13

1602 Words
Gazala menutup mulutnya yang terbuka lebar. Dia tidak habis pikir. Kesulitan tidur membawanya  sampai kemari. Dengan pemandangan mengerikan di depannya, Gazala  melihat jelas. Benar-benar jelas bagaimana Miura Karen yang malang  dibawa pergi oleh tiga prajurit tidak berprikemanusiaan setelah  melemparkan anak panahnya pada Karen. "Hana ..." Gazala  keingat nama dayang Karen. Dengan cepat, Gazala berbalik setelah  mengangkat gaun tidurnya menuju Istana Bunga. Dalam pelarian diam-diam  dan setelah iblis berwujud manusia itu pergi, Gazala mempercepat  langkahnya. Tidak peduli beberapa kali dia terjatuh karena tersandung  pakaian tidurnya sendiri, asalkan Karen bisa diselamatkan, dia harus  segera mungkin menolongnya! . . . Let me out, why don't you let me go? . . . Seisi Istana Bunga  gempar dengan berita hilangnya Selir Miura yang tiba-tiba. Gazala  menundukkan kepalanya di dalam kamar bersama Hana dan Nisaka yang  memandangnya tajam penuh selidik. Nisaka mengusap air matanya yang  tumpah begitu juga dengan pucatnya wajah Hana. Mereka semua seperti  mayat hidup. "Aku bersumpah, Hana.  Aku bersumpah. Selir Miura, anak panah itu ... semua mengerikan. Dia  sekarat, Hana. Cepat cari dia. Minta bantuan Jenderal Parviz," ucap  Gazala dengan nada setengah tinggi. Membuat Nisaka melemparkan  tatapannya pada Gazala tajam. Cenderung menuduh perempuan itu dengan rasa cemas meninggi. "Kau pikir Jenderal  bodoh itu bisa apa, hah?" Nisaka meninggikan suaranya. Gazala  menatapnya terkejut karena Nisaka membentaknya. "Dia ... dia bermarga  yang sama dengan Selir Parviz! Dia tentu saja akan menolongnya. Membuat  Selir Parviz bebas dari hukumannya!" "Selir Miura juga  kesayangan Raja Maritz, Nisaka!" bentak Gazala tak kalah tingginya.  Matanya memerah karena menahan tangis. "Jika kalian lihat bagaimana  kejadian semalam ... itu benar-benar mimpi buruk! Cepat selamatkan Selir  Miura sebelum terlambat dan mayatnya membusuk! Kalian akan menyesal kalau terlambat membawanya kembali ke istana!" Hana berbalik pergi dari  kamar Putri Gazala. Diikuti Nisaka yang berbalik pergi keluar ruangan.  Hana menatap para selir yang ingin tahu setelah mendapati dirinya  berwajah sembab dan kedua mata bengkak. Begitu juga dengan Nisaka yang  berwajah sama. Bahkan lebih hancur dari Hana. "Ada apa ini?" Selir  Parviz datang dari arah timur. Membuat Hana dan Nisaka segera memutar  tubuhnya dan berlari menembus kerumunan para selir yang beramai-ramai  ingin tahu karena bentakan suara Nisaka dari dalam kamar Putri Gazala. "Apa yang terjadi?" tanya Selir Parviz marah. "Kami tidak tahu," jawab  salah satu dari mereka. Selir Parviz memberikan tatapannya pada  Gazala yang keluar dari kamar bersama dayangnya. Tatapan mereka bertemu  dan Gazala segera mengangguk meminta maaf karena keributan yang  ditimbulkannya. Membuat para selir lainnya beramai-ramai undur diri.  Meninggalkan Selir Parviz yang masih menatapnya tajam dan kemudian  berlalu pergi. Gazala membenturkan  kepalanya ke dinding dengan keras. Menahan tangisnya sekali lagi agar  tidak pecah. Bukan hanya kesaksian yang akan ia hadapi kali ini ... ... tetapi kematian juga menunggunya. . . "Astaga!" Salah satu wanita paruh  baya mendapati ada wanita terapung di pinggir sungai yang mengaliri  belakang rumah gubuknya. Wanita itu berlari setelah melempar ember  airnya dan mengejar gaun wanita itu yang tersangut di dedaunan yang  terapung di pinggir sungai. Wanita tua itu segera  berlari, menarik gaun itu dengan susah payah sampai tubuh lemah wanita  itu mendekat ke arahnya. Menceburkan dirinya ke aliran sungai yang  dangkal, wanita itu menatap lemah wajah Miura Karen yang pucat bagai  mayat dengan luka bekas anak panah di punggung dan pinggangnya. "Astaga! Wanita ini ..."  Wanita itu menggelengkan kepalanya menahan tangis karena mengenal  wanita ini adalah wanita yang membeli dagangannya beberapa hari yang  lalu. Yang berbaik hati membeli semua dagangannya dan membuatnya hidup  berkecukupan dengan dua gelang emas berharga mahal untuk membayarnya. "Hani! Hani!" Wanita itu memanggil  nama cucunya yang sibuk memindahkan rumput ke dalam karung. Merasa  dipanggil, gadis kecil itu berlari mencari di mana sang nenek berada.  Dengan langkah cepat, dia berlari menelusuri aliran sungai dan menemukan  neneknya bersama wanita muda di pelukannya. Dengan pakaiannya yang  basah dan wanita itu yang terkulai lemas di pelukan sang nenek. "Kemari, nak, tolong bantu nenek," ucapnya dengan tangis. Kaki kecil Hani dengan  sigap membantu mengangkat gaun tidur Karen yang basah dan sang nenek  membawanya dengan langkah hati-hati menuju rumahnya. Menidurkannya di  atas karpet dalam ranjang kayu yang tua. Hani dengan cekatan membuat api  di dalam rumah membuat wanita itu tetap hangat. "Apa yang terjadi?" tanya Hani. "Dia terluka, sayang," ucap neneknya sedih. "Ambilkan daun-daunan dari laci kayu di kamarku. Aku akan mengobati lukanya." Hani mengangguk dan kaki  kecilnya segera berlari menuju kamar sang nenek. Membawa puluhan daun  yang tersimpan dari lemari sang nenek dan menaruhnya di atas meja.  Wanita paruh baya itu menyiapkan alat untuk menumbuk daun dan wadahnya. "Aku akan pinjamkan  pakaian dari ibu Chiro," ucap Hani setelah menatap sang nenek yang  dengan keras mencoba menumbuk daun agar halus. "Ide yang bagus, nak. Cepatlah. Ganti pakaian wanita ini. Kasihan sekali dia." Hani berlari ke rumah  Chiro yang memakan waktu sepuluh menit dari rumahnya. Rumah Chiro dekat  dengan pasar dan pastinya ibunya yang masih muda memiliki pakaian yang  cocok untuk putri bangsawan yang sedang terbaring lemah di rumahnya. Hani teringat dengan  sosok Karen. Wanita cantik yang memiliki rambut unik berwarna merah  muda panjangnya. Dan kini sosok itu terbaring di rumahnya. Darah dan  penuh luka. Melihatnya membuat hati Hani berdesir karena mengingat sang  ibu yang tewas di tangan perampok saat tengah membawa dagangannya ke  pasar. Hani menggelengkan kepalanya, terus berlari ke rumah Chiro sampai  senyumnya timbul karena melihat rumah Chiro tidak jauh lagi dari  matanya. . . "Panggil Selir Parviz kemari!" Maritz Azada  benar-benar marah saat ini. Dia bukannya tidak tahu tentang berita  hilangnya Karen dan dia sudah memerintahkan prajuritnya untuk mencari  Karen ke seluruh penjuru. Tatapan mata Azada menajam pada tiga  prajurit yang membelot dan bersekutu untuk membantu Selir Parviz  menghilangkan Karen dari istana. Hana dan Nisaka berdiri  di sudut ruangan. Masih menunduk tidak berani menatap wajah murka sang  penguasa. Perhatian mereka teralih saat Selir Parviz datang menghadap  bersama dua dayangnya. Selir Parviz melemparkan tatapannya pada Hana  dan Nisaka sebelum memasang wajah tenangnya ketika menghadap sang raja. "Selamat siang, Yang Mulia." Sapa Selir Parviz. "Cheara ..." panggil Azada dingin. Anggota dewan yang duduk  saling membicarakan satu sama lain. Beberapa dari mereka menatap Cheara  dengan pandangan jijik dan merasa ternodai karena selir bodoh itu  bermain kotor dengan melenyapkan Selir Miura terang-terangan. Beberapa  dari mereka menatapnya kasihan, tidak tahu harus bagaimana karena  hukuman penggal akan jatuh saat ini juga untuknya. Parviz Zidan menunduk,  tidak berani menatap sepupunya, Selir Parviz dan sang raja yang saat  ini duduk sembari menggenggam katana di tangannya. Zidan melirik Nisaka  yang terisak. Sejak pagi, saat dia bertemu Nisaka menangis, hatinya  tidak tenang. Tapi dia tidak bisa melakukan apa pun untuknya. "Apa yang coba kaulakukan?" Cheara mengangkat  kepalanya. Senyum lenyap dari wajahnya. "Hanya menyingkirkan sampah yang  di dalam Istana Bunga, Yang Mulia," jawab Cheara. Azada mengerutkan dahinya. "Sampah, katamu?" Katana Azada menggores  permukaan lantai yang dingin. Membuat Hana menggenggam tangan Nisaka  erat-erat saat suara gesekan katana itu terhenti dan tatapan Azada  jatuh pada tiga prajurit bertopeng yang bertanggung jawab ikut  menghilangkan Karen di dalam istana. "Kita bahkan tidak tahu apakah dia masih hidup atau mati. Mengapa Yang Mulia bersikukuh untuk ..." Cheara tidak sempat  melanjutkan ucapannya saat katana itu melayang di udara dan menebas  ketiga kepala itu lepas dari tempatnya. Bunyi benturan kepala yang lepas  itu menggema di ruangan. Nisaka memejamkan matanya saat melihat satu  kepala menggelinding hampir mengenai kakinya. Tubuhnya bergetar hebat.  