Kembalinya Miura Karen dari pencarian panjang tanpa kabar membuat seisi Istana Bunga gempar. Para dewan yang melihatnya segera berlari dari ruangan dan pergi menuju balkon untuk melihat kondisi. Begitu juga para selir yang ramai-ramai pergi ke luar untuk melihat sosok Karen yang dengan terhormat dijemput oleh sang raja dari tempatnya bersembunyi.
"Bagaimana bisa?" salah satu selir bertanya pada selir lainnya.
Hana dan Nisaka ikut berlari dari dapur saat mendengar berita kembalinya Karen. Mereka menerobos kerumunan dan berusaha mencari Karen di mana wanita itu berada.
Karen menatap Azada yang sedang berbicara dengan tiga prajurit itu. Dengan lelah, dibalikkan badannya, Karen berjalan menuju Istana Bunga dengan tatapan dari para selir dan dewan yang diabaikannya. Masih memakai penutup kepalanya, mereka yang melihat jelas tahu siapa yang berjalan gontai menuju Istana Bunga saat ini.
"Wah, suatu kehormatan bertemu denganmu."
Langkah Karen terhenti ketika telinganya mendengar sapaan yang tidak asing untuknya. Dengan senyum yang secara terang-terangan Karen berikan, dia mengangkat kepalanya. Menurunkan tudung kepalanya dan menatap Selir Parviz dingin.
"Ah, pasti kau kecewa, ya, mendapatiku masih hidup dan sehat di depanmu?"
Karen tidak bisa menahan senyumnya saat Selir Parviz menggeram marah.
Hana menutup mulutnya saat melihat Karen berhadapan dengan Selir Parviz di jalan masuk Istana Bunga. Dia baru saja ingin menghampirinya, Nisaka menahan tangannya. Kedua mata peraknya melihat penampilan Karen yang seperti rakyat miskin biasa. Rambutnya yang indah hanya disisir rapi dan memakai jepit kecil seadanya. Tetapi tidak mengurangi kecantikannya sama sekali. Wajah itu bahkan tidak terpoles riasan apa pun. Wajah Karen apa adanya. Sama seperti ketika wanita itu bangun tidur.
"Senang melihatmu kembali, Selir Miura," Selir Parviz berjalan agar lebih dekat dengan Karen. Dia memutuskan jarak di antara mereka berdua tanpa ada rasa takut di mata Karen ketika mata mereka berdua bertemu. "Kematian lain siap menjemputmu. Kali ini, aku yang akan memastikannya sendiri."
Satu tamparan berhasil Karen layangkan pada Selir Parviz yang kini menatapnya marah dengan tangan memegang pipinya. Karen menatapnya dengan mata menyipit tajam. "Berhentilah seolah-olah kau bisa melakukannya, pengecut! Sekali iblis tetaplah iblis."
Mungkin Selir Parviz akan melayangkan jemarinya untuk menggaruk pipi Karen sampai ada tangan lain menahan tangannya. Membuat Karen terhuyung mundur ke belakang dan menatap punggung itu dalam-dalam.
"Tidak lagi, Cheara," Azada menepis tangan itu kasar. "Berhentilah kekanakkan dengan memberikan mereka tontonan gratis darimu." Nada suara Azada mendingin dan Cheara melepas tangannya. Dia menatap Azada lekat-lekat meminta sesuatu dari tatapannya dan Azada tidak menatapnya demikian.
Azada melirik Karen yang menunduk. Dia berbalik menghadap para dewan yang menontonnya dari Istana Kerajaan.
"Dengar, mulai saat ini, Selir Miura akan tinggal di Istana Putih."
Kepala Karen terangkat sempurna. Dia hendak melayangkan protes tetapi Azada menahannya dengan tatapan tajam.
"Itu artinya, keselamatannya ada di bawah kekuasaanku. Tidak lagi. Tidak akan ada lagi yang terjadi setelah ini padanya." Azada berbalik, dia menarik tangan Karen masuk ke dalam tanpa memberi Karen kesempatan untuk bicara. Karen berlari mengikuti langkahnya dengan gerutuan sepanjang jalan.
Nisaka dan Hana saling melempar pandang. Hana segera berlari mengikuti Karen diikuti Nisaka dan Selir Parviz yang kembali masuk ke Istana Bunga setelah berteriak keras karena pengumuman mendadak dari sang raja.
Jenderal Kelas Satu, Zidan Parviz menyunggingkan senyum tipisnya. Azada baru saja menabrak protokol kerajaan dengan menggandeng tangan Karen di depan umum. Mungkin anggota dewan akan membicarakannya dan berniat mendebat Azada setelah ini. Setelah pengumuman sepihak darinya yang membawa Karen ke Istana Putih. Di mana istana itu hanya diperuntukkan untuk permaisuri yang benar-benar sah.
.
.
Malamnya, Karen berjalan menyusuri lorong di Istana Kerajaan. Langkahnya tertahan saat para dayang menunduk hormat padanya. Karen mendesah berat, dia berlutut dan membuat para dayang itu berseru panik.
"Selir Miura," panggil dayang kerajaan itu dengan lirih.
"Aku bukan calon permaisuri," lirih Karen lelah. "Berhenti perlakukanku seperti ini," desahnya berat. Karen berdiri dibantu para dayang itu dan mereka saling melempar pandang.
"Di mana jalan menuju Istana Bunga jika melewati pintu istana sebelah timur?" tanya Karen.
"Maaf, Selir Miura, kami tidak diperbolehkan memberitahumu. Kami hanya bisa memberi jalan menuju Istana Putih."
Sialan, Maritz Azada!
"Maaf, Selir Miura, ada sesuatu yang harus kami urus. Dua prajurit di belakang istana menemukan mayat Putri Gazala terpotong menjadi delapan bagian," ucap dayang itu.
Mata Karen melebar ketika mereka berbicara dan menunduk. Setelah itu tubuhnya bergetar hebat. Karen harus memberitahu Azada sebelum Selir Parviz semakin ganas menyerang para selir lainnya untuk aksi sihir gilanya. Dengan wajah menahan tangis, Karen berlari menuju lorong di mana kamar Azada berada. Sepanjang jalan dia mengusap sudut matanya. Kalut. Pikirannya kacau tidak bisa berpikir benar saat dia berlari dan hampir tersandung pakaian tidurnya sendiri.
"Penyihir gila! Seharusnya, Selir Parviz melawan raja penyihir itu. Seharusnya dia melawan Azada saja!" geram Karen sembari mengusap sudut matanya yang berair.
Belum sempat Karen mengetuk. Dua prajurit itu membuka pintu kamar sang raja lebar. Karen menatap keduanya dengan bingung dan dia menggeleng mengabaikannya. Langkahnya masuk ke dalam kamar, mendapati Azada berdiri di balkon memunggunginya dengan katana di tangannya.
"Gazala terbunuh, kau tahu!" teriak Karen. "Dan kau tahu ulah siapa itu? Kau tahu!?"
Karen menutup wajahnya dan menangis. Tidak lagi tertahankan. Dia tertekan. Dia menderita. Sungguh. Dia menderita. Tidakkah raja bodoh ini tahu penderitaannya?
Azada mendekati Karen yang mengusap air matanya kasar. Wajahnya memerah dan sisa air mata itu masih basah di kedua pipinya. Karen menatapnya tak kenal takut walau tubuhnya bergetar.
"Lebih baik kau membunuhku sekarang. Hentikan kegilaan Selir Parviz," Karen menatap katana Azada. "Dia benar-benar penyihir! Dia iblis!"
"Penyihir?"
Karen menatap Azada dengan wajah memerah. "Ya! Sama sepertimu. Kalian berdua ... penyihir!"
Mata Azada menyipit saat Karen menutup bibirnya. Dia menatap Azada dengan pandangan bersalah kemudian menghela napas. Menyeka sudut matanya kembali. "Kalian pasangan cocok. Satu sedang belajar ilmu sihir, dan satu lagi ahli sihir," Karen mendesah dengan isak kecil. "Aku tidak bisa memikirkan bagaimana keturunan kalian. Anak kalian mungkin iblis berkekuatan sihir."
"Berhenti katakan itu."
"Aku berbicara kenyataan!" Karen lagi-lagi membentaknya. Dia menatap Azada tanpa tahu derajat pria itu jauh di atasnya. Karen berlutut kemudian, menyesali perbuatannya.
"Aku kacau, Yang Mulia. Maafkan aku. Kematian Gazala ... pikiranku kosong saat ini."
Kepala Karen terangkat saat dia melihat Azada mengulurkan kalung berwarna perak dengan lambang kipas sebagai hiasannya. Lambang kipas itu berbalut perak yang mengkilap tertimpa sinar lilin di dalam kamar Azada. Karen mengerutkan dahinya menatap kalung itu dan dia berdiri. "Apa ini?"
"Kalung. Ini milik ibuku."
"Apa maksudnya?"
"Pakailah," Azada membuka telapak tangan Karen dan menaruh kalung itu di sana. "Jika kau memakainya, kau akan aman. Kau bilang aku seorang penyihir, dan kalung itu akan melindungimu. Dari sihir mana pun," satu seringai timbul di wajah Azada. " ... kecuali diriku."
Karen menatap kalung itu dalam-dalam. Tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya saat mata itu menatap kalung cantik di genggaman tangannya. Karen menggenggam kalung itu erat-erat dan hendak melemparnya ke atas ranjang tetapi Azada mencegahnya.
Katana itu menekan lengannya. "Jangan kau coba."
Karen menggeser ujung katana itu ke lehernya. Sedikit menekannya. "Seharusnya di sini, Yang Mulia," ada senyum putus asa di wajahnya. "Jika kau benar menyukaiku, kau harus mau mengakhiri penderitaanku dan membayar janjimu padaku."
"Membebaskan adikku. Kembalikan dia ke keluargaku. Tidak sulit, bukan?"
Karen mengulurkan tangannya dan menunduk. Menaruh kalung cantik itu di atas meja dan kembali berdiri. Menggoreskan sedikit ujung katana Azada pada lehernya hingga darah perlahan-lahan keluar dari luka itu. Membasahi pakaian tidurnya.
"Aku tidak ingin mati di tangan Selir Parviz," Karen berucap lirih. "Aku rasa, jauh lebih baik mati di tanganmu. Setidaknya aku mati sebagai tawananmu dan membiarkan orang lain membenciku karena melakukan kejahatan padamu."
Katana itu terlempar jauh dan Karen mengerutkan dahinya. Belum sempat bicara untuk bertanya saat Azada menarik tangannya yang bebas mendekat, memutus jarak di antara mereka berdua. Terlalu rapat. Terlalu dekat. Membuat napas Karen memberat kala napas pria itu membaur menjadi satu dengannya.
Mata Karen meredup meskipun tidak menutup saat Azada menundukkan wajahnya, mengeliminasi jarak di antara mereka berdua dengan ciuman panjang. Tidak menuntut dan terburu-buru. Hanya ciuman seperti ... melepas rindu?
Azada manjauhkan bibirnya. Tidak terlalu jauh karena Karen masih bisa merasakan bekas ciuman itu di bibirnya. Rasa panas itu masih membakarnya.
"Kau tidak tahu betapa aku ..." Azada tidak lagi melanjutkan ucapannya dan kembali menciumnya. Kali ini tergesa-gesa dan menuntut. Seolah hanya ciuman itu adalah harapan hidupnya. Ciuman itu menggantung harapan-harapan yang ada.
Karen memejamkan matanya. Melingkarkan tangannya di leher pria itu dan balas menciumnya. Membuat dadanya tiba-tiba berdetak tak menentu. Rona kemerahan yang semula hanya ada di garis pipinya menjalar ke seluruh wajahnya. Membuat tubuhnya merasa panas dan terbakar.
Jangan. Jangan biarkan aku jatuh cinta padanya.