Library
Seperti angin yang menyejukkan. Dedaunan yang jatuh tanpa perlawanan. Angin menghempasmu menjauh dari pohon asalmu.
Yang aku lihat hanya kertas putih yang indah nan bersih. Di tengah kertas itu kau beri sebuah titik permulaan. Memberiku kesempatan melanjutkan isi kertas itu.
Namun saat dilihat perbuatanku malah merusak kertas itu. Kau hanya diam dan tersenyum. Mengelus kepadaku dengan lembut lalu pergi menjauh.
Aku tak mengerti, apa kau marah atau sudah bosan dengan apa yang aku perbuat.
Lalu aku berlari mengejar, namun saat itu aku lihat kau telah bersama bidadari lain . Melakukan hal sama pada gadis itu, sama persis dengan perlakukanmu dulu.
Aku mulai bertanya tanya. Apa aku hanya sepersekian gadis yang kau bodohi?.
Dengan bodohnya aku masih tetap mencintaimu. Berharap semua bukti yang telah terjadi hanya sebuah ilustrasi.
————————
Disudut perpustakaan yang sepi dan sedikit cahaya yang masuk, Sasha duduk sambil membaca sebuah buku yang sedikit usang. Di baliknya buku itu beberapa kali. Sesekali ia tersenyum menampilkan senyuman indah yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Jam makan siang ia habiskan dengan membaca buku komik yang sengaja ia bawa dari rumahnya. Sasha sama sekali tak perduli akan lalu lalang senior yang selalu menatapnya dengan tatapan benci, seakan dia adalah benalu disini.
Sasha Liusen, gadis cantik berdarah Indo China. Seorang pendiam dan selalu mengabaikan siapa dan apa saja yang menurutnya tak penting dan mengganggu. Ia sekarang tengah menempuh pendidikan disebuah universitas swasta terkemuka.
"Sendiri...? " Sasha mendongak menatap siapa yang telah mengganggunya. Ia seperti biasa, tak peduli lalu mengabaikannya.
Pria itu duduk disamping Sasha tanpa meminta ijin. Ia mengintip menatap apa yang sedang di baca Sasha hingga mengabaikan dirinya.
" komik?.. " Sasha mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya pada komik. " boleh duduk di samping kamu..? " Sasha memutar bola matanya malas." sudah duduk baru ijin, kamu aneh... ".
Pria itu hanya tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya. Namun sayang, Sasha terlalu sibuk untuk membalas senyum pria itu.
" Rian ... ". Pria yang diketahui bernama Rian menjulurkan tangannya, namun Sasha tak menggapainya membuat Rian menarik kembali tangannya lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" kamu Sasha kan...? " Sasha merespon dengan menganggukan kepalanya pelan.
" Aku juga suka komikloh... Kalo kamu main kerumahku kamu pasti bakalan seneng dan betah... Kamu rumahnya dimana?.... " Sasha menarik nafasnya dalam lalu membuangnya dengan kasar, Rian melihatnya hanya diam. Sepertinya dia telah membangunkan singa betina tidur.
" hey aku sedang sibuk dan kau pria asing menggangguku. Ganggu saja yang lain jangan aku... " Sasha bicara dengan nada dingin dan muka datar. Entah sudah berapa kali orang yang telah mengganggunya hari ini. Meski Sasha gadis yang tertutup, karena kecantikan yang ia miliki, dan dengan wajah manisnya banyak yang berusaha mendekatinya. Namun itu sama sekali tak membuat Sasha welcome terhadap mereka. Justru membuat Sasha semakin tertutup dan enggan menanggapi. Beberapa menit kemudian suasana kembali tenang, sesuai dengan keinginan Sasha. Namun sedaritadi pula Rian terus menatap Sasha dengan rasa kagum, bukannya Sasha terlalu sombong namun banyak yang menatapnya seperti itu.
"Sedang apa....? " Rian mau pun Sasha menatap sumber suara itu. Ternyata seorang dosen, namun Sasha tak terlalu mengenal dosen itu. Dia adalah seorang dosen baru yang bernama Ragil Satrio Prajaya. Dosen yang mengajar baru seminggu yang lalu. Karena tampan dan muda. Banyak mahasiswa yang membicarakannya, meski Sasha tak pernah di ajarnya tapi ia sudah tahu dengan sosok itu.
"Pak tolongin saya.... ".
Ragil menatap Sasha bingung," kamu kenapa?...."
"Dia mengganggu saya pak... "
" eh nggak pak nggak... " Rain melambaikan tangannya dengan cepat. Ia tak ingin dinilai buruk oleh dosen baru. Ia takut ini akan berpengaruh dengan nilainya.
Dengan pasrah, Rian berjalan pergi meninggalkan keduanya. Cukup untuk hari ini, besok dia bisa mendekati Sasha lagi.
Tanpa mengucapkan terima kasih, Sasha beranjak lalu pergi saja. Melihat itu Ragil menatap kepergian gadis itu dengan rasa tak biasa. Baru kali ini seorang perempuan mengabaikan keberadaannya dan tak berusaha menggoda dirinya. Apalagi semenjak ia mengajar disini, ia sering kali mendapati seorang mahasiswi yang tak tahu malu menggoda dirinya. Dan lokernya sering kali terdapat puluhan surat cinta dari mahasiswi.
'dia gengsi atau memang tak normal? '
***
"Dad, apa harus aku kerja disini? Trus perusahaan siapa yang ngurus?.... "
Pria paruh baya itu mendekat lalu menepuk bahu anak nya dengan lembut" tentu saja kamu, siapa lagi?.... "
" Dad, ini bisa membuatku mati secara perlahan... ". Chenlee tersenyum mendengar rajukan putra yang sudah dewasanya. Ragil selalu manja meski sudah dewasa, namun itulah yang ia inginkan. Agar Ragil selalu tergantung padanya.
" Dad sudah memberi tanggung jawab perusahaan pada Zerk, tenang saja. Dan soal kendali, semuanya telah Dad urus. Semua kendali masih ada ditanganmu... "
" Dad... "
" hem..."
"Sebenarnya kenapa aku harus mengajar disini? Apa tujuannya?..... "
" Kamu cuma harus mengawasi seorang gadis...". Ragil bungkam, ia tak paham dengan ucapan Dad nya.
"memangnya siapa gadis itu?...".
"kamu tidak usah tahu. Cukup jaga dan jangan sampai dia menjadi perempuan liar...." Ragil mengangguk mengerti.
"satu lagi... " lanjut Chenlee
" apa? "
'jangan jatuh cinta padanya ' batin Chenlee
" apa?.. " tanya Ragil kembali.
Chen hanya diam lalu beranjak dari kursinya.
" Kamu tidak ada jam mengajar hari ini?... "
" tentulah ada Dad... "
" Bagaimana jika tugasmu mulai hari ini. Dad akan kasih foto gadis itu. Kamu tak usah cari latar belakangnya, kamu hanya cukup menjaga dia saja..! "
" iya Dad.. "
Ragil berjalan memasuki kelas yang akan ia ajar. Semua pasang mata mengarah padanya. Ragil tersenyum lalu duduk untuk mengabsen mahasiswa.
Saat nama Sasha Liusin ia baca. Tak ada satu pun yang menyaut. Ragil kembali memanggil nama itu. Namun sekali lagi tak ada yang merespon.
"dimana nona Sasha Liusin? ... "
Salah satu mahasiswa mengangkat tangannya.
" iya?..."
"mungkin putri es itu sedang tertidur dengan buku buku usangnya...."
Semua mahasiswa dikelas tertawa kecuali para laki laki.
"diam semua!! Kita lanjutkan kelasnya saja. Dan kamu... " Ragil menunjuk gadis yang tadi berbicara." Jika kamu bertemu nona Sasha suruh dia ke ruang saya... "
Gadis itu hanya mengangguk paham.
"Rupanya si gadis perpustakaan itu lagi " batinnya
jam bergitu cepat berlalu dan Ragil masih belum meninggalkan kelasnya yang sedari tadi sudah sepi hanya menyisakan dia dan beberapa kertas dan buku.
entah apa yang membuatnya berfikir hingga lupa waktu.
___________________________