Dadanya berdetak cepat karena rasa takut. "Dia kesayanganku ..."  ucap Azada melanjutkan ucapan Cheara yang tertunda. Azada membanting  katananya di atas lantai. Menatap Cheara tajam. "Dia. Hanya dia. Dan  bukan dirimu." Anggota dewan terkejut  mendengar ucapan Azada. Begitu juga dengan Cheara yang melebarkan  matanya. Zidan mengangkat kepalanya, menatap anggota dewan yang  bermarga sama dengannya dengan tatapan lirih. Helaan napas panjangnya  terdengar lelah. "Bisakah kau pastikan  bagaimana dia sekarang?" tanya Azada, mencoba mengunci tatapan Cheara  padanya. Wajah Azada yang tenang dan datar membuat mereka semakin  takut. Sang raja memiliki pengendalian diri yang cukup baik dan  terlatih. Mereka tidak tahu apakah sang penguasa sedang marah atau  tidak. "Mungkin tidak, Yang Mulia," jawab Cheara lirih. "Dia sekarat sejak semalam. Aku rasa harapan hidupnya kecil." "Begitu juga dengan  dirimu," kata Azada dengan senyum miring. Dia menyuruh Zidan mendekat  bersama dua anak buahnya yang berjaga di belakang Cheara. "Akan ada  pertunjukan menarik dengan dirimu sebagai bintangnya hari ini." "Ampuni, Yang Mulia."  Anggota dewan yang berasal dari klan Parviz segera berlutut dan  bersujud di depan Azada. Walau jubah kebesaran mereka berlumuran darah  dari para prajurit yang tewas di tempat, mereka tidak peduli. "Biarkan kami yang menghukum kejahatan Selir Parviz. Secepatnya." Mata Azada menyipit  tajam saat keempat dewan dari klan Parviz masih setia pada tempatnya.  Azada menatap Zidan yang sejak tadi menunduk, tidak berani menunjukkan  wajahnya. "Yang Mulia," Zidan maju di depan  Azada. Membelakangi para dewan dan Cheara yang terdiam di tempatnya.  "Maafkan aku karena lancang. Tapi biarkan hukuman Selir Parviz jatuh  padaku," katanya, sungguh-sungguh. Nisaka mengangkat  kepalanya. Menggeleng dengan wajah frustrasi saat Zidan berlutut di  hadapan Raja Maritz. Nisaka ingin mendekat, memohon ampun untuk Jenderal  Kelas Satu tersebut saat dua prajurit datang memasuki ruangan.  Menghadap raja dengan salah satu kode tersembunyi dari isyarat  tangannya. Wajah Azada mengeras seketika. Mendapati kalau selir  kesayangannya ... tidak lagi hidup. "Siapkan ruangan untuk  hukuman Jenderal Kelas Satu. Aku menunggu di kamarku secepatnya," titah  Azada saat dia berjalan dan hampir berlari keluar dari ruangannya.  Pintu tertutup sempurna saat sosok penguasa pergi dari sana. Zidan  berdiri lebih dulu. Dia berbalik setelah menarik pedang dari belakang  tubuhnya. "Benar-benar ..." geramnya pada Cheara yang tersenyum miring padanya. Penuh kemenangan. "Zidan," ucapnya dengan  gelengan kepala. Cheara melangkah mendekati Nisaka yang masih tertunduk  bersama Hana dengan tangan bergandengan. Senyum Cheara melebar kala dia  menarik rambut Nisaka, membuat gadis itu mengaduh kesakitan karena  tarikan rambut Cheara yang kencang. "Sebesar apa cintamu  pada gadis ini sampai kau mau merelakan nyawamu untukku?" tanya Cheara  dengan senyumnya. Cheara melepas tarikan rambutnya, membuat Nisaka  terjatuh dengan Hana yang mencoba membantunya berdiri. Pedang Zidan tidak  sampai melukai para tetua klan Parviz yang kini berdiri. Menatap jijik  pada Nisaka setelah mereka mengumpat karena darah mengotori jubah  kebanggaan mereka. Dengan santai, mereka keluar ruangan diikuti para  dewan lainnya yang memilih diam. Tidak berkata apa-apa saat Zidan  melepas pedangnya dan menunduk. Menerima kekalahannya dan sungguh hati Nisaka hancur melihat Jenderal itu mencoba menahan tangisnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD