Mobil melaju membelah jalanan yang masih dibalut sisa kabut fajar. Narendra berusaha keras menetralkan detak jantung dan mengabaikan rasa panas yang masih tertinggal di leher. Namun, baru saja mereka keluar dari area perumahan menuju jalan raya utama, matanya menangkap kerlip lampu biru dan merah yang berputar di kejauhan.
Ada barisan traffic cone oranye dan beberapa mobil patroli yang melintang, mempersempit jalur.
"Sial, ada razia subuh," umpat Narendra pelan, matanya melirik ke spion tengah, melihat Geraldine yang masih meringkuk di kursi belakang dengan kaos putih miliknya yang kedodoran.
"Geraldine, bangun! Duduk tegak dan pakai sabuk pengamanmu!" perintah Narendra tegas.
Geraldine mengerang, dia duduk sambil mengucek matanya. "Apa lagi sih, Pak? Saya masih ngantuk banget tahu!"
"Ada pemeriksaan polisi di depan. Kamu duduk diam saja, ya! Biar nanti saya yang bicara," ucap Narendra sambil menurunkan kecepatan mobilnya.
Saat mobil Narendra mendekat, seorang petugas polisi dengan rompi hijau neon melambai, mengisyaratkan mereka untuk menepi ke sisi jalan. Lalu, Narendra menurunkan kaca jendela di sampingnya tepat saat petugas itu mendekat dan menyenter bagian dalam mobil.
"Selamat pagi, Pak. Bisa tunjukkan surat-surat kendaraan dan identitas Anda?" tanya petugas itu dengan nada formal.
Narendra merogoh dompetnya dengan tenang. Alih-alih mengeluarkan identitas asli sebagai perwira Ditresnarkoba, dia mengeluarkan SIM dan STNK palsu — bagian dari protokol penyamarannya. Di sana, namanya tertera sebagai "Narendra Dirgantara", seorang karyawan swasta.
Petugas itu memperhatikan identitas palsu Narendra, lalu mengarahkan senternya ke arah kursi belakang, tepat ke arah Geraldine yang tampak berantakan dengan rambut acak-acakan dan kaos yang jelas-jelas milik laki-laki dewasa.
Petugas itu mengernyit. "Malam-malam begini mau ke mana, Pak? Dan itu ... dia siapa?"
Narendra menelan ludah, jika dia mengaku itu mahasiswinya, urusannya akan panjang. Apalagi dengan penampilan Geraldine yang "habis bangun tidur" dan memakai baju pria seperti itu, polisi pasti akan curiga ini adalah kasus penculikan atau tindak asusila.
"Dia istri saya, Pak," jawab Narendra, mencoba terdengar tenang meski tangannya mencengkeram kemudi dengan erat.
"Istri?" Petugas itu tampak ragu, matanya menyipit melihat wajah Geraldine yang terlihat jauh lebih muda dari Narendra. "Dek, apa kamu benar istrinya bapak ini? Bisa tunjukkan KTP kamu?"
Geraldine terdiam sejenak. Dia melihat kegugupan yang tersembunyi di mata Narendra. Tiba-tiba insting nakalnya bekerja lebih cepat. Dia memajukan tubuhnya, memegang sandaran kursi Narendra dan menatap petugas itu dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca, persis seperti pengantin baru yang sedang merajuk.
"Maaf ya, Pak Polisi. Dompet saya yang ada KTP-nya ketinggalan, soalnya tadi kami buru-buru mau ke rumah mertua saya karena ada urusan yang mendadak." Geraldine kemudian menyandarkan kepala di bahu Narendra dari belakang, tangannya melingkar manja di leher pria itu di depan mata sang polisi.
"Ini aja yang pakein saya baju tuh suami saya, Pak Polisi. Kata dia biar cepat jalan gara-gara saya susah dibangunin. Ya gimana nggak susah, semalam saya sama dia main berkali-kali sampai saya lemas. Iya, kan, Sayang?"
Narendra, yang wajahnya memerah karena malu terpaksa mengangguk mengikuti permainan Geraldine agar tidak diciduk ke kantor polisi terdekat yang bisa merusak seluruh misinya.
"Iya, Pak. Yang dikatakan istri saya semuanya benar. Maaf, kami memang agak terburu-buru soalnya Ayah saya sedang sakit," tambah Narendra sambil memaksakan senyum kaku yang terlihat sangat 'suami-suami pasrah'.
Polisi itu tertawa, rasa curiganya luntur seketika melihat kemesraan 'pasutri' di depannya. "Ah ... kalian pasti pengantin baru. Ya sudah, ini surat-suratnya, silakan lanjut. Hati-hati di jalan."
"Terima kasih, Pak," jawab Narendra sesingkat mungkin. Begitu kaca jendela tertutup rapat dan mobil bergerak menjauh dari jangkauan polisi, pria itu menginjak gas lebih dalam.
"Jangan peluk-peluk saya, Geraldine!" desis Narendra saat mereka sudah cukup jauh dari lokasi tempat razia tadi.
Geraldine bukannya melepas pelukannya, dia malah semakin mengeratkan pelukan dan berbisik tepat di telinga Narendra. "Bapak kok jahat banget sih sama istri sendiri!"
Narendra mengerem mendadak di bahu jalan yang sepi, membuat tubuh Geraldine sedikit terdorong ke depan. Dia memutar tubuhnya, menatap Geraldine dengan tatapan yang seolah ingin menelan gadis itu hidup-hidup. Kilatan gairah dan amarah bercampur jadi satu di matanya.
"Sekali lagi kamu menggoda saya seperti ini, tak peduli siapa ayahmu atau setinggi apa pangkatnya, saya akan memberimu hukuman yang tak akan pernah kamu lupakan."
Geraldine hanya tertawa, sama sekali tidak takut dengan ancaman maut Narendra. "Hukumannya apaan tuh, Pak? Duh ... saya milih dihukum Bapak aja, deh."
Narendra melepaskan paksa tangan Geraldine yang masih melingkar di lehernya dengan sekali sentakan kuat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia mematikan mesin mobil, membuka pintu kemudi, dan melangkah keluar dengan raut wajah yang menggelap.
Geraldine sempat terpaku di kursi belakang. Tawanya terhenti seketika saat melihat Narendra membuka pintu penumpang belakang dengan gerakan kasar. Sosok pria yang biasanya tenang itu kini tampak seperti pemangsa yang kehilangan kesabaran.
Narendra melepas jaket bombernya dengan gerakan taktis, menyisakan kaos hitam yang membungkus ketat otot lengannya yang menegang. Hal itu membuat Geraldine refleks menelan ludah, jantung berdegup kencang karena rasa takut yang mulai merayap saat melihat tatapan tajam Narendra.
"P-Pak ... mau ngapain?" cicit Geraldine.
Narendra tidak menjawab, dia meraih ujung kaos putih yang dipakai Geraldine — kaos miliknya sendiri. Dengan satu sentakan kuat dan gerakan yang sangat terlatih, pria itu menyobek bagian bawah kaos tersebut hingga menjadi helaian kain yang panjang.
"Eh! Bapak!" Geraldine memekik, tapi Narendra bergerak lebih cepat.
Narendra menarik kedua tangan Geraldine ke belakang tubuh gadis itu, melilitkan jaket bombernya mengelilingi tubuh dan mengikat kedua lengan Geraldine hingga dia tak bisa bergerak bebas. Tidak berhenti di situ, Narendra juga menarik sabuk pengaman dengan tegas, menyilangkannya di tubuh gadis itu, lalu mengunci dengan bunyi klik yang mantap.
Kini Geraldine benar-benar terkunci di kursi, terjepit di antara lilitan jaket dan sabuk pengaman, tanpa ruang untuk melawan atau pun bergerak.
"Bapak gila! Lepasin! Saya bisa la—"
Kalimat Geraldine terputus saat Narendra dengan gerakan cepat melilitkan kain robekan kaos yang tadi ke mulut Geraldine, menyumpal suara dan mengikat kuat di belakang kepala.
Narendra sedikit menjauh, menatap hasil kerjanya dengan napas yang masih sedikit memburu. Dia menyunggingkan senyum tipis — senyum kemenangan yang tampak sangat maskulin sekaligus mengintimidasi. Lalu, dia mengulurkan tangan, menepuk-nepuk pipi Geraldine yang kini merona hebat karena marah.
"Diam dulu ya, istriku sayang," bisik Narendra rendah, suaranya terdengar sangat dalam di telinga Geraldine. "Kalau begini kamu tambah cantik deh. Tidak berisik, tidak bisa menggoda saya, dan yang paling penting ... pas sekali dengan tipe istri idaman saya, istri yang penurut."
Mata Geraldine membelalak lebar, hampir keluar dari kelopaknya. Dia menggeliat protes, mencoba melepaskan ikatan jaket dan sumpalan mulutnya, tapi hasil karya pengikatan Narendra jelas bukan tandingannya. Suara protesnya hanya terdengar seperti erangan tak jelas di balik kain.
Kemudian, Narendra keluar dari pintu belakang, menutup pintu dengan tenang, dan kembali ke kursi pengemudi. Dia tampak menarik napas panjang, membenarkan posisi spion tengah agar dia bisa terus memantau 'tawanan' cantiknya itu, lalu kembali memacu mobil membelah fajar.
Suasana kabin mobil itu kin jadi senyap, hanya menyisakan suara deru mesin dan suara Geraldine yang sesekali mencoba meronta.
Narendra kini menyetir dengan expresi tampak sangat puas karena akhirnya berhasil menjinakkan putri sang Komandan dan dia refleks membatin, "Geraldine bakal lapor ke Papanya nggak, ya? Kalau Pak Handoko tahu anaknya ku ikat dan mulutnya ku tutup begitu ... kayaknya aku bakal ditembak mati sama beliau?"