Bab 4

1593 Words
"Gio loe mau kemana?" tanya Meira ketika keduanya sudah berada di area parkir. Gio tiba-tiba masuk kedalam mobilnya dan siap untuk meluncur. "Loe bisa pulang sendiri kan, nanti malam gue datang." setelah berucap lelaki itu langsung tancap gas. Seperti ada sesuatu yang membuatnya marah. Apa karena Kara?. Meira melotot tak percaya, memang benar tadi Gio sudah menyuruhnya pulang sendiri. Yang membuat Meira tak percaya adalah, suara Gio berubah dingin dan tatapannya sangat menyeramkan. "Semua gara gara si sialan Kara. Awas aja loe, gue bakal bikin perhitungan sama loe. Gue bakalan bikin Gio makin jijik liat muka loe itu, bahkan dengerin nama loe aja dia gak sudi." Meira menyunggingkan senyumannya. "Kara" satu nama itu terbesit dari bibirnya, menggenggam kuat stir mobil, gas dia tancapkan dengan laju kecepatan diatas rata rata. Untung saja jalanan siang hari ini tidak terlalu padat kendaraan. Drrrrt drrrrt drrrrt… Bunyi getaran handphone di saku celananya dia rogoh. "Loe dimana Yo?" tanya Aska. "Gue dijalan. Gue cabut duluan, sory gak ngasih tau." "Loe kenapa sih Yo, kalau ada masalah tuh cerita, loe bentak Kara di hadapan banyak orang tadi tuh gak banget." cetus Aska. "Loe telpon cuma mau ngomong gini doang? buang buang waktu aja." Gio memutuskan panggilan telpon sepihak, dan melemparkan benda persegi panjang itu ke jok samping. "Loe kalau giniin Kara mulu, gue sumpahin loe beneran jatuh cinta sama dia." ucap Aska memandangi layar handphonenya yang di putus sepihak oleh Gio. "Aska…"panggil Meira ketika melihat nya sedang lewat. Lelaki itu berhenti dan berbalik ke arah Meira. Gadis itu yang tadinya sedang duduk, kemudian berdiri dan berlari kearah Aska. "Napa Mei?" tanya Aska. "Anterin gue pulang yah Ka, gue di tinggal Gio sendirian." "Bener kata Kara, loe tuh cewek manja. Gak bisa pulang sendiri?" "Apaan sih Ka, ngapaian ucapan tuh cewek loe denger. Antarin gue yah, please!" menyatukan kedua tangannya seperti memohon, dan memasang wajah imut yang di buat buat. "Pesan grab, jangan kayak orang susah. Gue gak bisa, ada urusan, dah gue pergi dulu." Aska berjalan dan meninggalkan Meira yang sedang cemberut. Gadis dengan rambut panjang sebahu berwarna pirang itu, menghentak-hentakan kakinya kesel. "Gio ninggalin gue, dan sekarang Aska pun begitu. Kenapa sih! b******k, semua karena Kara." tangan Meira mengepal kuat. "Hahh, itu dia." Meira melihat Kara yang sedang berjalan bersama Shila. Tanpa berlama-lama, dia berjalan menyamperi gadis itu. "Gue peringatin sekali lagi yah sama loe, jangan pernah dekatin Gio lagi. Dia milik gue, loe sadar Kar, loe hanya pengganggu di hidup Gio. Dan satu lagi, Gio hanya mencintai gue." tanpa basa basi, Meira menjatuhkan perkataan tajam pada Kara. "Seyakin itu kah? loe yakin Gio cinta sama loe! bukan cuma di jadiin tempat kesenangannya doang." perkataan Kara menohok buat Meira. Gadis itu mulai terpancing amarahnya. "Loe…" menunjuk muka Kara dengan satu jari telunjuk. "Apa? loe mau apa, yang gue bilang benar kan! loe cuma tempat kesenangan dan pelampiasan hasratnya doang. Gak usah merasa bangga deh." jawaban Kara membuat Meira makin tak tahan dengannya. Prakkkk…satu tamparan keras mendarat di pipi Kara. Meira menamparnya dengan penuh emosi. Shila kaget melihat adegan refleks itu. Dia ingin berbalik menampar Meira, namun di cegat oleh Kara. "Loe salah berurusan sama gue Kar. Tunggu apa yang akan gue perbuat sama loe. Dan jaga omongan loe, sekali lagi gue peringati, jangan ganggu Gio, dia milik gue." ancam Meira, dan kemudian berlalu dari hadapan Kara. Adegan tampar tadi disaksikan oleh beberapa mahasiswa yang sedang berada di sekitar situ. "Gue Kara Annaya tidak takut sama ancaman loe itu. Cewek manjaaaaa…." teriakan Kara itu terdengar begitu tajam di telinga Meira. Namun gadis itu tetap berjalan, menghiraukan semua pandangan yang tertuju padanya. "Harusnya tadi loe gak usah nahan gue Ra, biar gue tampar balik tuh cewek manja. Kasian pipi loe, lihat sampai merah kayak gini." Shila memegang pipi Kara yang memerah akibat bekas tamparan Meira. "Udah gak apa-apa Shil, nanti merahnya juga hilang." "Ra, berhenti ngejar Gio, gue gak mau loe di giniin terus. Loe bakalan lebih sakit dari ini Ra. Media gak akan tinggal diam buat nyakitin loe." ucap Shila khawatir dengan Kara. "Shila, percaya gue gak akan kenapa-napa." tutur Kara dengan tersenyum pada sahabatnya itu. Shila sangat menyayangi Kara layaknya saudara kandung. "Loe tahu gak sih, loe itu batu banget Kara." ucapan Shila itu malah di balas dengan tertawa cekikan oleh Kara. "Dah yuk, gue belum siapin barang-barang buat besok." Kara mengajak Shila untuk pulang. "Yuk ah, gue mau numpang rebahan sekalian di kost loe." "Loe mau numpang rebahan atau mau ngeliatin cowok-cowok kost depan?" ucap Kara ngeledek. "Hehehe… dua-duanya." Shila tertawa cengengasan dan Kara hanya memutar bola matanya. "Dasar, ayok jalan." kedua sahabat itu berjalan keparkiran tempat mobil Shila di parkir. * * * "Kamu baru pulang Yo!" tanya seorang pria berumur dengan setelan pakaian kantor. Gio yang baru saja memasuki rumah dan ingin naik menuju ke kamarnya, tak melihat kehadiran pria itu yang tak lain adalah papahnya sendiri. "Papa, kapan papa pulang?" Gio mengurungkan naik ke kamar dan berjalan menghampiri papahnya, Brata Jaya. Menyalin tangan orang tua itu dan memeluknya sebentar. "Sekitar sejam yang lalu, bagaimana kuliahmu nak?" tanya Brata, dan mengajak anaknya untuk duduk di sofa. "Aman pah, kenapa gak bilang kalau mau pulang. Biar Gio jemput." "Papah pulangnya dadakan juga, ada urusan di perusahaan yang harus di selesaikan. Makanya mulai sekarang kamu harus belajar sedikit demi sedikit tentang perusahaan kita. Karena kamu yang akan meneruskannya dan menggantikan papah." ucap Brata dengan tegas. "Pah, Gio kan udah bilang gak mau terjun kedunia bisnis. Kenapa gak bang Digta aja, dia kan anak pertama dari keluarga ini. Dimana-mana itu yang nerusin pasti anak pertama." jelas Gio. Brata Menghela nafas "Gio, kakak kamu sudah punya perusahaan sendiri, dan sudah cukup berkembang. Kamu tahu itu kan, dan Digta tidak mau meneruskan perusahaan kita, dia hanya mau fokus pada perusahaannya. Papah gak bisa larang akan itu. Itu salah satu cita-cita kakak kamu. Jadi kamu sebagai anak terakhir dan satu-satunya harapan keluarga Jaya yang akan meneruskan perusahaan kita." jelas Brata dan Gio hanya mendengarkan. "Iya nanti Gio mulai belajar dikit-dikit. Tapi tidak sekarang, setelah lulus nanti." "Iya terserah kamu, yang penting sudah niat. Ya sudah, kamu sudah makan? kita makan bareng, bibi sudah nyiapin makan siang." "Kebetulan Gio juga lapar, gak sempat makan tadi. Gio ke atas dulu ganti baju." bergegas berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Hpnya berdering, ada notif pesan masuk. Gio segera membukanya, setelah membaca pesan itu, dia melempar begitu saja benda persegi panjang itu ke atas kasur. Dan segera mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, dan kembali berjalan kebawah menuju meja makan. Brata sudah menunggunya disana. Pesan singkat itu dari Aska. "Cewek loe nampar Kara di depan orang banyak". begitulah isi pesan dari Aska. "Apa yang di lakukan Meira, kenapa dia berbuat seperti itu?" batin Gio bertanya. "Ayo kita makan" ucap Brata saat anaknya sudah duduk di kursi makan. Saat tengah asyik menikmati santapan makan siang mereka. Brata bertanya sesuatu yang membuat Gio sedikit jengkel. "Jangan menyakiti hati gadis yang menyukaimu. Bersikap lah sopan padanya, jangan terlalu di benci." ucap Brata disela-sela makannya. "Maksud papah?" Gio mengerutkan keningnya. Brata tersenyum, "Gio, jika kau tidak menyukainya, tolak lah secara halus, jangan berbuat kasar apalagi melontarkan kata-kata yang tidak pantas." "Cih, pasti bang Digta yang ngadu" Gio melanjutkan makannya, dalam hati dia memaki Digta. "Gio terganggu di kejar sama dia, cewek aneh dan idiot." lanjut kata gio. "Wajar saja dia mengejarmu, anak papah tampan". puji Brata. Keduanya melemparkan senyuman dan melanjutkan menghabiskan makan siang. "Pah, Gio ke kamar dulu mau istirahat." Brata mengacungi jempolnya keatas. Gio berlari menuju kamarnya dan meninggalkan ayahnya yang masih betah duduk di ruang makan. "Loe kenapa tampar Kara?" tanya Gio pada intinya, saat dia sedang menelpon Meira. "Dia pantas di tampar, bahkan pantas di musnahin," terdengar suara Meira yang begitu tak suka. "Sudah gue bilang gak usah di ladenin, kenapa loe gak mau dengarin gue Mei?" jika kalian tahu, Gio sedang menahan dirinya agar tak membentak Meira. "Gue gak bisa tahan Yo, gue gak bisa," "Stop Meira, ini terakhir loe berurusan sama Kara." "Gue gak mau dengar loe ribut lagi sama dia, jangan cara penyakit untuk dirimu sendiri Meira." lanjut Gio. "Tapi Yo,-" "Kalau loe masih mau ketemu sama gue, dengerin kata gue," Meira terdiam mendengar perkataan Gio, lelaki itu kenapa bisa semarah ini hanya karena dia menampar Kara. "Jadi loe gak mau dengarin gue,? tanya Gio dengan nada tak enak di dengar. "Gak, gak… Maksud gue, gue mau dengarin loe, jangan marah. Gue gak suka loe marah," "Gio, maafin gue. Gak akan gue ulang," "Gue mau istirahat," ucap Gio dan mengakhiri panggilan tersebut. "Gue kenapa sih, yang berhubungan dengan Kara selalu ngebuat emosi gue naik," ucapnya. * * * "Akhhh kenyangnya, masakan seorang Kara Annaya memang paling terdebest sedunia," mengacungi jempolnya ke arah Kara, kemudian nyengir-nyengur gak jelas. Shila terlalu melebih-lebihkan, begitulah pendapat Kara. "Terlalu berlebihan mujinya," "Idih, kan memang kenyataannya begitu beb," "Thanks pujiannya," Kara berdiri dan mengambil sebuah koper yang tak begitu besar di atas lemari. Banyak sekali debu yang bersarang menutupi koper berwarna biru. "Buset Ra, banyak amat tuh debu. Gak loe plastikin sih," "Mager gue," mendorong koper itu keluar untuk di bersihkan debunya. "Punya sahabat jorok banget sih," ucap Shila. "Kalau gitu bantuin bersihin dong! Shila kan sahabat terbaik Kara," Kara menjaili Shila, gadis itu memeluk sahabatnya dan mendusel-dusel ke badan Shila. "Kebiasaan, untung sahabat gue. Kalau gak udah gue gadai loe di kantor berwarna hijau (pegadaian)," ngomel Shila. "Sayang Shila deh," Kara masih nyaman gelendotan di badan Kara. Shila seperti kakak untuk Kara, padahal umur mereka sama. Akhirnya Shila ngebantuin Kara ngebersihin koper yang di penuhi debu itu. Sekalian ngebantu Kara mengemasi barang yang akan di bawah ke Surabaya besok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD