Di luar sana berdiri seorang gadis muda, membawa sebuah piring berisi aneka kue basah. Narendra menghela napas lega karena orang itu bukanlah polisi, bukan juga penjahat.
Orang itu adalah anak Pak RT.
Narendra membuka pintu, dan tersenyum ramah. "Iya, ada apa ya, Dek?"
Gadis itu mendongak, wajahnya seketika merona saat melihat penampilan Narendra yang rambutnya masih sedikit basah dan kaos yang memperlihatkan otot kekarnya. "Halo, Mas Narendra ... ini, Mas, ada sedikit makanan dari pengajian ibu-ibu di rumahku tadi. Ibuku yang nyuruh aku nganterin ini ke sini khusus buat Mas Narendra."
Gadis itu menatap Narendra dengan pandangan berbinar-binar, seolah-olah piring di tangannya adalah sebuah persembahan cinta.
"Wah ... terimakasih, ya." Narendra baru saja hendak mengulurkan tangan untuk menerima pemberian itu, tapi sebuah suara manja menyela dari arah belakang.
"Siapa, Sayang?"
Narendra membeku, suara itu jelas milik Geraldine, tapi nadanya ... kenapa jadi berubah seratus delapan puluh derajat?
Geraldine melangkah mendekati pintu. "Oh ... tetangga, ya?" tanyanya dengan nada yang sangat lembut, sambil fokus menatap ke arah gadis tetangga itu yang kini wajahnya berubah pucat.
Gadis tetangga itu ternganga. "Di–dia ... siapa, Mas?"
Geraldine tidak membiarkan Narendra menjawab. Dengan gerakan kilat, dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Narendra dari samping, memeluknya dengan sangat erat seolah sedang mengklaim wilayah kekuasaannya.
"Halo ... kenalin, Dek. Aku istrinya Mas Narendra. Kami baru saja menikah tadi pagi secara sederhana, makanya belum sempat berkabar ke tetangga," ucap Geraldine dengan wajah tanpa dosa. "Benar kan, Sayang?"
Narendra merasa lidahnya kelu. Jantungnya berdegup kencang karena dipeluk Geraldine.
"Ka–kalian sudah ... menikah?" Suara gadis tetangga itu terdengar bergetar.
"Iya. Mas Narendra kan baru kramas, kamu paham lah ... kita habis ngapain?" sahut Geraldine, kemudian dia berjinjit, lalu dengan sengaja mengecup pipi Narendra dengan bunyi cup yang cukup nyaring tepat di depan mata gadis itu.
Mata Narendra refleks membelalak, wajahnya memerah sampai ke telinga, dia masih tak bisa berkata-kata.
Sementara mata gadis itu tampak berkaca-kaca, expresinya terlihat sekali sedang menahan tangis.
Geraldine melepaskan pelukannya dari Narendra lalu mengambil piring dari tangan gadis itu. "Makasih ya makanannya, besok piringnya aku antar balik sekalian kasih undangan pesta pernikahan kami."
Gadis itu hanya mengangguk, lalu berbalik dan lari tunggang langgang tanpa pamit.
Begitu gadis itu tak terlihat lagi, Narendra buru-buru menutup pintu dan menguncinya. Lalu, dia berbalik, menatap Geraldine dengan expresi marah, benar-benar marah. "Geraldine! Apa-apaan kamu tadi?!"
Geraldine justru tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi perutnya. "Aduh, Pak! Bapak nggak lihat muka dia? Lucu banget! Lagian dia tuh agresif banget mandangin Bapak, saya kan cuma bantu Bapak biar nggak diganggu sama dia."
"Tapi tidak dengan mengaku sebagai istriku dan ... dan mencium pipiku!" Narendra mengusap pipinya yang terasa panas. "Dia itu anak Pak RT. Besok pagi pasti berita aku sudah menikah akan viral di grup w******p penghuni kompleks ini!"
Geraldine berhenti tertawa, dia menatap Narenda dengan pandangan jahil. "Ya daripada Bapak ketahuan lagi nyembunyiin mahasiswi sendiri. Mendingan bilang kita udah udah nikah aja, kan? Kalau nggak bilang gitu nanti kita digrebek terus dinikahkan, loh!"
"Astaga, Geraldine! Kalau kamu tadi nggak muncul ya nggak mungkin ketahuan!" Narendra menyugar rambutnya dengan frustrasi. "Cepat masuk kamar sekarang dan tidur lah!"
"Nggak mau." Geraldine berbalik dengan santai, berjalan menuju meja makan mungil, lalu duduk di kursi yang tadi sempat dia tempati. "Saya mau makan ini, sayang kalau nggak dimakan. Besok basi loh, Pak."
Lalu Geraldine mulai memilih-milih. "Hem ... ada kue lumpur, pastel, lemper dan ada dadar gulung juga. Bapak mau yang mana? Anggap saja ini kue perayaan 'pernikahan' kita malam ini."
Narendra mematung di dekat pintu, menatap mahasiswinya itu dengan napas yang masih memburu. Dadanya naik-turun, menahan kombinasi antara amarah dan sisa-sisa keterkejutan akibat kecupan mendadak tadi. Dia menyentuh pipinya lagi sejenak, lalu segera menurunkan tangannya seolah pipi itu baru saja terkena setrika panas.
"Geraldine, kamu benar-benar tidak tahu batasan!" desis Narendra sambil melangkah mendekat, tapi dia tetap duduk di hadapan gadis itu.
"Batasan?" Geraldine menggigit ujung kue dadar gulung, menatap Narendra dengan mata bulatnya yang jenaka. "Bapak harusnya tuh berterima kasih sama saya. Bapak lihat sendiri kan muka anak Pak RT tadi? Dia itu suka sama Bapak dan dia itu tipe agresif yang bakal sering mampir bawa makanan ke sini kalau nggak dikasih syok terapi seperti yang saya lakukan tadi."
"Iya, terima kasih untuk rumor yang akan membuat saya diinterogasi seluruh warga perumahan besok saat giat kerja bakti yang diadakan sebulan sekali. Dan kebetulan itu akan dilaksanakan Minggu besok." Narendra menyambar gelas dan meminum airnya hingga tandas.
"Ya tinggal jawab saja kalau Bapak emang udah nikah sama saya," sahut Geraldine enteng. "Besok Minggu saya ikut kerja bakti deh, akting saya kan bagus. Kita bakal jadi suami istri yang paling oke di perumahan ini, Sayang."
Narendra terdiam, menatap Geraldine yang tampak sangat menikmati makanan itu seolah-olah mereka tidak baru saja melarikan diri dari penggerebekan narkoba. Gadis ini memiliki ketenangan yang mengerikan, atau mungkin, dia memang sudah terbiasa hidup di antara rahasia-rahasia besar sebagai anak seorang Kombes.
"Kenapa Bapak liatin saya begitu?" Geraldine menaikkan alisnya, menyodorkan kue lumpur ke arah Narendra. "Bapak mulai terpesona ya sama saya? Atau Bapak mau saya cium lagi?"
Narendra segera merebut kue lumpur itu dan memasukkannya ke mulut dengan kasar untuk menutupi kegugupannya. "Jangan ngaco. Cepat habiskan, lalu masuk ke kamar. Kita harus pergi sebelum shubuh biar nggak dilihat sama satu pun ibu-ibu komplek."
"Ish, nggak mau lah kalau saya langsung bobo. Gara-gara makan mi saya jadi kegerahan karena kepedesan. Terus saya jadi pengen mandi, pinjem bajunya dong, Pak!" rengek Geraldine sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan leher, seolah benar-benar kepanasan.
Narendra memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Tadi kamu bilang nggak bisa tidur karena laper, sekarang kamu nggak bisa tidur karena kegerahan terus pengen mandi dan minjem baju saya. Kamu ini banyak sekali maunya, ya?"
"Nggak apa-apa lah, Pak. Nyusahin suami sendiri kan nggak dosa," Geraldine berkedip-kedip nakal, menatap Narendra dengan wajah polos yang dibuat-buat. "Kita kan suami istri. Emangnya Bapak mau peluk saya kalau saya bau asem begini?"
Narendra memutar bola matanya, mendengus kasar melihat tingkah ajaib mahasiswinya itu. "Dasar istri nyusahin! Siapa juga yang mau peluk kamu? Mimpi!"
Narendra berdiri dengan terpaksa, melangkah menuju kamarnya yang terkunci rapat. Setelah beberapa saat, dia kembali dengan membawa sebuah kaos oblong putih polos dan celana olahraga berbahan kain yang ukurannya jelas akan terlihat sangat kebesaran di tubuh kecil Geraldine.
"Ini!" Narendra menyodorkan pakaian itu dengan tangan terjulur jauh, seolah takut bersentuhan.
Geraldine menerima pakaian itu dengan senyum lebar. "Makasih, Sayang! Duh, kaosnya wangi Bapak banget, ya? Maskulin gimana gitu. Kan saya jadi pengen kelonan sama orangnya."
"Geraldine!" gertak Narendra dengan suara rendah yang memperingatkan.
"Iya, iya, ampun! Galak banget sih suami saya, awas loh nanti jatuh cinta beneran sama saya," ledek Geraldine sambil berlalu menuju kamar mandi.
Narendra hanya bisa menghela napas panjang, bersandar di meja makan sambil menatap piring kue yang tersisa. Dia baru saja menyadari satu hal jika malam ini akan menjadi malam terpanjang dalam sejarah karier penyamarannya.
Bagaimana tidak? Di balik pintu kamar mandi itu, ada putri seorang Kombes yang baru saja mengecup pipinya, mengaku sebagai istrinya, dan nanti dia akan memakai bajunya.
Tiba-tiba, suara guyuran air dari kamar mandi terdengar. Narendra segera beranjak menuju ke dapur, mengambil ponsel rahasianya lalu pergi ke ruang tengah, mencoba menyibukkan diri dengan ponsel rahasia itu. Dia harus memastikan laporan penggerebekan tadi benar-benar bersih dari nama Geraldine dan namanya sendiri.
Namun, fokusnya buyar saat pintu kamar mandi terbuka beberapa belas menit kemudian. Geraldine keluar, rambut panjangnya basah, dan kaos putih milik Narendra tampak merosot di bahu kanan gadis itu. Celana olahraganya bahkan harus dia gulung beberapa kali agar tidak menginjak lantai.
"Pak ... kaosnya kegedean banget. Lihat nih, saya kayak tenggelam," ucap Geraldine sambil merentangkan tangan.
Narendra menatap Geraldine, dia membuka mulut, hendak memerintahkan Geraldine untuk segera masuk ke kamar. Namun, kata-katanya tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak lebar saat melihat Geraldine merentangkan tangan untuk memamerkan betapa besarnya kaos itu.
Kaos putih milik Narendra memang menjuntai jauh melewati pinggul Geraldine, menutupi paha atasnya hingga tersisa sekitar 20 cm di atas lutut. Namun, celana olahraga berbahan kain itu ternyata benar-benar tidak bersahabat dengan pinggang ramping Geraldine.
Hanya dalam satu detik yang terasa seperti gerak lambat, karet celana yang longgar itu menyerah pada gravitasi.
Celana itu meluncur mulus ke bawah dan menumpuk di pergelangan kaki Geraldine.
Pemandangan paha putih mulus dan jenjang milik Geraldine terpampang nyata di depan mata Narendra. Cahaya lampu ruang tengah yang remang seolah sengaja menyoroti kulit gadis itu yang masih lembap dan segar setelah mandi.
Suasana mendadak senyap. Hanya detak jam dinding yang terdengar seperti dentuman keras di telinga Narendra.
"Eh!" Geraldine memekik kaget, wajahnya seketika memerah secerah tomat matang. Dia refleks menarik ujung kaos putih itu ke bawah dengan kedua tangannya sekuat tenaga, berusaha menutupi pahanya.
Narendra mematung.
Otak seorang intelijen yang biasa bekerja taktis mendadak blank. Adrenalinnya melonjak ke titik tertinggi karena syok visual yang tidak ada dalam prosedur operasi manapun.
"Geraldine! Cepat pakai lagi celanamu!" teriak Narendra refleks sambil menutup matanya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya menunjuk-nunjuk ke arah bawah dengan gerakan kacau.