Geraldine menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokan mendadak terasa kering, dan jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia bisa merasakan denyut di ujung jari yang terborgol. Namun, ego gadis itu setinggi langit. Dia adalah seorang ketua geng, putri seorang Kombes, dan dia menolak untuk terlihat pecundang di depan pria yang telah mengacak-acak logikanya.
Geraldine mencoba memasang wajah berani, menatap tajam netra gelap Narendra yang tampak begitu pekat dan penuh intimidasi.
"Owh, ya? Apa Bapak berani sentuh saya?" tantang Geraldine dengan suara yang diusahakan tetap stabil. "Ingat, Bapak seharusnya melindungi saya. Anda kan bawahan Papa saya. Kalau Bapak macam-macam sama saya, maka saya pastikan karier Bapak tamat di tangan Papa saya!"
Narendra tidak tampak gentar. Dia malah mengengam dagu Geraldine dan ibu jarinya mengusap bibir bawah Geraldine dengan gerakan perlahan yang terasa sangat provokatif. Sentuhan itu dingin, tapi menyisakan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh gadis itu.
"Sudah kubilang berkali-kali, saya ini dosenmu," ucap Narendra dengan nada rendah yang tenang tapi terasa sekali aura mematikannya bagi Geraldine. "Saya memang tahu siapa Papamu, karena seluruh orang di kampus pun pasti tahu siapa Papamu. Tapi saya tidak kenal secara pribadi dengan beliau, apalagi menjadi bawahannya. Jadi ... jangan berharap saya akan merasa segan sama kamu."
Geraldine mendengus sinis, mencoba menggerakkan tangannya yang terborgol hingga menimbulkan suara denting logam yang nyaring di keheningan kamar.
"Nggak usah mengelak! Tadi Bapak bilang ke Pak RT kalau mau kasih surat pernikahan kita dan kartu keluarga kita, kan? Terus jangan lupa sama borgol ini! Bukan hanya satu, tapi dua! Orang sipil mana yang menyimpan dua borgol di laci nakas kalau bukan polisi? Anda pasti intel yang sedang menyamar jadi dosen, untuk mencari penjahat di kampus, kan?"
Narendra terdiam sejenak, lalu dia tertawa —sebuah tawa yang membuat bulu kuduk Geraldine meremang. Lalu, pria itu mengelus pipi Geraldine dengan dengan ibu jarinya sambil menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Semua orang bisa kok buat dokumen palsu nggak cuma polisi saja, toh itu juga gara-gara kamu yang ngaku jadi istri saya sampai gosip itu menyebar dan Pak RT meminta surat pembaharuan kependudukan saya. Terus soal borgol ...."
Narendra menjeda kalimatnya, memberikan tekanan atmosfer yang menyesakkan di antara mereka. "Apa kamu belum tahu kalau di dunia ini ada yang namanya kelainan seksual?"
Geraldine mengerutkan dahi, matanya memicing waspada. "Kelainan seksual?"
"b**m," bisik Narendra tepat di depan wajah Geraldine.
"Apa?" Geraldine tersentak. Sebagai mahasiswi psikologi dia jelas tahu itu, tapi karena sangat shock dia hanya bisa mengeluarkan kata "apa" itu saja karena otaknya mendadak macet.
"Bondage, Discipline, Sadism, and Masochism," terang Narendra dengan wajah tanpa ekspresi, seolah dia sedang membacakan materi kuliah yang membosankan namun mengerikan. "Jangankan borgol, saya juga punya cambuk di lemari itu. Apa kamu mau saya cambuk sambil bermain-main di ranjang ini agar kamu mengerti siapa saya yang sebenarnya?"
Mata Geraldine membelalak sempurna. Wajahnya yang tadi kemerahan karena emosi, kini mendadak pucat pasi. Dia bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi punggung. Namun, rasa gengsi yang luar biasa besar membuatnya tetap bertahan pada perannya sebagai gadis yang tak kenal takut.
"Ayo ... cepat lakukan kalau Bapak berani! Paling-paling Bapak cuma gertak sambal doang!" seru Geraldine, meskipun suaranya sedikit bergetar di akhir kalimat.
Narendra menyeringai, dia duduk tegap di sisi ranjang, tapi tidak melepaskan tatapannya dari Geraldine. Dia merogoh saku celana, mengambil ponsel, lalu menyalakan fitur rekaman video. Dan mengarahkan kamera ponsel itu tepat ke wajah cantik Geraldine yang kini tampak bingung sekaligus ketakutan.
"Mari kita buat dokumentasi, agar tidak ada tuntutan hukum di kemudian hari," ucap Narendra dingin. "Kita melakukan ini atas dasar suka sama suka, kan, Geraldine?"
Geraldine menelan ludah, menatap lensa kamera itu dengan ragu. "Ya ... tentu."
"Aku tidak memaksamu, kan? Meskipun tanganmu terborgol, ini adalah bagian dari 'permainan' yang kamu inginkan, benar?"
Geraldine merasa terpojok, tapi harga dirinya melarangnya untuk mundur. "Tidak, saya sama seperti Anda, Pak. Pecinta b**m. Dan saya mau mencobanya dengan Anda sekarang juga."
Narendra tertawa lagi. Suara tawanya kali ini terdengar sangat renyah, tapi lagi-lagu suara pria itu terdengar begitu mengerikan bagi Geraldine.
Setelah itu, Narendra meletakkan ponselnya di atas nakas dengan posisi kamera yang masih merekam ke arah ranjang.
"Video tetap berjalan, sebagai bukti kuat kalau kita melakukannya atas dasar suka sama suka tanpa ada paksaan fisik maupun psikis," ujar Narendra, lalu dia kembali merangkak mendekati Geraldine, memposisikan tubuhnya di atas gadis itu, mengurung Geraldine dengan kedua lengannya. "Gimana? Kamu mau lanjut atau tidak?"
Kini, tubuh Geraldine mulai gemetar hebat. Dia bisa merasakan napas Narendra yang memburu di permukaan kulit wajahnya. Tapi dia masih memaksakan diri untuk tersenyum, yakin di dalam hati bahwa Narendra hanya sedang menggertaknya untuk menghentikan kecurigaannya sebagai intel.
"Ya ... ayo cepat kita lanjutkan, Pak! Kamu jangan cuma banyak bicara," tantang Geraldine.
"Baiklah, tapi ... kalau di tengah jalan nanti kamu berubah pikiran dan kamu bilang berhenti, maka aku akan berhenti seketika karena sekali lagi ... tidak ada unsur pemaksaan di sini dan kita melakukannya atas dasar suka sama suka," bisik Narendra tepat di depan bibir Geraldine.
"Nggak akan." Geraldine memaksakan diri untuk tersenyum. "Saya nggak akan berubah pikiran di tengah jalan dan bilang berhenti!"
Dan ... di situlah dugaa Geraldine meleset total.
Tanpa peringatan, Narendra langsung membungkam bibir Geraldine dengan ciuman yang sangat intens. Awalnya, Narendra melumat dengan lembut, seolah memberikan kesempatan bagi Geraldine untuk bernapas, tapi detik berikutnya ciuman itu berubah menjadi tuntutan yang liar dan dalam.
Bibir Narendra mencium bibir Geraldine bagai orang yang sedang sekarat karena kehausan di tengah padang pasir.
Geraldine tersentak, matanya terbelalak kaget. Dia mencoba memberontak, tapi tangannya yang terborgol pada jeruji ranjang membuat dia tidak berdaya. Sensasi bibir Narendra yang menghisap dan melumat bibirnya membuat kepala gadis itu mendadak kosong. Karena terlanjur malu untuk berteriak berhenti, Geraldine akhirnya memejamkan mata dan mulai membalas ciuman itu dengan kaku, mencoba mengikuti permainan.
Namun, keadaan menjadi semakin tak terkendali saat Narendra melepaskan tautan bibir mereka dan berpindah ke leher Geraldine. Hal itu membuat napas Geraldine memburu, hingga dia mendesah tanpa sadar saat merasakan gigi Narendra memberikan gigitan-gigitan kecil di kulit lehernya.
Tiba-tiba, suara kain yang robek dengan keras memenuhi keheningan kamar.
Geraldine memekik tertahan saat melihat kaos lengan panjang yang dia kenakan benar-benar dirobek secara paksa oleh Narendra.
Tenaga pria itu luar biasa besar. Kini, tubuh bagian atas Geraldine terekspos, hanya menyisakan bra renda yang membungkus aset indah gadis itu.
Geraldine merasa sangat telanjang dan terhina, tapi gairah yang disulut Narendra secara paksa membuat dia tidak bisa berpikir jernih.
Sementara Narendra terus melanjutkan aksinya, bibir pria itu turun ke tulang selangka, lalu ke belahan d**a Geraldine. Dengan gerakan yang sangat lihai dan cepat tanpa Geraldine sadari, ternyata tangan Narendra sudah menjangkau kaitan bra di punggungnya.
Kaitan itu terlepas dan Geraldine bisa merasakan bra-nya melonggar.
"Ah ... Pak ... tunggu ...."