14

2316 Words
"Kapan dia sadar, nenek?" Wanita paruh baya itu,  Hanami, memandang sang cucu dengan senyum sayang. Dia membelai rambut  hitam cucunya dengan lembut lalu berkata. "Sebentar lagi, mungkin? Jika  obatnya bekerja , dia akan segera sadar. Atau jika luka itu benar-benar  dalam, kurasa membutuhkan waktu untuk sadar lebih lama." Hani menatap Karen  dengan wajah sedih. "Kasihan sekali putri ini ..." Hani menatap  lekat-lekat wajahnya. "Dia sangat cantik," pujinya dengan tawa geli dan  sang nenek yang ikut tersenyum karena mendengar tawanya. Hani mengerjapkan  matanya terkejut saat Karen mengeluarkan suara gumaman lemah. Jemari  wanita itu bergerak-gerak mencoba menggapai sesuatu dan matanya mulai  terbuka. Hani berdiri diikuti sang nenek yang membawa wadah obatnya dan  memberikannya pada Karen setelah dia sadar. Karen duduk dibantu  sang nenek dan Hani yang duduk di tepi ranjang. Memegang tangannya  dengan lembut dan memijitnya pelan. Karen meminum obat di dalam mangkuk  batok kelapa dengan pelan dan tersenyum pada wanita tua itu. Mata  hijaunya jatuh pada gadis kecil yang menatapnya dengan senyum, salah  satu tangannya yang bebas mencubit pipi gembul Hani dengan gemas. "Hai, kita bertemu lagi." Sapanya. Hani mengangguk menahan  tangis dan menggenggam jemari Karen lebih erat. Membuat Hanami menatap  cucunya dengan peringatan di matanya tetapi Karen mengabaikannya, dia  mendekatkan tangannya untuk mengusap rambut lembut Hani. "Aku tidak apa-apa,  terima kasih," Karen menatap wanita paruh baya yang ia kenal adalah  pedagang aksesoris rambut beberapa hari lalu dia beli. Dan Hani, oh  jelas dia mengingat anak manis yang bertemu dengannya di pasar bersama  dua teman laki-lakinya. "Panggil aku Hanami," ucap wanita itu mengenalkan diri. "Aku Karen. Miura Karen," ucap Karen. "Bibi Karen ... kau berasal dari keluarga kerajaan?" Karen tersenyum. Tidak menjawab. "Apa yang terjadi  padamu?" tanya Hanami dengan nada sedih. Karen menghela napasnya dan  dia menceritakan keseluruhannya pada mereka yang mendengarkan dengan  baik dan tenang. . . Sepuluh cambukan cukup  membuat punggung Parviz Zidan membekas dengan luka lebam yang membiru  dalam dan berdarah karena tali itu keras dan tajam. Darah mengalir  hingga membasahi celana putihnya. Kondisi tangan terikat di atas tiang  tidak bisa membantu Zidan bertindak lebih selain pasrah karena amukan  Azada. Dua prajurit itu melepas  ikatan Zidan dan membiarkan Zidan jatuh terduduk di atas ruangan yang  gelap dan jendela sedikit terbuka agar cahaya matahari masuk ke dalam.  Menerangi ruangan yang sepenuhnya tertelan kegelapan dan kekosongan. "Kau tahu Zidan berapa  lama aku harus menahan untuk tidak menghabisi klanmu," Azada melepas  cambuk itu dari lilitan pergelangan tangannya. Menatap punggung Zidan  yang dipenuhi darah dan lebam. Zidan tertawa pelan.  Dia memutar tubuhnya. Tetap duduk. "Azada, kau sendiri tidak tahu  betapa marahnya aku pada keluarga besarku sendiri," lirihnya. "Aku  bersumpah untuk menjaga Cheara agar mereka tidak melukai Nisaka." Azada melempar cambuk  itu dari tangannya. Menatap Zidan dingin. "Karena rasa terima kasihku  pada Jenderal Besar Julian, aku menghormati mereka. Klan yang mampu  memberi pertahanan lebih saat kerajaan ini membutuhkannya." "Jalanku berat ..."  desis Zidan saat luka di punggungnya terasa nyeri. "Aku mencintai  Nisaka," ada tawa sedih yang meluncur bebas darinya. "Tetapi klanku  tidak menyetujuinya. Nisaka kelas rendah. Menjijikan dan reputasi  klannya yang hanya sebagai petani dan berkebun membuat mereka  meremehkannya. Aku harus bertahan." "Jalanmu salah, Zidan." "Bagaimana denganmu?"  Zidan mengangkat kepalanya. Menatap Azada dengan senyum pedih. "Kau  ... ingin melenyapkan Karen, bukan? Kenapa tidak kau biarkan gadis itu  mati membusuk di sungai? Dendammu terpenuhi, Azada. Tidak akan ada  keturunan dari Miura yang hidup. Kau bisa menyuruh sahabatmu satu itu  untuk membunuh Ayyara. Semua selesai. Kau hanya tinggal membunuh Ezra  yang terbilang mudah," Zidan terbatuk dengan kasar. "Caramu juga salah.  Sama sepertiku. Kau menyuruh Karen mencintaimu agar kau bisa  menyakitinya lebih dalam lagi." "Juga denganku," Zidan  mencoba berdiri berpegangan pada tiang. "Aku menjaga Nisaka dengan  caraku sendiri. Melindungi wanita yang kucintai dengan kekuatanku. Walau  aku harus mengorbankan hidupku sendiri." Pintu terketuk keras.  Azada mengangguk saat prajurit itu masuk mengucapkan salam karena tabib  akan membawa Zidan pergi ke kamarnya dan mengobatinya. Azada menatap  kepergian Zidan bersama tiga anak buahnya. Azada menunduk, menatap  lantai yang dingin dengan helaan napas panjang. . . "Nenek lihat!" Sudah dua hari Karen  tinggal bersama keluarga Hanami dan Hani di dalam gubuk sempit yang  hanya memiliki satu kamar tidur dan beralaskan tikar kasar sebagai alas  tidur mereka. Karen menutup pintu dan menguncinya. Karena posisi rumah  yang cukup jauh dari pemukiman, Karen tidak ingin ada sesuatu bisa  menyakiti keluarga kecil ini. Lagipula sejak tadi mendung, sebentar lagi  mungkin akan hujan. Mereka aman jika sudah di dalam. Hanami duduk bersama  cucunya dan Karen setelah menyalakan pemanas agar suasana ruangan lebih  hangat. Karen berdiri dari jendela dan mengintip ke luar saat hujan  mulai turun perlahan-lahan dan mulai deras. "Apa ini?" tanya Hanami saat melihat Hani mencoba baju barunya. "Kakak Karen  membelikannya untukku!" jawabnya riang. Dengan lucu, Hani mencoba sepatu  barunya. Memakai aksesoris rambut berwarna peraknya dan pakaian cantik  yang Karen belikan untuknya. Karen ikut duduk di  samping Hanami. Tersenyum lebar saat mendapati semua barang yang ia  belikan untuk Hani terlihat pas di tubuh mungilnya. Hani memutar  tubuhnya, dengan tawa lepas karena mendapatkan hadiah yang luar biasa. "Aku juga belikan ini,"  Karen membuka dua bungkus ayam rebus dan daging sapi panggang. Hanami  menatap makanan yang masih panas itu dengan kedua mata berkaca-kaca.  Hani mendekatinya setelah melipat baju barunya. Kedua tangan kecilnya  memeluk sang nenek. "Jangan menangis, nenek.  Bibi Karen terlalu baik membelikan kita makanan yang belum pernah kita  makan sebelumnya," Hani menjelaskan. "Ayo, nenek harus mencicipinya." Hanami mengambil satu  potong ayam di dalam bungkusan dan mencicipinya. Karen tersenyum saat  senyum itu timbul di wajah tuanya. "Bagaimana?" tanya Karen. "Ini enak." Karen tersenyum lebar mendengarnya. Tidak peduli bagaimana derasnya hujan di luar sana. "Kakak Karen ... tinggal di istana, bukankah menyenangkan?" Karen tersenyum hangat.  "Tidak juga. Menyenangkan karena apa pun yang kau mau, mudah  didapatkan. Tapi tidak enak rasanya," Karen mengerucutkan bibirnya.  "Kau tidak bisa bebas bermain bersama teman-temanmu." Hani menunduk. Dia menggeleng setelahnya. "Aku tidak mau hidup di istana." Hanami menatap Karen  lekat-lekat. Dia mengusap sudut bibirnya dan Karen yang melihat ada  tatapan itu segera menoleh. "Apa ... kau selir di Istana Bunga?" Karen mengangguk. Hanami menutup mulutnya. "Kau kesayangan Raja Maritz?" Karen menggeleng cepat.  Dia mengunyah potongan ayamnya dengan wajah memerah. "Oh, tidak, tidak,  bukan aku. Itu Selir Parviz. Aku hanya selir biasa." Hanami mengangguk dengan  d**a berdebar. "Aku banyak mendengar kekejaman Raja Maritz dari  pedagang lainnya. Banyak kabar mengatakan dia membunuh selir setelah  malam panasnya. Kuharap itu terjadi padamu." "Ah, sejauh ini aku  belum melihatnya secara langsung," ucap Karen. Hanami menatapnya dengan  anggukan kepala. "Jangan percaya kabar yang belum tentu kebenarannya.  Dia ... maksudku, Raja Maritz orang yang baik. Memang tampangnya seram,  tapi percayalah, dia memikirkan kalian sebagai rakyatnya." Hani mengunyah sepotong  daging dengan senyum lebar saat menatap Karen. "Aku berharap kau bisa  menjadi ratu nanti. Menjadi permaisuri untuk mendampingi sang raja, kak  Karen." Karen menatap Hani yang  masih menatapnya dengan senyum sampai kedua matanya menyipit. Hanami  mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda setuju. Terbesit rasa menyesal  di hati Karen karena berkata yang baik tentang raja sialan itu. Karen  hanya tersenyum dan kemudian menunduk. Merutuki kebodohannya. . . Kerajaan Maritz yang jatuh di tangan Kerajaan Miura. Mata Hana dan Nisaka  melebar kala tulisan itu terpampang jelas di sudut halaman tengah dari  buku yang Nisaka pinjam di perpustakaan. Karena mereka terus mendapat  kabar tak pasti dan bungkamnya para petinggi istana tentang kematian  Miura Karen membuat Hana dan Nisaka harus menelan bulat-bulat rasa  kecewa dan sedih mereka. Maka dari itu, mereka mencari tahu asal-usul  kerajaan ini dengan jelas. Mencari potongan puzzle yang belum sempurna dan belum mereka ketahui secara pasti. "Ini ..." Nisaka tertelan rasa bingungnya sendiri. "Kenapa halamannya kosong?" Hana menggeleng. Dia  menggeser halaman lain dan nihil. Mereka tidak menemukan apa pun. Nisaka  menghela napas. Sudah dua hari kepergiaan Karen dan jika benar Karen  mati, seharusnya mereka bisa melihat mayat wanita itu dibawa ke kerajaan  dan bersama-sama memberi penghormatan terakhir. "Selir Parviz  benar-benar membuatku muak!" ucap Nisaka dengan tangan memukul meja.  Hana menunduk sedih dan menutup bukunya. Dia menatap Nisaka yang terus  memukul meja dengan tangan terkepal sampai memerah. "Jika aku bisa aku akan meracuninya! Aarrh!" Hana mendesah berat. "Dia juga yang membuat  Zidan menerima hukumannya," ujarnya sedih. Nisaka kembali menundukkan  kepalanya. Mengusap sudut matanya yang basah saat dia mendengar ketukan  di pintu kamarnya. Hana terlonjak kaget dan segera menyimpan buku itu ke  bawah ranjang Nisaka. Dengan cepat, Hana kembali duduk di kursi. Nisaka  berdeham setelah Hana kembali di tempatnya dan membuka pintunya. "Jenderal?" Tatapan Zidan jatuh  pada belakang punggung Nisaka di mana Hana ada di sana. Duduk setelah  memberi salam padanya. Zidan mengangguk singkat. Nisaka yang mengerti  arti tatapan itu segera menoleh pada Hana dan menutup pintu kamarnya. Zidan berdiri bersandar  pada tiang di depan kamar Nisaka. Setelah menutup pintunya, Nisaka  mendekati Zidan. Dalam gerakan tangan cepat, Zidan menarik tangannya.  Memeluk Nisaka dalam dekapan panjang dan hangat. "Apa yang terjadi?" tanya Nisaka pelan. Zidan belum mau melepas  pelukannya. Nisaka mengusap punggung yang terluka itu dengan tatapan  sedih. Saat Zidan melepasnya, mereka bertatapan lama. "Selir Miura masih hidup." Mata Nisaka melebar terkejut. "Raja tahu dimana Miura  Karen tinggal saat ini. Tinggal menunggu waktu sampai Karen kembali  pulang. Kembali ke sini. Sampai itu terjadi, kumohon padamu, jangan  katakan pada siapa pun," ucap Zidan. "Walau pada Hana?" "Pengecualian untuk  dayang pribadinya. Hana berhak tahu. Kalian berdua adalah harta yang  Karen punya di sini," Zidan menatap jepit rambut berwarna putih yang  ia berikan pada Nisaka dua tahun yang lalu. "Kau memakainya," katanya  dengan senyum saat tangannya terulur menyentuh jepitan itu. Wajah Nisaka  memerah sempurna dan Zidan tertawa pelan. "Berhenti mencemaskanku.  Aku baik-baik saja. Juga berhenti mengganggu anak buahku hanya karena  bertanya tentang kondisiku," senyum Zidan timbul saat Nisaka menunduk  dengan wajah memerah dan menyesal. "Raja membebaskanku karena mengetahui  Karen masih hidup dan itu bukan kesalahanku. Mungkin setelah ini  posisi Selir Parviz tidak lagi aman." Zidan tiba-tiba  berwajah sedih. "Apa pun yang terjadi. Kalian harus tetap berada di sisi  Karen. Apa pun," Zidan menggenggam tangan Nisaka erat. "Kalian berdua  adalah penopangnya dan aku ... sebisa mungkin akan berdiri di belakang  kalian. Aku janji aku akan melindungi kalian." Nisaka menggeleng dengan  wajah bingung. "Tidak, Jenderal," Nisaka menutup bibirnya saat Zidan  membalasnya tajam. "Maksudku, Zidan, tidak. Jangan lakukan apa pun  untuk membela kami. Putri Karen selalu maju untukku dan Hana. Dia orang  yang pemberani. Aku rasa dia akan baik-baik saja di sini selama Raja  Maritz bersamanya?" Zidan mendesah berat. "Kita tidak pernah tahu masa depan, Nisaka. Kerajaan bukan surga. Kita harus terus waspada, bukan?" Nisaka mengangguk lemah.  "Aku akan tetap bersama Selir Miura jika itu yang kau khawatirkan.  Terima kasih karena kebaikanmu hari ini." Nisaka menepuk pipi Zidan dan  Zidan memeluknya panjang sebelum dia berlalu pergi menuju kamarnya  sendiri. Nisaka menatap kepergian Jenderal Kelas Satu itu dengan wajah  sedih sebelum akhirnya dia berbalik menuju kamarnya. Ditemuinya Hana  yang berdiri gelisah di depan pintu. Membuat Nisaka mengerutkan alisnya. "Apa yang terjadi?" Hana menarik napas  panjang dan membuangnya kasar. "Aku melihat bagian buku itu yang robek.  Ada tulisan kecil yang hampir terlewat mataku," ucapnya gusar. Nisaka menatap Hana tajam. Mencoba tetap tenang saat bibirnya kembali terbuka untuk meneruskan kalimatnya. "Dendam." Kerutan di dahi Nisaka semakin jelas. "Bagaimana jika Raja Maritz menawan Miura Karen karena dendam?" Tubuh Nisaka membeku sempurna. "Apakah Miura Karen akan mati di tangan Maritz Azada?" . . Karen menggandeng  tangan Hani yang terus melompat menyusuri jalan berbatu dan licin. Nenek  Hanami sudah lebih dulu pergi ke pasar untuk berdagang dan siangnya  akan pergi menyusul Hani serta Karen untuk melihat pawai yang melewati  perbatasan. Karen tertawa saat Hani  melempar candaan untuknya sampai langkah panjangnya tidak terasa  membawanya sampai ke pasar yang ramai karena penduduk yang ingin melihat  pawai. "Sebentar lagi," ucap  Hani. Tangan mungilnya menarik Karen untuk menemui dua teman  laki-lakinya. Chiro dan Daisuke. Karen mengikuti langkahnya, berjongkok  saat dia menyapa dua anak laki-laki tampan itu. "Hai, kalian berdua." "Dia?" ucap Chiro dan Hani tertawa lebar. "Aku bersama Kak Karen hari ini. Kita akan melihat pawai bersama," jawab Hani riang. Karen menutup rambutnya  dengan tudung jubah yang baru saja dibelinya kemarin. Setelah  meninggalkan kalung dan gelangnya untuk Hanami dan Hani, saat ini Karen  pergi tanpa perhiasan apa pun yang mencolok kalau dia berasal dari  kalangan bangsawan. Karen hanya memakai pakaian rakyat biasa dan  menggerai rambutnya. Hanya menjepit poninya agar tidak mengganggu. "Ayo, anak-anak sebentar lagi pawai dimulai." Hani segera menggandeng  tangan Chiro dan Daisuke dengan kedua tangannya. Lalu Karen  mengawasinya dari belakang. Menjaga mereka saat para warga  berdesak-desakkan dengan kasar agar bisa melihat pawai di barisan  terdepan. Mereka bisa melihat dari  dekat saat Karen berada di barisan ketiga. Tinggi Karen yang cukup  bisa membuatnya melihat dengan jelas. Hani dan Chiro ada di barisan  depan bersama anak-anak lainnya. Sedangkan Daisuke bertemu ibunya dan  pergi melihat pawai dari sisi lain bersama sang ibu. Karen tersenyum saat  pawai itu dimulai dengan rombongan berkuda. Senyumnya makin berkembang  saat dia melihat wanita-wanita itu membawakan bunga di dalam keranjang  untuk dibagikan para warga. Mata Karen menyipit saat dia melihat  seseorang menyamar dengan menunggang kuda hitam dan memakai jubah.  Bergabung bersama rombongan kuda yang berpakaian sama dengan lainnya. "Kenzo?" lirihnya. "Ada prajurit kerajaan  datang!" ucap salah satu dari warga yang melihat. Karen menoleh ke  belakang. Matanya melebar kala dia melihat empat penunggang kuda  berpakaian baja datang mendekat. Dengan cepat, Karen berpindah ke sisi  lainnya agar sosoknya yang terlihat menonjol tidak membuat prajurit  kerajaan curiga. Karen benar-benar  melihat jelas kalau itu Kenzo. Kepala pria itu menggeleng tengah  mencari seseorang di antara warga lainnya. Secercah harapan timbul di  diri Karen saat dia mencoba memanggil Kenzo dengan suara lirih. "Yahi--" Karen menutup matanya  saat ada tarikan tangan lain di belakangnya. Membuatnya terhuyung mundur  dengan cepat dan segera sang pelaku menutup mulutnya. Mencegahnya untuk  tidak berteriak. Karen membuka matanya, meronta-ronta saat sosok itu  membawanya ke lorong yang sepi dan sempit. Tudung kepala Karen  terlepas saat sosok itu melepas paksa tudungnya. Karen membuka mulutnya  untuk berteriak saat pelaku itu melepas tangannya dari mulutnya dan  terhenti saat kedua oniks itu menatapnya tajam. "Azada?" Kepala Karen menggeleng menyadari kesalahannya. "Yang Mulia?" Azada mendorongnya agar  masuk ke dalam lorong lebih jauh lagi. Menyadari dia ada di luar  kerajaan dan tidak membawa persiapan apa-apa selain katananya, itu bisa  berbahaya untuknya. Terlebih dengan wanita di depannya. "Bagaimana bisa?" ucap Karen tak percaya. "Siapa yang coba kau panggil?" tanyanya dengan mata menyipit. Mata Karen ikut  menyipit. "Aku meminta tolong," balasnya dingin. Karen tahu dia tidak  bisa lagi pergi saat matanya melirik tiga penunggang kuda itu menghalang  jalan satu-satunya masuk ke lorong. "Dengan siapa kau meminta tolong?" Dahi Karen mengernyit. "Bukan urusanmu." Azada menatapnya dingin dan kemudian wajah itu luluh saat dia menggandenga tangan Karen pergi dari sana menuju kudanya. "Aku tidak seharusnya kembali," Karen hendak melepas pegangan tangan itu tapi diurungkannya saat Azada menatapnya tajam. "Aku ingin melihat pawai!" Azada menyipit dan kepala itu menggeleng kemudian. "Menyebalkan!" umpat Karen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD