Hari ini adalah hari Minggu, jam enam pagi di kompleks perumahan tempat Narendra tinggal tampak ramai. Sesuai dengan agenda rutin sebulan sekali, seluruh warga keluar dari rumah masing-masing untuk melaksanakan kerja bakti.
Jalanan aspal kini dipenuhi oleh bapak-apak dengan cangkul, sabit, dan sapu lidi di tangan. Ini adalah momen sakral bagi warga kompleks untuk mempererat silaturahmi sekaligus memastikan seluruh area perumahan tetap bersih.
Dan benar saja sesuai dengan dugaan Narendra sebelumnya, dengan kaus oblong hitam yang melekat di tubuh atletisnya, dia yang tengah sibuk menyapu dedaunan kering di sekitar lapangan serbaguna ditatap oleh bapak-bapak karena rumor panas yang meledak di grup w******p tentang "penampakan" seorang wanita cantik di rumah sang dosen muda itu.
"Mas Narendra ... ditunggu pembaharuan data kependudukannya, ya!" goda Pak RT yang sedang berjongkok mencabut rumput dengan sabit.
Beberapa pria lain ikut menimpali sambil terkekeh. "Iya loh, Mas Narendra ini nikah kok diam-diam saja. Kita tunggu acara makan-makannya juga loh, Mas! Jangan lupa, syukuran is number one!"
Narendra menghentikan gerakannya sejenak, dia memaksakan senyum kaku yang terlihat sangat profesional. Jantungnya berdegup kencang, teringat paket dokumen palsu dari Handoko yang masih tersimpan rapi di laci meja kerjanya.
"Baik, Pak. Besok kalau sudah jadi surat nikah dan kartu keluarganya pasti saya akan langsung ke rumah Pak RT untuk laporan, sekalian mengadakan acara syukuran kecil-kecilan," jawab Narendra, mencoba bersikap setenang mungkin layaknya agen intelijen sejati.
"Terus, sekarang istrinya mana, Mas? Kok tidak diajak ikut bantu ibu-ibu di tenda konsumsi? Masih capek ya karena belum terbiasa bangun subuh?" celetuk seorang pria bertubuh gemuk yang terkenal ceplas-ceplos, disusul tawa renyah bapak-bapak lainnya.
Narendra baru saja hendak membuka mulut untuk mengarang alasan bahwa saat ini istrinya sedang tidak enak badan, tapi tiba-tiba sebuah suara melengking yang sangat dia kenali membelah keramaian lapangan.
"Sayang ... kok kamu malah ninggalin aku, sih!"
Bagaikan adegan di film drama, semua aktivitas kerja bakti berhenti seketika. Puluhan pasang mata menoleh ke satu titik.
Di ujung jalan, tampak Geraldine berjalan dengan langkah riang yang penuh percaya diri. Gadis itu mengenakan celana training dan kaus lengan panjang dengan rambut dikuncir kuda, memperlihatkan leher jenjangnya.
Kemudian, Geraldine tanpa ragu menggelayut manja di lengan Narendra. "Padahal tadi malam kan kamu udah janji mau ngajak aku kerja bakti sambil ngenalin aku ke ibu-ibu kompleks. Eh, kok aku malah nggak dibangunin?" ucapnya dengan nada manja yang begitu meyakinkan.
Tubuh Narendra membeku, dia menatap Geraldine dengan pandangan tidak percaya, tapi di bawah pengawasan puluhan pasang mata warga, dia harus tetap menjaga sandiwaranya.
"Ma–maaf, soalnya tadi kamu kelihatan nyenyak banget bobonya, makanya aku nggak tega buat bangunin kamu," jawabnya kaku, lidah pria itu bahkan terasa kelu saat harus mengucapkan panggilan 'kamu-aku'.
"Ih ... so sweet banget Mas Narendra ini," celetuk beberapa ibu-ibu dari kejauhan yang tengah menyiapkan minuman.
Geraldine tersenyum lebar, dia tampak sangat menikmati perannya. "Nggak boleh gitu, Sayang. Bagaimana pun juga aku harus ikut membantu kerja bakti bulanan ini sebagai warga perumahan yang baik. Sekarang ayo kenalin aku ke ibu-ibu yang lain, dong!"
Mau tidak mau, Narendra mengengam tangan Geraldine menuju kerumunan ibu-ibu di tenda konsumsi.
"Ibu-ibu, perkenalkan, ini istri saya ... namanya Geraldine," ucap Narendra dengan suara rendah dan wajah yang mulai memanas. "Mohon bimbingannya ya, Bu. Soalnya dia ini tidak bisa masak. Jadi mohon kasih dia tugas yang gampang-gampang saja, jangan yang berat-berat."
Geraldine menyalami satu per satu ibu-ibu di sana dengan sangat luwes, sebuah kemampuan adaptasi yang membuat Narendra tertegun.
"Mohon bimbingannya ya, Ibu-ibu. Benar kata Mas Narendra, saya memang nggak bisa masak kalau di dapur," ucapnya yang memancing tawa hangat dari ibu-ibu kompleks.
Lalu, dia mengerling nakal ke arah Narendra sebelum melanjutkan dengan suara yang cukup lantang hingga terdengar oleh bapak-bapak yang sedang membersihkan selokan. "Tapi jangan khawatir, meskipun saya nggak bisa masak di dapur, saya ini jago sekali loh kalau 'masak' di ranjang bareng Mas Narenda."
"Cieee!!!"
Tawa ibu-ibu pecah seketika.
Beberapa bahkan sampai menepuk-nepuk bahu Geraldine karena merasa gadis itu sangat blak-blakan dan asyik.
Sementara bapak-bapak di seberang lapangan langsung menyoraki Narendra dengan nada iri yang jenaka.
Wajah Narendra kini tampak semerah tomat matang. Dia menunduk dalam, mencoba menekan imajinasi liarnya yang mendadak melanglang buana gara-gara ucapan fulgar putri komandannya yang nakal itu. Lalu, dia segera pamit untuk kembali bekerja, karena merasa nyawanya hampir melayang karena rasa malu yang tak tertahankan.
Namun, dari kejauhan, entah kenapa, Narendra tidak bisa berhenti melirik ke arah Geraldine. Pria itu diam-diam memperhatikan bagaimana cara Geraldine yang tampak sangat mudah membaur, tertawa lepas bersama Ibu-ibu, dan tampak sangat tulus saat membantu meyusun kue-kue basah di piring. Tidak ada sisa-sisa kegarangannya sebagai anak nakal yang pembangkang.
Narendra mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan, menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat. "Pantas saja dia bisa jadi ketua geng," batinnya takjub. "Geraldine itu memang punya karisma yang luar biasa. Baru sebentar saja, dia sudah berhasil menaklukkan seluruh ibu-ibu di perumahan ini."
***
Setelah peluh bercucuran dan seluruh area perumahan tampak bersih, acara yang paling ditunggu-tunggu warga pun tiba, yaitu makan bersama. Aroma nasi uduk, sambal goreng hati ampela, mie goreng, dan bakwan jagung yang masih hangat menyeruak di bawah tenda konsumsi, memicu keroncongan di perut siapa saja yang menciumnya.
Narendra melangkah menuju tenda dengan kaus yang sedikit basah oleh keringat, mempertegas bentuk dadanya yang bidang. Baru saja dia sampai, Geraldine sudah muncul di hadapannya dengan senyum lebar yang sangat cerah, membawa dua piring penuh makanan yang mengepulkan uap panas.
"Sayang, ini buat kamu, udah aku ambilin," ucap Geraldine cukup keras, memastikan beberapa pasang mata ibu-ibu di dekat sana mendengar perhatiannya.
Narendra berdehem, mencoba meredam kegugupannya dipanggil begitu di depan umum. "Makasih, Sa ... yang. Ayo kita duduk di sana saja," balasnya sambil menunjuk ke arah sebuah pohon yang letaknya agak jauh dari keramaian warga.
Begitu mereka sampai di bawah bayangan pohon yang sejuk dan memastikan jarak mereka cukup aman untuk bicara pribadi, Narendra memasang wajah serius. Dia menoleh ke kanan dan kiri, lalu bertanya dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai desisan.
"Naik apa kamu ke sini?"
Geraldine dengan santai menyuap satu sendok nasi uduk ke mulutnya, lalu menjawab tanpa beban, "Naik ojol."
"Ojol?" Narendra mengernyitkan dahi, tak percaya putri seorang Kombes keluyuran naik ojek online. "Nggak diantar supir?"
"Ya nggak lah, Pak. Aku kan nggak ada teman di perumahan ini. Papaku pasti curiga kalau aku nyuruh Mas Bambang anter aku ke sini. Jadi aku nyuruh Mas Bambang antar aku ke rumah Sisil. Terus, dari rumah Sisil ke sini aku naik ojol, Suamiku sayang," jawab Geraldine dengan nada jenaka, sengaja menekankan kata 'suamiku' untuk menggoda saraf kesabaran Narendra.
Narendra menghela napas panjang. "Jadi, nanti setelah kerja bakti selesai, aku antar kamu balik ke rumah Sisil, kan?"
Geraldine menggelengkan kepala pelan, senyum nakalnya mulai muncul kembali. "Emang bener kamu harus antar aku balik ke rumah Sisil, tapi bukan nanti setelah acara kerja bakti selesai, tapi antarnya besok pagi."
Gerakan tangan Narendra yang hendak menyuap bakwan jagung terhenti di udara. Matanya membelalak. "Ha?! Maksud kamu, kamu mau menginap lagi di rumahku?"