicicil sampai empat semester. "Kalau bukan buat bayar kuliah, terus Barry pakai uang sebanyak itu untuk apa?" Cherry memang sedang tak baik-baik saja. Ada kondisi tertentu pada tubuhnya yang bisa membunuhnya kapan saja. Itu sebabnya dia merasa ingin selalu melakukan kebaikan. Dia pikir, Tuhan mengirim Barry untuk dia tolong. Situasi Cherry tak senyaman kelihatannya. Hidupnya kacau dan ada kesedihan mendalam dalam dirinya. Dia ingin memulai menebar kebaikan pada sekitarnya, meninggalkan dunia gelapnya yang dulu. Dimana dia gemar pergi ke klub malam untuk minum-minum dan pulang pagi. Masa kuliah dia jalani dengan buruk. Pergaulan bebasnya membuat dia kini terpuruk. Beruntung keluarganya mampu menangani segalanya dengan uang. Hingga Cherry kini dapat bekerja sebagai dosen di universitas swasta ternama di Jakarta. Cherry tidak baik-baik saja, kabar tentang sakitnya membuatnya gamang dan tak ada semangat hidup. Dia juga memutuskan untuk berpisah dengan Kefin, pria yang digadang-gadang akan jadi suaminya. Kini, dia menjalani sisa harinya dengan berusaha berlaku baik. Meski kebiasaan buruknya tak bisa lenyap begitu saja. Kegemarannya memakai baju seksi dan memperlihatkan kaki jenjangnya. Dia tak bisa merubahnya. Memamerkan kemolekan tubuhnya masih jadi satu-satunya cara agar dia merasa senang. Digoda oleh mahasiswa nakal adalah salah satu penyambung nafas hidupnya. Karena itu dia sama sekali tidak risih meskipun Barry menganggap itu sebagai pelecehan secara verba. Setidaknya orang lain masih mengangguminya, masih menganggap dia berharga, masih ada sesuatu yang luar biasa yang dia miliki selain sakit yang dideritanya. Masih ada hal menarik yang bisa dia pamerkan pada dunia. Setidaknya orang disekitarnya tak tahu kondisi memprihatinkan yang terjadi pada dirinya. Cherry menyudahi lamunan panjangnya. Rasanya dia ingin menyegarkan pikirannya. Pergi ke suatu tempat dengan seseorang yang menyenangkan yang bisa membuatnya tertawa. Cherry menatap sebuah nama dalam layar ponselnya. Sang mantan kekasih, Kefin. Pria ini sebenarnya baik. Dia amat menyayangi Cherry begitu juga sebaliknya. Namun, karakternya benar-benar berubah saat Cherry memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Luka yang diterima Kefin, membuatnya jadi kerap bersikap kasar pada Cherry. Dia selalu menuntut jawaban, tentang alasan mengapa Cherry tiba-tiba saja memutuskan hubungan mereka. Padahal beberapa bulan lagi mereka sepakat akan bertunangan. Kemudian menikah. Cherry urung menghubungi Kefin. Dia ingin Kefin terbiasa tanpanya. Cherry mau Kefin membencinya daripada harus terluka jika kelak dia pergi untuk selamanya. Rasa benci akan mengiringinya mencari cinta yang lain, tapi rasa kehilangan untuk selamanya akan membuatnya terpuruk. Karena itu, Cherry membiarkan Kefin membencinya sampai dia tiada nanti. Berharap Kefin dapat menemukan penggantinya dengan cepat saat dia terluka dengan kebencian di hatinya. Kemudian, dalam perjalanan ke pelataran parkir. Cherry melihat Barry. Keduanya tak saling menyapa, seolah ada kesepakatan agar berpura-pura tak saling mengenal selama di area kampus. Cherry berjalan lurus, matanya sepintas melihat ponsel Barry dengan layar penuh retakan. Banyak pemikiran yang terbesit di benaknya. Kalau Barry menggunakan uang itu untuk yang bukan-bukan. Pasti dia setidaknya sudah membeli ponsel baru. Tapi, dia masih menggunakan ponsel lama. Tiba-tiba saja Cherry punya ide. Dia mengirim pesan pada Barry. Berkata bahwa dia akan menunggu Barry di sebuah kedai kopi yang ada di luar kampus. Tidak di dalam, hanya di luarnya saja. Cherry memarkirkan mobilnya di depan kafe itu. Barry yang sejak tadi bersama Giana, mendadak pamit pergi. Tapi Giana tak keberatan, dia jutsru senang sekali. Matanya berbinar. Panggilan mendadak seperti ini hanya berarti satu hal.. yaitu uang! Dia sudah sering mengalami situasi seperti ini. Barry dihubungi oleh sang Tante saat mereka bersama. Tapi, Giaa dengan senang hati membiarkan Barry pergi menemui si tante. Sementara dia sendiri bebas berkeliaran dengan pria lain yang amat dia sukai. Pria yang sudah bersamanya sejak masih SMA. Pria yang menemaninya shopping dan jalan ke mall. "Tante!" Barry membungkuk di dekat kaca mobil yang terbuka. "Barry! Masuk!" ajak Cherry. Barry bergegas memutari bagian depan mobil untuk sampai di sisi sebaliknya. Tak lupa dia memperhatikan sekitar, berhati-hati agar jangan sampai ada yang melihatnya. "Sudah selesai ngajar, Tan?" tanya Barry setelah menutup pintu. Cherry mengangguk. Barry ikut mengangguk. "Temani Tante sebentar ya! Masih ada