Chapter 9. Munculnya Musuh Terkuat

1195 Words
"Kak Narendra!" seru seorang gadis cantik dengan nada riang yang tak bisa disembunyikan. Narendra yang baru saja menutup pintu mobilnya di parkiran dosen tersentak. Dia menoleh dan mendapati seorang mahasiswi berperawakan anggun sedang berlari kecil ke arahnya. Narendra memaksakan diri untuk tersenyum ramah. "Denisa, tolong panggil saya Bapak atau Pak Dosen selama kita ada di area kampus! Jangan panggil saya Kak dan tolong jaga jarak mengingat kamu itu bukan mahasiswi psikologi." Denisa tertawa kecil, mengabaikan peringatan itu, bukannya menjaga jarak, dia malah berdiri cukup dekat di samping Narendra. "Duh, kaku banget sih, Kak? Eh ... maksudku Pak Dosen. Ngomong-ngomong kok Bapak nggak pernah lagi main ke rumahku? Bapak nggak lagi musuhan kan sama Kakakku?" "Hubungan saya dan Kakakmu baik. Hanya saja kita memiliki tugas yang berbeda kali ini. Sekarang, saya mohon sama kamu, Denisa. Tolong jaga jarak dengan saya, atau lebih baik kita pura-pura tidak kenal saja kalau sedang di kampus," bisik Narendra waspada. Dia melirik ke sekeliling, khawatir ada mahasiswa lain yang curiga melihat interaksi mereka yang terlalu akrab untuk ukuran dosen dan mahasiswa. "Iya-iya saya paham. Tapi besok Kak ... eh maksudku Bapak harus main ke rumah saya, ya!" Denisa memasang senyum semanis mungkin di wajah cantiknya. "Iya, kalau saya dan Kakakmu sama-sama senggang saya pasti akan pergi ke rumah kamu," balas Narendra lalu mengangguk satu kali dan melangkah cepat menuju ruang dosen, meninggalkan Denisa yang masih melambai kecil ke arahnya. Pikiran pria itu semakin kalut, antara urusan sandiwara pernikahan palsu akibat ulah nakal Geraldine dan risiko identitasnya bisa terbongkar kapan saja gara-gara Denisa malah terang-terangan mendekati dia dilokasi 'TKP'. Dan karena pikiran kalut itulah, Narendra jadi tidak menyadari bahwa di balik pilar gedung Psikologi, ada sepasang mata yang menyala penuh amarah. Sepasang mata itu milik Geraldine. Gadis itu mencengkeram tali tasnya begitu kuat hingga jemari memutih. Napas memburu, d**a terasa sesak seolah baru saja disiram air mendidih. Pemandangan di parkiran tadi — Denisa yang tersenyum manis dan bersikap tampak manja serta Narendra yang tampak meladeni Denisa dengan lembut — membuat harga diri Geraldine sebagai 'istri semalam di perumahan' Narendra hancur berkeping-keping. "Kurang ajar si Denisa itu! Bisa-bisanya dia pasang muka sok imut di depan Kak Narendra," umpat Geraldine dalam hati. Geraldine menyandarkan punggung ke pilar, mencoba mengatur napas yang tidak beraturan. Jika itu mahasiswi lain, Geraldine pasti sudah bergerak. Sebagai ketua genk, dia punya sejuta cara untuk membuat hidup gadis mana pun yang berani mendekati pria incarannya berasa ada di neraka. Tapi kali ini, tangannya seolah terikat. "Sialan! Andai Denisa bukan anak atasan Papa, aku bejek-bejek dia sampai mampus! Berani banget dia deketin crush aku!" batinnya geram. Denisa adalah anak Brigjen, pangkatnya lebih tinggi dari Handoko yang seorang Kombes. Menyerang Denisa secara fisik atau melakukan aksi bully terang-terangan sama saja dengan menggali liat kubur untuk karier Papanya di kepolisian. Geraldine memang nakal, tapi dia tidak bodoh. Dia tahu batas mana yang tidak boleh dia langgar. Namun, rasa cemburu ini terlalu menyiksa. Ingatannya kembali pada kejadian semalam — saat dia mengecup pipi Narendra di depan anak Pak RT, saat dia digendong Narenda masuk ke dalam mobil dan kejadian konyol diikat di dalam mobil. Baginya, Narendra adalah wilayah kekuasaannya sekarang. "Dia pikir dia siapa? Mentang-mentang anak Brigjen! Padahal dia itu cebol dan jelek." Geraldine menghentakkan kaki ke lantai. "Pak Narendra pasti milih aku, kan? Secara aku ini lebih cantik, lebih tinggi, lebih seksi dan lebih semok dari Denisa!" Tapi, karena melihat dan mendengar obrolan Denisa dan Narendra, Geraldine jadi semakin yakin jika feelingnya benar. Kalau kemarin dia hanya menduga kalau Narendra adalah seorang intelijen karena kemampuannya yang luar biasa saat penggerebekan semalam, saat ini Geraldine yakin 100% jika Narendra memanglah seorang intelijen. Geraldine kemudian melirik ke arah ruang dosen dengan tatapan tajam. "Pak Narendra oh ... Pak Narendra. Kali ini misimu gagal total!" *** Narendra melangkah memasuki ruang kelas dengan aura yang jauh lebih dingin dari kemarin. Sepatu pantofelnya beradu dengan lantai keramik, menciptakan irama monoton yang seolah menuntut keheningan mutlak. Sebagai seorang intelijen yang sedang menyamar, kelas ini bukan sekadar tempat berbagi ilmu psikologi, melainkan sebuah laboratorium observasi. Pandangannya menyapu seisi ruangan dengan ketajaman seorang predator. Dia mencatat dalam benaknya "tiga orang absen". Tiga mahasiswa yang semalam kemungkinan besar berada di klub yang sama dengan Geraldine. Mereka kini sedang diinterogasi, sementara "target utama" — sang pengedar kelas kakap — masih melenggang bebas karena dua kemungkinan, berhasil lolos di detik-detik penggerebekan seperti Geraldine atau malah tidak hadir sama sekali di klub malam. Narendra berdiri di depan kelas, membuka laptop dengan gerakan taktis. "Selamat pagi semua. Sebelum kita masuk ke materi persepsi kognitif, saya akan melakukan presensi terlebih dahulu." Satu per satu nama dipanggil. Fokusnya tetap tajam, menganalisis setiap gerak-gerik mahasiswa yang hadir. Narendra mencari tanda-tanda kegelisahan, pupil mata yang melebar, atau jemari yang bergetar — ciri-ciri orang yang terlibat dengan zat terlarang. Hingga akhirnya, mata pria itu sampai pada baris ketiga di sisi jendela. Di sana, Geraldine sedang duduk dengan menopang dagu. Rambutnya yang sedikit berantakan hari ini justru menambah kesan nakal yang sudah menjadi ciri khasnya. Begitu mata mereka bertemu, benteng pertahanan Narendra yang dibangun dengan pelatihan bertahun-tahun di kepolisian mendadak retak. "Fokus, Narendra! Fokus!" batinnya menjerit. Namun, otak bawah sadarnya justru mengkhianatinya. Memori semalam berputar layaknya rol film yang rusak. Dia teringat sensasi saat menggendong tubuh ringan itu, bagaimana napas hangat Geraldine menyapu ceruk leher hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Dan yang paling parah, bayangan kilasan paha putih nan mulus saat celana olahraga itu melorot di ruang tamu kembali muncul tanpa izin, memenuhi layar imajinasi. Narendra berdehem keras, mencoba mengusir bayangan itu. Dia memalingkan wajah ke arah layar proyektor, tapi dia bisa merasakan tatapan Geraldine yang menusuk. Gadis itu tampak tidak takut dan tidak merasa bersalah. Gadis itu justru tampak sangat menikmati kekacauan yang dia ciptakan dalam diri dosennya. Geraldine, yang sadar bahwa sang "suami semalam" sedang berjuang mati-matian menjaga profesionalitas, memutuskan untuk menyiram bensin ke dalam api. Saat Narendra kembali menoleh ke arah kelas untuk memulai penjelasan, Geraldine memajukan tubuhnya. Dia menatap Narendra dalam-dalam, mengunci pandangan pria itu, lalu dengan gerakan lambat yang sangat provokatif, dia menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. "I love you suamiku." Narendra tersedak air liur. Dia refleks membuang muka ke arah papan tulis, tangannya sedikit gemetar saat memegang spidol. Darah terasa berdesir naik ke wajah, dan telinga merah padam. "Sialan. Geraldine benar-benar istri ... ah maksudku mahasiswi yang nakal!" batin Narendra menjerit. "Ya ... jadi, persepsi adalah ... hm, proses di mana individu mengatur dan menafsirkan kesan sensoris mereka." Narendra mulai bicara dengan nada yang agak berantakan. Kalimatnya yang biasanya terstruktur kini terdengar seperti orang yang baru belajar bicara. Sementara di kursinya, Geraldine tampak menyunggingkan senyum kemenangan. Dia tahu tindakannya berisiko membuat Narenda akan murka padanya. Namun, bayang-bayang Denisa tadi membuatnya tidak peduli. Karena melihat Narendra salah tingkah adalah hiburan terbaik baginya saat ini. Dia senang melihat bagaimana seorang intelijen hebat bisa dibuat kocar-kacir hanya dengan gerakan bibir. Narendra mencoba menarik napas dalam-dalam. Dia harus kembali ke mode profesional. Pria itu kembali mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, memaksa dirinya untuk memikirkan tugasnya — mencari pengedar, melaporkan pada atasannya, dan menjaga kerahasiaan. Tapi, setiap kali dia melihat Geraldine, dia diingatkan bahwa "misi" paling berbahaya dalam hidupnya bukanlah menangkap bandar narkoba, melainkan bertahan dari godaan 'Putri Komandannya'.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD