Barry tak bisa konsentrasi pada mata kuliahnya, dosen pengajarnya terlalu memanjakan mata Barry dengan visualnya yang molek. Ditambah lagi pakaiannya yang selalu saja terbuka membuat Barry harus sering-sering meneguk ludah selama jam kuliah berlangsung. Dia memakai atasan yang tertutup, terkadang dengan lengan panjang. Tapi, tungkai kakinya selalu diperlihatkan.
Konon katanya, sesuai kabar burung yang beredar di antara para mahasiswa dan dosen di sana, pihak universitas sudah sering menegur cara berpakaian Cherry, tapi dosen satu itu tak pernah menggubrisnya. Belakangan tersiar kabar bahwa Cherry adalah anak dari pemilik kampus ini, tapi kebenarannya tak pernah terungkap. Yang jelas, hingga kini dosen mata kuliah listening itu selalu saja berpakaian seperti itu. Sama sekali tak peduli dengan aturan kampus atau gunjingan dosen wanita lain.
“Nah, nanti kalian ada tugas menonton film tanpa ada terjemahannya. Ibu ingin kalian menulis setiap dialog yang kalian dengar dalam film itu, di sepuluh menit pertama. Jelas?”
Seluruh kelas mengeluh, pasalnya menonton film tanpa terjemahan itu pasti sulit. Ditambah harus menuliskan setiap dialog yang didengar.
“Miss, boleh film kartun enggak?” Shaka mengacungkan tangan, pertanda memberi pertanyaan pada sang dosen.
“Boleh, kalau kamu mau balik jadi anak TK lagi.” Cherry tersenyum sambil merapikan buku paket yang dia bawa.
“Judulnya terserah ya, Miss?” tanya seorang mahasiswi di barisan depan sana.
“Boleh, apa saja boleh! Film kesukaan kalian juga boleh!”
“Cihuy!” Rico yang notabene senang dengan movie hollywood itu bersorak.
“Nanti pulang kampus ke bioskop yu, Sak!” ajak Rico.
“Ye, curang dong!”
“Kok curang?”
“Kan biskop ada subtitlenya!”
“Iya ya! Jadi enggak boleh ya?”
“Boleh aja sih kalau enggak ketahuan mah! Hahaha!”
“Hus, jangan kenceng-kenceng suaranya!”
Mereka berdua saling bisik di bangkunya masing-masing.
Hari itu, pukul dua siang mereka sudah bebas dari jam kuliah. Giana yang sudah menunggu dari pagi tampak kesal menunggu Barry di kantin kampus.
“Sayang, jadi berangkat?” Barry basa-basi.
“Ya jadi! Habis itu aku mau beli baju di mall.”
“Sama aku?”
“Enggak! Sama temen aku! Kamu pulang aja, jangan ikut!” tolak Giana, seperti biasanya. Namun belakangan dia jadi lebih sering menolak diajak jalan oleh Barry.
Barry menggaruk pipinya dengan jari telunjuk.
“Gitu ya? Jadi jual handphonenya dimana?”
“Di toko handphone deket sini aja! Banyak kan! Tempat kamu biasa isi kuota!”
“Yaudah, ayo! Sekarang kan?”
“Ya sekarang! Aku udah nunggu dari pagi!”
“Iya, Sayang. Jangan ngambek terus dong ah!”
Sesuai permintaan Giana, mereka menjual ponsel dari Cherry itu di toko terdekat. Harganya dibawah yang seharusnya karena mereka menjual di toko kecil. Giana setuju dengan harga rendah itu, Barry hanya diam tak mau ikut campur.
“Nih, buat kamu!” Giana memberikan tiga lembar uang seratus ribuan.
“Enggak usah, Sayang. Kamu pakai aja!”
“Ih, ini ambil! Kamu bisa ajak Shaka sama Rico ke bioskop bareng buat ngerjain tugas!”
“Tugas? Oh, itu sih di rumah juga bisa. Di youtube kan banyak film.”
“Ish, udah ini ambil!” Giana memasukan tiga lembar uang berwarna merah itu ke saku kemeja yang dikenakan Barry hari ini.
Kepala Barry terkulai lemas, mau sampai kapan mereka akan menjalani hubungan yang seperti itu? giana akan bergegas pergi belanja tanpa dirinya setiap kali baru saja menerima uang dari Barry.
“Sayang, jangan lupa sisain kalau-kalau kamu butuh buat bapak kamu.”
“Bapak aku?”
“Iya.”
“Buat apa?”
“Lho, kan bapak kamu lagi sakir keras katanya!”
“Oh, iya-iya!” Giana nampak tak begitu tertarik dengan percakapan soal bapaknhya yang sakit, ataukah sejak awal, bapaknya memang tidak dalam kondisi sakit? Giana selalu saja punya seribu alasan untuk membuat Barry memberikan uang padanya.
“Iya, salam ya buat bapak.”
“Oke deh! Aku pergi dulu ya, Barry!” Giana bergegas menghampiri maticnya.
“Ke mall mana?” tanya Barry.
“Belum tahu, nanti aku tanya ke bestie aku dulu! Dah, sayang!” Giana pergi begitu saja dengan kendaraan roda duanya itu.
Sementara Barry kini harus berjalan untuk kembali ke kampus, dia harus ke sana untuk mengambil motor bebek bututnya. Sepanjang perjalanan, cowok itu terus saja menghela nafas, merasa nelangsa dalam dan juga rasa lain yang tak terungkapkan. Situasinya benar-benar runyam dan tidak baik-baik saja.
“Bar, tadi gue liat elo jalan sama Giana!” Shaka menyapanya di gerbang depan.
Sahabatnya itu sedang di atas motor, berboncengan dengan Rico.
“Iya, gue balik lagi mau ambil motor.”
“Emh, elo mau kemana??”
Barry mengedikkan bahunya.
“Ikut gue sama Shaka aja!”
“Kemana?”
“Nonton!” jawab Rico.
“Enggak deh!”
“Bener?”
“Iya, udah sana elo pada cabut deh!”
“Oke deh! Gue sama shaka duluan ya, Bar!”
Barry melambai kecil.
Dia berjalan melewati deretan mobil yang terparkir, di kampus elite ini beberapa mahasiswa membawa mobil ke kampus, jadi lahan parkir untuk mobil sangatlah luas.
Sebuah mobil tiba-tiba berbunyi klaksonnya. Barry menyipitkan mata, berusaha melihat dari kejauhan. Dia cherry, dosen cantik itu memintanya menemuinya di luar sana. Dia memberi kode dengan tangannya. Barry mengangguk dan bergegas mengambil motornya terlebih dahulu kemudian menyusul Cherry.
“Ada apa, Miss? Eh, Tan!” Barry menyapanya.
“Jalan yuk!” ajak Cherry to the poin.
“Jalan?” ulang Barry.
“Iya, jalan!”
“Kemana, Tante?”
“Ke mall, atau mau nonton?”
“Nonton?” Barry menggaruk tengkuknya kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar.
“Iya, nonton! Ayo masuk!”
“Tapi, motor Barry?”
“Itu, parkir aja di minimarket itu. Bilang nanti diambil!”
Barry menoleh ke arah minimarket.
“Kok bengong! Ayo cepet! Apa Barry enggak mau jalan sama tante lagi? Malu ya?”
“Eh, enggak gitu, Tante!”
“Yaudah, sana taroh motor! Tante tunggu di sini!”
“Iya, tante. Sebentar ya!”
Selagi Barry memarkirkan motor, Cherry keluar dari balik kemudi dan duduk di jok sebelah. Dia akan membiarkan Barry menyetir lagi hari ini.
Mereka mendatangi sebuah mall besar yang letaknya sangat jauh dari kampus. Cherry mengajak Barry makan siang terlebih dahulu karena keduanya belum sempat makan di kampus tadi.
