Chapter 11. Pintar Masak di Ranjang

1128 Words
"Iya," sahut Geraldine enteng, wajahnya terlihat tanpa dosa saat dia mengunyah bakwan jagung dengan nikmat. "Soalnya kan aku bilang sama Mas Bambang mau nginep di rumah Sisil malam ini, tapi ternyata Sisil malah pergi ke rumah neneknya. Kalau aku pulang ke rumah, Papa pasti curiga kenapa aku balik lebih cepet." "Astaga, Geraldine! Nggak boleh!" potong Narendra cepat, suaranya naik satu oktav karena panik. "Kamu nggak bisa seenaknya menginap di rumahku!" "Kenapa nggak boleh? Aku kan istrimu," balas Geraldine santai, menatap Narendra dengan binar nakal di matanya. "Kita cuma suami istri pura-pura! Ingat itu!" desis Narendra, wajahnya mendekat ke arah Geraldine agar suaranya tidak terdengar warga lain. "Owh, pura-pura ya ...." Geraldine mengangguk-angguk, lalu tiba-tiba kepalanya celingak-celinguk mencari seseorang. "Pak RT ada di mana, ya?" Narendra mengernyit waspada. "Ngapain kamu nyari Pak RT?" "Mau bilang ke beliau kalau aku nggak dibolehin bobo di rumah suami aku sendiri." Geraldine meletakkan piringnya di atas rumput dengan gerakan dramatis, lalu dia berdiri tegak. "Pak RT!" teriaknya kencang sambil melambaikan tangan. Sontak, semua orang yang sedang asyik makan dan mengobrol refleks menghentikan aktivitas mereka. Puluhan pasang mata kembali tertuju ke arah bawah pohon, menatap pasangan "pengantin baru" itu dengan rasa ingin tahu yang tinggi. "Iya, Mbak Geraldine? Ada apa?" tanya Pak RT dari kejauhan, sudah bersiap-siap ingin menghampiri. Jantung Narendra serasa merosot ke perut. Dia refleks menarik ujung kaus Geraldine agar gadis itu kembali duduk, tapi Geraldine tetap berdiri. Tak punya pilihan lain, Narendra akhirnya ikut berdiri dan merangkul pinggang Geraldine dengan posesif — sebuah akting agar warga tidak curiga. "Eh ... jangan, Sayang! Kamu duduk aja! Nggak usah ganggu Pak RT lagi makan," ucap Narendra dengan suara yang dibuat selembut mungkin, padahal hatinya ingin meledak. Dia kemudian menatap ke arah Pak RT sambil tersenyum kaku. "Anda tidak perlu ke sini, Pak RT! Istri saya cuma minta dimasukin namanya di daftar acara perkumpulan ibu-ibu, kok." "Oh, kirain ada apa," sahut Pak RT disambut tawa bapak-bapak lain. "Kalau itu mah setelah Mas Narendra setor surat nikah dan kartu keluarga kalian yang baru, otomatis Mbak Geraldine bakal istri saya masukan namanya ke buku acara perkumpulan ibu-ibu komplek." "Iya, Pak RT. Sesuai janji saya tadi, kalau semua dokumen kami sudah jadi, pasti saya akan segera ke rumah Pak RT untuk menyerahkan fotokopi dokumen kami," sahut Narendra lantang dengan senyum yang dipaksakan se-natural mungkin. Begitu kalimat itu lepas dari bibir, Narendra merasa ingin menampar mulut sendiri. Dia baru sadar kalau baru saja menggali lubang kuburnya lebih dalam. Mengakui adanya dokumen itu di depan Geraldine sama saja dengan mengakui bahwa dia memanglah seorang inteligen yang punya kuasa membuat dokumen palsu. Setelah sepasang suami istri palsu itu duduk kembali. Geraldine mendekatkan wajahnya ke telinga Narendra, lalu berbisik, "Sesuai dugaan saya. Pak Narendra ini fix beneran intel, kan? Bapak bawahan Papa aku, kan?" Narendra tertegun. Jantung berdegup kencang, bukan karena debaran asmara, melainkan karena alarm bahaya di otaknya berbunyi nyaring. Dia tidak boleh membenarkan, tapi menyangkal pun rasanya percuma melihat bagaimana Geraldine telah menghubungkan semua titik terang. Alih-alih menjawab dengan kepanikan, Narendra menoleh, dia menatap lekat-lekat netra Geraldine, lalu sebuah seringai tipis yang tampak sangat maskulin sekaligus misterius muncul di wajahnya. "Sayang, buruan dihabisin makanan kamu!" Suaranya terdengar berat dan dalam. Dia sengaja mengeraskan volumenya sedikit agar ibu-ibu di sebelah mereka bisa mendengar. "Habis itu ayo kita pulang ke rumah dan ... ayo kita praktekkan cara 'masak di ranjang' yang kamu banggakan tadi di hadapan para ibu-ibu yang lain!" Skakmat. Kali ini giliran Geraldine yang sedikit tersentak. Dia tidak menyangka dosen jadi-jadian di kampusnya itu bisa balik menyerang dengan kalimat yang begitu berani di depan umum. Namun, Geraldine tetaplah Geraldine. Dia tidak akan membiarkan Narendra menang begitu saja. Geraldine mengambil piringnya, lalu menyerahkannya ke tangan Narendra dengan tatapan manja yang dibuat-buat, persis seperti pengantin baru yang haus perhatian. "Kalau gitu, suapin aku dulu dong, Sayang!" tantang Geraldine sambil membuka mulutnya sedikit, menunggu suapan. Narendra menarik napas panjang, mencoba menekan rasa gemas yang luar biasa — gemas ingin menyumpal mulut gadis ini dengan bakwan jagung. Namun, di bawah pengawasan warga yang sesekali melirik iri ke arah mereka, Narendra terpaksa mengalah. Dengan gerakan yang kaku tapi diusahakan terlihat lembut, Narendra menyendok nasi lengkap dengan lauk pauk, lalu mengarahkannya ke mulut Geraldine. "Ayo, buka mulutnya, istriku sayang!" desisnya dengan mata yang seolah memberi peringatan: 'Awas kamu nanti di rumah.' Sementara Geraldine menerima suapan itu dengan riang, mengunyahnya perlahan sambil terus menatap Narendra dengan tatapan penuh arti. *** Langkah kaki mereka menyusuri trotoar kompleks diiringi tatapan iri bapak-bapak dan ibu-ibu. Geraldine tampak sangat mendalami perannya, dia memeluk lengan kekar Narendra dengan begitu manja, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Namun, di balik kemesraan itu, bibir tipis Geraldine tak henti melontarkan bisikan yang membuat telinga Narendra panas. "Bapak intel, kan? Mengaku saja, deh! Bapak bawahan Papa saya, kan? Bapak pasti lagi menyamar buat mencari pengedar narkoba yang ada di kampus saya, ya?" cerocos Geraldine dengan nada rendah yang penuh selidik. Narendra tetap bungkam, wajah datar, pandangannya lurus ke depan seolah-olah dia sedang membawa boneka hidup yang tidak bisa berhenti bicara. Dia terus berjalan hingga mencapai teras rumah, membuka kunci pintu, dan menarik Geraldine masuk ke dalam. Begitu daun pintu tertutup rapat dan terkunci, atmosfer di antara mereka berubah drastis. Kesabaran Narendra yang sedari tadi ditahan di depan warga kini menguap tak bersisa. Tanpa aba-aba, Narendra mencengkeram pergelangan tangan Geraldine dan menarik masuk ke dalam kamar utama. Narendra mendorong tubuh Geraldine hingga jatuh terduduk di atas ranjang queen size. Hal itu membuat Geraldine terkesiap, tapi insting nakalnya justru bekerja. Dia malah menyeringai lebar sambil menatap Narendra yang tampak begitu dominan. "Eh, Bapak mau ngapain? Bapak beneran mau praktek masak di ranjang sama saya, ya? Duh, kok buru-buru sih, Pak? Saya kan belum siapin bumbu-bumbunya," godanya sambil tertawa. "Setidaknya izinkan saya mandi dulu Pak Komandan Narendra." Narendra tidak meladeni gurauan itu. Dengan gerakan kilat yang sangat terlatih, dia merogoh laci nakas di samping tempat tidur. Suara denting logam terdengar dingin saat Narendra mengeluarkan borgol besi dari sana. Lalu, sebelum Geraldine sempat bereaksi, Narendra sudah menarik kedua tangan gadis itu ke atas, mengikat pergelangan tangannya pada jeruji besi sandaran ranjang. Klik! Klik! Geraldine tersentak hebat, dia mencoba menarik tangannya, tapi borgol itu mengunci rapat posisinya dalam keadaan tangan terentang ke atas. Rasa dingin logam yang menyentuh kulitnya seketika membuat nyali Geraldine menciut. "Pak! Bapak mau ngapain?! Bapak beneran mau perkosa saya, ya?" pekik Geraldine yang mulai panik, matanya membelalak melihat Narendra yang kini merangkak naik ke atas ranjang, memangkas jarak di antara mereka. Narendra berhenti tepat di depan wajah Geraldine, membiarkan ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Dia menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat berbahaya — senyuman yang membuat bulu kuduk Geraldine meremang seketika. "Iya." Suara Narendra terdengar begitu serak dan mengintimidasi di telinga Geraldine. "Tapi karena kamu adalah istriku, jadi ... ini namanya bukan perkosaan, tapi nafkah batin."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD