"Astaga Kara, loe pasti begadang semalam? loe pasti gak mandi nih?" Shila bertanya sambil mengendus ngendus kearah Kara, memastikan apakah sahabatnya ini mandi atau tidak.
"Gue mandi, nih cium," menyodorkan badannya ke arah Shila.
"Trus tuh mata napa kek gitu? kentara banget loe begadang kan semalam," mata Kara khas orang begadang.
"Semalam keasyikan ngobrol sama bang Zaki, sampe gak ngeliat sudah tengah malam," titah Kara.
"Cieee… makin akrab aja. Pura-pura kaget aja gue nanti kalau loe berdua sudah jadian,"
"Gue masih setia sama Gio," ucap Kara tegas.
"Cih, serah deh serah yang bulol banget ma tuh laki," Shila menyalakan mesin mobilnya dan menancap gas menuju kampus.
Baru saja mereka memasuki area kampus, mata Kara tertuju pada objek yang membuat hatinya nyeri.
"Kar temani gue keruang dospem yee. Gue mau konsul bentar."
Tak ada jawaban dari Kara, Shila pun menoleh kesamping nya dan ikut tertuju melihat kearah objek titik fokus Kara.
Shila geram apa yang dilihat Kara.
"Karaaaaaaaa," teriak Shila.
"Apasih Shila teriak-teriak?"
"Temani gue keruangan dospem. Cepatan." Shila keluar dari mobil dan di ikuti Kara. Tapi mata Kara masih tertuju pada Gio dan Meira.
Benar, yang di liat Kara adalah Gio dan Meira yang terlihat begitu dekat, bahkan Meira memeluk lengan Gio mesra.
Sudah sering dia melihat pemandangan seperti itu, dan berakhir dengan hatinya yang terasa nyesek.
Detik demi detik mencintai seorang Algio Dhewa makin terasa sakit. Jika saja Kara bisa menyingkirkan nama Gio, mungkin sudah dia singkirkan. Namun perasaan cinta itu lebih besar dari segala apapun. Entah sampai kapan dia akan menyerah akan cintanya?.
"Besok kita havefun selama 3 hari, ready beb?." Ucap Shila, dia tahu saat ini mood sahabatnya itu ngedown karena 2 makhluk di parkiran tadi.
"Oh iya, besok kita mau ke Surabaya kan. Entar pulang deh baru ngepack barang bawaan."
"Iyee, pokoknya kita havefun di sana." Ucap Shila merangkul pundak sahabatnya.
Kara mengangguk dan tersenyum. Setidaknya hatinya jadi sedikit lebih tenang.
Mereka tiba di depan ruang Dospem. Shila masuk kedalam dan Kara menunggu di luar. Gadis itu terduduk di sebuah kursi panjang yang di letakkan didepan ruangan.
Sambil menunggu Shila, gadis itu memainkan handphonenya, mengotak ngatik membuka sosmed. Kara tak menyadari seseorang lewat depannya. Hingga suara itu terdengar, Kara menolehkan pandangannya.
"Loe masuk, gue tungguin di sini." Ucap Gio pada Meira. Yah, Gio mengantar gadis itu ke ruangan dospem juga. Di parkiran tadi Meira membujuk bujuk Gio untuk mengantarnya. Dan berakhir dia disini.
Pandangan Kara tak lepas dari Gio, namun pria itu seolah tak melihat keberadaannya.
"Gio ngapain disini." Akhirnya Kara bertanya setelah termenung beberapa saat menatap pria itu.
"Nungguin Meira." Seperti itu lah jawaban Gio. Membelakangi Kara dan melihat kearah.
"Gio pacaran sama Meira itu beneran?." Tanya Kara menahan rasa cemburunya. Padahal dia sudah tahu jawabannya.
"Hmm…" hanya deheman yang terdengar dari mulut Gio. Gio masih tetap memandang kedepan, melihat mahasiswa yang berlalu lalang di bawah sana. Sedangkan Kara berusaha menahan rasa sesak didadanya.
Tak ada lagi pembicaraan. Entah mengapa Kara jadi makin terdiam, tak seperti biasanya dia pasti akan berceloteh panjang. Gio menyedari hal itu, namun membiarkannya.
Keduanya hanya larut dalam suasana masing masing. Hingga pintu ruangan dospem itu terbuka.
"Kara ayok, gue sudah selesai." Ucap Shila setelah keluar dari pintu dan melihat Gio tepat berdiri di depannya dengan posisi membelakangi.
Kara hanya menggangguk dan berjalan bersama Shila menuju kelas, mata kuliah jam pertama akan segera di mulai.
Gio menatap kepergian Kara dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Selang beberapa detik kemudian, Meira pun keluar dari ruangan dospem.
"Gio, loe lagi ngeliat apa." Tanya Meira, saat membuka pintu tadi dia melihat Gio seperti sedang memperhatikan sesuatu. Meira mengikuti arah pandang Gio, tapi tak melihat apapun di sana.
"Dah selesai?." Gio balik bertanya.
Meira mengangguk dengan senyuman.
"Gue antar ke kelas." Kata Gio lagi.
Keduanya berjalan bergandengan. Meira lah yang menggandeng tangan Gio.
Sepanjang koridor kampus, melewati lorong lorong kelas, banyak mata tertuju pada keduanya. Yah, bukan jadi rahasia umum kan! Gio dan Meira di nobatkan sebagai pasangan goals.
"Loe nanti pulang sendiri yah, gue ada urusan." ucap Gio setelah tiba di depan pintu kelas.
"Ya udah, tapi nanti malam temani gue yah Yo!" rayu Meira sambil memainkan jari jarinya.
"Ya, gue cabut." Gio berjalan sambil menelpon seseorang.
Nb : Meira masuk fakultas kedokteran.
* * *
"Rajin amat pak nganterin yayangnya." goda Aska ketika Gio telah sampai di parkiran dan membuat beberapa temannya yang berada disitu menahan tawa. Orang yang ditelfon Gio tadi adalah Aska, sahabatnya dari jaman SMA. Mereka seprodi, calon calon penegak hukum masa depan.
"Hanya mengantar, apa salahnya." jawab Gio.
"Kasian gue sama Kara. Tuh anak diabaikan loe mulu."
"Bedalah…" jawab Gio dengan santai.
"Bedanya dimana bro? dari segi fisik Kara masih unggul, dia cantik tapi polos. Gak neko neko, beda dengan Meira semuanya polesan. Menang di body doang di tambah lagi anaknya manja abis." ucap Aska menjabarkan perbandingan antara Kara dan Meira.
"Maksud loe ngabandingin Meira dan tuh cewek apa Ka?" kini Gio menatap Aska tak bersahabat.
"Ehehehe…" Aska menyengir, sepertinya dia salah bicara. Tapi kan memang kenyataannya seperti itu. Aska hanya mau Gio sadar dan mencoba untuk memahami Kara. Dia juga tahu, Gio hanya bermain saja dengan Meira.
"Dah cabut jangan banyak main, loe udah ketemu dospem?" tanya Gio.
"Gue janjian nanti ketemu agak siangan, loe tahu kan Bu Serly susah banget di temui, harus buat jadwal dulu."
"Besok loe jadi berangkat ke Surabaya Yo?" tanya Aska lagi.
"Jadi…"
"Loe serius kagak mau gue temani?"
"Alasan aja mau ikut, bilang aja loe mau main main sekaligus cari mangsa disana." tuduh Gio tepat sasaran.
Aska menyingirkan senyumannya sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Udah gue bilang gak usah banyak main, ingat kita ini mahasiswa semester akhir, fokus sama skripsi. Pikir gampang nyusun skripsi, syukur syukur diterima tanpa ada coret coretan dan harus revisi ulang, bulan depan juga kita sudah harus turun KKN." kata Gio memberi nasehat panjang kali lebar.
"Iya iya, loe dah kek emak emak aje Yo. Bawel banget." ucap Aska.
"Dah yuk cabut." Gio berjalan duluan dan disusul Aska serta teman temannya yang lain dari belakang.
Saat ini Kara dan Shila sedang ada kelas mata kuliah pertama, hanya pembahasan tentang mulainya KKN bulan depan. Pandangan Kara memang terlihat kedepan tapi fokus pikirannya tertuju pada Gio.
"Ra… ssstt sssttt Kara…" panggil Shila dengan berbisik.
Namun yang dipanggil tak bergeming.
"Kara…." Shila mencubit lengan gadis itu.
"Awww…" Kara merintih pelan, untung gak kencang dan menoleh ke arah Shila.
"Kenapa sih Shil…? sakit tau."
"Ngelamun apa sih, Gio lagi pasti… gue panggil panggil kagak denger."
"Gak ada" jawab Kara lemes.
"Ck… gue pengen banget ngeluarin otak loe terus gue cuci sampai bersih dan nama Gio hilang dari pikiran loe." kesal Shila.
"Shila jangan berisik, nanti kita di marahin pak Bowo." tegur Kara, padahal dia lah sumbernya.
Shila memutarkan bola matanya, Kara sangat batu di kasih tahu.
"Ra gue laper." bisik Shila lagi.
"Sama, pak Bowo kapan kelar ngomongnya yah! berasa lagi dengerin pidato." celetuk Kara. Shila yang mendengar tak tahan untuk menahan tawanya.
"Apa ada yang lucu Shila?" tanya pak Bowo. Gimana gak ketahuan, Shila ketawanya gak santai. Dan membuat seisi ruang kelas menatap kearah mereka berdua.
Kara mengumpati Shila dalam hati. Sudah tahu pak Bowo kalau sedang berbicara dan mahasiswa ada yang berbicara sendiri bahkan sampai tertawa, bisa bisa nanti kena hukuman.
"Maaf pak" ucap Shila pelan dan masih sempat sempatnya menyikut tangan Kara.
"Perhatikan, jangan ada yang berbicara. Saya sedang memberikan kalian wejengan dan nasihat saat KKN nanti." kata pak Bowo.
"Baik pak…" ucap semua mahasiswa di dalam ruangan kelas itu. Nasib baik Shila tidak terkena amukan atau hukuman dari dosen itu.
Shila melototkan matanya dan dengan cepat mangajak Kara putar balik. Selesai kelas tadi yang hanya diisi oleh bimbingan dari pak Bowo, Shila mengajak Kara menuju kantin kampus. Tapi matanya menangkap sesuatu, dan Kara tidak boleh sampai melihatnya juga. Tapi terlambat, Kara sudah terlanjur melihat.
"Kita cari makan di tempat lain aja yuk Ra." dengan cepat mengajak Kara pergi, namun gadis itu hanya membatu di tempat.
"Please Ra, gue mohon jangan nyakitin diri loe. Udah cukup Ra." ucap Shila memohon.
Sebenarnya apa yang mereka lihat?
"Disana ada Gio Shil, gue mau nyamperin dia." Kara bersiap berjalan menuju Gio dan kawanannya, namun di cegat oleh Shila.
"Jangan Ra, loe gak liat disitu ada Meira. Loe bakalan di kata katain sama dia."
"Gue udah kebal, Ayuk Shil kita kesana." ajak Kara.
"Gak, malas gue kesana. loe kesana aja Ra, kalau emang nekat, gue tungguin disini." Shila duduk di kursi tepat di sampingnya.
Kara hanya menggangguk dan berjalan menuju meja Gio dan kawan kawannya.
"Gio, sudah pesan makan belum? biar gue pesenin." ucap Kara dengan senyuman mengembang.
"Gak usah." jawab Gio ketus.
"Gue boleh duduk?" tanya Kara tetap fokus memandang Gio, namun lelaki itu gak sedikit pun meliriknya.
"Duduk aja Ra." ucap Aska.
"Makasih…" Kara baru saja ingin duduk, tiba tiba Meira bersuara.
"Loe gak bisa cari tempat lain, masih banyak yang kosong, harus banget loe gabung disini dan duduk dekat Gio." ucap Meira dengan tatapan tak suka.
"Gue kan sudah ijin Mei. Lagian ini tempat umum, ada larangannya gitu gue gak boleh duduk disini?" Kara tidak takut akan Meira, sudah biasa gadis itu memperlakukannya seperti ini.
"Loe beneran gak tahu diri banget yah, loe sengaja kan biar bisa dekat dekat sama Gio. Kegatelan banget yah loe jadi cewek. Saking gak laku banget yah loe sampai harus ngejar cowok orang." Meira tak tahan melihat Kara yang selalu saja mencoba mendekati Gio.
"Gue atau loe yang gatal?" ejek Kara dan itu membuat emosi Meira meluap.
"Berani banget yah loe." Meira geram, rasanya dia ingin merobek mulut Kara.
"Ngapain mesti takut sama cewek kayak loe, cewek manja".
"Mulut loe min-" ucapan Meira terpotong karena suara seseorang.
"Stop…" suara berat namun terdengar dingin dari Gio membuat keadaan yang tadinya lumayan hiruk pikuk menjadi hening, dan semua yang berada disitu mengalihkan pandangan kearah Gio.
Lelaki itu berdiri dan menghadap tepat di hadapan Kara.
"Loe, pergi dari hadapan gue dan jangan pernah nampakin muka loe itu. Gue muak liat loe." Gio terlihat begitu emosi, mengapa dia semarah itu pada Kara? jelas yang memancing keributan tadi adalah Meira.
"Gio ngusir Kara?" tanya Kara dengan polosnya. Apa ucapan Gio tadi kurang jelas?.
"Loe budek, Gio nyuruh loe pergi dan jangan pernah namp-" lagi lagi ucapan Meira terhenti.
"Diam Mei…" bentak Gio.
Meira melotot terheran. Gio membentaknya juga.
"Kita pergi dari sini, gue gak mau loe jadi terganggu." kini suara nya berubah kembali seperti biasa, tidak ada nada tinggi seperti tadi. Gio berbicara lembut pada Meira, begitulah yang terdengar di telinga Kara.
Kedua pasangan goals itu meninggalkan area kantin dan pergi menjauh dari mereka semua.
Gio menggenggam tangan Meira dan itu terlihat jelas di pandangan Kara.
"Ra, ayok kita pergi dari sini." Shila yang sedari tadi menyaksikan semuanya dari jauh, sangat geram. Berlari kearah sahabatnya itu dan mengajaknya pergi. Kara butuh sandaran atas rasa sakit di hatinya.
"Kara…" panggilan dari Aska membuat keduanya berhenti dan menoleh.
"Ucapan Gio jangan di masukin ke hati yah Ra, loe gak boleh patah semangat." ucap Aska, dia tak tega melihat Kara selalu diperlakukan seperti ini oleh sahabatnya sendiri.
Kara hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Bilangin sama teman loe itu, kalau ngomong gak usah kasar." ucap Shila.
"Shil, udah ayok." Kara mengelus lengan Shila, dia tahu sahabatnya ini jadi terbawa emosi. Mereka pun kemudian berlalu pergi dari area kantin.