Chapter 3. Diinterogasi Putri Komandan

1081 Words
Narendra terdiam sejenak, menatap Geraldine yang masih berusaha mengatur napas. Lalu, tatapannya kembali ke mode dingin yang misterius. "Bukan, saya bukan polisi," dustanya, suaranya terdengar sangat meyakinkan. "Dulu pas masih kuliah, saya juga hobi clubbing, jadi saya tahu caranya kabur dari razia seperti tadi. Intinya, saya itu selalu lolos dari penggerebekan. Dan tadi saya refleks mengajak kamu lari. Seharusnya kamu bilang makasih ke saya karena kamu tidak jadi dibawa para polisi itu." Geraldine mendengus, meski dalam hati dia merasa lega karena itu artinya, dia jadi terhindar dari amukan orang tuanya. “Ayo, kita pergi dari sini sebelum ada patroli susulan,” perintah Narendra setelah mobil taktis Dalmas dan beberapa SUV hitam berlampu strobo melaju meninggalkan area penggerebekan. Geraldine hanya mengangguk, lalu mereka berjalan dalam diam, mengitari blok bangunan hingga sampai di area parkir yang remang-remang. Setelah sampai di mobilnya, Narendra membukakan pintu mobil untuk Geraldine — di pintu penumpang belakang. Begitu keduanya sudah berada di dalam kabin, Narendra tidak langsung menyalakan mesin. Dia hanya memasukkan kunci, lalu menoleh ke belakang. "Bukannya kamu anak polisi dengan jabatan tinggi, ya? Kok kamu boleh nongkrong di klub malam?" Narendra memulai interogasi kecilnya di tengah pikiran yang sebenarnya sedang bercabang memikirkan laporan operasi yang gagal dia selesaikan malam ini. Geraldine tertawa, suara tawa yang terdengar nakal. "Mas Bambang tadi antar saya ke rumah temen saya. Terus saya sama temen saya pergi ke klub malam. Jadi ya ... Mas Bambang dan orang tua saya tidak tahu kalau saya nongkrong di klub malam." "Dasar nakal!" gumam Narendra pelan. "Bapak kan dulu juga anak nakal. Katanya tadi sering ke klub malam pas masih kuliah. Kok Bapak malah ngatain saya, sih?" balas Geraldine cepat. Narendra menghela napas panjang. Dia kehilangan kata-kata. Argumen anak atasannya itu memang sulit dipatahkan. "Oh iya, kenapa Bapak ke klub hari ini?" tanya Geraldine tiba-tiba, matanya tampak menyelidik. "Mau nostalgia?" "Ya ... bisa dibilang begitu, saya mau bertemu teman kampus, mereka ngajak reuni di sana." Geraldine mengangguk-angguk, tapi raut wajahnya masih menunjukkan keraguan. "Oh, tapi tadi Bapak kulihat sendirian." "Ya, saya kan tadi posisinya sedang mencari-cari posisi teman kampus saya. Kamu nggak lihat apa kalau saya tadi noleh ke kanan dan ke kiri?" jawab Narendra cepat, berusaha menutupi fakta bahwa dia sebenarnya sedang melakukan pengintaian. "Masak, sih?" Narendra menghela napas panjang lagi, merasa diinterogasi mahasiswinya ini jauh lebih melelahkan daripada diinterogasi atasannya. "Sekarang saya antar kamu ke mana? Alamat rumah kamu di mana?" "Jangan di rumahku! Papa sama Mama kan tahunya saya lagi menginap di rumah teman yang malam ini sedang ulang tahun. Jadi ... mendingan sekarang Bapak antar saya ke hotel saja!" "Hotel?" kening Narendra berkerut. "Iya, saya mau tidur di hotel. Atau ... ke rumah Bapak saja deh. Gimana? Saya boleh menginap di rumah Bapak, enggak?" "Nggak boleh!" tolak Narendra tegas. "Dih, pelit banget." "Kamu ini perempuan, Geraldine. Masa kamu menawarkan diri mau tidur di rumah laki-laki yang baru kamu kenal?" "Ya nggak apa-apa, saya percaya sama Bapak. Kayaknya Bapak juga nggak bakal mungkin ngapa-ngapain saya. Apa ... Bapak lagi menyembunyikan sesuatu di rumah Bapak, ya? Misalnya ... baju polisi, senjata, borgol, dan—" "Saya bukan polisi, Geraldine! Saya dosen," potong Narendra dengan nada sedikit tinggi untuk menutupi kegugupannya. "Ya sudah, kalau tidak ada sesuatu yang sedang disembunyikan dari saya, ya harusnya Bapak bolehin saya tidur di rumah Bapak!" tantang Geraldine sambil melipat tangan di d**a. Narendra memijat pangkal hidungnya. Membiarkan anak Kombes menginap di hotel sendirian dalam keadaan setelah penggerebekan tadi seperti ini justru lebih berisiko bagi misinya. Jika terjadi sesuatu pada Geraldine, kepalanya lah yang akan jadi jaminan di depan Handoko. "Oke," ucap Narendra pada akhirnya sambil memutar kunci kontak. Mesin mobil menderu halus. "Kamu boleh menginap di rumahku." Geraldine tersenyum penuh kemenangan. "Terimakasih, Pak Dosen!" Mesin sedan hitam itu menderu halus membelah jalanan kota Jakarta yang mulai sepi. Narendra menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk kemudi — kebiasaan yang dia lakukan saat otaknya sedang bekerja keras menyusun alibi agar penyamarannya tidak jebol di tangan gadis di sampingnya ini. "Bapak tinggal di mana?" tanya Geraldine sambil menyandarkan kepala ke kaca jendela, memperhatikan lampu-lampu jalan yang berkelebat. "Dekat kampus. Biar tidak perlu bangun terlalu pagi untuk menghadapi kemacetan." Mobil itu berbelok masuk ke sebuah kompleks perumahan di dekat kampus. Bukan perumahan mewah dengan gerbang tinggi dan penjagaan ketat, melainkan perumahan sederhana. Narendra menghentikan mobil di depan sebuah rumah minimalis dengan pagar besi hitam yang simpel. Rumah itu adalah rumah penyamaran. Tidak ada atribut kepolisian, hanya ada beberapa buku yang sengaja ditaruh di ruang tamu agar terlihat seperti kediaman seorang dosen muda. "Kita sudah sampai," ucap Narendra sambil mematikan mesin. Geraldine turun dan memperhatikan bangunan di depannya. Rumah itu catnya berwarna abu-abu, berukuran minimalis. Sangat jauh dari kemewahan rumah dinas ayahnya yang selalu dijaga ketat. "Sederhana banget ya rumah Bapak. Saya pikir ... setelah mengamati wajah, bentuk tubuh serta aura Bapak ... Bapak itu orang kaya," komentar Geraldine saat melangkah masuk. "Saya bukan orang kaya, makanya cuma bisa beli rumah sesederhana ini," sahut Narendra sambil membuka kunci pintu utama. Begitu masuk, aroma maskulin yang bersih menyambut mereka. Interiornya sangat minimalis, ada sofa, meja, dan rak buku yang penuh dengan buku literatur psikologi. "Cuma ada dua kamar di sini," ucap Narendra sambil menaruh kunci mobilnya di atas meja. "Kamu pakai kamar tamu di sebelah sana dan jangan menyentuh barang apa pun tanpa izinku!" Geraldine melempar tasnya ke sofa dan mulai berkeliling dengan rasa ingin tahu yang besar. Dia berhenti di depan pintu sebuah ruangan yang terkunci rapat. "Ini kamar Bapak?" "Ya." Geraldine berbalik, menatap Narendra yang sedang melepas sepatu. "Bapak beneran nggak punya pacar atau istri yang bakal tiba-tiba datang dan menjambak rambut saya karena saya menginap di sini, kan?" Narendra terhenti sejenak, lalu menatap Geraldine datar. "Saya single. Saya belum tertarik untuk memiliki pasangan. Sekarang, cepat masuk ke kamar dan tidur!" "Oke, Pak. Besok antar ke rumah temanku, ya! Biar Mas Bambang yang jemput saya di sana dan bawa saya pulang." Geraldine membuka pintu kamar tamu tapi tiba-tiba. "Tunggu, Geraldine!" Narendra berdiri tiba-tiba. "Kamu tidak bisa pulang ke rumah temanmu besok pagi." Geraldine mengerutkan kening. "Lho, kenapa?" "Teman-temanmu ... mereka semua kan sedang ditahan untuk pemeriksaan 1x24 jam. Kalau kamu ke sana, kamu justru bakal tertangkap petugas yang berjaga di lokasi," jelas Narendra, kali ini suaranya kembali ke nada tegas seorang penyidik yang tidak sengaja keluar. Wajah Geraldine langsung berubah pucat, dia refleks membatin, "Mati aku ... kalau aku nggak ada di sana pas Mas Bambang jemput aku, Papa dan Mama pasti tahu aku bohong! Aku bisa dihukum!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD