Gazala menutup mulutnya yang terbuka lebar. Dia tidak habis pikir. Kesulitan tidur membawanya sampai kemari. Dengan pemandangan mengerikan di depannya, Gazala melihat jelas. Benar-benar jelas bagaimana Miura Karen yang malang dibawa pergi oleh tiga prajurit tidak berprikemanusiaan setelah melemparkan anak panahnya pada Karen.
"Hana ..." Gazala keingat nama dayang Karen. Dengan cepat, Gazala berbalik setelah mengangkat gaun tidurnya menuju Istana Bunga. Dalam pelarian diam-diam dan setelah iblis berwujud manusia itu pergi, Gazala mempercepat langkahnya. Tidak peduli beberapa kali dia terjatuh karena tersandung pakaian tidurnya sendiri, asalkan Karen bisa diselamatkan, dia harus segera mungkin menolongnya!
.
.
.
Let me out, why don't you let me go?
.
.
.
Seisi Istana Bunga gempar dengan berita hilangnya Selir Miura yang tiba-tiba. Gazala menundukkan kepalanya di dalam kamar bersama Hana dan Nisaka yang memandangnya tajam penuh selidik. Nisaka mengusap air matanya yang tumpah begitu juga dengan pucatnya wajah Hana. Mereka semua seperti mayat hidup.
"Aku bersumpah, Hana. Aku bersumpah. Selir Miura, anak panah itu ... semua mengerikan. Dia sekarat, Hana. Cepat cari dia. Minta bantuan Jenderal Parviz," ucap Gazala dengan nada setengah tinggi. Membuat Nisaka melemparkan tatapannya pada Gazala tajam. Cenderung menuduh perempuan itu dengan rasa cemas meninggi.
"Kau pikir Jenderal bodoh itu bisa apa, hah?" Nisaka meninggikan suaranya. Gazala menatapnya terkejut karena Nisaka membentaknya. "Dia ... dia bermarga yang sama dengan Selir Parviz! Dia tentu saja akan menolongnya. Membuat Selir Parviz bebas dari hukumannya!"
"Selir Miura juga kesayangan Raja Maritz, Nisaka!" bentak Gazala tak kalah tingginya. Matanya memerah karena menahan tangis. "Jika kalian lihat bagaimana kejadian semalam ... itu benar-benar mimpi buruk! Cepat selamatkan Selir Miura sebelum terlambat dan mayatnya membusuk! Kalian akan menyesal kalau terlambat membawanya kembali ke istana!"
Hana berbalik pergi dari kamar Putri Gazala. Diikuti Nisaka yang berbalik pergi keluar ruangan. Hana menatap para selir yang ingin tahu setelah mendapati dirinya berwajah sembab dan kedua mata bengkak. Begitu juga dengan Nisaka yang berwajah sama. Bahkan lebih hancur dari Hana.
"Ada apa ini?" Selir Parviz datang dari arah timur. Membuat Hana dan Nisaka segera memutar tubuhnya dan berlari menembus kerumunan para selir yang beramai-ramai ingin tahu karena bentakan suara Nisaka dari dalam kamar Putri Gazala.
"Apa yang terjadi?" tanya Selir Parviz marah.
"Kami tidak tahu," jawab salah satu dari mereka. Selir Parviz memberikan tatapannya pada Gazala yang keluar dari kamar bersama dayangnya. Tatapan mereka bertemu dan Gazala segera mengangguk meminta maaf karena keributan yang ditimbulkannya. Membuat para selir lainnya beramai-ramai undur diri. Meninggalkan Selir Parviz yang masih menatapnya tajam dan kemudian berlalu pergi.
Gazala membenturkan kepalanya ke dinding dengan keras. Menahan tangisnya sekali lagi agar tidak pecah. Bukan hanya kesaksian yang akan ia hadapi kali ini ...
... tetapi kematian juga menunggunya.
.
.
"Astaga!"
Salah satu wanita paruh baya mendapati ada wanita terapung di pinggir sungai yang mengaliri belakang rumah gubuknya. Wanita itu berlari setelah melempar ember airnya dan mengejar gaun wanita itu yang tersangut di dedaunan yang terapung di pinggir sungai.
Wanita tua itu segera berlari, menarik gaun itu dengan susah payah sampai tubuh lemah wanita itu mendekat ke arahnya. Menceburkan dirinya ke aliran sungai yang dangkal, wanita itu menatap lemah wajah Miura Karen yang pucat bagai mayat dengan luka bekas anak panah di punggung dan pinggangnya.
"Astaga! Wanita ini ..." Wanita itu menggelengkan kepalanya menahan tangis karena mengenal wanita ini adalah wanita yang membeli dagangannya beberapa hari yang lalu. Yang berbaik hati membeli semua dagangannya dan membuatnya hidup berkecukupan dengan dua gelang emas berharga mahal untuk membayarnya.
"Hani! Hani!"
Wanita itu memanggil nama cucunya yang sibuk memindahkan rumput ke dalam karung. Merasa dipanggil, gadis kecil itu berlari mencari di mana sang nenek berada. Dengan langkah cepat, dia berlari menelusuri aliran sungai dan menemukan neneknya bersama wanita muda di pelukannya. Dengan pakaiannya yang basah dan wanita itu yang terkulai lemas di pelukan sang nenek.
"Kemari, nak, tolong bantu nenek," ucapnya dengan tangis.
Kaki kecil Hani dengan sigap membantu mengangkat gaun tidur Karen yang basah dan sang nenek membawanya dengan langkah hati-hati menuju rumahnya. Menidurkannya di atas karpet dalam ranjang kayu yang tua. Hani dengan cekatan membuat api di dalam rumah membuat wanita itu tetap hangat.
"Apa yang terjadi?" tanya Hani.
"Dia terluka, sayang," ucap neneknya sedih. "Ambilkan daun-daunan dari laci kayu di kamarku. Aku akan mengobati lukanya."
Hani mengangguk dan kaki kecilnya segera berlari menuju kamar sang nenek. Membawa puluhan daun yang tersimpan dari lemari sang nenek dan menaruhnya di atas meja. Wanita paruh baya itu menyiapkan alat untuk menumbuk daun dan wadahnya.
"Aku akan pinjamkan pakaian dari ibu Chiro," ucap Hani setelah menatap sang nenek yang dengan keras mencoba menumbuk daun agar halus.
"Ide yang bagus, nak. Cepatlah. Ganti pakaian wanita ini. Kasihan sekali dia."
Hani berlari ke rumah Chiro yang memakan waktu sepuluh menit dari rumahnya. Rumah Chiro dekat dengan pasar dan pastinya ibunya yang masih muda memiliki pakaian yang cocok untuk putri bangsawan yang sedang terbaring lemah di rumahnya.
Hani teringat dengan sosok Karen. Wanita cantik yang memiliki rambut unik berwarna merah muda panjangnya. Dan kini sosok itu terbaring di rumahnya. Darah dan penuh luka. Melihatnya membuat hati Hani berdesir karena mengingat sang ibu yang tewas di tangan perampok saat tengah membawa dagangannya ke pasar. Hani menggelengkan kepalanya, terus berlari ke rumah Chiro sampai senyumnya timbul karena melihat rumah Chiro tidak jauh lagi dari matanya.
.
.
"Panggil Selir Parviz kemari!"
Maritz Azada benar-benar marah saat ini. Dia bukannya tidak tahu tentang berita hilangnya Karen dan dia sudah memerintahkan prajuritnya untuk mencari Karen ke seluruh penjuru. Tatapan mata Azada menajam pada tiga prajurit yang membelot dan bersekutu untuk membantu Selir Parviz menghilangkan Karen dari istana.
Hana dan Nisaka berdiri di sudut ruangan. Masih menunduk tidak berani menatap wajah murka sang penguasa. Perhatian mereka teralih saat Selir Parviz datang menghadap bersama dua dayangnya. Selir Parviz melemparkan tatapannya pada Hana dan Nisaka sebelum memasang wajah tenangnya ketika menghadap sang raja.
"Selamat siang, Yang Mulia." Sapa Selir Parviz.
"Cheara ..." panggil Azada dingin.
Anggota dewan yang duduk saling membicarakan satu sama lain. Beberapa dari mereka menatap Cheara dengan pandangan jijik dan merasa ternodai karena selir bodoh itu bermain kotor dengan melenyapkan Selir Miura terang-terangan. Beberapa dari mereka menatapnya kasihan, tidak tahu harus bagaimana karena hukuman penggal akan jatuh saat ini juga untuknya.
Parviz Zidan menunduk, tidak berani menatap sepupunya, Selir Parviz dan sang raja yang saat ini duduk sembari menggenggam katana di tangannya. Zidan melirik Nisaka yang terisak. Sejak pagi, saat dia bertemu Nisaka menangis, hatinya tidak tenang. Tapi dia tidak bisa melakukan apa pun untuknya.
"Apa yang coba kaulakukan?"
Cheara mengangkat kepalanya. Senyum lenyap dari wajahnya. "Hanya menyingkirkan sampah yang di dalam Istana Bunga, Yang Mulia," jawab Cheara.
Azada mengerutkan dahinya. "Sampah, katamu?"
Katana Azada menggores permukaan lantai yang dingin. Membuat Hana menggenggam tangan Nisaka erat-erat saat suara gesekan katana itu terhenti dan tatapan Azada jatuh pada tiga prajurit bertopeng yang bertanggung jawab ikut menghilangkan Karen di dalam istana.
"Kita bahkan tidak tahu apakah dia masih hidup atau mati. Mengapa Yang Mulia bersikukuh untuk ..."
Cheara tidak sempat melanjutkan ucapannya saat katana itu melayang di udara dan menebas ketiga kepala itu lepas dari tempatnya. Bunyi benturan kepala yang lepas itu menggema di ruangan. Nisaka memejamkan matanya saat melihat satu kepala menggelinding hampir mengenai kakinya. Tubuhnya bergetar hebat. Dadanya berdetak cepat karena rasa takut.
"Dia kesayanganku ..." ucap Azada melanjutkan ucapan Cheara yang tertunda. Azada membanting katananya di atas lantai. Menatap Cheara tajam. "Dia. Hanya dia. Dan bukan dirimu."
Anggota dewan terkejut mendengar ucapan Azada. Begitu juga dengan Cheara yang melebarkan matanya. Zidan mengangkat kepalanya, menatap anggota dewan yang bermarga sama dengannya dengan tatapan lirih. Helaan napas panjangnya terdengar lelah.
"Bisakah kau pastikan bagaimana dia sekarang?" tanya Azada, mencoba mengunci tatapan Cheara padanya. Wajah Azada yang tenang dan datar membuat mereka semakin takut. Sang raja memiliki pengendalian diri yang cukup baik dan terlatih. Mereka tidak tahu apakah sang penguasa sedang marah atau tidak.
"Mungkin tidak, Yang Mulia," jawab Cheara lirih. "Dia sekarat sejak semalam. Aku rasa harapan hidupnya kecil."
"Begitu juga dengan dirimu," kata Azada dengan senyum miring. Dia menyuruh Zidan mendekat bersama dua anak buahnya yang berjaga di belakang Cheara. "Akan ada pertunjukan menarik dengan dirimu sebagai bintangnya hari ini."
"Ampuni, Yang Mulia." Anggota dewan yang berasal dari klan Parviz segera berlutut dan bersujud di depan Azada. Walau jubah kebesaran mereka berlumuran darah dari para prajurit yang tewas di tempat, mereka tidak peduli.
"Biarkan kami yang menghukum kejahatan Selir Parviz. Secepatnya."
Mata Azada menyipit tajam saat keempat dewan dari klan Parviz masih setia pada tempatnya. Azada menatap Zidan yang sejak tadi menunduk, tidak berani menunjukkan wajahnya.
"Yang Mulia,"
Zidan maju di depan Azada. Membelakangi para dewan dan Cheara yang terdiam di tempatnya. "Maafkan aku karena lancang. Tapi biarkan hukuman Selir Parviz jatuh padaku," katanya, sungguh-sungguh.
Nisaka mengangkat kepalanya. Menggeleng dengan wajah frustrasi saat Zidan berlutut di hadapan Raja Maritz. Nisaka ingin mendekat, memohon ampun untuk Jenderal Kelas Satu tersebut saat dua prajurit datang memasuki ruangan. Menghadap raja dengan salah satu kode tersembunyi dari isyarat tangannya. Wajah Azada mengeras seketika. Mendapati kalau selir kesayangannya ... tidak lagi hidup.
"Siapkan ruangan untuk hukuman Jenderal Kelas Satu. Aku menunggu di kamarku secepatnya," titah Azada saat dia berjalan dan hampir berlari keluar dari ruangannya. Pintu tertutup sempurna saat sosok penguasa pergi dari sana. Zidan berdiri lebih dulu. Dia berbalik setelah menarik pedang dari belakang tubuhnya.
"Benar-benar ..." geramnya pada Cheara yang tersenyum miring padanya. Penuh kemenangan.
"Zidan," ucapnya dengan gelengan kepala. Cheara melangkah mendekati Nisaka yang masih tertunduk bersama Hana dengan tangan bergandengan. Senyum Cheara melebar kala dia menarik rambut Nisaka, membuat gadis itu mengaduh kesakitan karena tarikan rambut Cheara yang kencang.
"Sebesar apa cintamu pada gadis ini sampai kau mau merelakan nyawamu untukku?" tanya Cheara dengan senyumnya. Cheara melepas tarikan rambutnya, membuat Nisaka terjatuh dengan Hana yang mencoba membantunya berdiri.
Pedang Zidan tidak sampai melukai para tetua klan Parviz yang kini berdiri. Menatap jijik pada Nisaka setelah mereka mengumpat karena darah mengotori jubah kebanggaan mereka. Dengan santai, mereka keluar ruangan diikuti para dewan lainnya yang memilih diam. Tidak berkata apa-apa saat Zidan melepas pedangnya dan menunduk.
Menerima kekalahannya dan sungguh hati Nisaka hancur melihat Jenderal itu mencoba menahan tangisnya sendiri.