Nasi goreng seafood jadi menu pilihan mereka sesaat setelah masuk ke sebuah restoran cepat saji. Mereka makan sambil ngobrol riangan. Ponsel barry bergetar sejak tadi, seseorang pasti menghubunginya. Tapi, cowok itu sama sekali tak bisa mengeluarkan ponsel usangnya di depan Cherry.
Barry pura-pura santai dan melahap kudapan siangnya, mencelupkan udang di saus yang disajikan dengan sebuah mangkok kecil. Kemudian mengunyahnya dengan brutal karena gugup tentang handphone.
Cherry terkekeh, dia meraih selembar tisu dan menyeka sudut bibir Barry. Cowok dihadapannya itu tercengang sesaat kemudian wajahnya berubah merah seperti tomat cherry.
“Makannya pelan-pelan dong, Barry.” Cherry tersenyum sambil meletakkan tisu tadi ke atas meja.
Barry menunduk, wajahnya memanas dalam sesaat.
“Eh, habis ini langsung ke bioskop aja ya!” usul Cherry.
“Iya, tante. Tapi Barry ke toilet sebentar ya!”
“Oh, ya udah, tante tunggu di sini ya!”
“Iya, tante.”
Barry bergegas ke toilet, bukan untuk buang air kecil tapi untuk membasuh wajahnya yang panas. Selain itu, tujuan dia kesini adalah untuk menghubungi Shaka, untuk menanyakan dimana mereka sekarang. Tidak lucu kalau mereka ada di mall yang sama, kemudian saling bertemu.
“Sak, elo dimana?”
“Apa? Gue di bioskop!” bisik Shaka.
“Dimana?”
“Di dalemnya!”
“Eh, maksud gue mall mana?”
“Oh, Gandaria!
“Oke!
“Udah?”
“Iya udah!”
Barry menyudahi panggilannya.
“Siapa?” tanya Rico.
“Si Barry.”
“Kenapa?”
“Nanya kita ada dimana.”
“Nah, kan! Tadi aja sok jual mahal enggak mau ikut! Terus dia mau kesini?”
“Enggak, dia Cuma tanya kita di mall mana.”
“Lho, enggak bilang mau kesini?”
“Enggak! Buset dah! Udah nonton lagi, ketinggalan cerita kan gue!”
“Bukan gitu! Aneh aja! Ngapain dia tanya kita ada dimana.”
“Mencurigakan!” sahut Shaka.
“Iyakah?”
“Iya! Hem, menarik juga!” Shaka mengelus dagunya.
Rico menoyor kepala Shaka.
Barry bergegas kembali menemui Cherry setelah dirasa aman berada di dalam mall ini.
“Sudah, Tante.”
“Yuk!” ajak Cherry.
“Biar Barry yang bawa tas tante!” ujarnya karena melihat tas itu sepertinya cukup berat.
“Iya nih, lupa enggak simpan di mobil aja!”
“Enggak apa-apa biar Barry yang bawain.”
“Makasih ya, Barry.”
“Iya, tante.”
Mereka berjalan menyusuri pertokoan, menaiki elevator untuk menuju lantai empat tempat dimana bioskop berada. Berjalan beriringan layaknya pasangan lain, cukup membuat Barry canggung. Terlebih, beberapa kali tangan mereka beradu saat berjalan.
Bioskop aja diujung sana, setelah melewati arena bermain anak mereka akan sampai di tempat itu. tapi, beberapa meter sebelum sampai ke sana. Cherry menarik Barry ke sebuah lorong sempit yang berada di celah antara dua buah toko.
Barry kaget bukan main, di dalam celah sempit itu tubuh mereka berhimpitan dalam posisi berhadapan. Barry yang lebih tinggi dari Cherry itu mendongak untuk menghindari benturan antara dagunya dengan bagian atas dahi Cherry. Saat itu, jantung Barry berdetak dengan sangat kencang. Betapa tidak, tubuh Cherry benar-benar menghimpitnya hingga terpojok di dinding. Di sisi lain, bagian belakang tubuh Cherry juga menghimpit dinding dari celah sempit itu.
Aroma rambut Cherry benar-benar terasa di cuping hidungnya. Bahkan, lekuk indah tubuh cherry itu melekat sempurna di permukaan kemeja dan celana Barry. Cowok itu bersimbah keringat meski suhu di dalam mall ini sangat rendah. Dia tak bisa berhenti meneguk ludahnya sendiri.
Cherry tampak waspada, dia juga agak panik tadi tapi entah karena apa.
“Tante, ada ap-pa?” bisik Barry.
“Sstt! Diem dulu!” Cherry menekan bibir Barry dengan telunjuknya.
Barry mengunci mulutnya, jemari Cherry terasa halus di permukaan bibirnya.
“Ada temen sekelas kamu!” Cherry waspada dan memperhatikan bagian luar celah itu.
“Temen sekelas?” lirih Barry.
“Sst!!!”
Barry bingung, teman sekelas mana yang dimaksud Cherry. Karena Shaka dan Rico tidak berada di sini saat ini.
Barry bergerak sedikit karena pengap.
“Diem!” bisik Cherry.
Tak lama kemudian, lewat sepasang pria dan wanita. Mereka bergandengan tangan dan saling menatap saat bicara, sekilas Barry melihat wajah gadis itu yang nampak sangat senang dan tak henti tersenyum menatap sang pria.
Deg!
Hati Barry seperti tersambar petir demi melihat sepasang sejoli yang dihindari oleh Cherry itu. Benar, gadis itu adalah teman sekelas Barry. Sekaligus, kekasihnya. Fakta kedua itu sama sekali tidak diketahui oleh Cherry. Barry tertegun, seketika tubuhnya lemas.
Dia berkata pada dirinya sendiri, bahwa dia salah lihat. Pasti, gadis itu hanya mirip dengan Giana. Barry benar-benar terkejut sekarang. Hatinya pedih dan rasanya ingin menangis di sini, tapi sekuat tenaga dia menahannya.
Hatinya lebih sakit lagi, karena melihat Giana tersenyum ceria sambil bicara dengan pria itu. sakit sekali. Giana tak pernah begitu di depannya. Apa yang terjadi? Fatamorgana kah hal yang tadi dilihatnya? Barry tak mau percaya kalau semua itu nyata.
Dia terjebak di sini bersama seorang wanita dewasa, demi seorang gadis yang dia cintai. Namun, betapa pedihnya kenyataan bahwa ternyata gadis itu mengkhianatinya seperti itu. Barry menggigit bibirnya, menahan ledakan amarahnya. Ingin sekali dia mendatangi keduanya dan melayangkan tinju pada si pria b******k itu.
Tangannya hanya terkepal di samping tubuhnya. Pemandangan tadi benar-benar seperti onggokan sampah yang menjijikan. Barry kesal setengah mati tapi tak tahu harus bagaimana. Dia nampak tersengal karena kesal pada Giana.
Cherry menarik kembali Barry, kali ini untuk keluar dari lorong sempit tadi. Dia memperhatikan Giana dan pria dewasa itu sampai langkah mereka benar-benar jauh. Kemudian dia menghela nafas. Cherry sendiri panik saat melihat Giana yang dia kenal sebagai salah satu mahasiswinya yang juga merupakan teman sekelas Barry. Dia tak mau gadis itu bergosip tentang Barry di kampus. Kalau tentang dirinya, sama sekali tak masalh karena dirinya sudah terbiasa dengan gosip dan gunjingan orang. Tapi, tidak untuk Barry. Hari ini, Cherry berhasil melindungi Barry dari hal buruk itu, meski tanpa dia sadari ada hal yang jauh lebih buruk dibandingkan hanya sekedar jadi bahan gosip murahan itu. hal lain yang sungguh menyakiti Barry. Dia seakan hampir limbung sekarang.
Barry muak dengan semua tante yang dia temui, tapi sungguh dia menahan rasa itu demi Giana. Tapi, begini balasan gadis itu sekarang? Seperti ini hal yang dia perbuat di belakang Barry. Pantas saja dia selalu pergi berbelanja tanpa Barry. Ternyata dia pergi bersama pria lain yang bahkan terlihat lebih dewasa darinya.