kelas enggak?" tanya Cherry. Barry menggeleng. "Mau kan temani Tante? Uhm, Tante lagi suntuk." "Boleh, Tante. Mau kemana?" "Ke mall aja, tapi jangan dekat sini. Pasti banyak mahasiswa sini yang makan siang di sana." "Oke Tante, mau Barry yang nyetir?" "Lho, Barry bisa nyetir?" "Bisa dong! Cuma belum sempat bikin SIM, hehe." "Ya udah, Barry aja yang nyetir. Tante lagi capek banget." "Beres, Tante!" Mereka bertukar tempat duduk. Barry kini duduk dibalik kemudi. Mereka bergegas pergi sebelum ada yang melihat mereka bersama. Kaca mobil dibiarkan terbuka, Barry mengemudi dengan hati-hati. Rambutnya tertiup angin membuatnya jadi lebih tampan. Cherry berkali-kali meliriknya. Barry menahan tawanya, dia tahu Cherry pasti terpesona karena ketampanannya. Padahal, Cherry penasaran soal uang masuk kuliah. Cherry masih menimbang, apakah dia harus bertanya atau tidak. Akhirnya, Cherry mulai bertanya. Dia tak bisa menahan rasa penasarannya. "Barry." "Iya, Tante." "Apa sudah dibayarkan? Uang masuk universitas." Deg! Barry memperbaiki posisi duduknya, menggaruk kepalanya asal. "Sudah, Tante." "Oh, syukurlah kalau begitu." "Maaf ya Tante, Barry lupa kabarin Tante. Uhm, sekarang Tante enggak usah cemas. Uang masuk universitas sudah dibayar lunas berkat Tante." Kicau Barry sambil kikuk menyetir. "Iya, Tante lega kalau begitu." "Sekali lagi, Barry mau mengucapkan terimakasih. Suatu saat nanti pasti Barry ganti, Tante." "Enggak perlu kok, Barry. Santai saja. Tante ikhlas kok kasih uang itu untuk Barry. Lagipula, Barry kan menggunakan uang itu untuk kebaikan. Bayar uang kuliah. Iyakan?" tandas Cherry. Barry jadi gusar, dia mendadak tak nyaman duduk di balik kemudi. "Iya, Tante." Jawabnya singkat saja. Barry menyempatkan diri membuka aplikasi mbanking sambil mengemudi, menunjukkan pada Cherry saldo rekeningnya yang kembali kosong. Cherry menghela nafas. Ternyata pria muda yang dia anggap baik ini sudah menipu dirinya. Apa tujuan dia sebenarnya? Kenapa dia pura-pura dan menceritakan kisah sedih agar Cherry iba? "Apa ini modus penipuan baru?' batin Cherry bertanya sambil menggigit bibirnya dan sesekali menoleh ke arah Barry. 'Tapi, kalau iya menipu. Untuk apa uangnya?' Cherry kini memperhatikan pakaian dan sepatu yang dikenakan Barry. 'Dari atas sampai bawah, semuanya bukan barang mahal. Jadi, kemana perginya semua uang itu?' Cherry asyik dengan berbagai pertanyaan di kepalanya. 'Apa jangan-jangan dia.." Cherry mendadak ngeri. Dia kini cemas kalau-kalau Barry terjerat pergaulan bebas seperti dirinya dulu. Salah dalam memilih circle pertemanan dan terjerumus ke lembah hitam. Kerap mabuk karena minum alkohol dan sering kali mengkonsumsi narkoba bersama teman-teman sebayanya. 'Enggak, Barry enggak boleh melakukan kebodohan yang sama dengan aku.' Cherry merasa harus mencegah Barry melakukan hal bodoh seperti dirinya dulu. Cherry pernah ditangkap polisi karena kasus narkoba, tapi orang tuanya yang beruang membuat Cherry hanya berakhir di tempat pemulihan saja. Dia hanya menjalani rehabilitasi selama beberapa bulan kemudian hidup normal seperti tak terjadi apa-apa. Tapi, bagaimana jika hal yang sama terjadi pada Barry? Orang tuanya bukan dari kalangan berada. Bagaimana jika dia nanti harus mendekam di dalam sel sampai akhir hayatnya? Berbagai kecemasan akan hal yang mengerikan terus menerus muncul. Cherry akan melakukan sesuatu untuk mencegah Barry mendapatkan nasib buruk di masa depan. Dia akan menjaga dan menyelamatkan Barry sebelum semuanya terlambat. Padahal, situasi yang sebenarnya jauh dari kecemasan Cherry. Keadaan Barry tidak begitu. Anak polos itu hanya tau rasanya cinta pada lawan jenis dan enggan kehilangan kekasihnya itu. Hanya itu saja. Dia memang bandel dan merokok sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tapi, untuk narkoba, dia tak akan pernah menyentuhnya. Kenakalannya pun masih terbilang wajar. Sama halnya dengan remaja lain yang sedang menjalani proses pendewasaan. Di sisi lain, Barry yang mati-matian memperhatikan Giana. Mencarikan sumber uang untuk sang pujaan hati. Suatu saat harus rela ketika tahu bahwa selama ini Giana berkhianat. Bahwa selama ini sang kekasih hanya memanfaatkan dirinya saja. Sedangkan dia teramat sangat mencintai pria lain Kini segalanya jadi lebih rumit dengan hadirnya Cherry di kehidupan Barry. Pria muda itu tak menyadari ada cikal bakal cinta yang sedang bersiap tumbuh di dalam sana. Dia akan bersemai seiring berjalannya waktu, dengan rutinitas pertemuan yang semakin sering. Barry tak tahu apa-apa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD