Chapter 4. Gadis Yang Terlalu Pintar

1304 Words
"Apa kamu punya teman akrab yang tidak ikut pergi ke klub malam tadi?" tanya Narendra dengan nada yang lebih tenang, berusaha mengendalikan situasi. Geraldine mengangguk cepat. "Punya, dia dari jurusan lain. Emangnya kenapa, Pak?" "Kamu telepon temanmu itu sekarang! Bilang kalau besok pagi-pagi sekali kamu mau ke rumahnya. Terus kamu telepon juga supirmu, bilang kalau kamu menginap di rumah temanmu yang itu setelah kalian makan malam bersama di salah satu restoran. Dengan begitu, supirmu punya titik jemput yang aman dan tidak ada hubungannya dengan penggerebekan tadi." Geraldine tertegun sejenak, mencerna rencana itu. "Wah ... ide Bapak brilian sekali! Ternyata selain jago ganti ban, Bapak jago juga ya bikin skenario. Kayaknya Bapak itu emang aslinya seorang intel deh, sesuai dugaan aku." "Bukan!" Narendra mendengus. "Kan saya tadi udah bilang kalau saya ini dulunya sering ke klub malam dan selalu berhasil kabur dari razia. Makanya saya bisa bikin skenario kabur-kaburan untukmu dengan sangat mudah. Sekarang, cepat lakukan perintahku!" Geraldine merogoh celana jinsnya, dia mengeluarkan ponsel dan mulai menghubungi temannya yang bernama Sisil. Setelah drama singkat di telepon dan memastikan Sisil mau bekerja sama, Geraldine beralih menghubungi Bambang. Dia mengatur suaranya sedemikian rupa agar terdengar seperti mahasiswi yang baru selesai makan malam dengan anggota genk cantiknya, bukan mahasiswi yang baru saja lari dari kepungan polisi. "Beres, Pak!" seru Geraldine setelah menutup telepon. Dia mengembuskan napas lega dan menatap Narendra dengan binar kagum yang tidak bisa disembunyikan. "Sana cepat masuk kamar! Biar besok nggak kesiangan!" titah Narendra dingin. Geraldine melangkah masuk kamar tamu, tapi sebelum dia menutup pintu, dia menatap Narendra sekali lagi dan berkata, "Pak ... makasih ya. Bapak benar-benar penyelamat saya hari ini." Narendra hanya mengangguk kaku. Begitu pintu kamar tamu tertutup rapat dan suara kunci terdengar, Narendra menghela napas panjang. Dia menyugar rambut yang berantakan, lalu berjalan menuju dapur. Langkah kaki Narendra sangat pelan, nyaris tak terdengar. Dia membuka laci paling bawah di dekat wastafel, menggeser tumpukan kain lap, dan mengeluarkan sebuah ponsel tipis berwarna hitam yang berbeda dengan ponsel yang dia gunakan di kampus. Dia mengetik pesan singkat dengan cepat : "Aset aman. Berada dalam pengawasan saya di Safe House B. Hapus rekaman CCTV di area pintu belakang Klub V yang mengarah ke lorong dapur. Pastikan tidak ada jejak." Baru saja Narendra meletakkan ponsel itu kembali ke tempatnya, sebuah suara membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. "Pak ... saya lapar. Kalau saya lapar, saya nggak bisa bobo. Bapak punya mi ins—" Narendra dengan gerakan secepat kilat berbalik. Sementara Geraldine yang berdiri di ambang dapur menatapnya dengan wajah polos. "Bapak lagi ngapain?" tanyanya curiga. Matanya menyipit, menatap wajah Narendra yang tampak terkejut. Yang menurutnya terlalu berlebihan. "Nggak ngapa-ngapain," jawab Narendra, suaranya kembali datar meski adrenalinnya sedang memuncak. "Kamu mau makan? Ada mi instan di lemari atas. Ambil dan masak sendiri, ya! Saya mau mandi. Gerah!" Geraldine berjalan mendekat, dia melewati Narendra yang masih berdiri kaku. Saat jarak mereka sangat dekat, gadis itu sengaja berhenti. Dia menghirup udara dengan kuat di sekitar Narendra. "Bapak ... pakai parfum apa sih? Kok baunya beda sama tadi di kampus? Sekarang baunya lebih kayak ... bau-bau Papaku kalau lagi kerja," bisik Geraldine, membuat Narendra menahan napas. Narendra memaksakan diri untuk tertawa, sebuah tawa yang terdengar hambar di telinga Geraldine dan wajah tersenyum lebar yang terlihat palsu di mata Geraldine. Sebenarnya, jika itu orang biasa, mereka tidak akan pernah sadar ada yang salah. Narendra adalah aset terbaik di Ditresnarkoba, kemampuan akting dan menyamarnya sudah teruji hingga di sarang bandar kelas kakap. Namun, sial baginya, gadis di depannya ini bukan orang biasa. Geraldine adalah putri seorang jenderal polisi yang sejak kecil sarapan dengan aroma dunia kepolisian, ditambah lagi dia adalah mahasiswi Psikologi yang dilatih untuk membaca mikro-ekspresi manusia. "Kamu ada-ada saja!" cetus Narendra sambil melangkah menjauh, berusaha melepaskan diri dari radius penciuman Geraldine yang terlalu tajam. "Bau keringat dan asap rokok dari klub tadi mungkin bercampur jadi satu. Makanya saya mau mandi sekarang." Narendra melangkah menuju kamar mandi yang terletak tak jauh dari dapur, berusaha menjaga ritme langkahnya agar tetap terlihat santai. "Bapak mau saya buatin sekalian, nggak?" seru Geraldine dari arah kompor. Narendra menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar mandi. Dia berbalik, menatap Geraldine yang sudah mulai sibuk membuka rak atas dan mengambil mi instan. Ada secercah rasa hangat yang tidak seharusnya dia rasakan melihat pemandangan itu. "Boleh, deh. Saya juga lapar." Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara air mulai mengucur, Narendra menyandarkan punggung di balik pintu. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menormalkan detak jantung yang berpacu gila-gilaan, itu karena dia sadar bahwa penyamarannya sedang berada di ujung tanduk di hadapan gadis yang seharusnya tidak boleh tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Di luar, Geraldine mulai menyalakan kompor. Matanya yang bulat tidak lepas dari laci wastafel yang tadi sempat dibuka oleh Narendra. Sebagai mahasiswi psikologi, dia tahu persis bahwa tawa Narendra tadi memiliki nada defensive. Dan sebagai anak polisi, dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan di dalam laci itu. Sambil menunggu air mendidih, Geraldine melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Suara guyuran air terdengar konstan. Dengan gerakan sangat pelan, nyaris menyerupai hantu, Geraldine melangkah mendekati wastafel. Tangannya terulur ke arah laci paling bawah, tapi laci itu tidak bisa dibuka, laci itu dikunci. Kemudian, pintu kamar mandi terbuka sedikit. Narendra hanya mengeluarkan kepalanya. "Geraldine, ada telur dan banyak sayuran di kulkas. Pakai itu ya, biar ada gizinya. Terus aku pakai cabai satu saja. Saya tidak suka pedas!" Geraldine terlonjak kaget, tangannya ditarik kembali secepat kilat. "I-iya, Pak! Cerewet banget, sih! Saya bakal pakai telur dan sayur yang banyak!" sahutnya dengan nada kesal yang dibuat-buat untuk menutupi kegugupannya. Narendra menutup kembali pintu kamar mandi. Di dalam sana, dia mengepalkan tangan. Dia tahu gadis itu baru saja mencoba mencari tahu. "Dia itu ... gadis yang terlalu pintar," gumamnya di bawah kucuran air shower. Sepuluh menit kemudian, dua mangkuk mi instan mengepul di atas meja makan kecil. Narendra keluar dari kamar mandi dengan kaos hitam dan celana pendek dengan warna senada, ada handuk kecil masih melingkar di leher. Rambutnya yang basah membuat dia terlihat jauh lebih muda, sedikit melunturkan kesan dosen "psikopat" — Geraldine yang memberikan kesan itu. "Wah, aromanya enak banget," celetuk Geraldine tersenyum lebar, sudah ada sumpit di tangannya. Narendra yang duduk di hadapannya, mulai menyantap mi miliknya dengan tenang. "Makan pelan-pelan, ya! Hati-hati, panas." "Pak ...," panggil Geraldine di sela kunyahannya. "Bapak bilang tadi Bapak sering clubbing dulu. Tapi kok rumah ini ... bersih banget? Kayak nggak ada jejak 'nakal' sama sekali. Malah laci wastafel aja dikunci. Bapak simpan apa, sih? Surat cinta dari mantan?" Narendra hampir tersedak. Dia menatap Geraldine dengan sorot mata yang kembali tajam tapi terkontrol. "Itu isinya pisau daging yang super tajam. Saya tidak mau ada orang asing sembarangan membukanya lalu terluka. Itu namanya tanggung jawab, Geraldine. Sesuatu yang jarang dimiliki anak-anak seusiamu." Geraldine mencibir. "Masih ngeles, ya. Padahal cara Bapak tadi narik saya keluar dari klub itu ... lebih kayak adegan film action, alias polisi yang lagi nyamar. Bukan seorang dosen yang di masa mudanya pernah nakal." "Itu namanya adrenalin. Di Psikologi Kriminal, kamu akan belajar bahwa dalam kondisi fight or flight, manusia bisa melakukan hal-hal di luar nalar," jawab Narendra, kembali ke mode dosennya. Baru saja Geraldine ingin membalas dengan teori psikologi lain untuk memojokkan Narendra, sebuah suara menghentikan gerakan mereka .... Suara ketukan di pintu depan terdengar tegas dan berulang. Keduanya membeku. Narendra meletakkan sumpitnya tanpa suara. Otaknya langsung berputar cepat jika tim teknis tidak mungkin datang ke sini tanpa kode. "Siapa malam-malam begini?" bisik Geraldine, wajahnya kembali tegang. "Jangan-jangan ada polisi yang ngikutin kita?" Narendra memberi isyarat agar Geraldine diam dengan meletakkan telunjuk di bibirnya. Dia berdiri pelan, melangkah menuju pintu dengan kewaspadaan seorang predator. Tangannya secara refleks bergerak ke arah pinggang belakang — tempat dia biasanya menyimpan senjata — sebelum tersadar jika dia sedang tidak memakai holster. Narendra mengintip melalui lubang kecil di pintu. Sosok di luar sana ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD