"Astaga, Geraldine!" Sisil memekik tertahan, kedua tangannya menutup mulut karena syok luar biasa.
Sisil yang sedari tadi sudah menunggu di depan pagar rumahnya langsung berlari menghampiri mobil begitu Narendra berhenti. Namun, pemandangan yang tersaji saat pintu belakang dibuka benar-benar di luar nalar. Sahabatnya terduduk kaku dengan tangan yang terlilit jaket bomber dan mulut yang tersumpal kain sobekan.
Narendra tidak mempedulikan teriakan Sisil, dengan gerakan taktis dan efisien, dia masuk sedikit ke kabin belakang untuk melepas kunci sabuk pengaman, lalu satu per satu melepas ikatan kain di mulut Geraldine serta lilitan jaket bombernya.
Begitu ikatan lepas, Geraldine menyentak tubuhnya menjauh dari Narendra. Dengan ekspresi ketakutan yang dibuat-buat, dia segera keluar melalui pintu kiri, berlawanan dengan posisi Narendra yang berada di pintu kanan. Dia berlari kecil ke arah Sisil dan menghambur ke pelukan sahabatnya itu.
"Dia jahat sama aku, Sil! Dia itu dosen psikopat! Masa aku diperlakukan seperti korban penculikan!" adu Geraldine dengan suara gemetar, berlindung di balik tubuh Sisil.
Narendra memutar bola mata dengan malas. Ekspresi wajahnya menunjukkan rasa enek yang luar biasa mendengar bualan Geraldine yang sangat lebay itu. Tanpa membalas ucapan Geraldine, dia merapikan jaketnya dan menatap Sisil sekilas.
"Saya pergi dulu. Permisi," ucapnya dengan expresi datar, hendak kembali ke kursi pengemudi.
Namun, Geraldine tiba-tiba melepaskan pelukannya dari Sisil. "Tunggu, Pak!" panggilnya, wajahnya mendadak berubah manis kembali. "Makasih udah anterin saya ke rumah Sisil dengan selamat. Sekarang ayo kita salaman dulu dong, Pak. Kita saling maaf-maafan sebelum berpisah, biar nggak ada dendam di antara kita."
Narendra sempat ragu, tapi pada akhirnya dia mengulurkan tangan kanannya ke arah Geraldine. Dan Geraldine pun menyambut tangan Narendra dengan sangat manis, dia menarik punggung tangan Narendra dan menciumnya singkat.
Hal itu jelas membuat Narendra tersentak.
Tapi ternyata sifat manis Geraldine hanya bertahan beberapa detik saja, karena di detik berikutnya, Geraldine menancapkan gigi di punggung tangan Narendra, gadis itu menggigit Narendra dengan sekuat tenaga.
Narendra mengerang pelan menahan sakit, rahangnya mengatup rapat agar tidak berteriak di depan umum. "Lepas, Geraldine!"
Tapi Geraldine baru melepaskan gigitannya setelah merasakan rasa asin darah di lidahnya. Begitu lepas, gadis itu tidak menunggu sedetik pun untuk melihat reaksi Narendra. Dia dengan cepat menyambar tangan Sisil dan lari tunggang langgang masuk ke dalam rumah.
"Ayo Sil, masuk! Cepat sebelum dosen psikopat itu balas menggigitku!" serunya sambil membanting pintu rumah.
Narendra berdiri mematung di samping mobil, menatap punggung tangan yang kini membekas luka gigitan dalam, kemerahan, dan mengeluarkan sedikit darah. Dia mengusap luka itu dengan ibu jarinya, merasakan perih yang berdenyut bersamaan dengan rasa kesal yang memuncak.
"Geraldine itu ... sebenarnya anak komandanku apa anjing komandanku, sih!" umpatnya lirih sambil menggelengkan kepala tak habis pikir.
Kemudian, Narendra memandangi pintu rumah yang tertutup itu sekali lagi. "Sampai bertemu lagi di kampus nanti istriku yang nakal!" Lalu, pria itu kembali masuk ke mobil dan melesat pergi.
***
Narendra melangkah tegak memasuki ruangan sang komandan. Di balik meja besar, sosok pria paruh baya berwibawa menatapnya dengan tajam tapi terasa teduh. Dia adalah Handoko, sang atasan sekaligus pria yang baru saja dia "culik" putrinya semalam.
Narendra melaporkan semua kejadian dengan rinci — hampir semuanya. Dia menceritakan penggerebekan yang meleset, kemunculan Geraldine yang tak terduga, hingga pelarian mereka ke safe house. Namun, sebagai intelijen yang cerdik, Narendra melakukan sedikit modifikasi pada laporannya.
Dia memutuskan untuk mengubur dalam-dalam adegan kecupan manis di pipi saat di depan anak Pak RT, lalu saat dia menggendong Geraldine menuju mobil yang membuat gairahnya tersulut akibat ciuman di leher saat fajar, hingga aksi "penjinakan" liar saat dia mengikat dan menyumpal mulut gadis itu.
Baginya, itu adalah aib profesional atau mungkin, rahasia pribadi yang terlalu berisiko untuk dibagikan pada si Ayah gadis itu. Ah, iya ... kejadian yang paling penting, yang harus Narendra sembunyikan rapat-rapat adalah kejadian celana melorot hingga dia bisa melihat betapa mulus dan putihnya paha Geraldine.
Mendengar penuturan Narendra, Handoko justru tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang.
"Terus bagaimana ini, Pak? Grup w******p perumahan sudah gempar bertanya-tanya soal 'istri' saya," tanya Narendra dengan wajah masygul. "Apakah kita perlu memperbarui status di KTP dan membuat dokumen pernikahan palsu agar penyamaran saya di komplek tidak terbongkar?"
Handoko masih terkekeh, dia menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya. "Iya, kamu benar. Soal itu jangan khawatir. Nanti saya buatkan dokumennya untuk laporan ke Pak RT-mu. Begitulah Geraldine, Dra ... dia itu sangat unik, persis ibunya, tidak pernah bisa serius dan selalu punya cara untuk mengacaukan situasi."
Wajah Narendra tetap datar, meski hatinya mencelos teringat keunikan yang dimaksud sang komandan yang hampir membuatnya kehilangan akal sehat semalam.
"Terima kasih banyak ya, Dra. Kamu sudah menyelamatkan Geraldine dari razia. Kalau sampai dia tertangkap dan masuk berita, nama baik saya pahi ini pasti sudah hancur berantakan," lanjut Handoko tersenyum tulus.
"Soal itu kebetulan saja, Pak. Sungguh, saya benar-benar tidak tahu kalau Geraldine ada di sana. Mas Bambang kan bilang kalau Geraldine ke rumah temennya. Untung saja Geraldine menghampiri saya di detik-detik akhir," jawab Narendra merendah.
"Yah ... takdir terkadang memang unik." Handoko masih tersenyum, tapi kali ini senyumnya penuh arti sambil kepalanya mengangguk pelan. "Baiklah, laporanmu saya terima. Nanti saat jam makan siang di kampus, kamu akan menerima pake dari kurir saya. Isinya KTP kamu dan KTP Geraldine yang statusnya sudah 'Menikah', buku nikah palsu, hingga Kartu Keluarga kalian."
Narendra tersentak. Menikah di KTP? Kartu Keluarga? Sandiwara ini mendadak terasa jauh lebih berat daripada misi pengintaian kartel. Namun, dia segera berdiri tegap dan memberikan hormat sempurna.
"Siap, Komandan!"
Narendra hendak berbalik untuk keluar, tapi suara Handoko kembali menghentikannya."Tunggu, Dra. Coba saya lihat tangan kanan kamu!"
Narendra membeku, jantung mendadak berdentum kencang, bahkan lebih keras daripada saat dia dikepung musuh. Dengan ragu dan gerakan yang sedikit kaku, dia mengulurkan punggung tangan kanannya yang masih memerah dan membentuk pola gigi yang sangat jelas.
Handoko mengernyitkan dahi, lalu senyum jenaka kembali muncul di wajahnya. "Ini pasti ulah Geraldine, kan? Kamu apain dia sampai dia kesel dan berakhir gigit kamu?"
Narendra berdehem, berusaha mencari alibi yang paling masuk akal tanpa harus menceritakan soal ikatan jaket dan sumpalan mulut. "Ah, itu ... saya kurang tahu juga, Pak. Saat saya antar ke rumah temannya, dan saya pamit mau pergi, dia tiba-tiba minta bersalaman, tapi ternyata dia bukan niat bersalaman, dia niat gigit punggung tangan saya."
Handoko menatap mata Narendra lekat-lekat. Sebagai polisi senior, dia tahu ada sesuatu yang ditutup-tutupi oleh bawahannya itu, sesuatu yang mungkin melibatkan emosi yang lebih dalam dari sekadar tugas pengamanan.
"Ah, begitu ya ...? Gigitannya cukup dalam, sepertinya Geraldine memang sangat menyukaimu hingga dia jadi gemas padamu," ucap Handoko dengan senyum yang sulit diartikan. "Baiklah, sekarang segeralah ke kampus! Karena istri palsumu dan teman-temannya mungkin sudah menunggu kedatanganmu."