Chapter 6. Godaan Putri Komandan

1279 Words
"Iya, iya!" balas Geraldine panik. Dia buru-buru membungkuk, menarik kembali celananya ke atas. "Udah belum?" tanya Narendra, suaranya naik satu oktav karena gugup yang luar biasa. Wajahnya kini benar-benar terlihat merah, bahkan menjalar hingga ke leher dan telinga. Geraldine melihat reaksi Narendra, insting nakalnya mendadak bangkit kembali di tengah rasa malunya. "Lihat sendiri dong, Pak! Ngapain Bapak tutup mata? Tadi kan katanya saya ini istri Bapak yang nyusahin," godanya sambil berusaha mengikat tali celana itu sekencang mungkin di pinggangnya agar tidak terjadi tragedi jilid dua. Narenda yang masih menutup mata berteriak, "Masuk ke kamar sekarang juga, Geraldine! Atau saya usir kamu dari sini!" Setelah mendengar bunyi pintu kamar tamu ditutup dengan keras, barulah Narendra perlahan membuka mata. Dia akhirnya bisa mengembuskan napas lega karena sedari tadi paru-parunya refleks menahan napas. Jantungnya masih berdegup kencang, dan bayangan sepersekian detik tadi seolah enggan hilang dari ingatannya. "Anak Komandan Handoko benar-benar unik," gumam Narendra lirih, dia memijat pangkal hidung. "Dia anak yang nakal, menyebalkan dan sangat berbahaya bagi kesehatan jantungku." Narendra mencoba menetralkan pikiran. Sebagai intel, dia sangat sadar jika dia tidak boleh kehilangan fokus. Dia kembali meraih ponsel tipis berwarna hitam yang tadi sempat terjatuh di pangkuan. Baru saja dia hendak memeriksa pesan masuk, ponsel itu bergetar. Sebuah panggilan masuk dengan identitas Unknown Number. Narendra segera menempelkan ponsel itu ke telinga, wajahnya kini kembali ke mode dingin dan waspada — jiwa intelijennya aktif seketika. "Masuk!" ucapnya singkat dengan suara rendah. "Lapor, Komandan. Situasi di lokasi penggerebekan sudah terkendali. Target utama, si pengedar di meja VIP, sudah diamankan beserta barang bukti tiga paket besar jenis baru." Suara di seberang telepon terdengar formal. Itu adalah Bram, salah satu anggota tim teknisnya. Narendra mengangguk, seolah Bram ada di hadapannya. "Bagaimana dengan rekaman CCTV? Kalian sudah pastikan tidak ada wajahku dan wajah aset yang terekspos?" "Sudah beres. Tim IT sudah menyisir server pusat klub. Semua rekaman di lorong dapur dan pintu keluar belakang sudah diformat ulang. Secara teknis, tidak ada bukti visual tentang keberadaan Anda dan ... 'Aset' tersebut di lokasi." Narendra bernapas lega, tapi masih tetap di mode waspada. "Bagus. Bagaimana dengan barang bukti daftar pengunjung?" "Itu masalahnya, nama 'Aset' sudah kami rekayasa agar tidak ada dalam daftar, tapi beberapa saksi mata, teman-teman kampusnya malah jadi bingung dan mulai mencari keberadaan dia. Untungnya sih teman-teman Aset nggak bilang ke penyidik kalau ada satu temannya yang mendadak hilang. Sementara Pak Kombes, sudah mulai menanyakan laporan final malam ini. Beliau minta update langsung ke ponsel pribadi Anda." Narendra terdiam sejenak, melirik ke arah pintu kamar tempat Geraldine berada. "Biarkan itu jadi urusan saya. Sekarang, saya minta pada tim untuk tetap siaga di ring dua safe house. Jangan ada pergerakan mencolok. Saya akan mengantar 'Aset' ke lokasi pertemuan kedua besok subuh." "Siap, laksanakan!" Telepon ditutup. Narendra meletakkan ponsel rahasia itu dengan kasar di meja. Situasi di luar semakin panas, sementara di dalam rumah ini, dia harus menghadapi si 'Aset' yang membuatnya hampir kehilangan kendali karena sepasang paha mulus. Narendra bangkit, berjalan menuju dapur untuk mengembangkan ponsel itu ke dalam laci sekaligus mengambil segelas air dingin. Dia harus tetap terjaga semalaman. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun, baik dalam pekerjaannya, maupun dalam menjaga jarak dengan gadis nakal di kamar sebelah. *** Pukul tiga pagi, suasana kompleks masih sunyi dan senyap. Namun Narendra sudah bersiap sejak satu jam yang lalu, dia mengenakan jaket bomber hitam dan celana kargo, sedang mengetuk pintu kamar tamu berkali-kali dengan perasaan waswas. "Geraldine, bangun! Kita harus berangkat sekarang!" Nihil, tidak ada jawaban dan pintu tetep tertutup rapat. Karena merasa waktu terus mengejarnya, Narendra terpaksa memutar kenop pintu. Keheranannya sedikit memuncak saat mendapati pintu itu tidak dikunci. Di dalam, remang cahaya lampu tidur menyinari sosok Geraldine yang masih bergelung di bawah selimut tebal, mengenakan kaos putih kebesaran milik Narendra. Narendra mendekat, lalu mengguncang bahu gadis itu dengan tegas. "Geraldine, cepat bangun!" Geraldine bergerak untuk berpindah posisi dari miring ke kanan menjadi ke kiri, memunggungi Narendra sambil menarik selimut lebih tinggi dengan mata masih tertutup rapat. "Masih ngantuk saya, Pak ... pulangnya nanti aja ya!" "Nggak bisa! Kita harus pergi sekarang sebelum warga bangun untuk salat Subuh di masjid atau olahraga memutari komplek!" Suara Narendra terdengar penuh tekanan. Geraldine akhirnya membuka matanya sedikit, menatap Narendra dengan pandangan sayu yang menggoda. Alih-alih bangun, dia justru mengulurkan kedua tangan ke atas dalam posisi masih berbaring di atas kasur. "Gendong!" "Nggak ada gendong-gendongan. Kamu punya kaki, jalan sendiri!" "Gendong!" Geraldine mengulangi permintaannya dengan nada lebih keras, bibirnya mengerucut. "Kalau Bapak nggak mau gendong, saya tetap bobo di sini. Biar saja para warga lihat wajah cantik aku. Biar mereka nagih acara syukuran pernikahan kita ke Bapak!" Narendra mendengus kesal, rahangnya mengeras. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Menyeret Geraldine yang sedang dalam mode keras kepala seperti ini hanya akan membuang waktu berharga. Dengan geram, dia membungkuk dan menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung gadis itu, mengangkat tubuh ringan Geraldine dalam satu gerakan bridal style. Namun, begitu tubuh mereka bersentuhan, Geraldine refleks melingkarkan lengan di leher Narendra, tubuh mereka jadi lebih rapat hingga tak ada celah di antara d**a mereka. Gadis itu menyembunyikan wajah di ceruk leher Narendra, menghirup aroma maskulin sabun dan parfum yang menguar kuat. Bahkan hidung Geraldine yang nakal mulai mengusap-ngusap kulit leher Narendra, sebuah tindakan kecil yang mengirimkan sengatan listrik langsung ke seluruh tubuh sang dosen. "Diam, Geraldine ...!" desis Narendra. Suara pria itu kini tak lagi dingin, melainkan berat dan tertahan. Sebagai pria dewasa yang sehat, apalagi dalam kesunyian fajar di mana hormon sedang berada di puncaknya, Narendra merasakan gejolak hebat. Darah berdesir panas, setiap embusan napas hangat Geraldine yang menyapu kulit lehernya membuat pertahanan Narendra terkikis perlahan. Bukannya diam, Geraldine justru semakin berani. Dia nekat memberikan kecupan-kecupan kecil yang lembut di sepanjang garis rahang Narendra hingga turun kembali ke ceruk leher. seolah sengaja menguji seberapa kuat integritas seorang perwira penyidik itu. Narendra berhenti melangkah tepat di ambang pintu rumah. Napas mulai memburu, berat dan tidak beraturan. Tangannya yang menopang tubuh Geraldine tanpa sadar mencengkeram lebih erat paha gadis itu. Dan yang pasti sesuatu yang ada di bawah perut pria itu mulai menegang, menciptakan sensasi panas yang menyiksa. "Geraldine ... mau kamu saya jatuhin sekarang?!" gertak Narendra dengan suara yang serak, nyaris menyerupai geraman. Matanya menggelap saat dia menahan diri untuk tidak membalas perlakuan mahasiswinya itu. Geraldine mendongak, menatap mata Narendra yang berkilat penuh gairah tertahan. Dia tersenyum nakal, puas melihat sang "dosen yang dia curigai sebagai intelijen" itu akhirnya goyah. Namun, menyadari ancaman Narendra bukan main-main, dia akhirnya menyembunyikan wajahnya kembali, diam mematung sambil sesekali masih menyesap aroma tubuh Narendra yang memabukkan. "Dasar!" Narendra kembali melangkah, dia membuka pintu lalu mengunci pintu dengan gerakan cepat, membawa "Aset" ke mobil. Narendra mendudukkan Geraldine di kursi penumpang belakang selembut mungkin, lalu menutup pintu dengan dentuman yang agak keras seolah ingin membuang ketegangan yang tadi sempat memuncak. Dengan langkah lebar Narendra memutari mobil, masuk ke kursi pengemudi, dan segera mencengkeram kemudi dengan erat untuk menenangkan tangannya yang sedikit gemetar. Sementara di belakang, Geraldine sudah berganti posisi dari duduk menjadi berbaring. Gadis itu menekuk kaki di atas jok kulit, menatap punggung kursi pengemudi dengan binar kemenangan. "Di mana rumah teman kamu?" tanya Narendra tanpa menoleh, suaranya masih terdengar parau. Geraldine menyebutkan sebuah alamat di kawasan perumahan elit. Setelah Narendra memasukkan koordinat tersebut ke sistem navigasi, suara mesin mobil terdengar menderu pelan, lalu meluncur membelah jalanan fajar yang sepi. "Tidur lagi sana!" ucap Narendra dengan nada galak sambil berusaha memfokuskan pikirannya sepenuhnya pada jalanan. “Iya, suamiku. Sayang. Thanks, and I love you.” Geraldine mengucapkan kata-kata itu sambil menahan diri agar tidak terkekeh. “Dasar istri nakal dan menyusahkan! I don’t love you.” Narendra mendengus kesal sambil menggeleng pelan, meski tanpa sadar kedua sudut bibirnya refleks melengkung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD